Nina, ia gadis muda berusia 19 tahun. Dalam usianya yang masih muda, gadis berparas cantik itu harus memikirkan nasib keluarganya yang terombang-ambing di tengah kesulitan ekonomi.
Nina, ia terpaksa harus pergi ke negara tetangga untuk menjadi asisten rumah tangga. Siapa sangka, kalau anak majikannya itu menaruh hati dan melamar Nina.
Dengan segala kebaikan dan kelembutan dari pria itu, sudah sepantasnya Nina menyimpan perasaan padanya, Nina yang memiliki perasaan sama itu menerima lamaran tersebut dan pernikahan pun terjadi.
Perjalanan rumah tangga Nina tidaklah muda, sampai ketika, Nina harus pergi dari hidup suaminya, membawa benih yang tanpa suaminya ketahui.
Apa yang membuat Nina pergi dari hidup pria yang sangat ia cintai?
Terus simak kisah Nina yang akan melahirkan 'Bintang Dari Surga'.
Jangan lupa like dan komen ya, all.
Dukung dengan gift/votenya, terima kasih 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon It's Me MalMal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesungguhan Sean
Keesokannya, pagi-pagi sekali Sean sudah berada di rumah Nina, Sean berencana mengantarkan Bintang ke sekolah.
Bintang merengek pada Nina yang bermuka masam setelah melihat Sean ada di rumah.
"Nina, aku tidak akan pergi meninggalkan kalian, jangan khawatir," kata Sean yang berdiri di ruang tamu dan Endru yang mendengar kalimat itu pun menjadi salah paham.
Endru mengira kalau Nina sudah menjalin hubungan dengan pria itu.
"Kak, Kakak pacaran sama dia?" tanya Endru yang sudah terlihat rapih dan menggendong tas hitam di punggungnya.
"Jangan dengarkan dia, dia hanya asal bicara," jawab Nina seraya menatap Endru.
Lalu, Nina harus menjawab sebuah pertanyaan yang sulit ia jawab, pertanyaan itu dari Bintang.
"Bu, pacaran itu apa?" tanyanya seraya menggoyangkan tangan Nina yang tengah menggenggam tangannya.
Nina diam, ia sedang mencari jawaban yang tepat untuk Bintang.
Belum sempat menjawab, Sean sudah menjawab pertanyaan itu lebih dulu.
"Namanya, Dady akan menikah dengan Ibumu." Sean mensejajarkan tingginya dengan Bintang.
"Horee!" seru Bintang seraya melepaskan tangannya dari tangan Nina, setelah itu, Bintang memeluk Sean yang berada di depannya.
"Ya Tuhan, bagaimana ini," Nina berbicara dalam hati.
Setelah itu, Bintang meminta pada Nina dan Sean untuk mengantarkan ke sekolah.
"Ibu bawa motor, nanti bagaimana Ibu ke kios, Bintang sama Uncle aja, ya," kata Nina yang menolak untuk pergi bersama.
"Nanti ku antar ke kios, sekarang, kita antarkan Bintang sekolah dulu, anak nomor satu, kan?" tanya Sean seraya menatap Nina.
"Pandai sekali dia menggunakan kata-kata," kata Nina dalam hati.
Akhirnya, Nina pun pasrah, ia pergi bersama untuk mengantarkan Bintang dan baru kali ini Bintang sangat bahagia karena merasakan memiliki keluarga yang utuh.
Sesampainya di sekolah yang sebenarnya jaraknya tidak jauh itu, Sean dan semua orang turun.
Sean menunggu Nina yang sedang mengantar Bintang sampai ke pintu.
Sean menunggu dengan berdiri, bersender di pintu mobilnya.
Sean yang menyender itu memperhatikan Nina yang sedang berjalan ke arahnya.
Dan Nina yang merasa diperhatikan itu menjadi merasa tidak percaya diri, Nina yang masih berdiri di seberang jalan memperhatikan penampilannya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
"Apa ada yang salah denganku?" tanya Nina dalam hati, "kenapa dia menatapku seperti itu?" lanjut Nina.
Setelah itu, Sean yang mendapati Nina masih berdiam diri itu pun segera menyebrang jalan untuk menjemput Nina.
"Ayo, aku harus pergi sebelum nanti anakmu mencariku," kata Sean yang bermaksud akan pergi untuk mengurus pekerjaan.
Nina yang digandeng olehnya itu melepaskan tangan dengan mengibaskan. "Ini yang ku takutkan, setelah Bintang merasa nyaman, kamu akan pergi!"
"Astaga, bukan pergi seperti itu, Nina," kata Sean, ia menjelaskan apa maksud dari ucapannya dan Nina yang merasa malu karena salah sangka dan keburu marah itu sedikit tersenyum dan ini adalah pertama kali bagi Sean melihat senyumnya, senyum malu-malu dari wanita yang belakangan ini menari-nari di isi kepalanya itu.
