"Kau yakin dengan misi ini?" tanya Bela pada Anna.
"Kalau aku jawab tidak yakin, apa kau akan menyerahkan misi ini pada orang lain Bela?" Anna bertanya balik pada Bela sambil menyilangkan kaki nya di ujung sofa.
Bela mengerlingkan mata nya, ini bukan pertama kali nya dia mendengar Anna berkata seperti ini. Anna dalam mode ini memang sangat lah menyebalkan, bicara asal, belagu dan sangat suka merendahkan orang lain.
Namun sebagai teman baik Anna sekaligus bos dari bisnis rahasia ini, Bela sama sekali tidak masalah. Anggap lah dia sudah sangat maklum menghadapi setiap karakter yang ada di dalam diri Anna Dartmen.
"Ck.. kau ini sedang mengejek ku?!" Ujar Bela pada Anna.
"Tidak! aku tidak sedang mengejek mu! Aku hanya bertanya saja." Ucapnya yang sambil tiduran di atas sofa di dalam markas mereka.
"Ann, kau memang adalah orang yang paling tepat untuk menjalankan misi ini tapi aku tetap saja merasa was-was! Sebab yang tahu kapan kau akan berubah Bisa saja kau berubah menjadi Annna, B
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Bab 14
“Aku dan Steve never having a se*x setelah waktu itu, Leo! Berapa kali aku harus katakan hal itu pada mu! Steve tidak pernah menyentuh ku lagi.” Dengus Dalia.
“Lantas apa urusan nya dengan ku. Come on Dalia! Jangan jadi membosan kan seperti ini.” Steve pun selesai mengenakan pakaian. Mood nya yang tadi bagus seketika itu juga berubah buruk karena sikap cemburu Dalia.
Dalia mengambil baju nya dan segera memakai. Mood nya sama buruk nya dengan Leo. “Jangan hubungi aku lagi. Aku sedang tidak mood bertemu dengan mu lagi Leo.” Ucap Dalia dengan angkuh nya.
Leo langsung mendorong tubuh Dalia ke dinding dan mencekik leher Dalia hingga Dalia kesulitan bernafas, “AA-aaahkk!” Dalia tercekik dan kesulitan bicara.
”Dengarkan aku ja lang! Tidak ada orang di dunia ini yang bisa mengatur apa yang aku mau! Jika aku membutuhkan mu, maka kaulah yang akan berlari ke ranjang ku.” Usai mengatakan itu, baru Leo melepaskan cekikan nya pada Dalia.
”Kau pasti sangat paham dengan karakter ku, kan? Jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi Dalia! Aku tidak suka.” Ucap Leo sambil mengelus pipi Dalia.
“JAWAB AKU!”
“Ba-baik Leo!” jawab Dalia ketakutan.
Dalia telah berhubungan cukup lama dengan Leo. Tapi seperti apa sifat dan sikap Leo sebenarnya baru hari ini dia ketahui. Dalia pun memegang leher nya yang di cekik oleh Leo tadi. “Aku bisa mati jika aku terus berhubungan dengan pria ini. Sial! Bagaimana cara ku untuk bisa lepas dari nya.” Pikir Dalia sambil sesekali melihat pada Leo.
“Baik Dalia. Aku akan mengantarkan kau ke kantor sekarang.” ucap Leo sambil tersenyum.
“Apa kau akan pulang malam ini Leo?” tanya Dalia.
“Tidak! Malam ini ada pesta. Jadi aku akan menginap di rumah teman ku.” Jawab nya, lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu. “ayo...”
Dalia dan Leo pun meninggalkan hotel milik Leo itu.
*
*
*
*
Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Itu artinya, sudah waktu nya bertukar tempat dengan Bembi.
“Hmmm... bagus juga kamarnya. Tapi tidak ada boneka! Tidak seru!” celoteh Bembi saat dia bangun dan duduk di tepi tempat tidur besar itu.
“Padahal kak Anne tahu kalau aku suka boneka kenapa di kamar ini tidak ada boneka sama sekali? Tempat ini terlalu dewasa untuk anak kecil seperti ku. Mending aku keliling saja, mumpung semua orang udah pada tidur. Kalau ada boneka di ruangan lain akan aku bawa ke sini. Hehehe..” Bembi pun berlari keluar kamar dengan tubuh Anne yang masih menggunakan gaun tidur yang cukup seksi.
“Aku kemana dulu ya??” Seru Bembi melihat keadaan seluruh rumah dari pilar pembatas lantai dua. Bembi memanyun kan mulut nya sambil memikirkan kemana enak nya dia bermain malam ini. “kesana saja!” tunjuk Bembi ke sebuah ruangan yang pintu nya sedang terbuka sehingga terlihat paling terang di bandingkan dengan ruangan-ruangan lain nya yang mana lampu nya telah di padamkan.
