NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Di Medan Perang

Lahir Kembali Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Penyelamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Seorang pria modern yang gugur dalam kecelakaan misterius terbangun kembali di tubuh seorang prajurit muda pada zaman perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Tiga tank Belanda terbagi ke kiri, tengah, dan kanan untuk melindungi serangan infanteri. Saat itu, tank di sisi kanan berhasil dihancurkan oleh Surya, menciptakan celah besar.

Momentum itu dimanfaatkan. Jarak antara pasukan republik dan serdadu Belanda kini kurang dari seratus meter. Pada jarak sedekat itu, pertempuran jarak dekat menjadi keuntungan pejuang republik yang terbiasa bertarung dengan bayonet, golok, dan bambu runcing.

Mayor Wiratmaja tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Ia mengacungkan pistolnya tinggi-tinggi dan berteriak lantang:

“Kawan-kawan! Ikut aku! Maju demi republik!”

“MERDEKA!” teriak para pejuang, lalu melompat keluar dari parit. Dengan bayonet, bambu runcing, dan semangat membara, mereka menyerbu ke arah serdadu Belanda, melewati Surya dan reruntuhan tank yang masih membara.

Pertempuran jarak dekat pun pecah brutal, berdarah, tanpa ampun.

Surya sendiri tidak langsung bangkit. Tenaganya sudah hampir habis, lututnya gemetar, napasnya tersengal. Hatinya pun gentar. Ia merasa sudah cukup mengorbankan nyawa saat menaklukkan tank tadi.

Namun, tanpa ia ikut pun, situasi sudah berubah. Tentara Belanda yang semula unggul kini panik menghadapi serangan balik. Peralatan berat mereka lumpuh, dan dalam jarak sedekat itu, tank justru menjadi beban.

Tank-tank Belanda tidak bisa menembakkan senapan mesin ataupun meriam mereka tanpa risiko menewaskan pasukan sendiri. Pejuang republik terus merangsek, melemparkan granat, bahkan ada yang berani menempelkan peledak ke badan tank.

Satu tank dihancurkan dengan peledak yang diselipkan ke bawah sasis, sementara tank lain diledakkan dengan granat yang dilemparkan ke dalam palka, menewaskan awak di dalamnya.

Tak lama kemudian, pasukan Belanda mulai goyah. Mereka mundur terbirit-birit seperti air pasang yang surut, meninggalkan mayat bergelimpangan. Sebagian yang terkepung mengangkat tangan tinggi-tinggi, menyerah kepada pejuang republik.

“Surya! Surya!”

Seseorang berlari terhuyung ke arahnya. Ternyata Okta, wajahnya penuh debu dan darah, lututnya goyah. Ia menjatuhkan diri berlutut di samping Surya, lalu berteriak parau:

“Ada pejuang terluka!”

“Okta…” Surya duduk dengan lengan gemetar menopang tubuhnya.

Okta sempat terperanjat. Ia menatap Surya dengan mata terbelalak, lalu setelah beberapa detik langsung meninju bahu Surya sambil tertawa lega.

“Kau belum mati rupanya! Dasar beruntung!”

“Tentu saja!” Surya menjawab dengan senyum tipis. “Tapi kalau kita tidak segera kembali ke parit, mungkin kita akan mati sekarang juga.”

“Apa maksudmu?” tanya Okta bingung.

Surya tidak menjawab. Ia hanya menarik Okta bangkit, lalu menyeretnya kembali ke parit.

Begitu tubuh mereka masuk ke dalam parit, rentetan peluru artileri Belanda menghantam tanah di sekitar mereka. Ledakan demi ledakan membuat tanah bergetar, membuat Okta kembali melongo tak percaya.

Belanda ternyata melakukan koordinasi dengan baik. Mereka menurunkan tembakan artileri untuk melindungi pasukan yang mundur dan sekaligus memberi sinyal kekuatan kepada pejuang republik.

Setelah tembakan berhenti, Okta merogoh sakunya dan mengeluarkan sebatang rokok lintingan sendiri. Air liurnya masih menempel di gulungan tembakau itu, tapi ia tak peduli.

“Tahu tidak, Surya?” kata Okta sambil menyerahkan rokok itu.

“Apa?” Surya menerimanya tanpa pikir panjang. Di medan perang seperti ini, siapa yang masih peduli soal jijik atau tidak?

“Aku hampir tidak mengenalimu lagi.” Okta menyalakan korek, menyalakan rokok Surya, lalu mengisap dalam-dalam batangnya sendiri. “Kau bukan Surya yang dulu. Kau bisa menebak bahaya, bisa menghindari tembakan, dan kau berhasil meledakkan tank seorang diri. Tuhan… puluhan kawan kita sudah gugur mencoba, tak satu pun berhasil, tapi kau… kau melakukannya sendiri!”

