NovelToon NovelToon
Buried By Love, Reborn As Disaster

Buried By Love, Reborn As Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Budidaya dan Peningkatan / Harem / Balas Dendam
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.

Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.

Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.

Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Velvet Mirage

Malam itu sunyi, sunyi yang begitu pekat hingga setiap hembusan angin seolah menjadi suara yang nyata. Lilin di kamar Feiyan sudah padam sejak lama, meninggalkan cahaya bulan yang menembus jendela, memantul lembut di lantai dan dinding kayu. Feiyan terbaring di tempat tidurnya, napasnya tenang, tubuhnya lelah setelah latihan panjang yang menguras Qi dan emosinya. Ia menarik selimut lebih erat, tanpa sadar merasakan kenyamanan yang rapuh, seperti pelukan hangat yang tak pernah ia minta namun begitu menenangkan.

Di luar kamar, Lin Yue berdiri di atas atap rendah, matanya menatap ke arah jendela Feiyan dengan tatapan dingin namun lembut. Teknik yang ia gunakan, Velvet Mirage, mengalir dari tangannya dalam bentuk Qi halus, tak terlihat oleh siapa pun. Setiap aliran Qi itu merambat, menembus batas dunia nyata, menyusup ke alam mimpi Feiyan. Perlahan, tipis, namun pasti. Lin Yue tersenyum tipis, hampir tanpa suara. Malam ini adalah malamnya, malam untuk menanam benih yang tak akan disadari Feiyan.

Begitu Velvet Mirage mulai bekerja, dunia di sekeliling Feiyan berubah tanpa ia sadari. Ruangan yang tadinya sederhana dan familiar kini berganti menjadi hangat, dipenuhi cahaya lembut yang memeluk setiap sudut. Aroma bunga—manis, menenangkan, hampir seperti wangi rempah langka dari Gunung Awan Jernih—mengisi udara, meresap ke indra Feiyan. Ia mengedip perlahan, menatap sekelilingnya dengan rasa penasaran yang masih samar. Bayangan bulan menari-nari di dinding, tetapi kali ini terasa lebih lembut, lebih… ramah.

Seorang sosok muncul di hadapannya. Tidak asing, namun juga bukan sepenuhnya nyata. Lin Yue muncul dengan senyum yang menenangkan, matanya hangat namun menyimpan ketelitian yang tajam, penuh perhitungan. Suara Lin Yue lembut, hampir seperti bisikan sutra:

“Feiyan… kau sudah bekerja keras hari ini. Duduklah, jangan khawatirkan apa pun.”

Feiyan menelan ludah, tubuhnya merasakan rasa nyaman yang mendalam, seperti seseorang akhirnya memahami semua kelelahan dan keraguannya. Ia tersenyum kecil, tanpa sadar mengikuti gerakan Lin Yue yang perlahan duduk di depannya, seolah ada magnet halus yang menariknya ke arah sosok itu. Setiap gerakan Lin Yue, setiap perubahan nada suaranya, terasa lembut dan memikat, menembus batas pikiran sadar Feiyan.

“Rasa lelahmu… Aku mengerti,” kata Lin Yue lagi, mencondongkan tubuh sedikit ke arah Feiyan. “Tidak perlu menyembunyikan apa pun padaku.”

Hati Feiyan berdebar. Suasana hangat ini terlalu sempurna, hampir terlalu nyaman. Ia merasakan sesuatu yang asing: kelegaan yang mendalam, rasa aman yang belum pernah ia rasakan sejak memasuki sekte. Tanpa sadar, ia mulai membuka dirinya, menceritakan kegelisahan yang selama ini terpendam.

“Aku… aku takut gagal lagi,” suara Feiyan hampir berbisik, bibirnya bergetar. “Aku tidak ingin mengecewakan semua orang… dan… aku…”

Lin Yue mengulurkan tangannya, menepuk ringan bahu Feiyan. Sentuhan itu lembut, seperti bulu yang menyapu kulit, tetapi setiap kontak meninggalkan kesan yang dalam. Feiyan menunduk, merasakan denyut hangat di dadanya, ketenangan yang menenangkan rasa takutnya.

