NovelToon NovelToon
Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Aquilaliza

Buat readers terutama yang baru baca Novel ini, aku minta maaf ya. Ada beberapa part di novel ini yang di ulang. Jika raders masih ingin melanjutkan membaca, part yang di ulang di lewatkan saja (Skip aja). Semoga kalian suka dengan novelnya. Terima kasih.

SINOPSIS :

Kesalahan satu malam yang dilakukan Alula bersama seorang CEO, membawanya ke alur takdir yang tak pernah ia bayangkan.

Berkali-kali ingin melenyapkan anak yang di kandungnya, berkali-kali pula ia gagal. Sampai suatu saat ia sadar, menggugurkan bukan jalan terbaik. Ia berjanji akan merawat dan menyayangi anak-nya.

Kegigihannya membuahkan hasil manis saat suara tangis bayi terdengar. Tangisan bayi kembar yang perlahan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perihal Kopi

Mobil yang melaju membelah padatnya lalu lintas, terasa hening. Tidak ada satu pun yang berbicara. Bahkan Darrel yang terkenal cukup cerewet, juga ikut bungkam.

"Terima kasih tuan, sudah repot-repot mengantar kami." Tutur Alula setelah turun dari mobil.

"Hmmm."

"Telima kasih paman tampan."

Ucapan Darrel membuat hati Gara hangat. Ada rasa yang tak bisa dia jelaskan saat ucapan itu keluar dengan tulus dari mulut Darrel.

"Terima kasih kembali, kalian sudah menolong paman." Balas Gara, memberikan sedikit senyumnya.

Alula bahkan di buat melongo melihat senyum Gara yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

"Paman pulang dulu." Ujarnya, mengulurkan tangan mengacak rambut Darren dan Darrel.

***

Suasana kantor di buat heboh dengan berita mengenai sang CEO yang menaiki lift karyawan. Ditambah, ia terjebak di dalamnya bersama sang sekretaris, Alula.

"Ya Tuhan, bagaimana bisa bos menaiki lift kaum biasa seperti kita?"

"Sungguh beruntung sekretaris Alula, bisa berduaan dengan tuan Gara."

"Apa yang mereka lakukan selama terjebak di dalam lift."

"Hei, berhentilah bergosip. Tuan Gara sudah datang bersama sekretarisnya." Lerai seseorang saat melihat Gara datang bersama Alula.

Gara dan Alula berjalan beriringan. Alula ingin memasuki lift untuk karyawan biasa, namun di hentikan oleh kata-kata Gara.

"Saya tidak suka menunggu." Ujar Gara membuat Alula berbalik.

Wanita itu mengerutkan keningnya. Apa Gara sedang memintanya untuk menaiki lift khusus untuk CEO. Ia masih terdiam dengan pikirannya.

"Dua menit jika kau belum sampai di lift, tidak perlu kembali lagi." ujar Gara membuat Alula melotot. Segera ia berlari melewati Gara, mendahului masuk lift.

Gara yang melihatnya hanya mengulum senyum. Alula terlihat sangat menggemaskan.

Pintu lift tertutup, menyisakan Alula dan Gara, beserta keheningan. Tidak ada perbincangan apapun di antara keduanya. Alula berdiri cukup jauh. Berjaga-jaga jika Gara melakukan hal aneh seperti di ruangan Gara waktu itu.

Memikirkannya membuat wajah Alula memanas.

"Kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Gara yang entah sejak kapan berada cukup dekat dengan Alula.

Alula mendongak. "Ak–aku tidak apa-apa." balas Alula, sedikit menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Jika tidak, kenapa wajah mu memerah?"

Alula lagi-lagi mendongak. Sementara Gara hanya bisa menahan senyumnya. Gara berjalan semakin dekat, membuat Alula memundur. Alula terus saja mundur, sampai punggungnya menepel pada dinding lift. Ia menatap takut-takut pada Gara.

Nafasnya tercekat saat wajah Gara semakin dekat. Dan entah sejak kapan, bibir gara sudah menempel pada bibir Alula. Alula hanya terdiam. Sementara Gara, ia semakin memperdalam ciumannya. Gara melepaskan ciumannya saat merasa kehabisan oksigen. Ia tersenyum menatap Alula.

"Kemampuan bercium mu sangat buruk, untuk seorang Ibu dua anak." Kata Gara.

"Tapi, aku menyukainya." Sambung Gara, sambil mengusap bibir Alula.

"Manis." Lanjutnya, kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan Alula yang masih bengong dalam lift.

***

Alula duduk di ruangannya sambil menopang dagu, memikirkan kejadian dalam lift tadi. Ini adalah kedua kalinya ia di cium dalam keadaan sadar. Beberapa pekerjaan yang belum ia selesaikan di abaikan begitu saja.

