NovelToon NovelToon
Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang

Status: tamat
Genre:Suami Tak Berguna / Tamat
Popularitas:548k
Nilai: 4.9
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

Rasa kecewa yang berkali-kali kualami atas perlakuan suamiku, Bram, dan keluarganya yang tidak pernah mengahargai sebagai istri dan menantu, akhirnyanya terlampiaskan.

Setelah bertahun-tahun tertindas, aku akhirnya menunjukkan perlawanan.

Ternyata tanpa aku duga sebelumnya, orang tua yang mengasuhku selama ini, bukanlah orang tua kandungku.

simak kelanjutannya dan mohon dukungan dari pembaca, untuk karya baru ku ini.🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Ketika sisi lain dari dirimu bicara, sejuta tanya mengapa. Mengapa, disaat hati jenuh senyum kau hadirkan?

"Dek, ini abang belikan hadiah untukmu," Bram memberikan paper bag padaku. Kuterima paper bag itu lumayan berat.Ternyata, bukan hanya Devan dan Mitha yang Bram belikan hadiah.

Kutimang paper bag itu, kureka-reka apa isinya.

"Bukalah," ucapnya lagi. Aku membuka tas itu, mengeluarkan isinya. Sebuah kotak berisi ponsel.

Aku menatap kotak itu tanpa ekspresi. Bukan tak suka. Andai saja ,Bram, mengatakan ini lebih dulu. Atau merespon permintaanku beberapa bulan lalu. Tentu ceritanya akan berbeda.

Sebulan yang lalu diam-diam aku telah membeli secara kredit sebuah HP di pedagang keliling yang sering datang ke tempat kami. Karena bunganya yang rendah, aku memberanikan diri ikut. Sistemnya semacam tarik arisan.

"Kenapa, Dek. Kamu tidak suka, ya?" tatapnya padaku dengan intens, plus sedikit heran mungkin dengan reaksiku.

"Harusnya, Abang bilang kalau mau beli," ucapku datar.

"Memangnya adek sudah menggantinya?"

"Belum, tunggu giliranku menarik arisan."

"Kan bisa, dialihkan ke barang lain."

"Tidak bisa lagi, itu sudah perjanjian sebelumnya."

"Jadi ini, bagaimana?" tanyanya sedikit bingung.

" Balikin saja lagi ke toko," sahutku acuh. Entah, aku sungguh tak sudi, Bram, membelikan apa- apa lagi padaku. Kalau memang dia niat, mau mengganti ponselku yang sekarat itu. Kenapa tidak dari kemaren-kemaren. Setiap kali aku kesal dan sering membating HP itu, agar bisa dipakai.

Bram, hanya diam saja. Seolah menikmati penderitaanku. Pura-pura tak tau. Apa coba maksudnya, kalau memang dia tidak punya uang. Aku bisa dijanjikan' kan. Biarpun menunggu hingga puluhan purnama. Yang penting sebagai suami telah peduli akan keluhan istrinya.

Tapi ini, bukan main. Aku malah menemukan struk pembelian skin care senilai ratusan ribu. Untuk kakak ipar. Sedangkan untuk istrinya yang puluhan ribu saja, ogah memberi.

"Kok begitu sih, Dek. Ini juga gak bisa dibalikin lagi. Harusnya kamu senang 'kan aku belikan. Ini malah gak menghargai itikad baik suami," protesnya membuyarkan ingatanku tentang struk belanjaan itu.

"Tapi gak mungkin juga aku pegang dua HP sekaligus. Mubajir toh," ucapku seraya menarik selimut. Aku ingin lekas tidur. Badanku masih terasa remuk selepas bekerja di rumah ibu.

Tapi yang sesungguhnya, aku tidak bisa tidur. Aku hanya menghindar untuk tidak membahas lagi urusan ponsel itu.

Kudengar helaan napas berat suamiku. Lalu ia bangkit dari tempat tidur. Menyimpan kotak itu di lemari bajuku. Entah kenapa, hatiku rasanya tak tersentuh oleh perhatiannya itu. Seperti ada yang hilang kurasa di hati ini. Ruang hatiku begitu hampa.

Perlahan tapi pasti, aku merasa seolah berjalan sendiri. Dulu, apa-apa aku selalu minta bantuan, Bram. Sebagai suamiku sudah sewajarnya aku mengeluhkan segala sesuatu padanya. Mulai dari urusan dapur, meminta memasangkan tabung gas. Mengangkat galon. Mengangkat kain cucian dari kamar mandi untuk di jemur.

Terkadang, menjaga Devan dan Mitha, karena aku mau mandi sebentar. Atau mendadak ada urusan di toilet.

Sekali dua kali, Bram, masih mau membantu. Tapi lama-lama mulai protes. Karena semua itu katanya bukanlah tanggung jawabnya.

Mulailah, Bram, pulang terlambat. Katanya lembur, katanya mampir ke rumah ibu. Yang kesemuanya akhirnya aku tau hanya alasannya saja.

Disinilah aku sekarang. Terbiasa melakukan sendiri bahkan yang seharusnya bukan aku yang melakukannya.

Pernah, kran air rusak. Air banjir di bak, akulah yang memperbaikinya.Bola lampu putus akulah yang mengantinya. Sampai naik ke atas memakai meja yang ditumpuksebagia anak tangga. Bisa kalian bayangkan gak, dengan kaki gemetaran aku meminjak meja dan kursi yang disusun, supaya aku bisa mencapai bola lampu.

Dengan tatapan penuh khawatir dari kedua anakku, yang kusuruh menahan meja. Tapi, alih- alih menahan meja supaya tidak bergoyang. Mereka malah membuat meja itu makin bergoyang.

