Rain menjadi ketua, dari geng yang dibuat sendiri, Rksabi. Yang berkecimpung pada tugas jasa, geng yang terdiri enam orang itu mencari klien dengan berbagai masalah demi mengumpulkan pundi-pundi uang. Sampai satu tugas yang menawarkan bayaran mahal, membawanya pada gadis muda, dan Rain merasa terjebak disana, di dalam rumah mewah keluarga Vick sebagai Pengawal pribadi Yasmin Celia. Dia datang untuk menyelesaikan misi sebagai Pengawal pribadi yang melindungi, tapi selesai tugas justru jadi Bapak yang mencari keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrar Atma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Sambil mendengarkan, tangan Yasmin mengelus perut pria itu dibalik kaos hitam, sesekali ia juga menyahut cerita yang dibacakan Rain. "Wow...romantis banget"
"Ah, kasihan"
"lucu, gemasin. Aku jadi pengen versi komik nya"
"Pak Taka, jadi Zia seru deh. Iyakan?" Hembusan napas kasar menyahut ucapan Yasmin yang terus menempel dan begitu berisik.
"Nona apa kaki anda tidak sakit, berdiri terus?" Dengan wajah yang dibuat manyun Yasmin menggangguk, tangan Rain tanpa sadar meremas buku. Kesal sekali melihat penampakan gadis itu, tangannya gatal hendak membanting.
"Ayok duduk pak Taka "
"Nona sepertinya sekarang waktu anda istirahat, saya harus undur diri Nona" Rain menepis tangan Yasmin dengan sedikit paksaan karena gadis itu menahan tangannya begitu erat, sudah seperti belitan ular.
"Kalau mau antar, aku ayok aja ke kamar" ucapnya dengan senyum terkembang.
Pelukan ditangan Rain berhasil dilepas, namun gadis itu terlalu keras kepala. Lepas tangan berpindah membelit pinggang. Menempelkan dada nya di tubuh Rain, sambil bergerak layaknya cacing kepanasan. Lalu Yasmin mendongak, demi melihat ekspresi pria itu yang ternyata menengadah. Dari posisi Yasmin itu, ia dapat mengamati jakun Rain yang terlihat begitu menarik dimatanya.
"Pak Taka, apa pengawal Sandi dan Botak satu agensi dengan kamu?"sembari bertanya tangannya tergerak menyentuh jakun pria itu,
"Aku pernah dengar dari Papi, katanya dua pengawal sebelumnya diganti dengan kamu, dan kalian masih dibawah satu naungan. Heran kenapa ngga kamu aja dari dulu yang jadi pengawal aku, untung Papi masih percaya sama agensi kalian" kaki nya bahkan sampai berjinjit.
"Nona...." cara Rain memanggilnya membuat badannya bergidik, itu terdengar seksi ditelinga nya.
Tapi ia menyayangkan tangannya harus berhenti mengusap jakun yang naik turun itu, pria itu mencengkeram tangannya dengan sedikit keras hingga ia meringis.
"Sebaiknya anda kembali ke kamar sekarang, sebelum malam semakin larut" matanya terbelalak saat baru saja merasakan benda pusaka pria itu kembali berdiri, lalu tatapan nya perlahan turun. Tapi...tubuhnya diputar jadi membelakangi, serta didorong menjauhi tubuh Rain, setelah tadi menempel bersekat kain.
"Wow...itu sesuai ekspetasi"gumam nya.
Ia menerima sentuhan pria itu di bahu nya meskipun itu dorongan untuk menjauh, bukan usapan dan lain sebagainya.
"Pak Taka, kamu sebenarnya ngga perlu dorong aku. Ini kaki masih kuat berjalan sendiri, kalau ngga percaya kita bisa tes dipinggang atau bahu kamu, gimana?" Ucapnya.
Lalu cengkeraman dibahu menghilang, apa pria itu sungguhan hendak mencoba? Itu bahaya sekali !godaan hanya untuk bercanda, ia tidak seberani itu merusak diri. Tubuhnya pun berbalik bersamaan dengan kepala nya menoleh.
"Kalau begitu selamat malam Nona, saya ke kamar dulu" ucap Rain, ketika badannya sepenuh hati menghadap pria itu.