"Astaga, kenapa bisa begini?" Gumam Alula, memukul-mukul kecil kepalanya.

Alula menarik nafas dan memulai pekerjaannya. Semoga dengan bekerja, ia bisa melupakan kejadian tadi. Jari-jari Alula menari-nari di atas keyboard komputer. Perlahan, fokusnya hanya pada layar komputer.

Tiba-tiba telpon di ruangannya berbunyi. Sedikit ragu, Alula mengangangkat telponnya.

"Hallo?"

"Bawakan saya kopi." Ujar si penelpon dan langsung memutuskan panggilannya.

Alula terdiam sejenak. Baru saja ia ingin melupakan kejadian memalukan itu dan berusaha menghindari Gara, kini malah Gara sendiri yang membuatnya ingat. Dengan langkah lemah, Alula menuju dapur kantor.

"Maaf, saya ingin secangkir kopi." Kata Alula pada seorang office girl.

Ofice girl itu mengangguk dan mulai membuatkan secangkir kopi, lalu diberikan pada Alula.

"Terima kasih." Ujar Alula setelah menerimanya.

"Sama-sama nona."

Alula berjalan menuju ruangan Gara dengan hati gelisah. Ia sangat malu jika bertemu Gara. Langkahnya terhenti di depan pintu ruangan CEO.

Ia menarik nafasnya panjang, lalu menghembuskannya. Meskipun jantungnya sudah tak normal lagi dalam berdetak, ia harus tetap masuk. Bagaimana pun, itu adalah pekerjaannya.

Alula mengetuk pintu lalu masuk. Dapat ia lihat, Gara sedang serius dalam percakaannya via telpon. Dari percakapannya dapat ia tebak, jika Gara sedang berbincang dengan sekretaris Kenan.

"Selesaikan pekerjaan mu hari ini. Dan kembalilah besok." Ujar Gara.

"Baik tuan."

Gara menutup telponnya kemudian menatap Alula yang mulai mendekatinya.

"Ini tuan kopinya." Alula meletakkannya di atas meja.

"Siapa yang membuatnya?" Tanya Gara.

"Orang yang ada di dapur kantor tuan."

"Bukan kamu?" Alula menggeleng.

"Buat ulang! Saya menyuruh mu bukan dia." Ketus Gara.

Alula mengangkat wajahnya sebentar, kemudian menunduk lagi. Ia meraih cangkir kopi tersebut dan berjalan keluar, kembali ke dapur kantor.

"Dimana wanita itu?" Gumam Alula, bingung saat tidak mendapati office girl yang ia temui tadi.

"Rasa kopi seperti apa yang tuan Gara sukai?" tanya Alula pada diri sendiri. Tangan alula meraih cangkir, kemudian kopi dan gula.

"nona?" suara seseorang membuat Alula berbalik.

"Kamu. Syukurlah, aku mencarimu tadi."

Kening wanita itu mengerut. "Ada apa nona? Apa kopinya tidak enak?"

"Ah, bukan-bukan. Aku disuruh membuatkan sendiri oleh tuan Gara."

"Tuan Gara?" Lagi-lagi kening office girl itu mengerut.

"Ya, tuan Gara. Apa kau tahu rasa kopi seperti apa yang tuan Gara sukai?"

"Maaf nona, saya tidak tahu. Selama ini, tuan Gara tidak pernah meminta kopi dari dapur kantor."

"Oh, baiklah." Ujar Alula tersenyum kecut.

"Kalau begitu, saya permisi nona. Masih ada pekerjaan lain." Wanita itu berlalu meninggalkan Alula yang masih bingung.

Gimana ini? Rasa sepertti apa yang harus saya buatkan. Tuan Gara, jika kau tidak biasa meminum kopi dari sini kenapa kau memintanya hari ini. Huh. Membingungkan sekali. Batin Alula.

Alula memasukkan kopi dan gula pada cangkir. Setelah kopinya jadi, Alula kembali.

"Ini tuan," ujar Alula, saat tiba di ruangan Gara.

Gara meraih cangkir dan meminumnya. "Puft. Kopi macam apa ini? Kenapa sangat manis?" Ujar Gara seraya menyemburkan kembali kopi yang ada di mulutnya.

"Ma-maaf tuan."

"Buatkan lagi."

"Tap..."

"Tidak ada bantahan!" Tegas Gara.

Alula meraih cangkirnya dan kembali ke dapur. Setelah itu balik menemui Gara di ruangannya. Lagi-lagi, kopi yang di bawakan Alula tidak sesuai keinginannya.

"Kembali. Buatkan lagi." Ujar Gara, membuat Alula menahan kesal.

Hahaha... Ternyata semenyenangkan ini mengerjai Alula. Batin Gara.

