Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
undrwer
Setelah makan malam selesai, Pak Bejo menepuk pundak Adipati pelan.
“Dip, temani Bapak ke ruang tamu. Ada yang mau Bapak bicarakan.”
“Baik, Pak,” jawab Adipati.
Sementara itu, Selina merapikan meja makan. Ia mengumpulkan piring kotor, lalu mencucinya satu per satu. Setelah selesai, ia membuat dua cangkir kopi dan membawanya ke ruang tamu.
“Pak, Mas… ini kopinya,” ujar Selina sambil meletakkan cangkir di meja.
Adipati menoleh padanya.
“Kamu tunggu aja di kamar ya, Lin. Mas masih ada yang mau dibicarakan sama Bapak.”
Selina mengangguk.
“Oke, Mas.”
Ia pun naik ke kamar.
Di sepanjang tangga, pikirannya melayang.
“Aku harus minta maaf sama Mas Adipati… dari awal aku udah banyak prasangka dan bikin dia pasti tersinggung,” batinnya.
Sesampainya di kamar, Selina membuka lemari, mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan rambut masih basah, tubuhnya terbalut handuk.
Langkahnya terhenti.
Adipati sudah ada di dalam kamar, berdiri di dekat ranjang. Di tangannya… sebuah underwer miliknya.
Jantung Selina langsung berdegup kencang.
“Astaga… aku lupa…,” pikirnya panik.
“Kenapa bisa ketinggalan di ranjang sih…”
“Mas—” Selina buru-buru mendekat dan merebutnya.
Adipati terkejut, lalu segera memalingkan wajah.
“Maaf, Lin. Aku nggak sengaja. Kupikir itu punya kamu yang ketinggalan mau ku anterin ke kamar mandi.”
Wajah Selina memerah hebat.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung berbalik dan lari masuk ke kamar mandi.
Pintu tertutup cepat.
Di balik pintu, Selina menempelkan punggungnya sambil menutup wajah.
“Malu banget… sumpah,” gumamnya lirih.
“Kenapa sih bisa ceroboh gini…”
Di luar, Adipati menarik napas panjang, menunggu dengan sabar tanpa mendekat, memberi ruang agar Selina kembali tenang.
Selina keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian. Rambutnya masih setengah basah, wajahnya terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya.
Adipati berdiri canggung di dekat jendela.
“Lin… maaf ya soal yang tadi. Mas janji nggak akan pegang-pegang atau bikin kamu nggak nyaman.”
Selina menggeleng pelan.
“Aku yang harusnya minta maaf, Mas. Aku lupa bawa barangku sendiri.”
Adipati tersenyum kecil.
“Mas mandi dulu aja ya. Bajuku basah semua.”
“Iya. Nanti aku pinjemin baju Bapak,” jawab Selina.
Adipati masuk ke kamar mandi. Sementara itu, Selina keluar kamar menuju kamar orang tuanya.
Ia mengetuk pintu pelan.
“Tik… tok.”
“Masuk,” suara Sri terdengar dari dalam.
Selina menyembulkan kepala.
“Pak, Bu… Selina mau pinjam baju Bapak buat Mas Adipati ganti.”
Bejo tersenyum lemah.
“Ambil aja, Nak. Di lemari.”
Sri segera membantu mengambilkan baju dan sarung.
“Ini ya. Cocok buat dia.”
“Makasih, Bu,” ujar Selina tulus.
Ia kembali ke kamar. Tak lama kemudian, Adipati keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah.
Selina menyerahkan pakaian.
“Ini, Mas.”
“Makasih,” ucap Adipati singkat.
Setelah berganti pakaian, Adipati duduk di ranjang. Selina berada di depan meja rias, melakukan rutinitas skincare-nya. Suasana hening, tapi hangat.
Beberapa menit kemudian, Selina naik ke ranjang dan duduk di samping Adipati. Dengan ragu, ia memeluk lengannya.
“Mas… maafin aku ya,” ucap Selina lirih.
“Aku pernah ngomong sembarangan, ngeremehin kamu.”
Adipati menoleh, menatap wajah Selina lama.
“Iya… Mas maafin.”
Ia menarik napas dalam.
“Mas udah sering dihina dan direndahkan. Jadi Mas udah kebal.”
Selina menunduk.
“Kenapa Mas pura-pura nganggur? Padahal kamu punya uang, punya kemampuan. Buat nutup mulut orang-orang?”
Adipati tersenyum tipis, tapi matanya serius.
“Bukan buat nutup mulut mereka.”
Ia menatap Selina penuh makna.
“Yang penting… Mas mau dicintai karena Mas-nya, bukan karena harta Mas.”
Selina terdiam. Dadanya terasa hangat.
“Dan sekarang…” lanjut Adipati pelan,
“Mas udah dapat istri. Itu lebih dari cukup.”
Selina tersenyum kecil, memeluk Adipati lebih erat.