Spin off Kawin Lari & Langit Jingga
Kegagalannya dalam menjalin hubungan dengan seorang gadis, membawanya ke dalam keterpurukan yang terasa menyakitkan.
Demi ambisi dan egonya dalam meneruskan perusahaan keluarga yang sedang berkembang pesat, dia menyia-nyiakan cinta seorang gadis yang selama dua tahun selalu menunggunya kembali. Dan pada akhirnya dia benar-benar harus melepaskan cintanya pergi.
Pertemuannya dengan gadis lain yang merupakan anak dari teman bisnis orang tuanya, membawanya kembali terhanyut akan ambisi nya yang sempat tertunda.
Hingga perjanjian itu pun muncul di kepalanya dan di setujui oleh gadis bermata indah itu, demi keuntungan kedua belah pihak.
Akankah perjanjian itu berubah menjadi cerita indah antara mereka berdua? Ikuti kisahnya di karya ke enam Chida.
Enjoy reading 😘
update santai ya, kalo khilaf bisa sampe 1 minggu full up🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Izin
"Ya gak harus pake persiapan juga kali, Ka. Kayak yang mau ngelamar aku aja," ujar Azzura asal namun mengulum senyumannya.
"Kalo ngomong suka bener," ujar Raka tertawa.
"Ciee, beneran? ati-ati loh ... perkataan adalah doa, suka kejadian," ujar Azzura tak henti-hentinya menggoda Raka.
Jika Raka adalah wanita sudah pasti wajahnya akan merona merah, untung saja dia laki-laki jadi Raka bisa menyembunyikan rona merah itu dari wajahnya.
"Ayo," ajak Raka pada Azzura yang sedang asyik memperhatikan hasil bidikan kamera Raka.
"Kemana?"
"Ya minta izin ... minta izin biar kamu bisa pacaran sama si bemo." Raka menarik tangan Azzura.
"Bemo?" Azzura bingung dan tersadar jika yang di maksud Raka adalah Bima, kekasihnya.
"Sebentar-sebentar ... Ka, sebentar." Azzura menahan tangan Raka, lagi-lagi sentuhan itu bagai desiran listrik yang mengalir di seluruh tubuhnya.
"Apa?"
"Kamu mau bilang gimana?"
"Gini ... ehem ehem—" Raka diam sejenak. "Pak Langit, tadi saya sudah ngobrol sama Azzura tentang rencana kami untuk pergi ke Bromo ...."
"Jangan ... bilang jangan gitu," ujar Azzura.
"Terus gimana? kan aku pasti ngobrol-ngobrol dulu, Ra ... nggak langsung tancap gas."
"Eh, iya juga ya ... ya udah lah terserah kamu aja, tapi pastikan Didi percaya kalo aku perginya sama kamu," ancam Azzura.
"Hhmm."
"Jawabnya kok hhmm sih ... Raka!" seru Azzura.
"Iya, Ra ... iya. Tenang aja," ujar Raka menahan tangannya agar Azzura menyerahkan semua padanya.
"Raka ...." Langit menoleh saat Raka berdiri di sebelahnya. "Sudah dinikmati makanannya?"
"Sudah, Pak ... terimakasih atas jamuannya," ujar Raka pada Langit yang kebetulan di sana juga ada Arkana sang pemilik acara.
"Jadi, Ar ... Raka ini salah satu rekan kerja perusahaan Didi, kebetulan berteman juga dengan Azzura, begitu ya Raka," ujar Langit tersenyum.
"Iya, begitu lah ... saya banyak belajar dari Pak Langit."
"Harus banyak belajar dari Didi, dia banyak makan asam garam kehidupan, ya kan Didi?" Arkana mengulum senyum.
"Yang mana dulu?" Langit ikut tertawa.
Raka yang tidak mengerti pembicaraan kedua lelaki berbeda umur itu pun hanya bisa tersenyum.
"Jadi begini, Pak Langit ... saya dan Azzura ada rencana ke Bromo untuk—"
"Pasti diajakin Zurra nyari spot foto kan? kebiasaan anak itu." Arkana memotong perkataan Raka.
"Iya, Bang."
"Panggil Ar aja, aku rasa umur kita gak selisih banyak," ujar Arkana.
"Iya, Ar ... kebetulan punya hobi yang sama, Azzura belum pernah ke Bromo, aku di tunjuk dia jadi guide nya." Raja melirik Azzura yang berdiri sedikit jauh darinya.
"Dulu itu, yang sering menemaninya Zurra kemana-mana itu Kalla kadang Ar, tapi karena mereka sudah punya keluarga, jadi Zurra sudah jarang sekali menyalurkan hobinya." Langit meneguk segelas minuman.
"Ada sih pacarnya," ucap Arkana. "Tapi kayaknya sudah nggak pernah lagi datang ke rumah, semenjak Mima pernah melihat lelaki itu dengan seorang wanita."
"Oh ...." Raka menatap Azzura lagi.
"Nggak tau juga masih pacaran atau nggak ya," ujar Arkana.
"Kalian nggak ada jadwal pekerjaan?" tanya Langit.
