Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
#28
Jangan mengira bahwa Bagas akan diam begitu saja setelah ia dimenangkan oleh Dinda, bisa saja semua yang dilakukan Dinda murni karena eyang, dan karena sandiwara yang harus mereka lakoni belum usai.
“Jangan berpikir untuk menyendiri selamanya, ayo menua dan keriput bersamaku,” kata Bagas setengah cemberut, tatapannya lurus mengarah ke jalan.
“Aku gak berniat keriput, apalagi jika keriputnya bareng kamu.”
“Terus, mau keriput bareng dokter itu?!” tanya Bagas semakin bertambah cemberut.
“Mungkin.” Dinda malas mengelak, jadi ia mengikuti semua kecemburuan dan ucapan Bagas.
“What?!” pekik Bagas kaget, “emang kurangnya aku di mana, Sayang? Tampan, aku yakin bahwa aku lebih tampan darinya. Mapan, juga lebih mapan aku, kan? Aku nggak mau tahu, ya, pokoknya kamu harus menua dan keriput bersamaku, titik!” Bagas tetap memaksa.
Dinda semakin jengah, ia mengurai belitan tangannya lalu menutupkannya di kedua daun telinganya.
“Kamu mengabaikan aku, Dind?” tanya Bagas, tak terima di abaikan mantan istrinya.
“Kamu bukan tipe aku lagi, Mas, jadi apapun perkataan dan ucapanmu aku tak mau dengar lagi.”
Perkataan Dinda yang terakhir, membuat Bagas makin kesal, wajahnya tertekuk, hingga berlanjut sampai ke rumah. Di depan Eyang Tuti, aksi Bagas semakin menjadi.
Ia hanya diam, mengacak-acak isi piring, dan tidak berbicara satu kalimat pun. Hingga Eyang mencurigai sikapnya.
“Kamu sariawan, Gas? Kok makananmu nggak berkurang?” tegur Eyang Tuti.
“Nggak, sih, Eyang. Cuma tadi agak kesambet aja di jalan.” Dinda cekikikan setelah menjawab.
Eyang tahu bahwa cucu menantunya sedang bergurau, jadi wanita itu justru ikut menimpali. “Waduh, jadi masih sawan sekarang?”
“Kayaknya, sih begitu, Yang.”
“Nggak bisa diobati, atau diruqyah, misalnya?”
“Udah, Eyang. Pak Ustadz nya bilang, udah nggak tertolong,” sambung Dinda, makin meledak tawanya.
“Ckckckck, kasian cucu Eyang.” Eyang Tuti ikut tertawa keras. Puas sekali, Dinda bisa menertawakan Bagas sampai perutnya mulas.
Sedangkan Bagas? Pria itu bertambah kesal, hingga setelah makan malam usai, dia sengaja menghentak-hentakkan kedua kakinya, persis seperti anak-anak. Langsung masuk kamar dan menelungkupkan tubuhnya di kasur yang biasa dipakai Dinda tidur.
Dinda yang mengikutinya dari belakang, hanya bisa menggeleng heran. “Kamu masih tantrum, Mas? Atau beneran kena sawan sepanjang perjalanan tadi?” tanya Dinda, sambil memunguti sepatu dan jas Bagas yang ia lempar sembarangan. Bila bukan Dinda, siapa lagi yang harus melakukannya? Bi Sani? Mungkin baru besok pagi bersih-bersih kamar ini.
“Kamu, sih, nggak mau keriput bareng aku,” sahut Bagas, masih dengan wajah tertelungkup.
Dinda meletakkan tasnya, lalu duduk di meja rias guna membersihkan riasan wajah, lalu mandi dan bersih-bersih. Jadi pulang nanti, ia tinggal tidur saja. “Sudah kubilang, kamu bukan tipe aku lagi.”
Bagas kembali duduk bersila, ia menatap Dinda yang mulai membersihkan sisa makeup yang menempel di wajahnya. “Terus, tipe kamu yang seperti apa?”
“Tipe aku yang perutnya buncit,” jawab Dinda puas.
“Hah?!” Bagas melongo tak percaya.
•••
Di tempat lain.
Waktu baru menunjukkan pukul 22.00 malam, tapi Tari belum bisa memejamkan mata, karena masih menunggu suaminya pulang. Sebenarnya ia geram dengan ulah suaminya, yang mulai menunjukkan gelagat seperti dulu.
Untung saja Tari amat mencintai Igun, jadi seperti apapun minusnya pria itu, ia selalu berusaha memberi maaf dan banyak kesempatan. Terlebih lagi, mereka sudah memiliki Yudha putra tunggal mereka berdua, bayi tampan hasil perjuangan Tari menjalani program bayi tabung.
Harapan Tari hanya agar suaminya berubah menjadi suami baik, serta ayah yang bisa dijadikan contoh oleh anaknya. Itu saja, tapi sepertinya itu masih terlalu sulit untuk diharapkan.
