Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.
Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Life must go on
"Kau tidak boleh pergi kemana-mana Sagara! Diam lah di rumah. Rumah ini adalah, tempat ternyaman dan teraman untukmu!" Tegas Rangga.
"Ayah! Izinkan aku pergi, aku harus memastikan sesuatu. Kumohon, Yah!" Gara terus memegangi kaki Rangga.
"Gara, cukup. Berdirilah, sayang! Bicarakan baik-baik, ada apa denganmu?" tanya Tira membantu Gara berdiri.
Gara pun perlahan-lahan berdiri, ia menatap kedua orang tuanya, ia begitu takut untuk mengatakan kejujuran yang sebenarnya. Ia shock, karena tahu bahwa Hila meninggal. Tapi, ia juga takut akan hukuman yang diberikan Ayahnya. Apalagi, kalau sampai mereka tahu, bahwa pernikahan Elang batal karena dirinya.
Ya, semua ini karena Gara. Dunia memang sempit. Kini Gara tahu, ternyata wanita yang pernah tidur dengannya, adalah wanita yang akan dijodohkan dengan Elang. Mendapati kenyataan bahwa Hila meninggal karena serangan jantung, membuat dirinya begitu tercengang tak percaya. Tapi, ia ingat betul nama gadis yang pernah berkenalan dengannya, Sahila Tanzania, gadis cantik itu pernah mengulurkan tangannya pada Gara saat pertemuan pertama mereka yang terjadi di Diskotik.
Aku tak mungkin jujur pada kalian, Ayah, Bunda ... kalau kalian tahu yang sebenarnya, mungkin kalian akan menghukum ku, dan kecewa padaku. Maafkan aku, aku tak mungkin jujur. Aku pengecut, ya ... aku memang pengecut. Tapi, untuk apalagi aku bicarakan? Jika ternyata Hila, si gadis malang itu kini telah meninggal dunia? Keadaan yang mengagetkan, dan aku masih tak percaya dengan semua ini. Ya Tuhan ... kenapa kisah hidup Hila harus berakhir seperti itu? Apa mungkin ia terkena serangan jantung karena aku? Batin Gara.
"Gara, jawab aku! Apa alasanmu ingin pergi ke Indonesia? Kenapa kau mengatakan untuk yang terakhir kali? Apa maksudmu?" tanya Rangga.
"A-aku, aku hanya ingin bertemu Elang untuk yang terakhir kali. Karena aku sudah lama tak bertemu dengannya. Dia pasti terluka, menjelang hari pernikahannya, kekasihnya malah meninggal dunia. Apa aku salah ingin bertemu dengan Elang?" Gara gugup, ia takut ketahuan.
"Ayah, biarkan saja Gara ikut. Toh, kuliahnya sedang libur beberapa hari ini. Kita juga di Indonesia tidak akan lama, kan? Kasihan dia, sebulan lebih hanya berbaring di kamar saja. Tidak apa-apa, Ayah." Tira merayu Rangga.
Rangga melihat Gara dengan tatapan tajam, "Apa kau yakin, alasanmu datang ke Indonesia hanya untuk bertemu dengan Elang? Apa kau tak menyembunyikan sesuatu?" selidik Rangga.
Gara kaget, "Ti-tidak, Ayah ... sungguh, aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Aku bersumpah, aku berjanji, itu kali terakhir ku datang ke Indonesia. Kumohon izinkan aku, Yah ...."
"Kau hanya boleh pergi kali ini saja, Gara! Sampai kau lulus S2, kau harus terus menetap di Swiss. Awas kalau kau sampai melanggar perintahku!" Tegas Rangga.
Mata Gara berkaca-kaca, ia menganggap semua ini benar adanya, dan Gara akan menutup perbuatannya bersama Hila dulu. Ia tak akan memberi tahu siapapun, karena ia percaya, bahwa Hila telah meninggal. Ini tak akan membuatnya disalahkan oleh kedua orang tuanya. Hanya saja, penyesalan dan kepedihan mendalam akan dirasakan Gara seumur hidupnya.
Hila, Sahila ... aku tak tahu, apa penyebab kau pergi meninggalkan dunia ini. Aku begitu menyesal, karena aku baru tahu kenyataan ini, setelah kau meninggal. Kalau saja aku tahu, kau lah gadis yang akan dijodohkan dengan Elang, mungkin sejak dulu aku bisa meminta bantuan pada Om ku untuk menggagalkan perjodohan itu. Tapi, ibarat nasi telah menjadi bubur. Semua telah terlambat, dan aku begitu menyesali kejadian ini, Hil. Aku sedih, aku sangat sedih, kau gadis yang aku cari, tapi kini dirimu hanya tinggal nama saja ....
