Kiran, seorang gadis cantik yang sederhana.
Dia tak menyangka bila pernikahannya dengan kekasih pilihannya tak berjalan baik-baik saja.
Begitu banyak lika liku yang harus dia hadapi setelah dirinya menikah dengan Dayat Saputra sang suami juga cinta pertamanya.
Ibu mertuanya yang kejam juga tak hentinya berusaha memisahkan mereka!
Akankah Kiran dapat bertahan dan mempertahankan keluarga kecilnya?
Atau akankah Kiran menyerah?
Penasaran?
Baca selengkapnya kisah mereka disini.....
.
.
Semoga kalian suka😁
Ini cerita pertama author, maaf kalo bahasa dan tanda baca masih kurang, masih proses belajar.
Mohon dukungannya yaa, jangan lupa tinggalin jejak bila kalian suka cerita ini.
Sebelumnya author berterima kasih untuk kalian yang bersedia membaca cerita ini😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellennola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pov Dayat
Alarm handphoneku berbunyi, kulihat sudah akan masuk waktunya sholat subuh.
Aku menengok ke samping, istriku masih tertidur pulas.
Suara alarm sama sekali tak membangunkannya.
Mungkin istriku terlalu larut dalam mimpi indahnya, hingga sama sekali tak mendengar bunyi alarm hapeku yang berdenging kencang.
Aku membelai rambutnya, sambil kukecup dahinya, berusaha membangunkan dia.
Perlahan Kiran membuka matanya, lalu menebarkan senyum kecil, mungkin dia malu karna aku terbangun lebih dulu.
Aku langsung mengajaknya untuk sholat subuh bersama.
Kami pun langsung berwudhu.
Dan setelahnya melakukan sholat berjamaah.
Berhubung masih pagi, Kiran mengajakku kembali tidur.
Tapi ku gelengkan kepalaku, aku sama sekali sudah tak merasa mengantuk.
Lalu aku menyuruhnya untuk kembali tidur saja, mungkin rasa lelah masih mendera badannya.
Kubelai rambut istriku lembut, perlahan terdengar dengkuran halus, rupanya Kiran beneran tidur lagi.
Ku ambil remote tv, kutekan tombol on.
Televisi menyala, namun aku tak bisa fokus menontonnya.
Anganku kembali mengingat malam pertama kami.
Aku benar-benar bahagia, istriku masih menjaga kehormatannya.
Aku merasa beruntung.
Apalagi dijaman sekarang, diluar sana banyak yang tak perduli soal menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita, meski tak semua wanita seperti itu.
Tapi memang jaman sekarang pergaulan sudah terlalu bebas.
**** bebas seperti sudah dianggap hal yang wajar sebelum menikah.
Aku juga teringat dengan telepon Ibu kemaren.
Istriku tentu saja cemberut ketika mendengarnya, aku sendiri jadi tak enak hati. Bagaimanapun kami tengah berbulan madu, tak sepatutnya Ibu mengganggu acara kami.
Aku memang sudah berjanji pada Ibu, untuk membawa menantunya tinggal bersama setelah menikah nanti.
Itu pula yang menjadi salah satu syarat, ketika aku memaksa Ibu untuk merestui dan segera meresmikan hubungan kami, sedang Bapak, memang sedari awal sudah mendukung aku dengan Kiran, sepertinya Bapak memang menyukai sikap Kiran selama ini.
Jadi sewaktu aku meminta restupun Bapak langsung setuju begitu saja.
Dan Kiran tak tau akan hal ini.
Entah kenapa Ibu begitu ngebet pengen Kiran cepat disana.
Sedikit banyaknya aku paham betul sifat Ibuku.
Tapi entah kenapa kali ini aku tak bisa menebaknya.
Semoga saja Ibu tak membuat istriku tak betah tinggal disana.
Sejak malam itu pula, benih-benih cintaku pada Kiran mulai semakin bertumbuh. Perlahan mulai menghapus sosok Nurma dalam anganku.
"Ting", satu pesan masuk ke hapeku.
Nomor tanpa nama. Kubuka isi pesannya.
"Hai mas Dayat, gimana kabar? Ini aku Nurma. Save nomer aku yah!"
Baru saja sosoknya mulai kulupakan. Eh malah nongol kembali. Jadi membuatku mengingat kembali masalalu kami berdua dulu.
Lagipula kenapa baru sekarang Nurma kembali menghubungiku, padahal sudah hampir delapan tahun kami tak bertemu, dan tidak berhubungan.
Aku ragu hendak membalas pesannya.
Takut benih yang dulu kembali muncul.
Takut aku mengecewakan Kiran kalau tau aku masih belum bisa benar-benar move on dari Nurma meski sudah berpacaran dengannya sedari lama.
Apalagi kami sekarang telah resmi menikah. Meskipun Kiran memang sama sekali tak mengenal Nurma. Aku sendiri tak pernah bercerita apapun tentangnya.