“Shh… Tidak apa-apa, Feiyan,” suara Lin Yue menenangkan, seolah memeluk batinnya. “Aku di sini. Kau tidak sendiri.”

Perkataan itu, sederhana namun begitu memikat, membuat jantung Feiyan berdebar lebih cepat. Sensasi hangat itu bukan hanya dari tubuh Lin Yue, tetapi juga dari aliran energi yang halus, Velvet Mirage, yang merambat masuk ke pikiran dan hatinya. Setiap kata, setiap gerakan, setiap tatapan—semuanya dipersiapkan untuk menanam ketergantungan emosional perlahan, seolah Feiyan membutuhkan kehadiran Lin Yue untuk merasa lengkap.

Feiyan menatap Lin Yue, bingung namun terpikat. Ia merasa damai, aman, dan… terikat. Perasaan itu baru samar, tetapi cukup untuk membuatnya ingin tetap dekat dengan sosok ini. Tanpa disadari, ia mulai menempatkan kepercayaan pada Lin Yue—lebih dari sebelumnya, lebih dari yang bisa ia kontrol sendiri.

Lin Yue tersenyum tipis, menikmati setiap detik proses ini. Ia tidak terburu-buru. Setiap gerakan, setiap kata, diatur sedemikian rupa agar Feiyan tidak menyadari manipulasi halus yang terjadi. Velvet Mirage bukan hanya mimpi—ia adalah alat yang membentuk ikatan emosional dari batin, membuat Feiyan merasakan bahwa kehadiran Lin Yue adalah sesuatu yang perlu, bukan sekadar pilihan.

“Jangan takut… aku akan selalu ada untukmu,” bisik Lin Yue, suaranya lembut, hangat, menembus ketakutan samar Feiyan.

Feiyan tersenyum kecil, jantungnya berdebar dan tubuhnya terasa ringan. Kata-kata itu menyelimuti hatinya, rasa nyaman yang terlalu sempurna, yang membuatnya mengikat diri pada sosok di hadapannya. Ia tidak menyadari bahwa ketergantungan itu sedang terbentuk, perlahan tapi pasti, menancap ke dalam hati dan pikirannya tanpa ada jalan mundur.

“Terima kasih…” Feiyan berbisik, suaranya hampir tidak terdengar. “Aku… merasa… aman… bersamamu.”

Lin Yue membungkuk sedikit, menatap Feiyan dengan penuh kepuasan. Tatapan itu dingin di balik kehangatan yang ditampilkan. Velvet Mirage terus berjalan, memoles setiap sudut emosional Feiyan, menanam benih rasa ketergantungan yang akan tumbuh seiring waktu.

Waktu di dalam mimpi terasa lambat, setiap detik diperpanjang, setiap gerakan Lin Yue diperhatikan secara seksama. Feiyan merasakan kenyamanan yang begitu intens, seolah malam itu adalah satu-satunya tempat di dunia di mana ia benar-benar diterima, di mana ia benar-benar aman. Dan di dalam kenyamanan itu, kesadarannya perlahan terjerat, mengaburkan batas antara kebutuhan dan pilihan, antara kepercayaan dan manipulasi.

Saat fajar perlahan merayap, cahaya hangat menembus jendela kamar. Feiyan membuka matanya, terbangun dengan napas tenang dan jantung berdebar, rasa nyaman masih tersisa. Namun ada sesuatu yang samar—kekosongan ringan yang membuatnya merasa ada yang hilang, sesuatu yang tidak bisa ia pahami. Bayangan Lin Yue tetap terpatri di pikirannya, meski ia tahu ia tidur sendirian.