Alula meraih cangkir dan berjalan ke dapur dengan rasa kesal yang menggunung.

"Dasar, tuan Gara ngeselin. Dia pikir aku ini robot, pergi pulang gak capek?" Gumam Alula.

Alula menatap tiga cangkir kopi yang ada di atas meja dapur. "Ya Tuhan, kasian sekali kalian. Sudah di buat, tapi gak di minum."

"Tuan Gara ini memang menyebalkan. Apa dia pikir kopi dan gula diambil dari supermarket tanpa di bayar apa?" Gerutu Alula.

Alula kembali ke ruangan Gara sembari membawa cangkir kopi yang ke empat. Ia sudah berjanji dalam hati. Jika Gara lagi-lagi memintanya membuatkan ulang, ia tidak akan mau lagi. Kasian kopi-kopi yang sebelumnya, terbuang percuma.

Alula meletakkan cangkir kopi keempat di atas meja Gara. Sementara Gara, ia hanya memperhatikan Alula.

"Bawa pulang kopinya. Saya sudah tak ingin minum." Ujar Gara, membuat Alula melotot tak percaya.

"Kenapa kamu nyebelin sekali. Apa kamu pikir, karena kamu pemilik perusahaan ini kamu bisa seenaknya? Hei, tuan Gara yang terhormat. Apa kau tidak merasa kasihan pada kopi-kopi yang aku bawa pulang tadi?" Ujar Alula, tentunya dalam hati.

"Kau melotot padaku?" Ujar Gara, balik melotot pada Alula.

"Tidak, tidak tuan. Aku akan bawa pulang kopinya."

"Bagus."

***

Gara memasuki ruangan Edo dengan wajah serius. Ada sesuatu yang sangat ingin ia tanyakan pada Edo. Sahabatnya itu pasti tahu lebih banyak mengenai dirinya sebelum kecelakaaan itu.

Gara menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan Edo.

"Ada apa?" Tanya Edo, menghentikan kegiatannya.

"Aku ingin berbicara dengan mu."

"Ya aku tahu. Ini kita sedang bicarakan?"

"Jangan pancing emosi ku Edo!"

"Baiklah." Ujar Edo, bangun dan berpindah ke sofa bersama Gara.

"Ceritakan semua tentang aku sebelum kecelakaaan." Suruh Gara.

"Aku tidak akan menceritakan yang lain. Aku akan menceritakan tentang malam itu."

Gara membenarkan posisi duduknya, bersiap mendengarkan cerita Edo. Wajahnya begitu serius mendengarkan Edo. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Gara.

"Siapa gadis itu?" Tanya Gara antusias.

Edo hendak menjawab, namun satu pesan yang masuk ke handphone-nya membuat ia mengurungkan niat dan bengun dari duduknya.

"Nanti saja, akan aku ceritakan."

"Tidak bisa."

"Akhhh... Kenapa kau pemaksa sekali? Sebentar malam di caffe biasa. Aku ada urusan penting." Bantah Edo, segera pergi.

"Kenapa kau suka sekali pergi dengan tiba-tiba?"

"Apa kau anak perawan yang takut di tinggal?" Jawab Edo membuat Gara kesal.

Gara berdecih. Lagi-lagi Edo membuatnya penasaran. "Sial!" Umpat Gara.

1
Ednarita Cliff
bab nya ko d ulang² c thor...
Aquilaliza: maaf ya kak, itu ada maslah waktu aku upload. /Pray//Pray/
total 1 replies
Yayu Putriamsah
Luar biasa
Siti Maulina
Buruk
Siti Maulina
Kecewa
rahma loeken
mantap...
bear🐻
satu ayah jadi saudara kandung bukan?
Neneng Tejaningsih
Luar biasa
Dewi Yanti
nah ini bru top alula engga lembek👍
RS
Luar biasa
Bajul Sayuto
cerita terburuk yang pernah saya baca👎👎👎 terlalu bertele-tele najis CUUIIIHHH🤮🤮🤮
🌺awan's wife🌺
pengen mampir Ig author nya
miss see
ulang lagi
miss see
kenapa suka diulang ulang thor
miss see
kenapa asyik diulang ulang
🌺awan's wife🌺
pede men Lis lis
🌺awan's wife🌺
kenapa hatimu diselimuti kebencian KPD saudara kandung mu sendiri Elisa,,,
🌺awan's wife🌺
😭😭😭😭😭😭😭😭
Martha Amelia Susanti
Tamat juga aku baca novel ini, meskipun di awal banyak pengulangan tapi belakangnya lancar, semoga makin baik dalam berkarya, semangat!👌
Citra Julinar
❤❤💜💜🌹🌹
🌺awan's wife🌺
gara penuh dg misteri,,,apa hubungannya dg wanita itu,,,lagi apa hubungan garra dg hanny
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!