Status simpanan itulah yang harus disandang wanita cantik bernama Dista karna sebuah kesalahan fatal yang ia lakukan dengan suami sahabat karibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Leo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
bab 14
.
.
.
Pagi-pagi sekali, Aqil sudah bersiap kekantor. namun kali ini ia cukup sibuk menyiapkan beberapa pakaian kedalam koper. saat Arumi masuk kedalam kamar dan melihat suaminya berkemas ia begitu terkejut.
"Mas.. mas mau kemana?? "
"Oh.. itu, aku lupa memberitahumu semalam. aku ada kunjungan kerja keluar kota mungkin sekitar 1 minggu."Ucap Aqil dengan melanjutkan pengemasannya.
Arumi benar-benar terkejut sekali. baru kali ini Aqil lupa memberitahu dia.
"Sini aku bantu mas.."Arumi menawarkan diri.
"Tidak usah. sudah selesai kok."Larang aqil yang segera menutup kopernya lalu kemudian menurunkannya.
"Aku pergi dulu.."Aqil langsung melenggang pergi begitu saja. bahkan ritual romatis mereka setiap akan berangkat kerja kini tidak lagi ada. Arumi menjadi terlihat sedih dibuatnya. hampir sepekan, Sikap Aqil terlihat berubah sekali. jarang pulang dan terlihat tidak peduli padanya.
"Apa karna aku mandul?? bagaimana bisa begitu?? Bahkan dia yang selalu menolak jika aku akan melakukan pemeriksaan sungguhan.."Gumam Arumi seraya menahan air matanya. sakit rasanya diabaikan seperti itu.
.
.
Sengaja Aqil membawa kopernya sejak pagi. ia harus kekantor terlebih dulu untuk menghandle pekerjaan yang akan ia tinggalkan selama sepekan itu.
Rasa tanggung jawab yang Aqil fikirkan sampai ia melupakan wanita halal yang harus ia jaga.
.
Dirumah, Dista yang masih ragu hanya bisa menatap keluar jendela kamarnya.
Aqil kekeh akan menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab untuk anak mereka. disisi lain, Rayyan yang sudah Dista anggap sebagai kakak sendiri menyarankan menolak ajakan menikah itu.
"Aku harus bagaimana.. nanti malam mas Aqil sungguh-sungguh kesini tidak ya?? "Gumam Dista. ia kembali menyandarkan tubuhnya diranjang.
.
.
Malam yang ditunggu Aqil tiba juga. Ia mempercepat laju kendaraannya untuk sampai kerumah Dista.
setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu, aqil pun tiba. tanpa permisi Aqil langsung masuk kerumah Dista yang selalu tidak dikunci.
Tujuan Aqil adalah kamar Dista. senyum terbit diwajah Aqil saat melihat Dista terlelap sambil bersandar.
"Dista.."Suara lembut Aqil berhasil.menyadarkan Dista.
"Mas Aqil.. kau serius?? " Dista masih tidak percaya.
Aqil mengangguk dengan serius. "Tentu saja. apa kau sudah bersiap?? "
Dista mengangguk pelan.
"Ya sudah, aku masukkan kopermu dulu ya.."Aqil segera beralih kekoper Dista, tak lama ia sudah kembali.
Dista perlahan akan bangun, aqil terlihat cekatan membantu. "Aku bantu.."
"Maaf ya, aku sengaja datang tengah malam.. supaya tetanggamu tidak terlalu banyak tanya.."ucap Aqil sembari memapah tubuh Dista.
kehangatan bisa dirasakan Dista, Seharusnya rasa nyaman itu tidak ada, namun Kini Dista malah merasa nyaman sekali mungkin karna bawaan baby didalam perut yang ingin dekat dengan Ayahnya.
Keduanya sudah didalam mobil, Aqil melepas jas kerjanya dan mengenakannya pada Dista. "Perjalanan kita cukup jauh. tidurlah kalau kau mengantuk. dibangku belakang ada selimut, jika masih dingin."
Dista malah mematung saat jarak mereka begitu dekat seperti itu.
Deheman dari aqil seketika menyadarkan lamunan Dista, Hingga Dista buru-buru menunduk,ia merasa malu sekali ketahuan memperhatikan Aqil.
Aqil hanya tersenyum tipis melihat tingkah konyol Dista, ia tak mau berkomentar, ia segera melajukan mobil untuk keluar kota.
.
.
Pagi hari, seperti biasa. sebelum kekampus mengajar, Rayyan mampir kerumah Dista guna mengantar sarapan buatan ibunya.
Melihat pintu rumah Dista terbuka Rayyan hanya menggeleng kepalanya beberapa kali. "Dasar Dista.. sembrono sekali.. pintu kok tidak pernah dikunci l.."omel Rayyan lirih.
Rayyan masuk kedalam. "Dista!! Dista!!! Ibu buatkan makanan kesukaanmu ini.."Rayyan meletakkan mangkuk makanan diatas meja. perhatian Rayyan terhenti sata netranya melihat sebuah kertas yang ada tulisannya, diatas meja makan itu.
.
.
.