Di luar jendela, Lin Yue berdiri, tatapannya menembus kaca. Senyum tipis itu masih terlukis di wajahnya—senyum yang tidak hanya menampilkan kepuasan, tetapi juga rencana panjang. Ia menarik napas pelan, membiarkan malam menyerap aura Velvet Mirage yang telah berhasil menancap di hati Feiyan.

“Semuanya akan menjadi milikku… perlahan,” bisik Lin Yue, hampir tidak terdengar, tetapi cukup untuk menandai kemenangan kecilnya.

Dan dengan itu, malam berakhir, meninggalkan Feiyan yang belum sadar bahwa hatinya telah mulai melekat pada Lin Yue, seperti sutra yang menjerat perlahan, memikat namun berbahaya. Velvet Mirage telah menanam benih pertama dari ketergantungan yang akan tumbuh, dan langkah Lin Yue berikutnya sudah siap untuk menyempurnakan ikatan itu.

Malam itu masih menyisakan sisa cahaya bulan yang menembus jendela kamar, tetapi dunia Feiyan telah berubah—meski ia belum menyadarinya. Hati dan pikirannya terasa ringan, seolah semua ketakutan dan kekhawatiran hari itu terserap oleh hangatnya mimpi yang baru saja ia lalui. Namun ada sesuatu yang berbeda; sesuatu yang samar, namun menimbulkan sensasi aneh di dadanya, seolah ada benang tak terlihat yang menariknya ke arah tertentu.

Feiyan duduk perlahan di tempat tidur, menarik napas panjang, dan menatap keluar jendela. Udara pagi yang sejuk masuk, tetapi ia merasakan panas samar di dalam dadanya, hangat, menenangkan, dan anehnya membuatnya rindu akan sesuatu yang tidak sepenuhnya nyata. Bayangan Lin Yue masih terngiang di pikirannya, senyum lembutnya, tatapan penuh perhatian yang entah bagaimana membuat hati Feiyan terasa tenang sekaligus bergantung. Ia menutup mata sejenak, mencoba memahami perasaan yang muncul, tetapi semakin ia mencoba mengurai, semakin kuat rasa itu mengikatnya.

Di luar kamar, Lin Yue masih berdiri di balik tirai malam yang memudar. Ia mengamati Feiyan dengan mata yang penuh kepuasan. Velvet Mirage telah bekerja dengan sempurna—tidak tergesa-gesa, halus, dan begitu nyata sehingga Feiyan tidak bisa membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Setiap detik yang Feiyan habiskan di dalam ilusi telah menanam benih ketergantungan, dan Lin Yue tahu benih itu akan tumbuh perlahan menjadi rantai yang tak terlihat, menjerat hati dan pikirannya. Senyum tipisnya menunjukkan bahwa permainan baru saja dimulai.

Feiyan akhirnya bangkit dari tempat tidur, tubuhnya masih lelah namun jiwanya terasa ringan. Ia menatap cermin kecil di sisi kamar, wajahnya pucat karena latihan dan aktivitas beberapa hari terakhir, tetapi matanya memiliki kilau yang berbeda—keringanan, ketenangan, dan sedikit kebingungan yang membuatnya tampak begitu rentan. Ia mengusap pipinya dengan perlahan, seolah mencoba menyingkirkan sisa-sisa mimpi, namun semakin ia menyentuh wajahnya, semakin terasa hangat di dadanya. Sensasi itu tidak bisa dijelaskan; itu bukan hanya kenangan mimpi, tetapi sesuatu yang menancap lebih dalam, menempel pada inti emosinya.

Langkah Feiyan terasa berat ketika ia berjalan ke jendela, menatap langit yang mulai terang. Udara pagi sejuk, tetapi ada panas samar yang mengikuti setiap gerakannya, hangat di dalam dada, memanggilnya, menuntun pikirannya pada satu nama—Lin Yue. Tanpa sadar, hatinya berdegup lebih cepat, seakan ingin mencari sosok yang ia rasakan begitu dekat namun tidak bisa disentuh. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan detak jantungnya, tetapi semakin ia berusaha menolak, semakin kuat tarikan itu terasa.