Persis seperti anak kecil yang baru berumur lima atau enam tahun, Bembi berlari tanpa rem mulai dari tangga atas hingga ke ruangan yang dia tunjuk tadi.”Eeeeeeeeeeeit!!” teriak nya sambil memegang tepian pintu. “ruangan apa ini?” ucap nya, berjalan masuk ke dalam ruangan itu.
“Seperti nya ini ruang kerja. Mirip ruang kerja ayah nya kak Anne. Tapi ini lebih besar dan – Woooooooowww!!” Mata Bembi langsung berbinar-binar ketika dia melihat satu kulkas kecil yang isi nya adalah coklat semua. “Ini bukan ruang kerja! Ini ruang syurga! Bembi suka dengan ruang syurga!!” teriak nya lalu tanpa izin si pemilik ruangan yang di namai nya ruang syurga itu, Bembi langsung mengambil sebuah coklat. “Coklat ke sukaan Bembi!” teriaknya girang.
Bembi pun memakan coklat yang di ambil nya tadi. Dan seperti biasa, kecepatan Bembi memakan coklat itu hampir menyamai pemenang lomba makan krupuk pada saat acara tujuh belas Agustusan.
Awalnya hanya satu.. lalu bertambah menjadi dua, tiga, empat. Lima, enam, tujuh, delapan, sembilan dan sepuluh.
“Aaaaaaaaaah! Bembi suka ruang syurga!” ucap nya dengan wajah kenyang dan senyum puas. “Hmm Bembi ngantuk. Bembi numpang bobo di sini ya?”
Dan dalam hituang ke tiga, TIGA! Mata Bembi pun tertutup dan dia tertidur. Ya, kini Bembi tengah tertidur di atas lantai dimana semua sampah coklat nya berserakan begitu saja.
Tap
Tap
Tap
Tap
Terdengar langkah laki seorang pria masuk ke dalam ruangan itu lalu menutup pintu ruangan itu. Dan laki-laki itu ternyata adalah Steve Smith, yang tadi pergi ke kamar nya di lantai tiga untuk mengambil berkas yang harus dia baca untuk bahan rapat nya besok pagi.
Steve masuk ke dalam ruangan itu sambil membaca dokumen di tangan nya sehingga dia tidak menyadari kalau di lantai ruang kerja nya itu ada seseorang yang terbaring kekenyangan setelah mengabiskan sepuluh bungkus coklat premium nya. Yang masing-masing coklat itu ukuran nya kira-kira sebesar telapak tangan Steve atau kurang lebih selebar muka nya Anne.
Tiga puluh menit pun berlalu, dan Steve masih belum menyadari kalau di dalam ruangan itu diri nya tidak lah sendiri. Sampai akhirnya Steve ingin mengambil sebuah coklat untuk amunisi nya bergadang malam ini. Di saat itu lah dia baru terheran-heran melihat calon istri paman nya sedang terbaring di atas lantai dengan hanya mengenakan baju tidur seksih. Dan yang lebih wow nya lagi, Steve melihat sampah coklat milik nya di mana-mana. “Apa dia yang sudah memakan semua coklat ini?” gumam Steve pelan sambil menganalisa keadaan.
Steve pun akhirnya tertawa kecil saat melihat wanita yang akan menjadi bibi nya dalam tidur nya menggaruk-garuk leher nya lalu menjilati bibinya yang penuh dengan coklat yang belepotan.” FIX ! Dia lah pencuri coklat ku!” ucap Steve, melepaskan kaca mata nya dan duduk memandangi wanita yang dikenal nya sebagai Anne Arberto itu.
Setelah cukup lama melihat Anne, Steve oun berdiri dan mendekati tubuh Anne. “Dasar pencuri kecil.”ucap nya lalu menggendong Anne dan membawa Anne ke kamar nya.
Steve meletakan Anne di atas tempat tidur nya, setelah itu Steve turun lagi ke ruang kerja nya untuk mengambil dokumen yang dia baca tadi. Kemudian Steve naik lagi ke kamar nya. Ya Steve turun hanya untuk menjemput dokumen nya saja karena niat nya Steve mau membaca dokumen itu sambil menemani Anne tidur. Kebetulan malam ini hanya ada Steve saja di rumah itu. Nenek nya sedang pergi ke rumah sepupu Steve yang akan menikah. Sedangkan Dalia hari ini pulang ke rumah orang tua nya dan Leo, paman Steve menginap di rumah teman nya.
“Padahal aku baru saja memikirkan untuk mengganggu nya. Tau-tau nya dia yang sudah datang terlebih dulu untuk menganggu ku. Jangan salah kan aku jika kau malam ini tidur di atas ranjang ku.” Steve tersenyum dan melanjutkan membaca dokumen nya di samping Anne yang tertidur.
