NovelToon NovelToon
Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lonafx

Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.

Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.

Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.

Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.

____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?

kuyyy ikuti kisahnya ya~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Tempat Tinggal Baru

Jalanan kota menjelang sore itu masih tampak lengang, lalu lalang kendaraan masih mengalir rapi.

Cahaya matahari yang masih cukup terang, memantul pada gedung-gedung tinggi di sisi jalan.

Di dalam mobil, suasana lebih ringan. Tamara duduk di kursi penumpang, memandang keluar jendela.

Arvin yang duduk di sampingnya, menyetir dengan sikap tenang. Matanya fokus ke depan jalan, melajukan mobil dengan kecepatan stabil, tanpa terburu-buru.

Ia menoleh Tamara sebentar, senyumnya samar. "Mental kamu aman?" tanya Arvin tiba-tiba.

Tamara spontan menatapnya. Pertanyaan itu memunculkan sekilas potongan ingatan, ketika dirinya berada di tengah keluarga besar Arvin beberapa saat yang lalu.

Ia mengedikkan bahu. "Sejauh ini... masih aman. Nggak tau besok," jawabnya

Suaranya pelan, tapi tak tenggelam oleh suara radio yang mengalun lembut.

Arvin mengangguk-angguk pelan. "Tapi nggak kapok, kan? Kamu kelihatan sempat kena culture shock tadi karena keluargaku."

Tamara tersenyum tipis. "Enggak lah. Keluarga kamu sebenarnya baik banget... cuma energi mereka aja yang kayaknya nggak habis-habis."

Arvin masih mendengarkan tanpa memotong, pandangannya tetap memperhatikan jalan.

"Aku sempat kaget, sih. Kewalahan dikit, tapi aku senang. Keluarga kamu ramai... juga hangat." Tamara melanjutkan perkataannya.

Ia menoleh Arvin sekali lagi, sedikit penasaran. " ...dan kamu masih bisa tenang di tengah kehebohan mereka?" tanyanya.

Arvin tersenyum singkat. "Berada di tengah mereka, sama saja belajar, Tamara... " jawabnya dengan suara lembut.

Tatapannya tetap fokus. "Sejujurnya, mereka itu ujian psikologis yang nggak akan bisa ditemukan di mana pun," suaranya pelan, setengah bercanda.

Giliran Tamara yang mengangguk-angguk pelan, hingga Arvin tampak terpikirkan sesuatu sambil meliriknya singkat.

"Tadi... Kemampuan mengingat kamu bagus. Mereka jumlahnya banyak loh, dan kamu hafal nama mereka dengan baik," katanya, dengan ringan memuji.

Tamara merapikan ujung rambutnya, dengan senyum bangga khas kepercayaan dirinya. Seolah lupa tadi sempat cosplay jadi siput yang kehilangan cangkang, di depan keluarga besar Arvin.

"Aku tuh dari kuliah udah terbiasa dengan hafalan. Terus di kantor, udah kebiasaan mengingat nama-nama dan posisi karyawan... "

Ia tersenyum kecil. " ...Sebenarnya biar nggak salah sebut nama sih, waktu menegur mereka kalau ketahuan salah," jelasnya.

Ia bahkan tanpa sadar sudah merasa nyaman bicara panjang lebar, dan entah kenapa hari itu senyumnya terukir lebih banyak dari biasanya.

Mobil terus bergerak maju menyusuri jalan. Di luar, arus lalu lintas tampak masih memberi ruang. Namun, di dalam mobil itu jarak keduanya mulai terasa menyempit.

Bukan hanya karena duduk berdekatan. Lebih dari itu, ada satu kenyataan yang disadari, bahwa saat ini mereka sedang menuju arah yang sama.

Perjalanan pasangan suami istri baru itu tidak terlalu memakan waktu lama, karena jarak yang ditempuh masih dalam satu kota.

Langit masih tampak terang, ketika mobil Arvin berhenti di halaman salah satu kawasan perumahan modern.

Tamara keluar dari mobil, tanpa menunggu Arvin membukakan pintu. Baru meninggalkan keluarga mertuanya, rasanya jiwanya benar-benar terbebas.

Ia berdiri sebentar, memandang bangunan bertingkat yang akan menjadi tempat tinggal barunya.

Hunian itu berarsitektur minimalis modern—kaca-kaca besar, dinding kokoh, dengan dominasi warna putih yang memberi kesan rapi dan bersih.

Arvin mengajaknya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu utama dibuka, kesan lapang dan tenang langsung menyambut.

Lantainya berwarna terang, interior dan furnitur elegan, kaca-kaca besar yang memperlihatkan taman luar, seperti ketenangan yang memang didesain untuk melepas lelah dari dunia luar.

"Di sini, kamu boleh jadi diri kamu sendiri," kata Arvin, seraya menghentikan langkah.

