NovelToon NovelToon
"Berbagai Cinta" Maaf Aku Tak Sempurna

"Berbagai Cinta" Maaf Aku Tak Sempurna

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Poligami / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:600.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Lusiana Anwar

Tujuh tahun menikah dan belum di karuniai seorang anak tak membuat cinta Yudistira pada Kamelia meluntur. cinta tanpa syarat dari Yudistira, telah melambungkan Kamelia ke atas awan hingga permintaan sang ibu mertua Kamelia, berhasil menjatuhkannya ke dasar lautan.

Bagaimana tidak, ibu mertuanya, meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kabulkan. seorang anak yang tidak mungkin bisa hadir di dalam rahimnya. namun ibu mertuanya, meminta hal itu dari wanita lain.

Dan yang ia juga tidak pernah tahu Yudistira memiliki rahasia besar di belakangnya.

akankah ia sanggup menerima rahasia terbesar Yudistira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bukankah itu dia?

Kesetiaan bermula dari kebersamaan, berkembang karena pengertian dan bertahan karena rasa saling percaya.

Perselisihan memang kerap terjadi namun, tidak seharusnya berlarut larut dalam perselisihan. Komunikasi antara pasangan sangat penting untuk menjaga keharmonisan.

Duduk berempat sebagai keluarga utuh adalah impian semua istri, sederhana namun istimewa.

Kami bercakap-cakap dan bercanda, Memusatkan keisengan kami pada Alfin. kami akan tertawa Melihat nya kesal dan merajuk karena ulah dari keisengan kami. ujung ujungnya Alfin, akan berakhir menangis dalam pelukan ku hingga tertidur.

Aku bersyukur karena kini hubungan kami sudah membaik malahan menjadi sangat baik. Tidak bisa di pungkiri cemburu tetap bersemayam meski di ujung hati. Namun, tertutup oleh senyum yang terukir dari bibir.

Aku melambaikan tangan pada mas Yudis dan Inggrid saat mereka berangkat ke kantor. Senyum ku mengiringi laju mobil yang mereka tumpangi hingga menghilang dari pandangan.

"Huufft," aku menghela nafas kemudian menutup pintu dan segera bersiap untuk pergi ke toko.

Aku menjadi orang terakhir yang keluar dari rumah, sebelum pergi ke toko terlebih dahulu aku mengantar Alfin, ke sekolah.

Letak sekolah Alfin, tidak terlalu jauh dari toko. jadi aku memilih tanggung jawab untuk mengantar dan menjemput Alfin. Sebuah pekerjaan ringan namun sangat menyenangkan. bisa melihat anak seusia Alfin, bermain dengan teman temannya.

"Daadaa ... bunda,"

Alfin, melambaikan tangan sebelum masuk ke kelas.

Aku balas melambaikan tangan pada nya dengan tersenyum. aku akan keluar dari halaman sekolah setelah memastikan Alfin, benar benar masuk ke dalam kelas.

Setelah itu aku masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pergi ke toko. Namun sebelum memutar kunci mobil yang sudah menancap handphone ku berbunyi.

Aku melihat nama mas Yudis di layar handphone, lalu aku menggeser tombol hijau pada layar handphone.

"Ada apa mas?"

"Alfin, sudah berangkat?"

"Sudah, ini lagi di sekolah Alfin,"

"Hari ini jadwal terapi kan?" aku mengangguk, walau tahu dia tidak akan bisa melihat anggukanku,

"Kamu jemput ya, mobilnya masih di pakai sama Inggrid,"

"memang Inggrid kemana?"

"nengok ibunya sakit,"

"kok gak ikut,"

"gak boleh sama Inggrid,"

aku mengangguk angguk dengan mulut yang membentuk huruf o.

hari ini jadwal pertama terapi setelah kuret satu Minggu lalu. terapi kali ini terasa berbeda dengan sebelumnya. rasanya takut akan kembali gagal semakin mendominasi. aku tak ingin melihat mas Yudis, kecewa dengan penantian kali ini.

kami berjalan melewati lorong panjang rumah sakit menuju ruangan dokter Zian yang terletak di lantai empat. dengan tangan mas Yudis, tak melepaskan genggaman pada tanganku.

kekuatan yang telah lama menghilang kini kembali terasa. menyalurkan energinya pada ku agar tetap tegar menjalani hidup.

aku menoleh dan menatapnya di sepanjang jalan hingga kami berhenti di depan ruangan dokter Zian.

"ada apa,"

aku menggeleng lalu tersenyum padanya. sebelum dia mengetuk pintu ruangan dokter Zian.

"ada apa Mil, ada yang ingin kamu katakan,"

aku tertawa saat dia menyadari aku menatapnya lagi.

"kamu tampan hari ini," kataku dengan masih tertawa.

"maksudnya, kemarin kemarin aku gak tampan?"

dia menatapku dengan alis yang bertaut.

aku tertawa kemudian mengetuk pintu ruangan dokter Zian, lalu masuk kedalam ruangan meninggalkan dia yang masih menatapku.

di dalam ruangan dokter Zian, kami di arahkan dan di beri pemahaman langkah langkah yang harus kami lakukan selama terapi.

yang membuat aku lega, imun tubuh ku mulai membaik, dan besar kemungkinan rahimku sudah siap di tempati oleh janin. menurut dokter Zian, kemungkinan terjadinya kegagalan sangat kecil.

setelah selesai dengan dokter Zian, sekarang kami berpindah untuk menemui dokter sella, sesuai saran dari dokter Zian.

kami duduk mengantri bersama pasien lain yang tengah menunggu di depan ruangan dokter sella.

duduk di antara wanita hamil, membuat bibir ku mengukir senyum. aku merangkul lengan mas Yudis, yang duduk di sampingku dengan menyandarkan kepala di bahunya.

aku memejamkan mata dan berdoa dalam hati, semoga harapan kami segera terwujud. dan semoga kami segera di beri kepercayaan untuk menjadi orang tua. dia mengecup puncak kepalaku, dan membuat ku semakin erat memeluk lengannya.