Surya tersenyum tipis, lalu menjawab:

“Itu karna botolmu, Okta.”

“Oh, begitu?” Okta terkekeh, wajahnya berdebu penuh noda darah. “Kalau begitu aku juga ikut bertanggung jawab mengatakan itu!”

“Tentu saja!” Surya mengangguk serius. “Coba bayangkan kalau aku lapor ke atasan… bagaimana aku harus menjelaskan kontribusimu? ‘Lapor Mayor, bom molotov yang kupakai buat bakar tank itu sebenarnya botol arak rampasan Okta dari dapur Belanda!’”

“Oh, tidak!” Okta menepuk kepalanya dengan frustrasi. “Jangan bicara sembarangan begitu! Kalau sampai ketahuan, bisa-bisa mereka kirim orang bukan untuk kasih penghargaan, tapi untuk minta… amunisi tambahan!”

Surya tertawa sampai tersedak asap rokok, batuk keras hingga matanya berair.

“Saudara Surya!” tiba-tiba seorang kurir muncul di depan mereka. Ia bahkan memberi hormat penuh.

Dalam hati, Surya mendengus kesal. “Celaka… kalau ada penembak jitu Belanda yang lihat ini, aku jadi sasaran empuk!” pikirnya.

“Mayor Wiratmaja memanggilmu ke markas!” ucap sang kurir tegas.

Okta langsung menepuk bahu Surya sambil berbisik, “Ingat, jangan sekali-kali sebut soal botol arak itu, ya!”

Surya tersenyum nakal. “Tenang saja, Okta… aku tidak akan menyebut namamu.”

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini suasana perjalanan Surya menuju markas terasa lain. Semua pejuang yang dilewatinya menatap penuh hormat. Ada yang berseru:

“Hebat sekali, Surya!”

“Pertarunganmu barusan menyelamatkan banyak nyawa!”

“Kami semua lihat sendiri kau bakar tank Belanda itu!”

Sorakan itu membuat wajah Surya sedikit memanas. Ia hanya menunduk, melangkah cepat menuju pos komando.

Sementara itu, di markas pertahanan yang berupa bangunan sekolah tua yang sudah porak-poranda, suasana memanas.

Mayor Wiratmaja baru saja kembali dari garis depan ketika mendapati Instruktur Joko, politik komisar yang ditugaskan mengawasi moral pasukan, sedang memaki beberapa pejuang yang tertangkap kabur dari medan perang.

“Memalukan!” teriak Joko sambil menghantam meja. “Belum pernah dalam sejarah perjuangan kita ada sampah seperti kalian! Lebih hina daripada pengkhianat yang tadi pagi kutembak mati dengan tanganku sendiri!”

“Dia bukan pengkhianat, Komandan Joko!” potong Mayor Wiratmaja lantang.

Joko menoleh curiga. “Apa maksudmu, Mayor?”

“Surya. Dia bukan pengkhianat!” Wiratmaja menegaskan. “Ia telah membuktikan keberaniannya dengan mata kepalaku sendiri!”

Joko tertawa dingin. “Kau bilang hanya karena dia menewaskan beberapa serdadu Belanda? Itu bisa jadi sekadar penyamaran. Kau tahu, musuh kita licik. Bisa saja itu cara mereka menyusupkan agen!”

“Tidak, Komandan Joko!” Wiratmaja menyahut tegas, hampir membentak. “Surya tidak hanya menewaskan beberapa musuh. Ia membakar tank musuh dengan satu bom molotov! Tindakan itulah yang membuka jalan bagi kita untuk menyerang balik. Kalau bukan karena dia, posisi ini sudah jatuh ke tangan Belanda sekarang juga!”

Ruangan hening sejenak. Mayor Wiratmaja menatap tajam ke arah Joko, lalu menambahkan dengan suara berat:

“Kalau benar dia pengkhianat… maka aku akan minta lebih banyak pengkhianat seperti Surya!”

1
RUD
terima kasih kak sudah membaca, Jiwanya Bima raganya surya...
Bagaskara Manjer Kawuryan
jadi bingung karena kadang bima kadang surya
Nani Kurniasih
ngopi dulu Thor biar crazy up.
Nani Kurniasih
mudah mudahan crazy up ya
Nani Kurniasih
ya iya atuh, Surya adalah bima dari masa depan gitu loh
Nani Kurniasih
bacanya sampe deg degan
ITADORI YUJI
oii thor up nya jgm.cumam.1 doang ya thor 3 bab kekkk biar bacamya tmbah seru gt thor ok gasssss
RUD: terima kasih kak sudah membaca....kontrak belum turun /Sob/
total 1 replies
Cha Sumuk
bagus ceritanya...
ADYER 07
uppppp thorr 🔥☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!