Tamara tak langsung menjawab, mencerna kalimat itu beberapa detik.

"Oke... jangan kaget melihat sisiku yang sebenarnya," ujarnya dengan enteng.

Bibir Arvin melengkung samar, lalu berucap, "Aku senang, kalau kamu merasa nyaman dengan diri kamu yang sebenarnya."

Tamara menatapnya. "Aku menjadi diriku sendiri, bukan untuk menyenangkan orang lain."

Arvin memberi anggukan pelan. "Itu jauh lebih baik."

Perhatian keduanya langsung teralihkan, ketika dua orang baru datang dari sebuah arah, menyambut mereka dengan wajah antusias.

Tamara memperhatikan dua orang itu—laki-laki muda dengan kaus longgar, celana selutut, menunduk sopan. Di sampingnya, gadis dengan jilbab sederhana, tersenyum lebar dengan polosnya.

Arvin mengenalkan sedikit tentang kakak beradik itu kepada Tamara. Keduanya merupakan keponakan dari ART kepercayaan di rumah orang tua Arvin, yang sudah lama ikut bekerja dengan keluarga mereka.

Wajah keduanya berbinar ketika Tamara menyapa. Dua orang itu kompak menatap nyaris tak berkedip, seperti melihat sesuatu yang terlalu sulit untuk diabaikan.

Sampai Tamara terheran. "Kalian kenapa, sih?" tanyanya.

Yuli—si gadis berperawakan sedang itu, memandang kagum. "Saya nggak nyangka, Ibu Tamara Hadinata, CEO-nya Lunara, produk terkenal itu... "

Senyumnya merekah lebar. " ...Sekarang bakal tinggal di rumah ini!" serunya tiba-tiba, tak bisa lagi menyembunyikan kegembiraannya.

"Saya suka ngikutin postingan Ibu di Instagram, loh, Bu... aslinya cantik banget ternyata," ujarnya lagi. Ringan, hampir kekanak-kanakan.

"Kamu ini, Dek. Jaga sikap," tegur Yanto, sang kakak yang memasang wajah sok serius.

Suaranya pelan sedikit tegas, membuat gadis itu langsung menepuk pelan bibirnya tersenyum malu.

Yanto tersenyum lebar ke arah Tamara, tak kalah polos. "Maaf ya, Bu. Adik saya ini kalau ngomong memang suka asal ceplos," katanya dengan suara lemah lembut, segan.

Yuli mendekat ke arah sang kakak. "Ishh.. Kayak Abang enggak aja. Biasanya kalau ngomong juga, Abang suka nggak ada remnya," sungutnya, lalu mengerucutkan bibir.

Yanto tertawa kecil. "Abang lagi dalam mode menjaga sikap di depan nyonya baru," balasnya pelan, lalu nyengir.

Tamara mengangguk-angguk memaklumi kepolosan keduanya.

"Kalau kamu perlu apa-apa, bisa minta tolong sama Yuli. Kalau Yanto, dia lebih ke urusan perawatan rumah dan kebun." Arvin menjelaskan.

Ia segera mengajak Tamara menuju kamar utama, yang ada di lantai atas.

Sambil berjalan, Tamara mengedarkan pandangan sekilas ke beberapa sudut ruangan.

Senyumnya puas. "Aku suka desain rumah kamu," katanya.

Arvin meliriknya sebentar. "Sekarang, ini juga rumah kamu."

Langkah mereka tiba di lantai dua, yang terasa lebih senyap sekaligus tenang. Namun tidak juga terasa dingin.

Tamara memperlambat jalannya, begitu mereka hampir mendekati satu pintu kamar.

Ia menoleh ke arah Arvin dengan alis terangkat. "Kita... tidur sekamar?" tanyanya dengan suara pelan, sedikit waspada.

Arvin menghentikan langkah, lalu membalas tatapan istrinya. "Kita sudah nikah, Tamara. Berbagi kamar adalah hal yang wajar," jawabnya lembut, tanpa nada paksaan.

Tamara tak langsung merespons. Mulutnya masih terkatup rapat dengan pandangan bergerak ke arah pintu, seperti masih menimbang-nimbang sesuatu.

Arvin tersenyum ke arahnya lagi. "Kamu tenang aja, aku udah siapkan meja rias yang besar," katanya dengan nada ringan, seolah memahami kebiasaan perempuan.

Sorot mata Tamara beralih ke arahnya, hanya memberi respons dengan senyum yang ditahan.

Detik berikutnya, perhatiannya langsung teralihkan saat mendengar langkah kaki dan obrolan samar, sedang menuju ke arah mereka.

Tamara menatap sebentar. Kedua ART itu tampak sibuk membantu membawakan koper dan beberapa barang.

