Afgans Radithia Zafran harus menikah dengan wanita bernama Alisya, gadis yang tidak dikenal dan merupakan calon pengantin dari adiknya sendiri. Sang adik yang bernama Vincent hilang entah kemana sehari sebelum seharusnya dia menikahi kekasihnya tersebut.
Karena keluarga Afgan sudah mengeluarkan banyak uang untuk acara pernikahan dan undangan pun sudah di sebar, maka terpaksa Afgan menggantikan sang adik.
Satu tahun pernikahan mereka, Vincent tiba-tiba kembali dan meminta kakaknya itu mengembalikan wanita yang seharusnya menjadi istrinya, sementara benih-benih cinta sudah terlanjur hadir di hatinya dan dia sudah bisa menerima Alisya sebagai istrinya.
Seperti apa kisahnya? Mampukan Afgan mempertahankan wanita yang bernama Alisya itu sebagai istrinya? dan apakah istrinya itu masih bisa setia setelah sang adik yang seharusnya menjadi suami gadis itu kembali dan menggoyahkan biduk rumah tangga yang sudah susah payah mereka bangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau Iler
Dua jam sebelumnya.
Alisya menggeliat panjang saat tubuhnya merasakan hawa dingin seolah menyapu permukaan kulitnya, rupanya dia lupa menutup tubuhnya dengan selimut saat hendak tertidur tadi.
Alhasil, kini seluruh tubuhnya merasakan kedinginan membuatnya tanpa sadar naik ke atas ranjang dan meringkuk tepat di samping suaminya, bahkan kakinya kini dilingkarkan sempurna di kedua kaki Afgan layaknya memeluk bantal guling, kemudian dia pun kembali terlelap seketika itu juga.
Pagi pun menjelang, perlahan Alisya mulai membuka mata, mengedipkan pelupuknya pelan dengan mulut yang di buka lebar, tidak ketinggalan dia pun merentangkan tangannya panjang dengan tubuh yang menggeliat.
Rasa kantuk Alisya tiba-tiba lenyap seketika, bahkan mata bulatnya kini terbuka sempurna saat tangannya menyentuh dada kekar seorang pria yang merupakan suaminya sendiri, dan hal lain yang membuat gadis bertubuh mungil itu merasa lebih terkejut lagi adalah, kaki mungilnya kini melingkar tepat di atas kaki Afgan, membuatnya segera bangkit lalu memukul dada suaminya itu keras.
''Auw ...'' ringis Afgan membuka mata seketika.
''Kenapa aku bisa ada di atas sini? bukannya tadi malam aku tidur di sofa?'' Teriak Al memekikkan telinga.
''Ya mana aku tau. Tanya tuh sama wanita yang bernama Alisya, kenapa kamu bisa ada di atas sini? Nih liat baju aku aja sampai basah diilerin sama kamu,'' jawab Afgan masih dalam keadaan berbaring.
Mendengar hal tersebut, sontak membuat Al mengusap ujung bibir mungilnya merasa malu sebenarnya.
''Jangan-jangan kamu ya? yang bawa aku ke atas sini, supaya kamu bisa curi-curi kesempatan.'' Jawab Al membuat Afgan segera meraih pergelangan tangan Alisya, menarik tubuh mungilnya itu hingga terjatuh tepat di atas dada Afgan.
''Aku gak perlu curi-curi kesempatan, jika aku ingin menyentuhmu maka aku tidak akan sungkan untuk melakukannya,'' lirih Afgan langsung menyambar bibir ranum Alisya.
''Hmmm ...'' Alisya bergumam, mencoba berontak.
Semakin Al berontak, semakin Afgan mengeratkan pelukannya, membuat Alisya menggoyangkan tubuh mungilnya ke kiri dan ke kanan, sehingga Afgan pun akhirnya melepaskan tautan bibirnya, lalu menatap wajah Alisya lekat.
''Kamu gila, hah. Masih pagi tau. Lepasin ...'' teriak Al masih berusaha melepaskan diri.
''Lagian kamu ini, aku suami kamu dan kamu istri aku. Untuk apa juga aku nyuri-nyuri kesempatan segala.'' Jawab Afgan, akhirnya melepaskan dekapan tangannya.
Alisya pun segera bangkit lalu mengusap bibirnya yang basah akibat lu*atan bibir Afgan yang sebenarnya sukses membuat sesuatu yang tersembunyi di bawah sana merasa berkedut pelan.
''Dasar mes*m ...'' Gerutu Alisya, lalu turun dari atas ranjang.
''Tapi kamu suka 'kan?''
''Nggak, siapa yang suka, masih pagi. Belum mandi, belum sikat gigi, iler dimana-mana main cium-cium aja,'' ucap Al, membuka pintu kamar.