"Proyek di Solo sudah ada Teddy yang handle, Pak ... sejauh ini berjalan cukup baik, tinggal tahap penyelesaian beberapa kilometer lagi setelahnya kita alih kontraktor, Pak ... kecuali kalau Pak Langit masih mempercayakan pada kami, maka akan kita teruskan berikut tanda tangan perjanjian kembali." Raka tersenyum.
"Haha ... anak muda yang cekatan." Langit tergelak. " Saya suka cara kamu, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, atau sekali menyelam minum air." Lagi-lagi Langit tertawa.
"Ok ... kita lihat progres dari pekerjaan kamu, nanti saya bicarakan lagi bersama Kalla," ujar Langit. "Oh ya, mengenai izin kalian akan ke Bromo, silahkan saja ... saya percayakan Azzura pada kamu, jangan di salah gunakan kepercayaan saya," tegas Langit.
"Baik, Pak ... terimakasih." Raka menundukkan kepalanya tak lama kemudian Langit berlalu dan meninggalkan Raka bersama Arkana.
"Kapan berangkat?" tanya Arkana.
"Belum tau, Ar ... tergantung Azzura," jawab Raka memperhatikan Azzura yang melangkah menuju padanya.
"Sering-sering main kemari, Ka ... kalo butuh tempat nongkrong, aku punya cafe di daerah Tebet."
"Oh ya? dimana? apartemen aku di daerah Pancoran, bisalah kesana deket juga."
"Cocok, kapan-kapan mampir," kata Arkana.
"Gimana?" Azzura berdiri di depan Raka.
"Pantes ... lo yang nyuruh ya?"
"Apaan sih, Bang." Azzura mencebik.
"Gue tinggal dulu ya ... Raka makasih udah nyempetin datang kesini, gue tunggu di cafe." Arkana berlalu dari hadapan mereka.
"Jadi ...?" Azzura mengangkat alisnya.
"Jadi ...?"
"Ka ... serius nih."
"Ya jadi ...."
"Yes ... makasih ya," ucap Azzura.
"Sama-sama."
"Kalo gitu aku hubungi dia dulu, biar bisa meluangkan waktunya buat ke Bromo nanti."
"Kapan?"
"Tiga hari lagi, beneran nggak mau ikut?"
Raka menggeleng.
"Naik kereta api lebih asik," ucap Raka.
"Ah iya, bener juga ... kalo gitu aku pesan tiket sekarang," ujar Azzura kegirangan.
Azzura sibuk dengan ponselnya, dia berencana untuk berangkat tiga hari lagi. Beberapa kali dia mencoba menghubungi kekasihnya namun tidak ada jawaban.
"Ra, kamu mau pulang atau gimana?" tanya Raka.
"Kok gak diangkat-angkat ya, Ka."
"Siapa?"
"Bima."
"Di coba lagi nanti. Aku pulang ya," ujar Raka diikuti anggukan Azzura tanpa melihat padanya.
"Makasih ya," ujar Azzura masih sibuk dengan ponselnya.
Setelah berpamitan pada keluarga besar Langit Kelana, Raka meninggalkan tempat itu masih dengan melihat Azzura dengan ekspresi wajah yang kecewa.
****
Tiga hari berlalu dari pertemuan itu, mereka belum lagi saling bertemu atau sekedar berbalas chat. Azzura sepertinya begitu bersemangat, rencananya berhasil. Berbeda dengan Raka ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, yaitu mengenai perkataan Langit, jika dia percaya pada Raka untuk menjaga Azzura selama di Bromo.
Cepat-cepat Raka meraih ponselnya, mencoba kembali menghubungi Azzura namun tidak ada jawaban dari gadis itu. Raka mengirimkan pesan pada Azzura yang berisi menanyakan dia naik kereta apa dan pukul berapa, namun tetap sama tidak ada balasan dari Azzura.
Raka berusaha menghubungi kantor Azzura, jawaban masih sama bahkan Azzura hari ini tidak ada di kantornya.
Bergegas Raka meraih kunci mobilnya melajukan mobil itu menuju apartemennya. Memasuki unit apartemennya, Raka bergerak cepat memasukkan beberapa helai baju dan perlengkapannya.
Aplikasi ojek online digunakan Raka agar bisa sampai ke stasiun tepat waktu. Sementara ponselnya masih tetap menghubungi Azzura.
Tepat pukul empat sore Raka sampai di stasiun Gambir, dia bercepat menuju loket tiket kereta, meski gambling karena tidak tahu kereta apa yang di tumpangi oleh Azzura. Satu yang ada di pikirannya bahwa dia harus bertanggungjawab akan Azzura bagaimanapun caranya.
Tiket sudah berada di tangannya, Raka menuju jalur kereta yang di tuju. Sosok gadis yang dia kenal itu sedang berdiri di jalur kereta yang sama. Raka bisa bernafas lega saat melihat Azzura berdiri di sana.
Raka bergegas mendekatinya, dia tersenyum kala Azzura melambaikan tangannya, tetapi tangan itu melambai bukan untuknya melainkan untuk lelaki yang berlari ke arah gadis itu.
enjoy reading 😘
ini udh 2024 lloh hampir 2025, udh lama ga apdate novel baru, semoga KA chida baik2 Ajja ya
konfliknya ringan tapi sweet 🥰