Keberadaan dua orang itu, cukup sebagai pengingat kecil bahwa mereka tidak hanya hidup berdua di rumah ini.

Pandangannya beralih ke arah Arvin. "Ya udah... " ujarnya singkat, pelan, dan entah kenapa tiba-tiba terkesan patuh.

Meski dalam hati kecilnya, ada ego yang masih tetap menolak untuk dikendalikan siapa pun, sekalipun ia tahu sikap Arvin tak pernah terkesan memaksanya.

Tamara menyibakkan rambut dengan pelan ke belakang bahu. "Tapi aku masih perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan ini," tambahnya.

Arvin mengiyakan dengan anggukan. "Aku mengerti."

Wajahnya tetap tenang dengan sudut bibirnya sedikit melengkung, ekspresi yang justru selalu membuat Tamara gelisah tiap kali melihatnya.

"Kamu istirahat aja. Aku ke ruang kerja dulu," kata Arvin, sebelum meninggalkannya menuju pintu ruangan lain.

...

Beberapa jam berlalu, waktu bergerak membawa malam turun perlahan.

Di bawah langit dengan sedikit bintang, lampu rumah pasangan baru itu menyala hangat, seperti potongan kecil kehidupan di tengah gemerlap kota.

Tamara duduk sendiri di sofa balkon, menikmati udara lembab, ditemani secangkir kopi rendah gula yang baru dibuatkan Yuli.

Sementara Arvin belum terlihat batang hidungnya, sejak menghabiskan waktu berjam-jam di ruang pribadinya.

Hari ini, dua insan itu memang belum sepenuhnya bersatu. Namun, rumah itu terasa seperti sudah siap untuk menampung segala prosesnya.

Tamara meletakkan kembali cangkir di atas meja, lalu merebahkan punggung dengan nyaman.

Dari sini, langit menghadirkan pemandangan malam yang tenang.

Tenang.

Satu gambaran situasi yang terasa asing baginya, tapi justru sekarang terasa lebih nyata.

Sejak kapan aku merasa setenang ini? benaknya.

Hal itu ternyata tidak berlangsung lama, ketika ia meraih ponsel yang tiba-tiba dipenuhi notifikasi pesan beruntun.

Jemarinya lincah mengusap layar, memeriksa isi pesan yang membuatnya melongo.

BERSAMBUNG...

Baru aja merasa tenang sebentar ya, Ta😂

Kira-kira Tata dapat pesan apa ya? Nggak, mungkin kan tagihan paylater yang belum dibayar.. wkwk

1
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
iyaa.. keterlaluan banget.. kalau Arvin itu cowok gak sabaran, udah dtinggalin kamu🙄
Lonafx: marahin aja kak😂😝
total 1 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
wahh keren nih dua sohibnya.. pandai menasihati meski dgn cara ngomel dan menghakimi wkwk tp biasnaya manjur, karna mereka orang terdekatnya
Lonafx: cuma mereka yg berani mengomeli ceo galak😂
total 1 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
iya bener.. jangan sampai nyesel loh
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
ya ampunn.. Arvin jadi cowok sabar banget...
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
dia terbiasa keras sama dirinya sendiri.. gak heran tumbuh jadi perempuan dominan yg suka mengontrol,
Lonafx: menempa wehh, typo😫
total 2 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
lahh, Papa sakit serius ternyata, pantes pengen banget putrinya cepet nikah
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
kira2 Arvin bakal ilfeel gak ya🤣
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
Tata lagi ngedrama, apa pasang skin menggatal/Sly/ tapi sama suami sendiri juga sih gapapa😄
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
definisi senggol di bales senggol/Facepalm//Facepalm/
Cahaya Tulip
penasaran bakal ada besok🤭

arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
Cahaya Tulip
kucing kali takut aer🤣
Cahaya Tulip
emang iya tata.. 🤣
Cahaya Tulip
kurang bahan nggak tuh? apanya yang ditutupin? 🤣
Cahaya Tulip
wah, ada apa besok? 😗
Cahaya Tulip
wah.. ada apa ini? 😗
Muna Junaidi
Sesuai dengan undangan mareee kita berhalu ria mumpung lagi sendirian🤣🤣🤣mas tolong anaknya dibawa dulu dolanan istri tercintamu mau main sama othor🤭🤭
Lonafx: wahhh siap kakak😝🥰 terima kasih 🙏
total 1 replies
Cahaya Tulip
🥺 kalimat yang diharapkan semua perempuan setelah menikah.. rasa aman tempat pulang perlindungan
. yg lagi mahal sekarang🥺
Cahaya Tulip
Papa Rudi.. sekrang jadi sendirian ya🥺
Cahaya Tulip
untung badai nya tata lagi mode off😂
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
wkwk fiturnya nambah habis kepalanya kebentur😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!