NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:491.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifa Mukherjee

Ini adalah kisah seorang pria bernama Ahmad Ranvir Al Ghazali. Anak tunggal seorang Kepala Desa sekaligus tuan tanah ini di beri nama alias, sebut saja Paijo. Bukan tanpa alasan, melainkan sering sakit-sakitan saat usianya baru menginjak satu tahun. Mungkin tidak kuat di beri nama sebagus itu, jadi mau tidak mau orang tuanya memberikan nama kecil itu.

Saat usianya menginjak dua puluh lima tahun Ayahnya bersikeras menjodohkannya dengan seorang gadis cantik anak dari pemilik Toko Emas Terbesar di Kabupaten Kendal.

"Apa menikah? Dengan gadis itu? Aku bahkan sudah melihatnya sejak dia masih kecil dan ingusan. Dia sangat manja dan cerewet. Demi tanah Ayah luasnya dari ujung Barat ke Timur. Aku menolak perjodohan ini!"

😤😤😤😤

"Apa menikah? Dengan Paijo? Apa tidak ada pria lain yang lebih tampan dan punya nama keren daripada dia. Aku TIDAK MAU!!!

"Heh, aku memang tidak tampan, tapi aku Paijo adalah pria yang berkharismatik! CATAT!

Selanjutnya, kita simak perjalanan mereka. Akankah mereka berjodoh???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Mukherjee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13: Bakso urat enak, pijat urat?

"Apa tidak bosan? Sekali-kali makan nasi Padang kek,"

"Nasi rames pakai kering tempe, di kasih kuah opor aja aku juga mau. Ga usah pakai ayamnya ga apa-apa. Ku-ah a-ja!" Saras sedikit menekankan kata kuah saat mengucapkannya. Menyindir, entah yang di sindir paham atau tidak.

Bambang melirik Saras sekilas dan kembali fokus menyetir. Laki-laki itu nampak berpikir untuk menjawab. Seperti biasa dia selalu bisa mengarang alasan yang masuk akal baginya dan itu selalu bisa membuat Saras menurut dan merasa iba.

"Maaf ya sayang, aku lagi ga ada uang. Tanggal tua." Dia memasang wajah memelas menjengkelkan. Saras mengernyitkan dahi, setahun jalan bareng Bambang dia sudah paham karakter pria ini. Pria terhormat yang rela mengencangkan sabuk pinggang untuk bisa makan enak. Mati-matian berjuang hanya untuk membeli pakaian mahal, jam mahal atau sepatu mahal. Demi penampilan dan gengsi semata.

Dan untuk kesekian kali, mobil sejuta umat milik Bambang sudah terparkir di depan warung bakso cak Sam.

Baiklah, kali ini aku akan memesan bakso spesial.

Seperti biasa Bejo menyambut kedatangan mereka. "Jadi hari ini pesanan seperti biasa?"

Saras menggeleng cepat. "Tidak, hari ini saya pesan bakso urat saja, tidak pakai tahu dan lain-lain, banyakin daun bawang sama bawang goreng ya. Minumnya es jeruk jumbo, sama es campur. Mas Bambang mau pesan apa?"

"Mau di samakan pesanannya?"

"Eh... saya pesan yang biasa aja."

Serius itu? bisa over bujet jajan hari ini, kalau dia pesan begitu banyak.

"Emm... kamu yakin habis, makan bakso di tambah es campur?"

Saras tersenyum menyeringai, pasti dia mengkhawatirkan akan mengeluarkan uang banyak nanti. "Pasti aku habiskan kog."

Tidak menunggu lama dua mangkuk bakso malang terhidang di hadapan mereka. Es jeruk jumbo dan es campur di samping mangkuk bakso Saras. Dan seperti biasanya es teh ekonomis menjadi pilihan Bambang.

Sesuap demi sesuap Saras memakan bakso urat pesanannya. Dia terlihat sangat menikmati. "Bakso ini uratnya sangat terasa, hemmm... enak sekali. Mau coba?" Saras mengulurkan segelinding bakso di atas sendoknya.

"Tidak, untuk kamu saja habiskan!"

Bambang terlihat ketar-ketir, wajahnya lebih ke masam. Cemberut tidak ada kebahagiaan sama sekali di sana, membuat Saras ingin tertawa.

Apa sebegitu tersiksanya dia memikirkan menghemat uang?

"BEJO!" Cak Sam memanggil dengan suara setengah berteriak. Bejo tergopoh-gopoh menghampiri.

"Kenapa? kenapa?"

"Kamu jaga kasir, saya mau pulang sekarang."

Saras mendengar pembicaraan mereka, karena mejanya tak jauh dari cak Sam berdiri.

"Hlo ada apa cak? tumben."

