Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi atau Teh
Sudah tiga hari Keira resmi jadi sekretaris CEO.
Dan selama tiga hari itu pula… hidupnya berubah jadi setengah gila.
Karena, entah kenapa, semua tugas yang Ethan kasih nggak masuk akal.
Pagi itu, Keira baru aja duduk di meja kerja, belum sempat ngeluarin notes, ponselnya bunyi.
Tulisan di layar:
📞 Bos Nyebelin.
“Lah baru jam delapan, apaan lagi nih…” gumam Keira kesal.
Ia menarik napas dan mengangkat telepon. “Halo, Pak Ethan?”
“Ke ruangan saya sekarang.” titah Ethan dari sebrang panggilan.
“Ada rapat, Pak?” tanya Keira.
“Nggak. Ada saya.” jawab Ethan dengan santainya.
“…Ha?” Keira melongo mendengar jawaban Ethan yang kelewat santai itu.
"Saya tunggu lima menit. Kalau terlambat kamu saya hukum."
"Hukum? Apa hukumannya, Pak?"
"Kamu nggak akan siap dengarnya."
"Coba saja."
"Jadi milik saya."
Jantung Keira berdebar cepat. "M-maksudnya?" tanyanya gugup.
"Kamu tahu maksud saya, Keira."
Telepon langsung ditutup.
“Nih orang kenapa sih?! Udah kayak kode morse jalan kaki.” gerutu Keira dengan bibir cemberut. "Apa tadi dia bilang? Jadi miliknya?"
Keira berpikir keras, mencoba memahami maksud Ethan. "Apa itu artinya..."
Keira menggeleng kuat-kuat, mencoba menepis pikiran liarnya.
Tak ingin terlalu banyak berpikir, ia pun berdiri sambil menghela napas panjang.
Dari kejauhan, Livia dan Nolan langsung bisik-bisik.
“Tuh kan, panggilan cinta lagi.” bisik Livia kepada Nolan.
“Fix, CEO-nya udah jatuh cinta parah. Tiap jam pengen liat muka bar-bar-nya Keira, say.” sahut Nolan juga berbisik sambil menutup mulut menahan tawa.
Beberapa menit kemudian, di ruang CEO.
Ethan sedang duduk dengan elegan, jas hitamnya rapi, dasi abu gelap.
Tatapan tajam tapi tenang.
Keira berdiri di depan meja, dengan wajah bingung. “Jadi... Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
Ethan perlahan mengangkat pandangan, menatap Keira. “Temani saya meeting.”
“Meeting di mana, Pak?”
“Ruang rapat lantai 5.”
Keira mengerutkan keningnya. “Bukannya itu rapat bagian keuangan, Pak?”
Ethan mengangguk. “Iya.”
“Tapi saya sekretaris divisi desain, bukan finance.”
“Saya tahu.”
“Terus kenapa saya ikut?”
Ethan menatapnya dalam-dalam. “Biar saya nggak bosan.”
“HAH?!” Keira melongo mendengar jawaban Ethan yang aneh itu.
Ethan tersenyum tipis melihatnya, seperti menikmati ekspresi kaget yang Keira tunjukkan. “Kenapa? Kamu keberatan?”
“Sa-saya… cuma takut dibilang aneh aja, Pak.” jawab Keira gugup.
“Biarkan saja. Saya yang minta. Nggak ada yang berani ngomong macam-macam.”
Keira langsung menelan ludah.
Entah kenapa, tiap Ethan ngomong kayak gitu, nadanya tuh kayak perintah yang lembut tapi… bikin lutut lemas.
“Ni orang CEO apa tukang hipnotis sih…” batin Keira frustasi.
...----------------...
Di ruang rapat, sepuluh orang dari bagian keuangan lagi serius bahas laporan anggaran.
Sementara Keira duduk di samping Ethan dengan wajah full awkward.
Tangannya sibuk pura-pura nulis, padahal cuma coret-coret nggak jelas.
“Kamu suka kopi atau teh?” bisik Ethan.
“Pak, ini rapat.” bisik Keira sambil lirik kanan kiri, takut ada yang melihat interaksi mereka.
“Saya nanya serius.”
Keira menghela napas pelan. “Teh.” jawabnya sambil pura-pura nulis.
Ethan mengangguk. “Oke. Mulai besok saya siapin teh di ruangan saya.”
Keira menghentikan pergerakannya. “Lah?! Kenapa teh-nya harus di ruangan bapak?!”
Ethan tersenyum tipis. “Supaya kamu ada alasan datang.”
Keira refleks menatap Ethan.
Tatapan pria itu tenang tapi matanya… hangat.
Ada senyum samar di sudut bibirnya.
Keira buru-buru menunduk. “Tolonglah Tuhan, aku butuh firewall buat jantung ini…” batinnya dengan jantung berdebar kencang.
Beberapa menit kemudian.
Seorang staf keuangan mempresentasikan data di layar.
Ethan menyilangkan tangan, lalu berbisik lagi. “Tulis di notes kamu: ‘ajukan ide konsep desain kantor baru’.”
“Desain kantor? Kok bahasannya jadi ke divisi saya, Pak?”
“Ya, saya mau lihat kamu kerja.”
“Tapi saya bukan arsitek.”
“Nggak perlu. Saya cuma mau lihat gaya kamu berpikir.”
Nada suaranya rendah dan penuh makna.
Mata mereka bertemu sebentar — cukup untuk bikin Keira menahan napas.
Sampai salah satu staf nyeletuk.
“Pak Ethan, apakah sekretaris Bapak perlu ikut mencatat data juga?” tanya staf keuangan.
Ethan menatapnya tajam. “Ya. Semua yang saya lihat penting, dia juga harus lihat.” jawabnya datar.
Ruangan mendadak hening.
Keira menunduk makin dalam, wajahnya panas. “Astaga… orang-orang pasti mikir aku simpenan nih. Mati aku…” batinnya gelisah.
...----------------...
Setelah rapat selesai, Keira keluar duluan, napasnya berat.
Ethan menyusul pelan dan berhenti di sampingnya di depan lift. “Kenapa wajahmu merah?”
Keira reflek meraba wajahnya, lalu menghela napas pelan. “Karena malu, Pak. Semua orang liatin saya kayak… kayak saya ada hubungan apa sama Bapak.”
“Kalau benar, apa kamu keberatan?”
Keira langsung terdiam.
Matanya melebar, jantungnya nyaris berhenti.
Ethan mendekat sedikit. “Saya cuma mau kamu di dekat saya, Keira. Itu saja.” ucapnya pelan, dan entah kenapa terdengar begitu seksi di pendengaran Keira, hingga gadis cantik itu gugup.
Lift berbunyi - ting.
Keira buru-buru masuk ke dalam tanpa menoleh. “Tuh kan. CEO satu ini emang licik banget. Tapi gawatnya, gue mulai suka trik liciknya…” gumamnya setelah pintu lift tertutup.
...****************...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