Setelah itu, Sean kembali menggandeng tangan Nina, ia membawanya ke mobil dan Sean meminta padanya untuk duduk di depan.
Entah mengapa, kali ini Nina menurut begitu saja. Karena saling diam, Sean pun membuka pembicaraan.
"Nina, aku bersungguh-sungguh ingin menjadi bagian dari hidupmu, menikahlah dengan ku," ajak Sean yang sedang mengemudi, sesekali melirik Nina yang masih terdiam.
Lalu, Nina memberikan jawaban, "Aku belum siap untuk menikah lagi, aku masih takut, takut sakit hati lagi, Sean. Terlebih lagi orang itu adalah kamu, ku harap kamu tau maksudku!"
"Ya, akan sulit bagimu untuk menerima kehadiranku dan aku akan menunggu sampai kamu bisa memaafkan ku," kata Sean, setelah itu, Sean menepikan mobilnya dan Nina bertanya, "Kenapa berhenti di sini?"
"Sebentar," jawab Sean seraya mengambil kotak cincin yang sudah ia siapkan di saku jasnya.
Sean meraih tangan Nina, mata birunya menatap pada mata coklat calon istri yang idamkan itu. "Terimalah aku, menikahlah denganku setelah kamu siap," kata Sean dan Nina melihat cincin cantik yang melingkar dijari manis tangan kanannya.
"Kamu yakin akan mampu menungguku?" tanya Nina yang kemudian menarik tangannya dari genggaman tangan Sean.
Setelah itu, Sean mencium tangannya sendiri yang masih tercium aroma wangi dari Nina.
"Tidak dapat mencium tanganmu, mencium bekasnya pun tak apa!" kata Sean yang kemudian melanjutkan perjalanannya.
"Astaga, gombal sekali dia," kata Nina yang kemudian fokus menatap ke depan.
****
Setelah beberapa hari, Nina yang bosan ditanyai kapan siap menikah oleh Sean itu meminta pendapat dari Ibunya.
"Menurutmu, Sean itu bagaimana?" tanya Eny yang sedang mengambil nasi dari penanak nasi. Setelah mengambil nasi untuknya, Eny pun meminta piring Nina dan Bintang.
"Dady itu baik, Bintang suka sama Dady," timpal Bintang seraya mengedipkan dua matanya pada Nina, Bintang yang berbadan sekal itu berharap untuk bisa tinggal bersama dengan semua orang termasuk Sean.
Nina menjadi bimbang, entah antara menerimanya atau tidak, lalu, Nina melihat pada cincin yang berkilau di jari manisnya.
"Cincin itu dari siapa?" tanya Eny seraya memberikan piring berisikan nasi pada Nina.
"Dari Sean, Bu." Nina menjawab dengan menatap sendu Eny.
"Kalau menurutmu baik, terimalah, walau perkenalan kalian terhitung singkat, tetapi, Ibu dapat melihat kesungguhannya," saran Eny.
Lalu, semua orang melihat ke arah pintu ruang makan saat Endru datang dan bertanya, "Ada apa ini, sepertinya sangat serius."
"Ibu akan menikah dengan Dady, Paman," timpal Bintang dengan begitu polosnya.
"Yang benar, Kak?" tanya Endru yang kemudian ikut bergabung.
"Kakak belum memberi jawaban, dia bilang, dia akan menunggu sampai kapanpun," jawab Nina seraya menatap Endru yang sudah duduk di kursi sebelah Bintang.
"Kalau begitu, buatlah dia menunggu selama mungkin," kata Endru, pria muda berwajah oriental itu masih membencinya.
"Ya, benar. Dia harus menunggu lama!" timpal Nina yang kemudian menyantap makan malamnya.
Apakah Sean akan menyerah dengan itu?
Tentunya tidak, terbukti dari Sean yang tak berubah sama sekali saat harus menunggu lama untuk jawaban yang dinantinya. Justru, di balik kesibukan Sean, pria tinggi itu sudah menyiapkan tempat tinggal yang nyaman untuk keluarga kecilnya nanti, Sean yang optimis itu merasa yakin kalau Nina akan menerimanya.
Malam minggu, Sean mengajak Bintang untuk menonton bioskop, tentunya, mereka menonton tayangan untuk anak-anak.
Selesai dengan itu, Sean menggendong Bintang yang tertidur, Sean juga mau dengan repotnya membawakan belanjaan Nina. Perlakuan Sean membuat para wanita dan gadis merasa iri dan semua orang yang melihatnya mengira kalau mereka adalah pasangan dan keluarga kecil yang hidup dengan bahagia.
Apakah Nina akan luluh dengan segala kebaikan Sean?
Bersambung, jangan lupa like dan komen, ya, all.
Beri dukungannya juga, ya. Vote/giftnya, terima kasih, 💙
benci tapi nafsu juga kamu zack😏😏😏😏😏
lagian mengambil keputusan di saat terburu buru itu ga baik akhirnya kamu merasakan akibatnya kasian ntar Dante mendapatkan jandanya🙄🙄🙄