"Itu Paijo rewel, kemarin katanya habis jatuh. Sekarang saya mau cari tukang urut. Dia ga bisa ngapa-ngapain. Bisanya cuma berbaring di tempat tidur. Kasihan."

Apa? Paijo ga bisa ngapa-ngapain? Apa jangan-jangan Paijo lumpuh gara-gara jatuh dengan posisi terduduk kemarin?

Saras tiba-tiba merasa cemas. Kalau itu terjadi, dia pasti merasa menjadi orang yang paling bersalah. Dengan susah payah Saras menelan bakso urat yang sudah dia kunyah lembut.

Aku harus bagaimana? Ya Tuhan, sembuhkan Paijo. Walaupun aku tidak begitu menyukainya, tapi dia sudah baik hati membantu 'ku.

Baiklah, aku harus memastikan sendiri kalau Paijo baik-baik saja.

Sekarang juga, iya sekarang juga aku harus melihat kondisinya.

Saras panik, tetapi tekadnya untuk bertemu Paijo sudah bulat. Sekarang juga dia harus pergi.

"Mas, aku ada perlu. Aku duluan pulang ya."

Bambang yang tidak tahu apa-apa sedikit bingung. "Hlo kenapa buru-buru? Bakso kamu masih banyak. Habiskan dulu, nanti saya antar.'

Saras tidak sanggup menunggu lagi, seenak apapun bakso itu, ini masalah nasib anak manusia. Dia tidak mau menyesal seumur hidup karena merasa bersalah.

"Maaf mas, aku benar-benar buru-buru. Mas Bambang habiskan saja dulu, tidak apa-apa."

"Tidak! kamu habiskan ini dulu! Baru saya antar!"

"Lagipula urusan apa?"

"Please mas, aku ga bisa jelaskan sekarang. Aku pergi dulu." Saras berlari kecil keluar warung, meninggalkan Bambang.

"Saras!" teriaknya.

Saras sedikit pun tidak menoleh apalagi menghentikan langkahnya. Dia menyusul cak Sam yang sedang menggejot vespa tua di parkiran.

"Cak! boleh saya ikut?"

Cak Sam bingung, tapi dia juga tidak bisa menolak. Mungkin saat di rumah nanti dia bisa lebih tahu. Ada apa gerangan dengan gadis ini.

****

Paijo meringis menahan sakit, di pakai jalan sakit, di buat duduk sakit. Alhasil sejak pagi dia hanya bisa tiduran, miring kanan, miring kiri. Kasihan sekali.

Bersamaan dengan cak Sam dan Saras turun dari vespa. Seorang laki-laki setengah baya juga turun dari motor.

"Siapa yang keseleo cak?"

Sebelum pulang tadi, cak Sam sempat menelepon tukang urut yang paling tersohor di kampung itu. Sebut saja namanya pak Seno.

"Cucu saya, mari langsung masuk saja."

Saras melempar senyum pada pak Seno. Dia sendiri juga seperti baru sadar, nekat juga dia meninggalkan Bambang dan ikut kesini untuk melihat Paijo. Mereka bertiga masuk ke dalam rumah.

"Saras, kamu tunggu di sini dulu ya. Biar Paijo di urus dulu. Dia itu cengeng sekali, baru jatuh begitu saja sudah nangis semalaman."

Saras tersenyum geli, kemarin Paijo sok banget bilang tidak apa-apa. Sering mengatai Saras cengeng tapi ternyata dia juga sama.

Di dalam kamar Paijo, Pak Seno mulai beraksi. Bau minyak urut mencuat ke seluruh ruangan, saat di teteskan. Pelan tapi pasti. Jari-jari tangannya bergerak, menyentuh punggung, turun ke pinggang belakang Paijo hingga area pantat. Seperti sedang mencari urat-urat yang bermasalah. Saat sudah menemukan titik yang pas, pak Seno menekan dengan sedikit keras. Membuat Paijo menggeliat minta ampun.

"Aghhh ... udah pak! udah!"

"Aghhh... monyet, anjing, celeng!"

"Setan! sakit pak! udah cukup!" Paijo mengerang kesakitan.

Pak Seno pura-pura budek, tanpa ampun dia terus memijat. Tangannya terlihat enteng saja menekan sana sini. Tapi tenaga dalamnya seperti tersedot juga. "ini dia disini yang agak geser. Tepat di brutunya cak. Haha..."

Cak Sam tertawa melihat cucunya, kasihan tapi lucu. Mendengar jeritan dan umpatan Paijo dia jadi gemas. "Jo, kamu juga ga tahu malu. Mbok kalau jatuh itu pilih-pilih. Keren dikit, cidera patah kaki atau patah tangan sekalian gitu. Ini malah di tulang ekor, hahaha..."

"Mbah aku rasanya mau mati. Masih bisa ya mbah ketawa!"