...❤❤❤❤...
Hila berjalan menyusuri perkampungan di daerah Bogor. Ia berniat mencari kontrakan untuk ia tetap melanjutkan hidupnya. Berbekal uang sepuluh juta yang diberikan oleh sang Ibu, Hila harus bisa bertahan hidup dan menjalani semuanya dengan tabah. Ini jalan yang Hila pilih, ia menjerumuskan dirinya dalam jalan yang salah. Kini, ia harus menjalani pahitnya kehidupan seorang diri, tanpa keluarga, sahabat dan orang terdekat.
Akhirnya, ia menemukan kontrakan yang memanjang, ada sekitar 7 rumah berjejer saling berhadapan. Hila pun segera bertanya pada salah seorang wanita yang sedang menyapu halamannya. Hila pun ditunjukkan pada pemilik kontrakan tersebut. Tuhan memang masih menyayangi Hila, ia masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki dirinya.
Walau ia kini tengah berbadan dua, tapi ia yakin, ia bisa kembali hidup dan mencari pekerjaan yang layak. Hila beruntung, masih ada kontrakan kosong yang bisa ia tempati. Ia pun jadi mudah menangis, entah mengapa, mendengar sang pemilik berkata bahwa masih ada kontrakan kosong, air matanya tak terasa jatuh secara tiba-tiba.
"Nama kamu siapa?"
"Hila, Bu ...."
"Kamu gak bawa barang apa-apa?" tanya pemilik kontrakan yang bernama Bu Desi, Bu Desi melihat Hila dari atas kebawah dan Hila hanya membawa tas saja.
"Ma-maaf, Bu. Saya memang tidak punya apa-apa. Apa boleh saya pinjam tikar untuk saya tidur, Bu?" Hila terlihat begitu menyedihkan.
"Kamu itu cantik, bersih, putih, kenapa kamu harus ngontrak? Apalagi, kamu gak punya apa-apa! Kamu diusir dari rumahmu?" tanya Bu Desi lagi yang begitu blak-blakkan.
Hila menunduk. Ia bingung, bagaimana ia menjawabnya. Apalagi, ia kini tengah hamil, bisa-bisa Hila diusir jika ketahuan hamil duluan dan diusir keluarganya. Hila pun terpaksa berbohong, agar bisa bisa diterima di rumah kontrakan ini.
"Ma-maaf, Bu. Iya, saya ada masalah, jadi saya harus mengontrak." Ucap Hila.
"Masalah apa? Jika kamu menyalahi aturan atau berbuat tidak senonoh, saya tidak bisa menerima kamu di kontrakan saya! Saya tidak mau, menerima wanita yang kotor!" Tegas Bu Desi.
Ya Tuhan, ucapannya begitu menakutkan. Maafkan aku harus berbohong, karena aku lelah, berjalan seharian, dan aku belum makan apapun. Batin Hila.
"Sa-saya diusir dari rumah, karena saya berpisah dengan suami saya." Hila berbohong.
"APA? Kenapa bisa diusir?" Bu Desi kepo.
"Karena dia selingkuh. Dia lebih memilih wanita lain daripada saya. Padahal, kondisi saya tengah hamil muda." Hila menunduk, menunjukkan kesedihannya, agar pemilik kontrakan tahu, bahwa dirinya memang tengah hamil.
"Astaga ... benarkah? Laki-laki brengsek! Laki-laki tidak tahu diri. Memang biadab. Kasihan sekali kamu. Apalagi, kamu sedang hamil?" tanya Bu Desi penasaran.
"Iya, Bu. Keluarga saya di kampung, dan saya tak punya apa-apa disini. Makanya, saya ingin mengontrak dan mencari pekerjaan." jelas Hila.
Tak apalah aku berbohong untuk sementara, aku bingung harus menjelaskan apa pada pemilik kontrakan yang bawel ini. Batin Hila.
"Aduh, saya tak menyangka, hidup kamu begitu menyedihkan. Biar saya sediakan kasur yang nyaman untuk kamu tidur. Kasihan calon bayimu, kalau nanti kamu sudah punya uang, baru kamu ganti. Sekarang, istirahatlah, masuk dulu kedalam, biar pembantuku yang membereskan kamar untukmu. Tapi, untuk satu bulan pertama, kamu punya uang untuk membayar kan?" selidik Bu Desi.
Hila mengeluarkan uang dari tas nya, "Ini, Bu. Saya bayar untuk dua bulan. Terima kasih banyak, Ibu sudah mau membantu saya."
"Sama-sama! Kasihan sekali kamu, apalagi kamu tengah hamil muda." Bu Desi menatap Hila dengan prihatin.
Keesokan harinya ....
