Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. langkah Tanpa Kembali
Dunia Natalia seolah runtuh seketika. Di Dalam mobil ia harus melihat Justin—lelaki yang selalu menjadi tempat paling aman, yang kemarin malam masih berjanji akan menjaganya sampai kapan pun—kini berdiri tak lagi mengenali siapa dirinya. Matanya yang dulu hangat dan penuh kasih sayang kini berubah merah menyala, kosong, dan dipenuhi hawa nafsu yang tak masuk akal. Kulitnya pucat kebiruan, napasnya terdengar berat dan mendengus, sementara air liur bercampur darah menetes dari sudut bibirnya yang retak.
Namun, ia sudah berjanji untuk hidup dan berjuang di dunia yg sudah berubah menjadi kota mati. Masih dalam kondisi yg sangat bingung, Natalia menatap jalanan yg sudah berubah banyak mobil saling bertabrakan, anak kecil menjadi korban dan mereka yg tidak selamat harus menjadi bagian para mayat hidup, Natalia masih menatap jalanan. Ia berfikir jika ada seseorang yg masih selamat di sana, akan ia tolong dan membawa nya pergi dari jalanan itu.
Di kejauhan, ledakan terdengar bersahut-sahutan. Asap hitam membumbung tinggi menutupi sinar matahari, mengubah siang yang cerah menjadi kelabu mencekam. Teriakan minta tolong berbaur dengan jeritan kematian, sementara sosok-sosok mayat hidup semakin banyak bermunculan, merayap dan berjalan perlahan dari setiap gang, setiap gedung, dan setiap sudut jalan yang tadi ramai.
tapi nasib baik menghampiri diri nya, ia melihat ada seseorang yg meminta tolong pada Natalia, mendekati mobil milik nya.
dok...dok..dok..
"hei tolong aku, buka pintu nya." Natalia lalu membuka pintu mobil itu dan orang itu lalu masuk dan menutup kembali pintu mobil dengan nafas yg tersengal dan ketakutan.
"aku heran dengan semua orang, mereka ini... Kenapa, dan mereka mati, tapi bangkit lalu saling menyerang." ucap nya dengan nafas yg tersengal.
"aku tidak tau, aku sedang di kantor dengan beberapa kerajaan ku, tau-tau dunia sudah berubah." geleng nya.
"ya, aku juga begitu.. dan yg paling aneh nya, tidak ada berita dan pemerintah yg mengevakuasi para korban yg masih selamat, kemana mereka pergi." ucap nya
"aku rasa mereka sudah tau dan memilih untu pergi dari kota ini." ujar Natalia.
"hei.. kita belum kenalan, aku Mega.. Dulu nya seorang pramuniaga sebelum ada nya wabah ini."
"aku Natalia.."
"kita akan kemana sekarang..."
"menjauh dari sini Mega, mencari tempat aman dan mencari para korban yg selamat."
"oh iya... Semoga mereka masih bisa menyelamatkan diri, kita jga harus mencari persediaan makanan bukan."
"ya aku setuju.."
Mobil itu lalu bergerak menuju swalayan, untuk mencari bahan-bahan persediaan makanan dan juga minuman.
Beberapa kemudian, mereka sampai namun Natalia dan Mega harus kecewa dengan apa yg mereka lihat. Swalayan itu sudah tersegel dan isi nya terpenuhi oleh zombie, lalu mobil itu bergerak kembali mencari toko bahan baku yg masih ada persediaan.
"memang kita kurang beruntung.." sahut Mega kecewa.
"ya aku tau.." balas Natalia singkat dan fokus pada jalanan.
"kamu tau, dulu aku mempunyai cita-cita." ucap Mega.
"cita-cita... Apa itu.." tanya Natalia.
"ya cita-cita menjadi seorang pemimpin yg baik.." jawab nya sambil tertawa pelan.
"jangan berharap menjadi pemimpin, Mega. Itu tak muda, ingat. Dengan situasi seperti ini, tidak ada penyelamatan.." jelas nya
"iya aku tau.." lirik Mega sambil tersenyum, namun senyuman nya memudar, saat melihat ada toko yg terbuka dan isi nya masih ada sisa-sisa bahan makanan dan minuman, Mega lalu menunjukkan jari nya ke arah kiri jalan, "itu lihat, di sana.."
"iya aku juga lihat, kita menepi dan cari beberapa persediaan yg masih layak dan obat-obatan.." angguk Mega, kedua nya lalu turun dan mencari beberapa persediaan.
Mega dan Natalia masuk ke toko itu dan berpencar, kedua nya mencari beberapa persediaan seperti makanan berat dan ringan, obat-obatan serta minuman. Di rasa cukup.kedua nya bergegas keluar menuju ke mobil, lalu menutup pintu mobil itu dan melajukan nya meninggalkan area toko bahan baku.
"cukup untuk beberapa hari ke depan, dan kita harus mencari persediaan bahan bakar." ucap Natalia.
"nanti beberapa meter lagi , di sana ada bahan bakar. Pertamini khusus untuk mobil." ujar nya, lalu mobil itu melaju menuju ke tempat dimana bahan bakar tersedia.
Tak lama kemudian mobil mereka sampai di tempat tujuan, Natalia lalu turun di ikuti Mega. Mega berlalu mencari sesuatu yg akan menjaga diri nya dan juga Natalia, sedangkan Natalia mengisi bahan bakar nya dengan full.
"oke...mungkin ini cukup." gumam nya.
"Nat.. Aku mempunyai sesuatu..lihat." sahut Mega saat setelah mendekati Natalia.
"senapan dan pistol, lalu beberapa peluru. Kamu dapatkan dimana." tanya Natalia.
"aku mendapatkan nya di dalam sana, mereka meninggalkan barang ini, dan aku juga membawa jerigen dan ada isi nya." jawab Mega.
Natalia menganggukkan kepala nya sambil tersenyum, melihat semua yg di bawa Mega, " oke.. Kita simpan di bagasi, dan kita harus segara pergi dari sini." jerigen berisi solar itu lalu di pindahkan kedalam bagasi mobil, lalu Mega dan Natalia masuk ke dalam mobil dan melajukan nya meninggalkan area Pertamini.
perjalanan mereka masih sangat jauh sekali, mencari tempat yg aman dan jauh dari kota.
Bersambung