Di sisi lain, Lin Yue mulai melangkah perlahan ke dalam bayangan pohon dekat jendela, menyelinap tanpa suara. Qi halusnya mengalir seperti sutra, setiap gerakan penuh perhitungan, menyentuh ruang emosional Feiyan tanpa meninggalkan jejak. Velvet Mirage masih bekerja, meski malam telah berlalu, memelihara sisa sensasi nyaman dalam pikiran Feiyan. Lin Yue tersenyum tipis, menelan napas pelan, menikmati momen ketika pengaruhnya tidak hanya terasa di mimpi tetapi mulai menempel di realitas.

Feiyan menoleh perlahan, seperti merasakan kehadiran yang samar di dekatnya. Ia merasa ada sesuatu yang mengintai, tetapi pikirannya terlalu bingung, terikat oleh rasa nyaman yang baru saja ia rasakan, sehingga ia menafsirkan sensasi itu sebagai imajinasi. Suara hatinya sendiri samar, bercampur dengan gema Velvet Mirage. Ia menarik napas panjang, menutup mata sejenak, berharap bahwa perasaan aneh ini akan hilang dengan sendirinya. Namun begitu ia membuka mata, ada rasa kosong yang samar di dadanya—seperti ada celah kecil yang tidak bisa diisi, tetapi juga tidak menyakitkan, hanya memanggil.

Lin Yue melangkah lebih dekat, hampir tidak terlihat oleh Feiyan, setiap gerakannya diatur dengan presisi. Tangannya menyinggung udara dekat bahu Feiyan, tidak menyentuhnya secara langsung, tetapi Qi halusnya merambat melalui ruang, menembus pikiran dan hati Feiyan. Detak jantung Feiyan mulai mengikuti ritme halus itu, perlahan menjadi satu dengan sensasi yang mengalir di tubuhnya. Ia menunduk, menutup mata, tidak menyadari bahwa setiap detik yang ia habiskan dalam ketenangan palsu ini semakin menambah ketergantungannya pada sosok yang bahkan tidak terlihat sepenuhnya.

Lin Yue mencondongkan tubuh sedikit, bisikannya yang lembut terdengar di telinga Feiyan, meski hanya di pikirannya sendiri:

“Jangan takut, Feiyan… aku selalu di sini.”

Kata-kata itu menembus pertahanan batin Feiyan yang rapuh, menimbulkan gelombang kelegaan dan ketergantungan yang lembut tapi kuat. Feiyan tersenyum kecil, tubuhnya terasa hangat, seolah setiap kata Lin Yue adalah pelukan yang menenangkan. Ia tidak menyadari bahwa setiap kata itu adalah benang halus yang menenun dirinya lebih dalam ke jaring emosional yang telah disiapkan Lin Yue.

Waktu terus berlalu, dan dunia Feiyan menjadi kabur, batas antara kenyataan dan ilusi semakin memudar. Ia merasakan setiap gerakan Lin Yue, setiap senyuman, setiap bisikan sebagai kenyataan yang nyata, yang tidak dapat ia tolak. Velvet Mirage bekerja sempurna, mengaburkan kesadaran dan menanamkan rasa aman yang tak tergoyahkan. Feiyan merasakan ketenangan yang terlalu sempurna—tidak alami, tetapi begitu memikat sehingga ia tidak bisa menolaknya.

Lin Yue menatap Feiyan dengan mata yang bersinar tipis, penuh kepuasan. Ia tahu, dalam beberapa detik lagi, ketergantungan itu akan berakar, membuat Feiyan mencari kehadirannya tanpa sadar. Setiap gerakan, setiap tatapan, setiap bisikan—semuanya disusun sedemikian rupa untuk menciptakan ikatan batin yang tak terlihat, halus, dan abadi. Senyum tipisnya kini berubah menjadi sedikit lebih lebar, menandai keberhasilan tahap pertama Velvet Mirage.