Semua aku lakoni, dan sudah terbiasa pula aku lakukan. Terkadang aku heran, punya suami serasa janda. Yang membedakan hanyalah aku masih dibelanjai meski pas-pasan. Karena untuk bekerja atau mencari kerja sudah sulit aku lakukan. Apalagi dengan kedua anakku yang masih sangat butuh pengawasan.

Aku pernah meminta dibelikan sepeda motor, untuk memudahkan diriku kemana-mana. Agar dia tak repot mengantarku saat belanja, termasuk mengantar jemput anak-anak, sekolah. Karena Bram selalu menuntutku untuk mandiri.

Bram malah bilang semua itu hanya pemborosan.

Aku sangat heran, untuk ukuran laki- laki yang berpendidikan, bagaimana bisa pola pikirnya seperti itu.

"Bu, Reny!" panggil Wak Ratmi pemilik warung tetanggaku, saat aku datang belanja ke warungnya Wak Ratmi. Dia menarikku masuk ke dalam warung. Biasanya setiap belanja, aku hanya sampai depan warung saja.

"Ada apa Wak?" tanyaku heran. Aku ikutan memanggil wak, kepada wak Ratmi, sebagaimana anakku memanggilnya.

"Kemarin itu, kamu sudah narik arisan itu lo. HP yang yang kamu pesan sudah aku terima. Katanya kamu ke rumah ibu mertua kamu?"

"Oh, iyakah, Wak?" seruku kaget. Aku tak menduga secepat itu giliranku.

"Iya, memangnya kamu gak hitung, nomornya?"

"Iya, aku hitung. Cuma gak terasa sudah giliran aku, Wak."

"Kamu ini, ada-ada saja. Oh, ya, setelah nomor kamu. Ada dua nomor lagi sisa, ya. Jangan lupa, buat catatannya. Jaga dan gunakan HP ini sebaik-baiknya. Susah lo ngumpulin uang receh, buat dapatkan ini," Wak Ratmi menyerahkan kantong kresek berisi kotak ponsel itu padaku.

Akhirnya aku punya ponsel baru. Rasanya bangga memilikinya dari hasil ngumpul sisa uang belanja. Setelah menyelesaikan urusan belanja, aku bergegas pulang ke rumah. Aku memasukkan simcard lamaku. Mengatifkan kembali beberapa nomor dan membalas beberapa chat yang terlajur masuk tapi tidak sempat kubalas. Karena keburu ponselku rusak.

Sorenya, Bram, memergokiku tengah memainkan ponsel baruku.

Bram memincingkan matanya, meneliti ponsel yang aku pegang.

"Ponselmu sudah datang ya, Dek," ucapnya . Aku mengangguk saja. "Jauh lebih bagus yang abang beli." dengusnya.

"Maklum orang miskin, Bang. Pantasnya, ya, make ponsel murahan."

"Eh, langsung baper. Maksud abang, yang abang beli itu akan lebih awet pemakaiannya."

"Itu tergantung cara kita memperlakukannya, Bang." Aku beranjak ke dapur mau membuatkan secangkir kopi.

"Sudahlah, kamu pake saja yang abang beli, yang itu kamu jual lagi." Bram menyusulku ke dapur.

"Tidak!" teriakku dengan napas memburu. Lagi- lagi aku merasa diremehkan olehnya. Tanpa dia bilangpun aku tau, ponsel yang dia beli, jauh lebih bagus. Tapi aku serasa pengemis kepada suami sendiri, karena selama ini dia tak pernah mendengar keluhanku.

Susah payah aku mengumpulkan receh demi receh. Untuk menebus HP baru ini. tapi suamiku tak menghargai perjuanganku itu.

Beda kalau dia tak punya uang, tak bisa menganti secepatnya. Tapi maslahnya adalah suamiku bukan tak mampu. Tapi dia pelit. Sama orang lain dia royal.

"Kamu kenapa sih, Dek?" tanyanya heran.

"Dasar suami tak peka," semburku. Kutinggalkan kopi itu di atas meja. Disertai tatapan tajam dan bingung dari suamiku. ***

1
Evy
Pasti paman dan Bibi aslinya itu dalang penculikan Reny waktu bayi..
Evy
Pasti deh Dion yang itu..yang ada dimasa lalu dan kembali bertemu dimasa sekarang..
Evy
Lebih baik tidak usah dibantu masak.biar tau rasa...minta saja bantuan pada menantu kesayangan nya si Sarah..
Noerlina Akbar
Luar biasa
Hera sasuwe
👍👍👍
Shinta Dewiana
syukurlah arby masih hidup...
Shinta Dewiana
uuuuu.....seru...tegang ini..
Shinta Dewiana
udah cukup tu buktinyaa...ayooo garcep lah reny
Shinta Dewiana
rasain lu sarah...puntung kan...cacat
Shinta Dewiana
jadi vikki sm martin anaknya bram...bukan anak si rio
Shinta Dewiana
kapan giliran si sarah ini..
Shinta Dewiana
ayuuu...tunggu apalagi reny jemputlah kebahagiaanmu..
Shinta Dewiana
ooo..waduh bukannya kecelakaan mobil pas pulang ngajar
Shinta Dewiana
betul2 keluarga sampah..
Shinta Dewiana
mampus lu bram...
Shinta Dewiana
impas ya....hah....
Shinta Dewiana
bagus reny rekam semua sebagai bukti..
Shinta Dewiana
tu kan benerrrrr.....
Shinta Dewiana
jangan dalang sumuanya adalah bibi elis dan ARBY adalah anaknya
Shinta Dewiana
cerita aja ma...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!