“ehhhhhhhhhm... Karena nih bocah tidur aku jadi ikutan tidur!!” gumam Ana tidak jelas saat dia membuka mata nya. “ ehmm ini dimana?” ujar nya lahi melihat ke kiri dan yang tampak hanya sebuah kaca besar. Awal nya tidak ada yang aneh dengan cermin besar itu. Tapi setelah Ana perhatikan dengan seksama....
“Kenapa di dalam cermin itu ada orang lain?” Ana langsung tersentak seketika terdengar suara seorang pria berbicara di sebelah nya.
“Kau sudah bangun pencuri kecil?” ucap Steve membuat Ana langsung menoleh ke arah Steve.
“Steve Smith?” ucap nya dengan mata yang membola saat tahu sosok yang sedang duduk dan membaca buku tanpa mengenakan atasan di samping nya adalah Steve Smit.”Apa yang kau lakukan di kamar ku?” sentak Ana reflek menarik selimut dan menutupi tubuh nya.
Steve langsung tertawa saat Ana mengatakan ini adalah kamar Ana. “Kau yakin ini kamar mu?” tanya Steve pada Ana.
“Tentu saja.” Jawab Ana penuh keyakinan, walaupun sebenarnya dia tidak benar-benar yakin sebab dia memang tidak pernah melihat secara langsung dan secara detail kamar yang Anne tempati tadi siang. Tapi demi yang nama nya harga diri, wes lah! Katakan saja YAKIN.
“Kalau begitu apa kau sudah jatuh cinta pada ku bibi?” tanya Steve dengan wajah menggoda nya.
“Jatuh cinta pada mu? Ck! Yang benar saja!” seru Ana, mengerlingkan mata nya.
“Hmmm kalau begitu arti nya kau adalah penggemar rahasia ku! Sebab kau meletakan foto ku sebenar itu di kamar mu!” tunjuk Steve pada foto diri nya yang ada di hadapan mereka.
Ana hanya bisa mengedipkan mata berkali-kali tanpa mengatakan apa-apa. “ Fix , ini kamar nya!” ucap Ana dalam hati. “ apa yang telah kau lakukan Bembi! Mengapa kau membuat kita terdampar di kamar pria ini! Mana dia tidak pakai baju lagi! Kalau Lucy sampai melihat penampilan Steve yang menggiurkan seperti ini, bisa -bisa Steve di panjat nya. Bembi!! Tunggu! Akan ku pastikan ku pukul pantat mu!!” teriak Ana dalam hati.
“Hmm.. Seperti nya aku tidur berjalan.” Ucap Ana, mengangkat wajah nya sehingga senyum paripurna nya yang sengaja ia pasang terlihat jelas oleh Steve.
“Jadi calon bibi ku ini punya kebiasan tidur sambil berjalan? Tidur sambil berjalan dari lantai dua dan masuk ke ruang kerja ku lalu memakan sepuluh pack coklat premium ku?” jabar Steve.
“Aku memakan coklat mu?”
“Ya! ini kalau kau tidak percaya!” Steve pun mendekatkan wajah nya ke wajah Ana lalu mencicipi coklat yang masih menempel di bibir Ana. “Hmm.. rasa nya masih terasa manis. Semanis coklat.” Ucap Steve.
Deg...
Deg..
Deg..
Mata Ana membulat sempurna dengan jantung yang mulai melamban. Mata nya berkedip beberapa kali dan sebelum sempat Ana mengatakan sesuatu, Steve kembali mencicipi bibir Ana. Menye sap habis semua coklat yang belepotan di seluruh permukaan bibir Ana.
“Sayang kalau di buang.” Ucap Steve lalu menyapu bibir Ana dengan jempol nya. Tapi Ana masih mematung di tempat nya. “Bi, bernafas!” seru Steve mengelus punggung Ana yang tanpa pelindung apapun itu, karena gaun tidur yang Anne kenakan sebelum tidur tadi, memang model nya sedikit turun di bagian belakang.
‘Hahk...hah!” akhirnya Ana pun bisa bernafas kembali.
“Gaswat! Pria ini sungguh berbahaya!” ucap Ana dalam hati.
Ana buru-buru turun dari tempat tidur itu tapi kecepatan kaki Ana masih kalah cepat dengan kecepatan tangan Steve yang menahan nya dengan cara memeluk nya dari belakang. “Kau mau kemana bi? Kenapa kau seperti nya buru-buru sekali.” Bisik Steve di telinga Ana, dan sukses membuat seluruh bulu roma Ana berdiri.
☘️☘️☘️
Ayo cek visual..
Anne, Ana, lucy dan Bembi
Steve Smit
Leo Smit
Yanh mau lihat Video nya cek Ig kak Upe @kak.Upe.. dan jgn lupa follow...☘️
Jangan Lupa untuk booming like dan komen serta sajen 😘