Fajar mulai menyelinap masuk, cahaya mentari menyentuh kamar Feiyan perlahan. Ia membuka mata, tubuhnya terasa ringan, jantungnya berdebar, tetapi ada sesuatu yang hilang—sebuah celah kecil dalam dirinya yang bahkan tidak ia sadari. Perasaan hangat masih tersisa, seolah malam itu telah meninggalkan jejak tak terlihat di hatinya. Bayangan Lin Yue tetap melekat di pikirannya, tidak nyata tetapi terasa begitu dekat, memanggilnya tanpa suara.

Feiyan mencoba menghela napas, mencoba memahami sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, tetapi semakin ia mencoba, semakin kabur semuanya. Ia menatap jendela, mengingat senyum Lin Yue, dan hatinya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Ia merasa membutuhkan sosok itu, bahkan sebelum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Di luar, Lin Yue menarik napas pelan, matanya bersinar dengan cahaya yang hampir tak terlihat. Ia menunduk sebentar, menikmati momen kemenangan kecilnya, tetapi segera menatap jauh ke depan. Ada rencana panjang yang menunggu, langkah-langkah berikutnya yang akan memastikan Feiyan semakin tergantung, semakin terpikat. Velvet Mirage hanyalah awal—benih ketergantungan telah tertanam, dan ia tahu Feiyan akan tumbuh mengikuti arus yang telah ia ciptakan.

Dan di detik terakhir, sebelum Feiyan sepenuhnya menyadari sesuatu yang salah, sebuah bayangan samar muncul di sudut kamar. Garis hitam tipis berdenyut di udara—Void Crack, seolah merespons ikatan yang sedang terbentuk. Lin Yue tersenyum tipis, tatapan matanya lebih dalam, mengetahui bahwa malam ini tidak hanya menanam ketergantungan, tetapi juga telah menggerakkan sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang tidak bisa dibatalkan.

Feiyan menoleh perlahan, pandangannya kosong namun penasaran, tidak menyadari kehadiran bayangan itu. Tiba-tiba, angin dingin menyapu kamar, meski jendela tertutup rapat. Bayangan hitam tipis bergerak mendekat, menelusup ke ruang emosinya, berdenyut seirama dengan hatinya. Feiyan mengedip, hatinya bergetar tanpa sebab, rasa nyaman yang baru saja ia rasakan mulai ternoda sedikit—tetapi tidak cukup untuk membuatnya sadar akan bahaya.

Lin Yue menunduk, tatapannya fokus pada bayangan yang bergerak di ruang itu, senyum tipisnya melebar: semua berjalan sesuai rencana. Ia tahu, di malam-malam berikutnya, ketergantungan itu akan berkembang, dan Feiyan akan semakin tidak bisa melepaskan diri—sementara Void Crack, yang kini menunggu di tepian kesadarannya, menandai bahwa permainan ini baru saja dimulai.

Dan dengan satu tarikan napas yang perlahan, Lin Yue melangkah ke bayangan jendela, menghilang dalam cahaya pagi, meninggalkan Feiyan sendirian, hangat namun terpikat, tidak menyadari bahwa hatinya telah mulai terikat, dan sesuatu yang gelap sedang menunggu untuk muncul dari dalam dirinya.

Ketergantungan Feiyan telah tertanam, namun bayangan hitam itu berdenyut, siap menelan semua kenyamanan yang baru saja menjeratnya.

1
lix
like dan komen nya jangan kelupaan😁👍
miss_e story
iklan buatmu
mary dice
Jika retak tak akan pernah kembali utuh namun kebangkitan Feiyan akan menumbuhkan tunas baru yang lebih kuat
Shadow: what ???
total 1 replies
knovitriana
update Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!