Season 1 (tamat)
Farida tak menyangka, keputusan terlalu cepat yang diambilnya ternyata sangat mempengaruhi kehidupannya di masa depan. Yaitu menikah dengan pria yang sudah menikah sebelumnya dan telah mempunyai anak.
Sifat alpha suami istri yang masing-masing selalu ingin mendominasi juga terkadang menjadi problema. Ditambah lagi dengan usia yang terpaut jauh sehingga mereka harus berhadapan dengan karakter yang berbeda.
Mampukah pernikahan mereka bertahan dengan segala pelik permasalahan di dalamnya?
...
Season 2 (On going)
Segala bentuk keplagiatan bisa dilaporkan ya!
Area dewasa 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keriweuhan keluarga Pak Darsa
Masih berada dirumah Pak Darsa. James sudah bersih dari bau amis ikan di kolam belakang. Terlepas dari bau amis ikan, kini berganti jadi bau burung. Kalap sudah anak itu kalau lihat binatang.
"Mana gak mau dibilangin apa-apa lagi... kalau dibilangin langsung marah." Farida memperhatikan James dari dekat. Rupanya dia sedang belajar memahami tentang perburungan, terlihat Pak Tatang sedang menjelaskan bunyinya, makanannya, dan tempat tinggalnya.
"Makan apa ya, kok lapar?"
Maklum sudah jam makan siang. Karena sudah masuk adzan dzuhur, Farida meninggalkan James dan menitipkannya kepada Rizki agar menjaganya sebentar. Ayah Darsa baru saja berangkat sekitar satu jam yang lalu.
Setelah shalat dzuhur Farida mencari Ibu Sonya.
"Ibu, lagi ngapain ndut?" Tanya Farida, Rizki masih berada di tempat yang tadi.
"Ke supermarket belanja." Jawab Rizki tanpa berpaling dari ponselnya.
"Pantas aja gak kelihatan." Farida memberengut. Menyebalkan sekali kalau adiknya sudah menghadap benda pipih itu. Farida memperhatikan Rizki secara seksama. Kadang hpnya di miring kiri, kadang dimiringkan kekanan dengan gigi yang mengerat. Greget.
"Hp terooosss!" Teriak Farida membuat Rizki menoleh sekilas.
"Mumpung lagi libur,"
Farida menghembuskan nafas kasar setelah membuka tutup saji. "Kita makan apa dong siang ini kita Ki?"
"Makan hati."
"Oh iya, ada gak? aku suka tuh!" Percuma saja ngajak ngobrol dia, Farida tetap saja dicuekin. "Perempatan jalan masih ada yang jualan tekwan, atau pempek?" tambah Farida.
"Masih,"
"Ya udah Kakak kesana sekarang."
"Beli yang banyak."
"Wani pirooo!"
"Sudah kaya masih saja pelit, kena azab nanti kuburannya bisa sempit."
"Giliran gitu aja kamu doain Kakak yang jelek-jelek. Kamu juga pasti kena azab karena ngegame terus!" Goda Farida. "Azab pelajar sering main ML matinya keselek paket internet."
"Kakaaak!!"
"Ahahhaa..."
Farida berjalan keluar rumah menghindari kejaran Rizki. Jarak dari rumah ke perempatan hanya sekitar lima ratus meteran, sangat dekat. Dari kejauhan pun sudah terlihat berjajar para pedagang di dekat taman komplek tempat orang tua Farida tinggal. Tempatnya asri, dekat dengan gedung sekolah.
Sesampainya di perempatan~
"Bang beli tekwan!"
"Sama pempeknya gak neng?"
"Ya boleh deh kapal selam aja lima belas."
"Tekwannya berapa neng?"
"Satu dong bang, kalau dua tek two, hehehe."
"Ih si eneng ada-ada saja. Lama gak kelihatan?" Tanya penjual khas makanan Palembang. Farida memang sering jajan disini.
"Iya dirumah terus." Di rumah suami maksudnya.
"Ooh begitu... " Sela si penjual. "Tekwan harus makan disini neng, kalau dibawa bukan tekwan namanya, jadi tekhome."
"Satuuu kosong bang! Hahah..."
Beberapa menit kemudian, jajanan sudah berada ditangan. Sesampainya dirumah Farida mengambil piring dan menuangkan makanan yang dibelinya barusan. Aromanya tercium sangat lezat. Terlihat James mendekat, jangan bilang mau minta tekwannya. Mida cuma beli satu porsi.
"Itu apa Mi? Jajam mau..." Nah, benar kan apa dugaannya barusan.
Ampun ya James, muka boleh international tapi perutnya warung tegal. Apa saja yang di makan Farida pasti masuk ke dalam perutnya, termasuk jengkol dan petai.
"Ambil sendoknya minta sama Nini di belakang!" Farida menyodorkan satu bungkus pempek pada James. "Ini kasih ke Nini ya?"
James kemudian ke belakang, lalu balik lagi ke depan dengan membawa sendok dan garpu lengkap dengan mangkoknya. "Anak pintar!"
Kemudian mereka menyantap makanan bersamaan.
***
"Sudah sampai semalam ini dua anak belum pada pulang, belum mandi gak sholat, gak makan dari pagi?" Teriak Pak Darsa kesal sambil berjalan mondar-mandir di dekat pintu. "Kemana mereka?!"
Farida sedang berada tidak jauh dari tempat Ayahnya berdiri. Farida dan Om Rizki menemani James mewarnai ikan, gambar yang dibuat Om Rizki barusan. Mereka duduk beralaskan karpet bulu di lantai.
"Kak, akan segera hadir pengajian akbar!" Bisik Rizki kepada Farida.
Farida mendekatkan merapatkan duduknya pada Rizki, dan tujuannya untuk mempermudah mereka berbisik. Sedangkan James masih fokus mewarnai. "Penceramah, Bapak Darsa! Tempatnya disini."
Rizki mengangguk dan menyambung ucapan Farida. "Waktunya sebentar lagi..."
Farida terkekeh, dia masih hafal betul kebiasaan-kebiasaan di rumah ini. "Materi, kebanyakan main hp jadi sasaran, anak tetangga jadi motivasi."
"Praktek hp disita Kak, selama liburan. Untung aku gak ikut-ikutan."
"Iya bener-bener!"
Baru saja saling bergumam, keduanya kini sudah berada didepan rumah yaitu om jangkung Doni, dan tante kecil Salsabila yang sama-sama tengilnya.
"Aaaaaaaa!!!" Teriak mereka bersamaan. "Ampun Yaaahhh..."
Keduanya mendapat jeweran keras dari tangan kanan kiri Pak Darsa. "Besok tidak ada hp lagi!" Ucap Pak Darsa dan merampas ponsel dari genggaman keduanya. "Harus berapa kali di kasih tau masih saja gak ada kapok-kapoknya?!"
Terjadilah persidangan!
....
To be continued.