Misi tak terpecahkan Lucius Malcom, si jaksa tampan yang jenius adalah mencari seorang wanita muda nan cantik bernama Edith. Sudah hampir tiga tahun Edith menghilang tanpa jejak. Lucius sudah mencarinya ke segala penjuru dunia, namun hasilnya selalu nihil.
Sampai pada suatu malam, seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa mayat wanita muda yang mengenakan cincin berlian hijau milik Edith telah ditemukan.
Dan di tengah-tengah kesibukannya bekerja dan menyelidiki kasus tersebut, Lucius mulai mencurigai keterlibatan Monica, istrinya dalam kasus yang diselidikinya. Hingga mengancam keutuhan rumah tangga yang sudah mereka bangun selama tiga tahun.
Apakah dengan menyelidiki kasus cincin berlian hijau Edith, Lucius Malcom dapat menyelesaikan misinya?
Sebenarnya rahasia apa yang dipendam Edith hingga ia lenyap ditelan bumi?
Dan apakah pada akhirnya Lucius dan Monica berhasil mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka berdua?
Penuh ketegangan dan intrik, ikuti misteri yang ada di dalam cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 (Penyelidikan Part 2)
Pilar-pilar besar pergola dicat warna putih, tertutup rimbunan hijau tanaman rambat. Terlihat sangat kontras dengan warna atap pergola yang dibuat dari rangka kayu berwarna coklat kemerahan yang juga penuh tanaman rambat berwarna hijau dan bunga-bunga kecil warna putih. Begitu indah menyatu dengan segarnya rumput taman kota.
Setelah berada di pergola taman, aku mencari posisi yang ideal agar dapat mengamati lokasi TKP dengan serius. Lalu otakku mulai bekerja.
Memikirkan bagaimana pelaku memindahkan mayat Orlene ke dekat semak-semak tanpa tertangkap kamera cctv? Apakah pelaku memakai pergola taman ini sebagai jalan untuk memindahkan mayat Orlene? Karena tidak ada satupun kamera cctv di sepanjang pergola ini dan kebetulan sekali pergola ini juga berada di titik buta kamera cctv yang di pasang di tiang lampu penerangan taman kota.
Sepertinya pergola ini adalah jalan yang terbaik untuk memindahkan mayat Orlene dari luar ke dalam taman.
"Tapi pergola taman ini bukan pergola yang tertutup tembok. Jika ingin memindahkan mayat Orlene lewat pergola ini pelaku harus mempunyai taktik yang jitu dan hebat, supaya tidak ada satu orangpun yang melihatnya. Terlalu banyak orang berlalu lalang di pergola ini, seperti pengunjung taman, petugas kebersihan yang membawa kotak tong sampah besar beroda dan pedagang asongan. Beberapa pengunjung taman juga banyak yang berselfie ria dan duduk-duduk di bangku panjang yang disediakan di pergola taman," ucapku pada diriku sendiri.
"Baiklah, ayo kita telusuri pergola taman ini. Kita periksa dengan lebih teliti, semoga kita berhasil menemukan petunjuk di sini," ucapku pada Andrew.
Aku mulai berjalan menyusuri pergola taman dari ujung kiri ke ujung kanan, melewati beberapa pilar besar. Memperhatikan lantai, pilar dan rangka atap pergola dengan seksama. Sesekali aku berhenti untuk memandangi pilar-pilar pergola.
"Lantai pergola dilapis dengan kerikil sebagai groundcover yang bersifat permeable sehingga air masih dapat menembus ke dalam tanah. Lalu pilar pergola ini dibuat dari beton, sangat kokoh dan kuat. Teksturnya pilar ini agak sedikit kasar. Sedangkan atap pergola dari rangka kayu yang dipenuhi tanaman rambat, sangat subur sehingga terik sinar matahari tidak dapat masuk ke dalam pergola. Panjang 50 langkah dan lebarnya 5 langkah," tuturku kembali berjalan lagi.
"Dan ujung kanan dari pergola taman kota ini adalah tempat parkir. Berarti pelaku kemungkinan besar menggunakan pergola ini untuk memindahkan mayat Orlene dari kendaraan yang diparkir di tempat parkir ke semak-semak," gumamku agak keras.
Andrew mengikutiku dari belakang. Ketika aku sudah sampai di ujung kanan pergola, aku segera berbalik, berjalan kembali ke ujung kiri pergola.
"Aduh, kau mengagetkanku saja, Andrew!" pekikku kaget karena Andrew hampir saya menabrakku. Tanganku langsung mendorong tubuh Andrew yang tergolong jangkung 183 cm, yang tiba-tiba berdiri bak tiang listrik, menjulang kokoh di hadapanku. Untung saja kami tidak bertabrakan. Tinggi badan kami hampir sama, jadi aku benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana jika kami tadi bertabrakan. Mungkin hidung mancung kami yang pertama-tama akan bersentuhan.
I hate it, batinku.
"Maaf, Pak. Keasyikan mambalas pesan whatsapp dari teman," ucap Andrew buru-buru menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
Sepertinya Andrew takut, aku bakal memarahinya karena dia tidak ikut memeriksa area sekitar TKP, tapi malah asyik sendiri dengan temannya.
What ever lah, sometimes someone need some rest, gumamku.
"Apakah bapak menemukan petunjuk penting?" tanya Andrew.
Aku menggelengkan kepala.