Tapi aku tau hal itu tetaplah salah. Mendambakan sesuatu yang bukan milikku, apalagi kutau Nurma juga telah lama menikah, lalu untuk apalagi dia menghubungiku?
Apa dia tidak bahagia dengan pernikahannya?
Atau memang sekedar ingin tau kabarku saja?
Rasa penasaran tak urung membuatku jadi membalas pesannya.
"Hai Nur, mas baik. Bagaimana denganmu? Oke, mas save yah nomernya, tapi btw Nur dapat nomer mas dari mana?",
pesan terkirim.
"Ting", kembali ada balasan dari Nurma.
"Nurma baik mas, Nur dapet nomer mas dari Ibu. Tadi Nur sengaja mampir kerumah mas. Tapi katane mas lagi ada urusan ke luar kota."
"Dengar-dengar mas baru saja menikah, selamat yah mas."
"Salam buat istri barunya mas", balasnya.
"Iya nanti mas sampaikan salam Nur ke istri mas."
Obrolan kami tak sampai segitu saja.
Nur bercerita, bahwa dia menyesal dulu tak memilih membatalkan pernikahannya dan kembali padaku.
Yang akhirnya membuat pernikahannya dengan lelaki pilihannya itu tak berakhir bahagia, bahkan hingga perceraiannya dengan mantan suaminya pun dia belum diberikan kepercayaan berupa keturunan.
Katanya mantan suaminya dulu terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Juga setelah menikah Nurma ditinggal begitu saja. Karna pekerjaan mantan suaminya dulu yang memang merantau, membuat mereka jarang bersama.
Dan selalu menjalin hubungan jarak jauh.
Sekalipun Nurma tak pernah diajaknya untuk ikut merantau, dan tinggal bersama disana.
Katanya biaya hidup disana lebih mahal, jadi sebaiknya Nurma disuruhnya tinggal dikampung saja.
Bahkan Nur bercerita sang suami hanya pulang satu bulan sekali, pun hanya dua atau tiga hari saja dirumah.
Itu yang akhirnya membuat mereka sering bertengkar, apalagi omongan mertuanya yang seolah selalu menyalahkannya karna belum bisa memberikan mereka cucu, membuat Nurma semakin merasa tersiksa.
Para tetangganya juga tak jarang ikut menggunjingnya dibelakang.
Padahal Nurma sudah memeriksakan diri ke dokter bahwa tak ada yang salah dengan dirinya, rahimnya bersih dan sehat.
Ketika bertanya pada dokterpun apa yang membuat dia tak kunjung hamil, sang dokter hanya berkata : "mungkin memang belum waktunya".
Sang dokter juga bilang bahwa jarak dan intensitas berhubungan juga berpengaruh.
Aku jadi merasa iba, andai dulu dia benar memilihku, mungkin kami sudah bahagia bersama sekarang.
Hust, hust, kukibaskan tangan ke kiri kanan mencoba menghalau anganku yang sudah tidak sepantasnya.
Karna bagaimanapun kini telah ada Kiran disampingku.
Kami terus mengobrol via chat, sesekali juga mengungkit masalalu.
Aku jadi tersenyum-senyum sendiri.
Sampai ada tangan yang menyentuh pundakku, aku sedikit terperanjat kaget.
"Lagi ngapain mas?"
"Mas udah mandi? udah sarapan?"
Ternyata Kiran istriku sudah terbangun dari tidurnya.
Kuletakkan hapeku diatas meja.
Tak kubalas chat dari Nurma yang terakhir.
Aku berusaha bersikap biasa lagi.
"Bukan dari siapa-siapa yank, cuman dari teman kerja mas aja!"
"Mas udah mandi tadi, tapi belum sarapan!"
"Sayang udah bangun, buruan mandi gih, mas tunggu!"
"Kita kebawah sarapan sama-sama".
"Jangan lama-lama yah mandinya yank, mas udah laper nih, sayangku ini bangunnya lama sih."
Kiran hanya mengangguk, dan memintaku bersabar, lalu masuk bergegas mandi.
Semoga saja kiran tak curiga.
Dari luar terdengar bunyi kran menyala, pastilah kiran sedang mandi saat ini.
Kembali kuraih ponsel diatas meja, lalu kembali membuka pesan terakhir dari Nurma, sambil sesekali melihat ke arah kamar mandi, takut-takut Kiran keluar.
Kubalas pesan Nurma dengan secepat kilat.
Dan aku berkata bahwa, bila ada waktu maka kami sambung lagi obrolan kami.
Nurma hanya membalas "oke" dan bilang bahwa kalo memungkinkan ingin bertemu denganku.
Aku hanya membalas "insya'alloh".
Tak mau mengumbar janji. Aku harus tetap menjaga perasaan Kiran, istriku.
Ponsel kutaruh kembali ke atas meja, kembali kurebahkan badanku diranjang.
Tak berapa lama Kiran keluar. Akupun menyuruhnya segera merias diri, dan beralasan bahwa aku sudah sangat lapar.
#ngayalngarep
ini cerita.a bagus bgt tpi ndk d lanjutin sayanggg