Tanpa menunggu apapun darinya, Rain menuruni anak tangga bahkan tanpa berbalik lagi. Kepalanya pun mengikuti gerakan tubuh tinggi itu, dengan tatapan tidak percaya. Sulit sekali baginya menertawakan pemikiran sendiri yang kerap dilecehkan pria itu.
"Menarik...."gumam nya dengan setengah hati. Ia pun mengamati kepergian Rain, bagaimana Punggung lebar itu perlahan mengecil, semakin jauh dari jangkauan matanya.
"Untuk apa gunanya punggung sebagus itu kalau ngga bisa buat bersandar? Dilihat doang, mana cukup"
****
Di pagi hari seperti biasa para pelayan mengerjakan tugas masing-masing, dua diantaranya naik ke lantai atas membangunkan Yasmin. Pintu di ketuk, alarm berbunyi, ponsel genggam berdering, semua menjadi Pertanda hari ke sekolah dimulai. Hal itu sudah berlangsung selama 12 tahun, gadis yang masih terbuai dalam mimpi nya hanya menggeliat merespon semua panggilan disekitar nya.
Butuh waktu sekitar 5 menit barulah ia duduk dengan mata terpejam, namun hanya untuk mematikan alarm. Para pelayan pun harus menyediakan stok sabar setiap hari untuk menjalankan tugas terberat, yaitu memastikan Yasmin sekolah. Hari-hari mereka menjadi ringan hanya di tanggal merah.
Terkadang mereka ingin ada Rain bersama mereka untuk tugas itu, setelah beberapa hari sebelumnya Rain membantu tugas mereka dengan cara naik balkon. Namun terlalu merepotkan pria itu yang pastinya punya hari-hari yang lebih berat, karena hampir seharian dan setiap hari bersama Majikan.
Setelah memakan waktu 15 menit akhirnya pintu yang mereka tunggu sampai suara serak menampakan batang hidung majikan.
"Nona kami bantu bersiap"
Yasmin menguap lalu mempersilahkan pelayan masuk. "Kenapa pagi banget bangunin aku?"ucap Yasmin.
Kedua pelayan saling tatap, seolah mencari jawaban dari pikiran mereka masing-masing. Sebab waktu pagi yang disebutkan Yasmin pun terlambat, apalagi jika nanti-nanti.
Selesai bersiap tanpa sarapan, ia berjalan dengan riang menuju pengawal pribadi yang sudah menunggu. "Selamat pagi pak Taka? Hari ini aku hebat bukan, pagi sekali?" Ia mengulurkan tangan pada Rain yang menganguk kecil.
"Pagi, anda tampak hebat hari ini" ucap Rain.
Ia berdecak saat punggung tangan nya tidak disambut oleh pria itu, lantas ia memberi kode dengan melirik Rain dan punggung tangannya yang menggantung diudara, bergantian. Rain menangkap kode itu dan mau tak mau menyambut nya, lalu menarik perlahan membawa lebih dekat pada kendaraan, membuka kan pintu dan mempersilahkan Yasmin masuk.
"Terima kasih, Pak Taka." Ia memberikan senyuman termanis sebelum Rain menutup pintu, pria itu lalu memutar jalan menuju kemudi disertai decakan kecil.
Ketika membuka pintu bagian kemudi Rain langsung disungguhi pemandangan kecil yang menyulut sesuatu dalam dirinya, Yasmin melepas kancing seragam nya satu per satu. "Nona apa yang ada lakukan?"
Pengawal itu sempat ragu masuk dan akan kembali menutup pintu. Yasmin mengeryit namun pergerakan tangan nya tetap bekerja, setelah loading tiga detik melihat ekspresi kesal Rain, ia lalu terkekeh.
"Apa yang kamu pikir kan pak Taka? Jangan bilang kamu berpikir aku macam-macam? Aku hanya memperbaiki kancing seragam ku yang miring sebelah, salah masuk" gadis itu tersenyum mengejek, Rain mengusap daun telinga nya sembari masuk kedalam mobil, lalu menutup pintu. ke tegangan diwajah nya berlalu.
Yasmin melihat nya dari kaca spion hingga mata mereka beretemu, lalu dengan eksperi mengejek ia lantas besuara, "Mesum" sembari tangannya bergerak menunjuk kepala dan Rain bergantian.
"Nona sudah siap? Saya akan menjalankan kendaraan sekarang juga" ucap Rain mengalihkan perhatian nya dari kaca spion sambil memasang seatbelt.