NovelToon NovelToon
Dokter, Heal Me Please! (My Sweet Banana)

Dokter, Heal Me Please! (My Sweet Banana)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Anak Yatim Piatu / Identitas Tersembunyi / Dokter / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: mbu'na Banafsha

Blurb :

Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.

Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.

Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Assisten Dokter

Udara di taman memang sejuk. Shasha terbuai angin sayup-sayup yang menerpa wajahnya dengan lembut, membuatnya tak ingin beranjak dari tempat itu.

"Ya ampun, aku hampir tertidur di sini." Seraya menatap jam tangan yang sudah menunjukan pukul 03.00 siang menjelang sore.

Bentar lagi Ashar, aku harus buru-buru pulang. Sambil beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan setengah berlari.

Tiba di halaman rumah, Shasha melihat sepeda pak dokter sudah terparkir di sana, pintu rumah pun terbuka sangat lebar di dalam seperti terdengar ada suara beberapa orang sedang bicara. Sebelum Shasha masuk, ia terlebih dahulu mengintip dari pintu. Gadis itu sedikit kaget dengan apa yang dia lihat lalu dia masuk karena penasaran.

"Ya Allah, dia kenapa Kak? Apa yang sudah terjadi?" tanyanya terheran-heran. Dia meringis sambil menutup matanya.

"Kamu kenapa menutup wajahmu seperti itu?" Luthfie balik bertanya sambil menoleh.

"A-aku ngeri Kak liat darah sebanyak itu." Sambil perlahan menurunkan telapak tangan dari wajahnya.

"Kamu bisa bantu aku gak? Ambilin air bersih di belakang," ucapnya sambil menggunting celana panjang dan tangan baju yang dikenakan orang di hadapannya.

"Baik, baik. Tunggu sebentar." Tak lama kemudian Shasha datang membawa air di dalam mangkuk besar. Dilihatnya Luthfie sedang menjahit luka seorang pria paruh baya yang tengah terluka. Shasha baru menyadari keberadaan seorang tetangga yang berdiri dari tadi, ketika orang itu berpamitan untuk pulang.

"Pak dokter, saya mohon pamit dulu karena ada urusan lain. Kalau ada apa-apa, silahkan panggil saya, rumah saya di sebelah bengkel itu." Dia menunjuk ke arah luar untuk memberitahu letak rumahnya. Setelah itu dia menoleh ke arah Shasha sambil membungkuk.

"Mangga Neng Shasha, dikantun heula." (Mari Neng Shasha, saya tinggal dulu.)

"Nya, Pak Mul, mangga, mangga." (Iya Pak Mul, silakan.)

"Terima kasih banyak bantuannya Pak Mul." Luthfie melirik sambil tersenyum ke arah laki-laki yang membantu korban kecelakaan itu. Lalu, pandangannya beralih pada Shasha.

"Kamu sudah makan?"

"Belum Kak."

"Kalau gitu makan dulu, sekalian bawain makanan dan minum buat bapak ini." Matanya mengarah pada lelaki yang terbaring dengan luka-lukanya.

Gadis itu pun mengangguk sebelum membalikan badannya dan kembali dengan membawa makanan.

"Aku bikin nasi goreng Kak, aku taruh dulu di meja ya."

"Makasih, Nana, kamu gak makan?"

"Nanti aja Kak, bentar lagi."

Tanpa disuruh Shasha langsung mengambil handuk kecil dan mencelupkannya pada air hangat lalu dia bersihkan sisa-sia darah di sekitar luka yang sudah diperban.

"Katanya ngeri liat darah?"

"Sekarang enggak lagi, kok, tadi cuma kaget."

"Luthfie menatap sekilas lalu tersenyum tipis."

"Nah, sekarang lukanya sudah diobati semua pak. Saya suapin bapak makan, ya, karena nanti harus minum obat." Sambil meraih piring di atas meja.

"Kalau boleh tau, pak Wahyu ini tinggal di mana? Nanti kalau sudah baikan saya bisa antar bapak pulang." Dia mulai menyuapinya dengan telaten.

"Saya tinggal di kampung Cikasungka, dokter," jawab pria paruh baya itu sambil mengunyah makanannya di mulutnya.

"Motor bapak juga rusak, pak Mul membawanya ke bengkel. Bapak sempat lihat orang yang nabrak tadi, gak, pak?" tanya Luthfie sungguh-sungguh.

"Dia langsung kabur seketika setelah menyerempet saya, jadi tidak ada jejak yang saya lihat karena saya sempet pingsan tadi."

"Begitu ya...," ujar Luthfie sambil manggut-manggut."