"Menurutmu bagaimana cara teraman untuk memindahkan mayat Orlene dari lapangan parkir taman kota yang ada di sana ke semak-semak itu?" tanyaku pada Andrew.
"Lewat pergola ini, Pak. Karena pergola ini berada di titik buta kamera cctv," jawab Andrew.
"Lebih spesifik lagi, Andrew!" perintahku.
"Ehem... Bapak lihat petugas kebersihan yang membawa kotak tong sampah beroda itu? Jika saya pelakunya, saya akan menyamar menjadi petugas kebersihan lalu memasukkan mayat Orlene ke dalam kotak tong sampah beroda itu, membawanya dari tempat parkir melaui pergola ini, kemudian pergi ke semak-semak diam-diam dan membuang mayat Orlene di sana," jawab Andrew.
"Good, cara tersebut termasuk cara yang mudah dan aman. Nanti malam kamu harus melihat lagi rekaman cctv taman kota dan menscreen shot wajah petugas kebersihan yang terlihat membawa kotak tong sampah beroda pada hari kematian Orlene, lalu serahkan padaku," perintahku pada Andrew.
"Aduh, lembur lagi, lembur lagi. Kapan aku bisa punya waktu untuk mengejar seorang gadis?" gerutu Andrew.
Wajah Andrew tampan, imut, body tinggi berisi, pendidikan S1 jurusan hukum, karier juga lumayan tapi sayang pergaulannya sempit. Mungkin teman terdekatnya adalah aku, atasannya yang kejam. Jadi harap maklum jika dia menjomblo dalam waktu lama, batinku.
Aku tersenyum menertawai nasib sialnya mempunyai atasan sepertiku.
"Lalu jika rencana A gagal, menurutmu apa rencana B yang akan diambil?" tanyaku pada Andrew.
"Maksud bapak, saya diminta memikirkan lagi cara ke dua yang mungkin bisa saya lakukan untuk memindahkan mayat Orlene tanpa terekam kamera cctv?" tanya Andrew balik kepadaku.
Aku mengangguk.
"Bagaimana jika lewat atap pergola, Pak?" tanya Andrew. Jari telunjuknya menunjuk ke atas melampaui kepalanya.
Aku mengangguk-anggukkan kepala, melipat tangan di dada, dan mulai berpikir lagi.
"Cara ini juga bagus. Atap pergola taman kota ini cukup rimbun dan tertutup rapat. Ujung atap pergola taman ini juga lebih menjorok dekat tempat parkir. Pelaku dapat dengan mudah memindahkan mayat Orlene dari kendaraan yang dipakainya ke semak-semak tanpa diketahui cctv. Karena tidak ada kamera cctv di area tempat parkir yang dekat dengan atap pergola. Tapi bagaimana cara menaikkan dan menurunkan mayat itu lewat atap pergola taman?" tanyaku ingin tahu jalan pemikiran Andrew.
"Maaf, Pak. Saya hanya asal menjawab tadi. Saya juga bingung bagaimana ya caranya menaikkan mayat dan menurunkan mayat dari atas ke bawah, tanpa diketahui banyak orang," jawab Andrew tersipu malu.
"Ehem... Berat badan Orlene sekitar 48 kg dan tubuhnya terbakar hampir 70%, jadi berat badan mayat Orlene pasti mengalami penurunan, menjadi jauh lebih ringan dari berat semula. Bagaimana jika pelaku memindahkan menurunkan mayat Orlene dengan menggunakan sebuah alat yang menyerupai katrol?" tanyaku cepat.
"Mission Impossible segera dimulai," canda Andrew sambil menyanyikan sound track lagu film Mission Imposibble.
Akupun tersenyum.
Sepertinya rencana B ini sangat tidak masuk akal. Terlalu sulit untuk dilakukan, batinku.
"But who knows? We never know what criminal thinking," selorohku sambil nyengir.
"Baiklah, sekarang kita pergi ke bangunan kecil yang ada di ujung kiri pergola taman ini. Kita harus memeriksanya, karena mungkin saja pelaku menggunakan bangunan kecil itu sebagai jalur untuk memindahkan mayat Orlene ke semak-semak. Walaupun sepertinya hal itu juga tidak mungkin, terlalu sulit untuk dilakukan," ucapku pada Andrew.
"Siap, Pak! Ngikut aja deh!" jawab Andrew.
Tepat pukul 17.30 lampu taman mulai menyala, termasuk lampu-lampu yang bergantungan di atas pergola. Sinar lampu yang kekuningan membuat suasana taman kota makin indah.
"Cantik sekali pemandangannya, Pak. So romantic. Saya jadi ingin berfoto-foto kemudian diupload di sosial media, Pak. Apakah bapak bersedia memfoto saya, Pak?" tanya Andrew antusias.
"Dasar genit! Mana ponselmu? Cepatlah bergaya di sana!" perintahku cepat, tak ingin menghalangi kenarsisan Andrew di media sosial.
Andrew langsung mencari spot foto yang menurutnya cantik, taklama dia langsung memasang berbagai macam gaya, dari gaya lucu menggemaskan sampai gaya sedikit brutal kasar.
"Udah, ayo cepetan. Keburu malam, nyamuknya banyak," perintahku.
tapi kenapa peminatnya dikit ya🤔
Mampir ya ke Ibu Tunggal
Terima kasih 🙏