Cerita ini hanyalah karangan fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat dan kejadian, berarti othor adalah cenayang yang hebat yang bisa menerawang. eyaaa ... canda kaleee.
Blurb:
"Eh ... asal loe tahu saja, mau ngambek mau nggak, gue tetep tampan kok!" kilah Rey.
"Kan kalau loe ngambek, loe nggak tampan Rey! Jadi jangan ngambek ya, biar tampan!" rayu Jihan lagi seraya mengerjapkan kedua matanya.
"Idih!! Loe bilang gue tampan juga nggak ikhlas buat apa?" timpal Rey.
"Ihh ... loe kok ngeselin sih! Kan gue udah nglakuin apa yang loe mau. Masa iya gara-gara gue salah sebut loe marah dan ga bantu gue, jahat loe!" rengek Jihan dengan mimik sedih dan kesal.
Rey yang di angkat adik oleh Julia sang mama dari Jihan, tidak pernah akur sedikitpun dengan gadis itu, bukan tak akur benci hanya tak akur karena belum saling mengerti.
Setting tempat bukan di indo ya, trus agama juga ga othor cantumin, takute nanti bertentangan dengan norma/ajaran yang ada, anggap aja ini cerita fiktif yang ada di dunia novel halu dan ga mungkin ada di dunia nyata.
Pict from Google, editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13- Perseteruan tiada akhir
"Rey!" panggil Jihan ketika mereka berada di rumah.
Rey yang tidak mendengarkan panggilan Jihan pun tetap melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Merasa di abaikan, Jihan pun berjalan cepat mengejar Rey serta langsung menghadangnya saat masih di tengah tangga.
"Gue manggil juga, ngapain loe nggak jawab?" tanya Jihan terdengar kesal.
"Gue nggak dengar!" jawab Rey santai menatap Jihan yang ada di hadapannya.
"Loe kenapa?" tanya Jihan berkacak pinggang.
"Lah! Emang gue kenapa?" tanya Rey balik.
Jihan menatap Rey tajam, ia tahu jika ada sesuatu yang berbeda pada sikap Rey tapi ia tidak tahu apa itu.
"Kalau nggak ada yang mau di omongin, gue ma ke kamar, capek!" tandas Rey.
Rey hendak berjalan melewati langsung di halau lagi oleh gadis di depannya. Jihan melotot pada Rey, hanya merasa aneh jika Rey berubah menjadi diam.
"Loe pacaran sama cewek yang namanya Tisa?" tanya Jihan.
Rey menatap Jihan dengn tatapan tidak senang, menaikkan sudut bibirnya sedikit, dia tersenyum sinis pada Jihan.
"Loe mau gue pacaran sama Tisa?" tanya Rey balik.
Baru ingin membuka mulut untuk menjawab, Jihan terdiam mendengar kata selanjutnya yang keluar dari mulut Rey .
"Oke, gue bakal pacaran sama dia!" tambah Rey.
Rey langsung berjalan meewati Jihan begitu saja yang masih tertegun dengan ucapan Rey. Menatap punggung Rey berlalu, Jihan merasa sesuatu yang buruk menggelayuti hatinya.
*
*
*
*
*
Ketika makan malam tiba, ruang makan terlihat begitu hening dan tenang tanpa pertengkaran Rey dan Jihan, hal itu malah membuat Julia maupun Andrew merasa aneh karena terlalu sepi.
"Kalian sedang berantem?" tanya Julia melempar pandangan pada Jihan kemudian Rey yang tengah menikmati makan malam.
"Tidak!" jawab mereka bersamaan.
Julia hanya bisa menghela napas, tidak mengerti apa yang terjadi dengan kedua pemuda yang baru saja beranjak dewasa itu.
Rey duduk di tempat tidur dengan buku di tangannya, ia tengah mempelajari pelajaran yang tertinggal. Julia masuk dan langsung duduk ditepian ranjang.
"Kamu lagi marah sama Jihan, Rey?" tanya Jihan.
Rey menutup bukunya kemudian tersenyum memandang wajah Julia yang terlihat begitu banyak pertanyaan dan rasa penasaran.
"Nggak, Kak! Kenapa harus marah?" tanya Rey balik dengan ekspresi imut.
Meski bilang tidak tapi Julia tahu betul bagaimana Rey, namun ia juga tidak ingin memaksa pemuda itu bicara.
"Sebenarnya besok Kakak ingin pergi mengantar Bibi May ke kota Z sekalian menengok adiknya Jihan, tapi melihat kalihan yang tidak akur, sepertinya kami harus memundurkan rencananya," ungkap Julia.
"Kalau mau pergi nggak apa-apa, Kak! kami beneran nggak apa-apa," timpal Rey.
"Yakin?" Julia memastikan.
Rey hanya menganggukan kepala tanda yakin. Walau agak ragu, tapi Julia yakin kalau Rey akan bertanggung jawab ketika mereka pergi.
Pergi menemui Jihan, Julia juga mendapatkan jawaban yang sama, bahwa antara mereka sedang tidak berkelahi. Akhirnya Julia bisa tetap pergi, lagi pula hanya dua hari.