"tidak ada yang perlu di khawatirkan, biarlah semua terjadi secara alami,"

begitu kata dokter sella saat memeriksa perutku dengan alat USG.

aku dan dan mas Yudis tersenyum dengan menatap pada layar monitor di hadapan kami.

"apa dokter Zian, memberikan resep obat pada ibu?" tanya dokter sella, setelah memeriksa ku.

"iya, hanya beberapa saja. tidak sebanyak kemarin kemarin,"

dokter sella, mengangguk kemudian menuliskan sesuatu di atas kertas lalu menyerahkannya pada ku.

"ini hanya resep penyubur kandungan saja ya bu, jangan lupa di habiskan. yang terpenting ibu harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran, karena itu akan mempengaruhi proses pengembalian imun tubuh ibu,"

"baik Dok,"

kami mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih pada dokter sella, sebelum pergi meninggalkan ruangannya.

kami berjalan kembali di lorong yang kami lewati tadi menuju lantai bawah. namun, saat pintu lift terbuka di lantai tiga, aku melihat sosok yang ku kenal duduk di kursi roda yang di dorong oleh seorang perawat. kemudian masuk kedalam ruangan dengan tulisan yang tidak aku mengerti.

"mas bukanya itu tadi Inggrid,"

aku menghentikan langkah menunjukkan apa yang aku lihat pada mas Yudis.

"mana mungkin, Inggrid kan nunggu ibunya di rumah sakit. lagian tempatnya bukan di sini,"

walaupun mas Yudis menyangkal, tapi aku yakin jika yang ku lihat tadi benar-benar Inggrid.

apa yang dia lakukan disini? dan kenapa dia duduk di kursi roda.

pertanyaan itu terus berputar putar di kepala ku hingga kami sampai di rumah.

aku benar benar tidak tenang, terlebih Inggrid menelpon ku dan mengatakan dia tidak pulang malam ini. kondisi kesehatan ibunya mengharuskan dia tetap berada di sana. bahkan dia sampai menitipkan Alfin, pada ku.

aku merasakan ada sesuatu yang aneh dan coba di tutupi oleh Inggrid. yang ku lihat di rumah sakit tadi benar-benar Inggrid.

apa yang terjadi padanya?

wajah nya begitu pucat dan lemah tadi. apa dia sedang sakit?

"mikirin apa sih,"

aku tersentak saat mas Yudis, memelukku dari belakang.

" ibunya Inggrid, sakit apa sih mas, apa kita gak perlu ke sana?"

mas Yudis, mengedikan bahu. kemudian menempelkan dagunya di bahuku.

"aku sudah menawarkan diri ikut tadi, tapi dia nolak. katanya hanya sakit biasa, tidak ada yang harus di khawatirkan,"

"tapi kok aku merasa ada yang aneh ya,"

"aneh gimana? perasaan kamu aja kali,"

"kaya ada sesuatu yang dia tutupi dari kita,"

"sudahlah, gak usah mikirin yang aneh aneh. kamu gak boleh banyak pikiran,"

dia membalikkan tubuhku menghadapnya kemudian mengecup kening dan menarik ku dalam pelukannya.

aku yakin, ada sesuatu yang Inggrid, tutupi dari kami. masalah apa yang membuat Inggrid enggan memberi tahu pada kami?

1
Epi Suryanti Fadri
Biasa
Epi Suryanti Fadri
Kecewa
Fayra
Luar biasa
Abdul Fatah
wanita entah didunia nyata atau di cerita novel sama saja, walaupun disakiti dan dikhianati tetep aja ujungnya balik lagi,
Lena Sari
jngan nyalakan api klo gak mau terbakar milea.
Sivia
🤣🤣🤣🤣🤣
Soraya
Assalamu'alaikum numpang duduk dl ya kak
amalia gati subagio
gak yakin bajigur yg biasa nyangkul lahan lbh tahan puasa 20th, kecuali dia waw, cangkulnya layu cam batang keladi kukus
amalia gati subagio
🤗🤗wow wow gmn, narsistis egoistis arogan serakah absurd kebanyakan takaran Ny!! kan gak duli dunia, lo paling bener!! so.... kebenaran mana yg benar menurut kamu Ny... 🤗🤗
amalia gati subagio
ambisius kejam, cacat mental
amalia gati subagio
bodoh sedunie ditanggo bu, pengemis je berharga, drama queen gocengan menjaring simpati, ambisi the one and only one ny munafik he
amalia gati subagio
absurd rendom narsistis, serakah kemratu ratuan, curhat di sosial media, menjaring simpati mengejar the one and only one syurga semu, bunuh dirimi pun sedia, kejam nian
amalia gati subagio
munafik absurd serakah mode on
Lienda nasution
wow cerita edan ini 🤦
Kinan Kevin
aku nyesel baca cerita ini 😭😭😭 kamelia membagongkan
Kinan Kevin
ceritanya ngeri thor....trll sedih buat milea
Anonim
Gregeten, Milea ngeselin
Sri Kurniati
ku pikir memang lelakinya yang terzolimi, nyatanya.. sama saja dengan binatang, bangsat😡
Sri Kurniati
😭
AR Althafunisa
Kamelia 😭😭😭😭😭
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!