"Kak ... baju bapak ini juga harus ganti kayanya, ini udah rusak dan kotor banget." Sambil nunjuk baju pak Wahyu yang koyak.

"Oh iya, aku baru aja mau minta tolong kamu. Ambilin satu setel bajuku di lemari, ya, Nana."

"Aku yang ambil baju Kakak?" tanyanya sedikit risih.

"Iya... kenapa emang nya?"

"Aku harus masuk ke kamar Kakak, gitu?"

"Ya iya, kan lemarinya ada di kamar aku, masa lemarinya yang harus keluar dari kamar," jawabnya sambil terkekeh.

Shasha pun berlalu meski sedikit ragu. Ia menuju kamar luthfie sambil memberengut.

Aku tau lemarinya memang gak mungkin keluar sendiri dari kamar, tapi masalahnya bukan itu. Maksudku, tidak pantas anak gadis masuk ke kamar seorang pria arrgghh!!

Shasha membatin sambil menggaruk-garuk kepalanya. Terpaksa ia masuk juga ke kamar itu sambil mengendap-endap seperti kucing yang takut ketahuan mencuri ikan.

Shasha bingung harus membuka lemari yang mana karena ada dua lemari besar dan satu lemari kecil di sana. Akhirnya dia buka keduanya lalu ia tatap isi lemari yang isinya didominasi setelan celana pendek dengan tsirt dan kemeja tangan pendek juga.

Pantas saja kemana-mana dia selalu pake celana pendek, ke rumah sakit pun selalu memakai celana pendek. Ternyata, isi lemarinya cuma celana pendek, batinnya lagi sambil geleng kepala.

Tak lama kemudian Shasha datang dengan satu stel baju di tangannya. Luthfie masih ngobrol panjang lebar dengan pak Wahyu, sesekali tertawa sangat lebar entah apa yang sedang dibicarakannya.

Setelah menyerahkan baju itu, Shasha pamit ke kamarnya karena harus bersiap untuk salat Ashar.

"Makasih, neng," ucap pak Wahyu dengan tiba-tiba. Langkah Shasha pun terhenti lalu memutar badan lagi ke arahnya sambil mengangguk dan tersenyum.

"Sama-sama, pak. Jangan sungkan." jawab Shasha sebelum melanjutkan langkahnya.

"Namanya Banana, pak, panggil aja Nana," ujar Luthfie sambil melirik.

"Hah ... Banana? Unik sekali namanya apa dia suka pisang?"

"Hahaha...tepat sekali, tebakan bapak tidak salah." Mereka terkekeh menahan tawa.

Sementara Shasha nampak sedikit kesal. "Nama saya Banafsha pak bukan Banana?" Sambil menggerakkan tangannya, pertanda dia menentang ucapan Luthfie.

°

°

°

BERSAMBUNG...

1
albyan
hadir membaca baru nih
albyan: yahh si dia..huum ini😁
total 2 replies
anna
entah lah, sudah kali ke berapa yg ku baca, belum bisa move on dari cerita mu ini Thor 😅
Ryana Ana
assalamualaikum mbu..apa kbr ny... aku mengulang membaca lgi... dan ini sudah kesekian kali ny aku baca..dan tetep aja aku senyam senyum membaca.. " kita mau tunangan apa konser sih sbnr ny?"
ᴹᴮ𝓕𝓐𝓜✿𝔐𝔟𝔲𝔫𝔞: Waalaikumussalam.
Terima kasih sudah baca ulang novel ini. 🙏😘
total 1 replies
Anonimous
👍👍👍
Memyr 67
tidak ada zidan dan junaedi di "terjebak cinta polisi"
Memyr 67
akad nikah langka. mahar setengah gelas air putih
Memyr 67
boomerangnya seperti apa? nggak kebaca?
Memyr 67
kok nggak ada keterangn. alasan tante mira menyewakan rumah sasha. dan kemana uang sewa rumah keponakannya? nggak jelas gini ya?
Memyr 67
memang bodoh itu banana. kenapa nggak dilaporin ke kakaknya, zidan? kelakuan sadis tante mira?
Rosmawati/jnr
Bagus
Indri Ani40
awal cerita kynya seru👌👌👌
Samsuna
maharnya Laen dr yg Laen 😂luar binasa😂🤭
Yani Ladutana
gimana dengan mimin siapa suaminya
Yani Ladutana
langsung lamar aja
Yani Ladutana
janju ciritanya bagus
Yani Ladutana
ceritanya bagus
Yani Ladutana
kerkini bangat
Yani Ladutana
kirkin
Yani Ladutana
tante tidak baik
Yani Ladutana
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!