*
*
*
*
*
*
Hari berikutnya Julia, Andrew, juga bibi may pergi. Karena tidak di perbolehkan naik motor, Rey akhirnya kekampus menggunakan mobil Julia. Bahkan hingga semua pergi, sikap Jihan dan Rey masih terlihat sama-sama dingin sedingin gunung es.
Dikampus, Jihan beserta Chika dan Shelly berjalan dari parkiran mobil berbincang seperti biasa membahas pembahasan unfaedah. Hingga langkah mereka terhenti ketika melihat Rey dan Tisa berjalan bersama.
"Apa ini akhir kehaluan kita? Kenapa kak Rey akhir akhir ini sering banget jalan sama tuh cewek?" tanya Chika dengan mimik wajah sedih.
"Hu um, aku patah hati!" imbuh Shelly.
Jihan tidak berkomentar, ia hanya menatap sinis pada Rey. Tetap melanjutkan berjalan hingga berpapasan dengan Rey, Jihan tidak menyangka dengan apa yang di bisikan Rey.
"Sesuai keinginan loe, gue jadian sama Tisa," bisik Rey tepat di telinga Jihan ketika mereka berpapasan.
Rey tersenyum puas, ia kemudian menggandeng tangan Tisa serta meninggalkan Jihan yang terlihat tertegun. Chika dan Shelly yang melihat ekspresi Jihan hanya bisa saling lempar pandangan.
*
*
*
*
Rey tengah menikmati semangkuk mie pedas ketika Jihan baru pulang. Jihan yang melenggang masuk ke dalam terhenti ketika mendengar suara Rey.
"Baru pulang loe? Jam berapa ini?" tanya Rey dengan nada sedikit ketus menengok pada jam tangannya.
"Suka-suka gue!" jawab Jihan tak kalah ketus yang hanya melirik pada pemuda yang duduk di kursi meja makan.
"Inget! Kak Julia minta gue jaga Loe! seharusnya loe nurut sama Gue," ujar Rey, dia mengambil selembar tisue dan mengelap sisa percikan kuah di mulutnya.
Rey yang baru selesai makan berjalan mendekat dimana Jihan berdiri, menatap lebih dekat gadis keras kepala itu.
"Eh itu yang omong nyokap gue, kalau gue ogah mau apa loe?" tanya Jihan ketus.
Saling tatap memberikan senyum sinis, sepertinya perkelahian mereka tidak akan pernah ada ujungnya.
"Serah loe! Tapi kalau ada apa-apa jangan pernah minta tolong sama gue!" tandas Rey.
Maju satu langkah, Jihan sedikit mendongakan kepala karena tentu saja Rey lebih tinggi darinya. Tampak jarak hanya beberapa inci diantara mereka, terlihat senyum sinis di wajah Jihan.
"Ingat baik-baik! Gue nggak bakal minta tolong sama orang sombong kek loe!" tegas Jihan menggerakkan kedua bola matanya kekanan dan kiri menatap mata Rey seraya menjentikkan jarinya di depan wajah Rey.
Sejurus, Jihan langsung meninggalkan Rey yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Perasaan kesal dan marah menggelayuti hati Jihan, entah karena apa dia tidak tahu, intinya dia kesal.
Mengepalkan tangan di samping tubuhnya, Rey menatap punggung Jihan yang lama kelamaan menghilang.
*
*
*
*
*
*
*
Jihan duduk bersila di tempat tidur, tampak bantal ada di pangkuannya. Sesekali dia meremas bantal itu kadang menggigit ujung bantal, ia benar-benar kesal dengan sikap Rey dua hari ini.
"Dia itu kenapa? Dasar rusa hutan narsis kini jadi sombong dan otoriter. Memangnya siapa dia? Semakin hari semakin membuat kesal! Ingin rasanya gue meremas memerah seperti ampas kelapa yang di ambil sarinya. Gue benar-benar kesal!" gerutu Jihan meremas udara dengan kedua tangannya di depan wajah.
Ceklek ....
Tiba tiba menjadi gelap, Jihan membulatkan mata agar bisa melihat tapi nihil, tetap saja ia tidak bisa melihat dalam kegelapan. Jihan yang pada dasarnya takut pada kegelapan mencoba tetap tenang meski dadanya terasa sesak karena tidak bisa bernapas dalam kegelapan. Dia meraba raba nakas untuk meraih ponselnya tapi bukannya teraih, ponselnya malah jatuh ke lantai. Takut, Jihan berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama Rey.
"Rey!!"
Jihan menangkup kepala dengan kedua tangannya, ia meringkuk di atas tidur menyembunyikan wajahnya di antara lututnya.
*
*
*
*
*
*
Bantu Like dong😓😓😓 serius othor pengen di like ma koment. pengen ngrasain dapat like berjibun kek apa. serius kalau like komennya berjibun, othor bakal rajin creejiiii up meski dobel, oceh😎😎
...Baca Novel Author yang lain juga ya .......
...Thank u...