Beberapa saat kemudian, suara gerbang menjadi pertanda kedatangan Igun, Tari berdiri dari tempat ia duduk, keluar dari kamar yang sebelumnya menjadi tempatnya menunggu.
Tok!
Tok!
Suara hak sepatu Igun menggema di dalam ruangan, disusul kemudian kedatangan Tari menyambut pria itu seperti biasa. Meski gemuruh di dalam dadanya bergejolak hebat seperti lava gunung berapi.
“Belum tidur, Sayang?” sapa Igun, mesra, entah sungguh dari hati, atau sekedar pemanis bibir.
Pria itu mengecup kening sang istri seperti biasa, namun, Tari bersikap dingin, bahkan menepisnya perlahan. “Kenapa, hmm?” tanya Igun lagi.
“Wartawan menghubungiku, dia membawa ini.”
Plak!
Tari membanting amplop berwarna coklat diatas meja.
“Apa ini?”
“Lihat aja sendiri,” jawab Tari dingin, ia melipat kedua tangannya di dada.
Igun pun membuka amplop yang menjadi penyebab sikap dingin istrinya. “Kamu nggak pernah bisa berubah, ya, Mas?” Tari langsung men skak mat Igun, dengan track record pria itu sendiri.
Sebab, usut punya usut, amplop tersebut berisi foto-foto aktivitas Igun di luar rumah bersama beberapa wanita. “Ini fitnah, Sayang.” Igun berusaha meluruskan.
Namun, Tari menepis genggaman tangan Igun pada bahunya, “Fitnah? Fitnah yang kebablasan?”
Igun menggeleng, “Aku berusaha selalu meningkatkan kadar rasa percayaku padamu, Mas. Tapi kamu, selalu saja sengaja mencari celah untuk melakukan kesalahan serupa.”
Igun terdiam, berpikir bagaimana cara agar bisa menyusun alasan yang membuat Tari kembali percaya padanya.
“Aku nggak ngapa-ngapain, Sayang. Aku hanya menemani Anggi mencari pakaian yang sesuai untuk audisinya lusa. Lalu ini, karena Anggi diundang seseorang yang hendak mewawancarainya, dan Anggi terlalu nerves untuk datang sendiri. Makanya dia meminta aku untuk menemaninya.”
Tari amat sangat lelah, “Alasan saja terus, lama-lama aku mual mendengarmu beralasan, Mas!”
Selama ini, ia tak hanya membela Igun, menampakkan sisi-sisi baiknya sebagai suami, di depan media, juga di depan keluarganya. Tapi, ternyata pria itu tak juga mau berubah. Bahkan mungkin semakin parah. “Aku tak tahu lagi, Mas, harus memaklumi kebiasaan burukmu ini seperti apa.”
“Tari! Tari!” seru Igun mencoba menghentikan istrinya yang sudah melangkah pergi meninggalkannya seorang diri di ruang tengah.
•••
Tengah malam, Dinda membuka matanya, ia. Melihat ke sekitar, dan ternyata dirinya masih di rumah Bagas. Wanita itu ketiduran saat menunggu Eyang yang masih berbicara santai dengan Bagas di ruang tengah.
Mungkin tadi Bagas tak tega membangunkannya, hingga Dinda ia biarkan tidur pulas. Tapi, dimana pria itu? Kenapa tak ada di sofa tempat ia biasa tidur?
Dinda bangun dari tempatnya, menengok kamar mandi dan balkon, namun, tak ada Bagas di sana, sementara ia harus segera pulang, karena Mama Juwita mungkin belum tidur karena masih menunggunya pulang.
Dinda memutuskan keluar kamar, karena mungkin saja Bagas masih ketiduran di ruang tengah. Tapi, netranya tertuju ke pintu kamar Abel yang terbuka sedikit. Dinda memutuskan untuk berjalan lebih dekat ke sana, apa. Mungkin Bagas ada di kamar Abel?
“Maafkan Papa, Sayang, karena belum berhasil menemukanmu.” Ternyata benar dugaan Dinda, Bagas ada di dalam sana, dan untuk kali pertama Dinda mendengar pria itu menangis dalam kehancuran karena merasa gagal menjalankan peran sebagai papa.
“Papa bahkan belum berhasil membujuk mama kamu untuk kembali ke rumah kita.”
Dinda mengintip melalui celah pintu, terlihat Bagas sedang berdiri dengan bahu terguncang menatap ke dalam box tempat tidur Abel kecil. “Dimana kamu, Nak, kasih tahu Papa, agar Papa bisa segera datang menjemput, lalu kita bisa berkumpul sama-sama lagi. Abel, Mama, dan Papa.”
Dinda tak kuasa menahan tangisnya, wanita itu duduk meringkuk di depan pintu kamar, menahan suara tangisnya, agar Bagas tak mengetahui bahwa ia ada di sana.
ko ya ikut bahagia
apa lagi yang jemput orang bisa di percaya jadi gasss