Saras bisa mendengar jelas jeritan dan umpatan Paijo. Bahkan obrolan mereka pun Saras tidak merasa kesulitan saat menyimak. Rumah yang sederhana, jelas ruangan itu bukan ruangan kedap suara.

"Aghhh... pak berhenti dulu. Aduh!"

"Aku ambil nafas dulu. Tega banget ya main urut. Sakit ini sakit!"

"Ya saya juga tahu itu sakit. Mau sembuh tidak? kalau mau sembuh tutup mulutmu!"

"Ikhtiar sembuh, nyebut doa sama yang kuasa." "Bukan semua hewan kebun binatang kamu absen!"

"Pijat urat memang sakit, tapi habis ini semoga bisa langsung sembuh."

"Denger itu Jo, tutup mulut kamu kalau tidak ingin tambah malu."

"Kenapa malu? memang sakit kog. Cak Sam tersenyum.

"Atah!" Paijo mengerang lagi dan kali ini dia berusaha diam. Setidaknya umpatan seperti tadi sudah dia tahan agar tidak terdengar si tukang pijat.

Takut juga. Kalau tidak nurut bisa-bisa bukanya sembuh, tapi tulang ekor 'ku bisa patah. Pak Seno mijat ga ada ampun. Setengah gregetan. Hah!

Beberapa kali pijatan sampai ritual pijat urat itu selesai. Cak Sam mengantar Pak Seno keluar sekaligus menyerahkan selembar amplop berisi upah pantas untuk seorang tukang pijat.

"Ah saya sampai lupa, kamu jadi di anggurin begini."

Saras tersenyum, "Bagaimana keadaan Paijo cak? eh... maksud saya mas Paijo. Hee..."

"Kamu dengar sendiri tadi, dia sampai jerit-jerit. Masuk saja ke kamarnya. Siapa tahu setelah kamu jenguk dia sembuh.

Sebenarnya Saras tidak enak main masuk ke kamar cowok. Tapi cak Sam yang menyuruhnya, Paijo juga tidak memungkinkan turun dari ranjang. Akhirnya Saras mengetuk pintu.

Paijo heran, setahunya hanya ada kakek. Kenapa juga pakai ketuk pintu kalau mau masuk. Karena tidak ada sahutan dari dalam, Saras memegang daun pintu dan membukanya pelan-pelan. Pintu terbuka sedikit, alih-alih langsung masuk, Saras malah hanya menjumbulkan kepalanya saja.

Paijo sampai kaget. Sungguh tingkah Saras sangat konyol. "Heh, kamu sedang apa di situ?"

Saras meringis, "Hai, Paijo!"

Melihat wajah Paijo, aku yakin pijat urat tak seenak bakso urat cak Sam.

.

.

.

.

bersambung...

Hai reader, terimakasih sudah mengikuti kisah receh ini ya. Like dan komen jangan di lewati😂😂😂😂

1
zeus
Laah.. Kok sdh tamat
zeus
Emg riilnya gitu sich.. Susah klo watek(Bukannya g Bisa)
Kenyataanya di sekitar kita emg gitu, org klo sdh bebal y susah berubah...
zeus
Kok bagong ya sirik...
Punya camry nyinyir punya motor butut Dia ribut...
Syaitonirrojim emg..
zeus
Paijo anak kandung serasa anak tiri.. 😂😂😂😂
zeus
Paijo kaget g tuch kira2?
zeus
😂😂😂
Lambene kubro Jan Joss tenan
zeus
Msh g sadar2 juga si bagong
Emg klo mati hartanya ngaruh?
zeus
Lbh suka bagong g sadar2 spe akhir hayatnya..
zeus
😂😅
zeus
So tutik(untune metu sitik) ini emg bener2 yah jd orang
zeus
Ceritanya lumayan bagus tp spt yg sdh2 di NT itu kdg yg bagus sedikit pemirsanya yg ecek2 dan murahan mlh bnyk peminatnya,...
Aneh memang...
Jd g heran bnyk author berkelas yg mandek g nglanjutin karyanya
zeus
G usah peduli Kan tetangga kamar jo
Aduk terus
zeus
G usah nunggu restu bagong Kan Dia sendiri yg bilang ga ngakui anak
Minta ja restu Umi nya saras
zeus
Kita santet online so bagong
zeus
Etdah.. Udh di kasih mlh ngatai ireng tur Ora bagus..
zeus
PHK itu udh kyk kumpul an emak2 arisan saja..
zeus
Jos jo
Orang Tua model an bagong emang mesti di gitu in..
zeus
Orang Tua model bagong ini msh bnyk hidup di Jmn ini...
zeus
Bambang...
zeus
😂
Saras ini meski di gitu in tetep ja kocaknya keluar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!