Hila pun mulai beradaptasi dengan kontrakan barunya. Ia bersyukur, disaat keterpurukan melandanya, ia masih bisa diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Kesombongannya, keangkuhannya, telah mendapat balasan yang setimpal. Ia telah sadar, bahwa ia tak bisa membuat dunia takluk padanya, ternyata ia yang harus takluk pada kerasnya dunia.
Hila mulai menata dirinya, memaafkan diri sendiri, dan berdamai dengan keadaan. Mencoba untuk hidup yang lebih baik, karena kini ada janin yang ia bawa. Ia menyesal, tapi ia tak berani membuang janin tak berdosa itu. Ia berniat, akan tetap melahirkan janin itu dan mungkin akan merawatnya.
"Selamat pagi, Teh ... penghuni baru ya," sapa gadis yang berada di pinggir kontrakan Hila.
"Eh, i-iya. Selamat pagi juga. Iya, saya baru kemarin tinggal disini. Mau berangkat kerja ya?" tanya Hila.
"Iya, Teh. Saya kerja di kantor Lexus Corporindo, ini masuk bagian pagi, karena temen saya berhenti kerja, jadi kerjaannya saya yang handle." jawabnya.
"Siapa nama kamu? Sepertinya, kamu lebih muda dari saya, ya." Ucap Hila sopan.
"Nama saya Fitri, Teh. Teteh siapa namanya? Iya, saya baru 24 tahun." Fitri tersenyum.
"Kenalin, saya Hila. Senang berkenalan sama kamu, Fit. Oh iya, ngomong-ngomong, temen kamu yang berhenti kerja itu, apa di perusahaan tempat kamu kerja sudah ada penggantinya, Fit?" tanya Hila.
"Belum, Teh. Soalnya, dia berhenti juga mendadak, karena orang tuanya di kampung sakit. Yah, siapa yang mau sih kerja jadi cleaning service, sudah kerjaannya banyak, gajinya tak seberapa. Teman-temanku pun disuruh menggantikan Gina, banyak yang gak mau. Katanya cape, gaji tak sepadan dengan pekerjaan. Gajinya juga jauh beda sama orang yang kerja di bagian office." Jelas Fitri.
"Saya mau, Fit. Bisakah kamu merekomendasikan saya untuk kerja di sana?" Hila amat antusias.
"Ha? Teteh belum punya kerjaan kah? Boleh banget, Teh. Nanti Hila bilang sama kepala di sana." Ujar Fitri.
"Tapi, ijazah sama KTP saya hilang. Intinya, saya gak punya data apa-apa, Fit. Apa bisa?" tanya Hila.
"Temen Fitri juga cuma lulusan SD sih. Perusahaan itu baik-baik atasannya, Teh. Fitri nanti tanyakan dulu sama dept. head di sana, kalo bisa, nanti Fitri hubungi Teteh ya," ucapnya seraya melebarkan senyuman.
"Makasih, Fit ...."
Hila bingung, identitasnya pun tak jelas. Harus kemana dia membuat identitas atas namanya? Uangnya tinggal delapan juta. Apa mungkin Hila bisa menggunakan jasa calo untuk membuat data namanya? Hila berpikir, dan mungkin Hila akan meminta bantuan Fitri nantinya.
...❤❤❤...
Bu Desi sang pemilik kontrakan memanggil-manggil Hila. Hila sedang menyapu rumahnya, lalu ia pun keluar karena suara Bu Desi begitu melengking dan membuat sakit kuping.
"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Hila.
"Ini, si Fitri telepon, katanya disuruh kasih ke kami ponselku. Kamu gimana sih! Segala gak punya, huh." Keluh Bu Desi sambil memberikan ponselnya.
Hila pun mengangkat telepon dari Fitri. Betapa senangnya Hila, karena mendapat panggilan dari Fitri, bahwa Hila bisa bekerja di perusahaan itu, dengan syarat ia harus sudah mengumpulkan berkas-berkas identitasnya, dan diberikan waktu satu bulan. Fitri pun meminta Hila untuk datang ke perusahaan tempatnya bekerja, karena Fitri dan cleaning service lainnya sedang kekurangan orang, karena ada tiga karyawan yang tidak masuk.
Tak butuh waktu lama bagi Hila, ia segera berangkat menuju alamat yang diberi tahu oleh Fitri. Perusahaan otomotif terbesar yang berada di Bogor ini merupakan perusahaan anak cabang yang berada di Swiss dan Jepang. Perusahaan besar yang memperjual belikan unit mobil dan suku cadangnya. Setengah jam kemudian, Hila telah sampai di kantor perusahaan yang dituju.