''Berarti, nanti kalau aku udah mandi gak bau iler lagi, kamu mau dong,'' teriak Afgan menatap tubuh sang istri yang perlahan keluar dari dalam kamar.
''Nggak, siapa bilang boleh begitu?'' Al berteriak dari luar sana.
'Dasar jaim, bilang aja kamu suka 'kan?' (batin Afgan)
Sepeninggal istrinya, kini Afgan kembali meringkuk di atas ranjang, bibirnya nampak tersenyum membayangkan begitu kenyalnya bibir sang istri, tidak peduli jika bibir istrinya itu mengeluarkan aroma tidak sedap sisa iler saat dia tertidur semalam.
'Akh, kenapa kamu selalu terlihat menggemaskan, Alisya ...? (Batin Afgan)
Sementara itu, Alisya segera masuk ke dalam kamar mandi yang berada di luar kamar, di dalam sana dia segera membasuh wajahnya secara kasar, hingga buliran air menetas membasahi lehernya kini, setelah puas membasuh wajah hingga ke leher, dia pun meraih sikat gigi dan mengisinya dengan pasta gigi.
Alisya nampak segera menggosok giginya dengan sedikit kasar, dengan mata menatap wajah dirinya sendiri dari pantulan cermin yang berada tepat di depan wajahnya dengan hati yang menggerutu kesal.
'Dasar kurang ajar, bangun tidur main cium-cium aja, gak sopan banget si, katanya bau iler, tapi masih aja dil*mat,' (Batin Alisya kesal)
Dia pun menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap lekat wajahnya dari pantulan cermin.
'Aku harus bertemu dengan wanita yang bernama Milan, walau bagaimanapun aku telah merebut kekasihnya, akh ... tapi dimana aku bisa bertemu dengan dia ...' (Batin Alisya)
Setelah selesai membersihkan diri, dia pun keluar dari dalam kamar mandi, namun, sebelumnya Alisya terlihat menghela napas panjang terlebih dahulu sebelum dia mulai membuka pintu kamar mandi.
Ceklek ...
Pintu kamar mandi pun di buka, Alisya mulai keluar dan terkejut seketika, mendapati suaminya itu sedang mencuci piring.
''Kamu lagi apa?'' tanya Al berjalan menghampiri.
''Kamu gak liat aku lagi cuci piring?'' jawab Afgan tanpa menoleh.
Al tersenyum kecil, menatap tubuh tinggi suaminya yang saat ini menundukkan kepalanya dalam, menatap piring kotor yang sedang dibasuhnya.
''Sini aku yang terusin, bukannya kamu harus bekerja,'' Al berusaha mengambil alih.
''Gak usah, tinggal dikit lagi ko. Kalau emang niat bantuin, kenapa gak dari tadi? ini malah mengurung diri di kamar mandi,'' jawab Afgan memegang satu piring yang penuh dengan busa sabun.
Alisya yang merasa tidak enak, memaksa meraih piring tersebut, sehingga piring yang memang dalam keadaan licin itu pun jatuh ke atas lantai.
Prang ...
Suara piring jatuh, Al terkejut seketika lalu segera berjongkok dan berusaha membersihkan serpihan piring yang berserakan di atas lantai.
''Maaf, aku gak sengaja,'' lirih Al, meraih pecahan piring, namun, naas serpihan tajam kini mengenai jari telunjuknya kini.
''Arh ...'' Ringis Alisya.
''Ish ... Kamu ini, bukan hanya memiliki kebiasaan tidur yang buruk, tapi ternyata kamu juga ceroboh,'' ucap Afgan, meraih pergelangan tangan istrinya lalu menatap dengan seksama jari telunjuk yang saat ini mengeluarkan darah segar.
''Hmm ... Kayaknya ada pecahan piring di dalam kulit kamu, harus segera di ambil lho ...'' ucap Afgan meniup lembut jari Alisya.
''Argh ... Sakit ...''
''Ya udah kamu masuk dulu, pecahan ini biar aku yang beresin.''
Alisya berdiri dan hendak melangkah, namun, nasibnya benar-benar sedang sial pagi ini, baru saja Al melangkahkan kakinya ke depan, telapak kakinya kini menginjak serpihan tajam. Al pun sontak kembali mengerang kesakitan.
''Auw ... Kakiku. Argh ...'' Alisya sontak mengangkat satu kakinya, lalu menangis sesenggukan.
''Ya Tuhan, Alisya ... Apa lagi?''
''Hiks hiks hiks ... Kaki aku Afgan,'' rengek Al lalu mengangkat satu kakinya.
''Astaga ...'' gerutu Afgan lalu berdiri dan menggendong tubuh mungil Alisya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