Aww, perutku sakit sekali. Kenapa tiba-tiba keram dan nyeri? Apa karena aku berlari? Maafkan aku, aku sampai lupa kalau aku ini sedang hamil. Ya Tuhan, hidupku sekarang begitu menyedihkan, bahkan aku lupa, bagaimana caranya tersenyum. Maafkan aku yang tidak bersyukur atas kesempatan ini ... Batin Hila.
Hila sudah berada di pantry belakang tempat berkumpulnya seluruh cleaning service. Fitri meminta Hila bertemu dengan SPV cleaning service di ruangannya. Hila pun dengan sopan mengetuk pintu, lalu masuk kedalam.
"Selamat siang, Pak." Hila menundukkan tubuhnya.
"Siapa namamu?" tanya kepala cleaning service itu.
"Hila, Pak." Jawab Hila.
Hila melupakan dirinya, ia harusnya menggunakan nama samaran, agar kebohongan Ayahnya tak tercium. Astaga, aku lupa menyebut namaku. Aassh, aku harus mengubah namaku. Batin Hila.
"Nama lengkap!" Ucapnya tegas.
"Kahila Putri, Pak." Jawab Hila gugup, karena ia berbohong.
"Kata Fitri, kamu tak punya identitas. Kenapa?"
"Karena semuanya diambil oleh mantan suami saya, dan saya tak diberikan apa-apa." Hila berbohong lagi.
"Lulusan apa kamu?"
Lulusan? Aku lulusan S2 jurusan business management di NYU (New York University) Tapi, mungkinkah aku memberitahu kepala ini? Pasti dia akan menertawakan ku, dan berkata bahwa aku bermimpi terlalu jauh. Batin Hila.
"Saya lulusan SMA, Pak." Jawab Hila asal
"Jika kamu ingin bekerja disini, mampukah dalam satu bulan, kamu mengumpulkan identitas dan ijazah mu?" tanya kepala yang bernama Pak Ardi.
"Mampu, Pak. Secepatnya saya akan memberikan pada Bapak." Hila tersenyum.
"Bagus. Karena urgent, jadi saya bisa menerima kamu hari ini. Banyak yang tidak masuk, dan ada karyawan yang keluar juga. Tugas kamu kali ini, cukup banyak. Apa tak apa?" tanyanya.
"Saya siap melaksanakannya, Pak." Ucap Hila.
"Bersihkan ruang Asisten Direktur, di gedung lantai 5. Besok Assist Direct akan datang ke perusahaan, maka dari itu, kamu harus membersihkannya. Nanti Fitri yang akan membantumu. Silahkan, segera bersihkan. Semuanya, jangan sampai ada debu sedikitpun!" Tegas Pak Ardi.
"Ba-baik, Pak."
Hila dan Fitri pun berjalan menuju tangga darurat untuk naik ke lantai 5. Tubuh Hila tak kuat menaiki tangga, berkali-kali ia kesakitan, dan merasa lelah. Mungkin, semua efek kehamilannya. Hila masih belum jujur pada SPV cleaning service mengenai kehamilannya. Sebisa mungkin, Hila akan menutup rapat kondisinya, agar ia bisa diterima di perusahaan ini.
Ruangan Asisten Direktur yang sangat mewah, dan benar-benar elegant. Sepertinya, asisten direktur perusahaan ini adalah wanita. Terlihat dari hiasan dinding dan bunga-bunga yang tertata rapi di setiap sudut ruangan. Hila kagum melihat ruangan indah ini. Ia pun dulu bermimpi bisa duduk di ruangan Direktur, karena ia memilih jurusan bisnis. Tapi, keadaan membuatnya harus menjadi cleaning service.
Hila menatap meja kerja sang Asisten Direktur. Ia meengelapnya dan membersihkan mejanya dengan kemoceng. Sambil ia melihat nama yang tertera didepan meja itu. Name tag sang asisten direktur yang cantik. Hila pun membaca nama itu ....
KEYZA PUTRI RAHARSYA
ASSISTANT DIRECTOR OF LC
Benar dugaan ku, Asisten direkturnya adalah wanita. Keyza, nama yang cantik. Pasti secantik orangnya. Batin Hila.
*Bersambung*
Jangan ada yang bilang berbelit-belit ya. Karena aku membuat cerita ini agar lebih nyambung dan alurnya teratur. Mudah kok untuk mempertemukan Gara dan Hila kalau kalian ingin secepatnya. Setelah bertemu, semuanya pasti berakhir, karena mereka pasti menikah. Masa mau berakhir gitu aja? Jadi, nikmati saja dulu ceritanya, perjuangan mereka untuk bertemu dan dipertemukan. Gara pasti bertemu dengan Hila. Tapi, ada waktunya, dan nikmati dulu alur yang sudah aku tata ya sayang-sayangku😘🥰🤗