NovelToon NovelToon
Milik Sang Iblis Sisilia

Milik Sang Iblis Sisilia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Kakamy

Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.

Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.

Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.

Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?

Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.

"Dia milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Namaku Andrea Gutierrez, usiaku 18 tahun. Aku yatim piatu, setidaknya sejauh yang kutahu. Orangtuaku meninggal dalam kecelakaan mobil saat aku berumur lima tahun. Itu kata Paman Francesco. Katanya aku ada di dalam mobil bersama mereka, tapi benturan keras di kepala membuatku tidak bisa mengingat kejadian itu.

Paman Francesco menikah dengan Bibi Pilar, dan Bibi tidak begitu menyukaiku. Setiap ada kesempatan, dia melemparkan ke mukaku bahwa aku ini beban dan hanya menumpang di rumah itu. Aku menyayangi pamanku, tapi sebenarnya dia bisa saja sesekali membelaku. Dia tidak pernah bersuara, hanya mengamati, dan sesekali menyuruh Bibi berhenti mencari-cari kesalahan.

"Aku tidak mengerti kenapa kau harus membiayai anak benalu ini," kata Pilar.

"Karena dia putri kakakku. Dia keluarga," jawab Francesco.

"Keluargamu, bukan keluargaku."

"Keluarga kita, Pilar. Sudah, cukup bahas ini."

Pilar menahan amarah, tapi tidak membantah suaminya.

Mereka punya dua anak, Richard yang berumur 25 tahun dan Ester yang berumur 22.

Kami tinggal di rumah yang nyaman di Catania, dekat Sisilia, Italia. Semua pekerjaan rumah aku yang mengerjakan sejak umurku 12 tahun. Kata Bibi, wajar saja aku mengurus rumah karena mereka yang menanggung hidupku. Kamarku di loteng, agak sempit, tapi aku tidak mengeluh. Syukurlah aku punya paman yang mau menampungku, memberiku makan, dan membayar sekolahku. Aku bersekolah di sekolah swasta bersama sepupu-sepupuku sampai SMA. Untuk kuliah, Paman bilang dia tidak sanggup, karena dia sudah membiayai kuliah kedua anaknya. Aku tidak sakit hati. Aku yakin kalau mampu, dia pasti akan membayar kuliahku juga. Tapi sebentar lagi aku genap 19 tahun. Aku akan mencari kerja di kafe tempat sahabatku, Sara, bekerja, lalu menabung untuk kuliah jurusan administrasi bisnis.

Sepupuku Richard ada di tahun terakhir kuliah hukum. Kerjanya keluar masuk klub dan gonta-ganti perempuan, benar-benar hidung belang. Sepupuku Ester juga kuliah hukum. Dia anak manja yang hidupnya hanya di mal dan klub, dan pacarnya Ricardo Solano, seorang hartawan di Catania.

Sekarang pukul 21.00. Aku di kamar, bersiap mandi, ketika ponselku berdering. Ternyata dari sahabatku.

"Hai, Say, apa kabar?"

"Hai, cantik! Aku baik. Kamu sendiri?"

"Baik, syukurlah."

"Say, aku sudah tahu di mana kita merayakan ulang tahunmu!"

"Aduh, Say, kamu tahu aku tidak suka merayakan ulang tahun."

Kilas balik

Sepupuku Ester berulang tahun di hari yang sama denganku, 19 Oktober. Waktu aku genap tujuh tahun, dia genap 11. Paman punya ide "brilian" untuk merayakan ulang tahun kami bersama. Bibi Pilar dan Ester sendiri tidak suka ide itu, dan mereka bersumpah ini akan jadi pengalaman paling traumatis dalam hidupku. Padahal aku tidak ingat kecelakaan orangtuaku, jadi tidak ada yang bisa jadi trauma.

Kami pergi ke mal untuk membeli baju dan sepatu baru, tapi hanya Ester yang dibelikan. Aku yang membawa belanjaannya. Aku bertanya pada Bibi, apakah sekarang giliranku memilih. Dia menatapku dengan mata merah menyala dan berkata,

"Kamu pikir aku mau menghabiskan uangku untukmu?"

"Tapi Paman bilang..."

Kalimatku belum selesai ketika dia menamparku.

"Yang memerintah pamanmu itu aku. Kami sudah memberimu atap dan makan, kamu tidak berhak minta apa-apa lagi, dasar yatim piatu kotor."

Aku mulai menangis, dan makin menjadi saat melihat wajah puas sepupuku. Sesampainya di rumah, Bibi bilang pada Paman bahwa aku tidak mau baju baru karena sudah bersyukur boleh punya pesta. Bukannya aku tidak bersyukur, tapi ceritanya tidak begitu. Saat pesta tiba, yang datang hanya tamu-tamu Ester. Bibi bilang dia sudah mengundang teman-teman sekolahku, tapi tidak ada yang datang karena mereka tidak menyukaiku. Belakangan aku bertanya pada Sara dan baru tahu dia tidak menerima undangan apa pun. Aku bingung, lalu menanyai teman-teman sekelasku, dan tidak ada satu pun yang diundang. Bibi sama sekali tidak mengundang temanku.

Saat tiba waktunya menyanyi, Bibi mengatur supaya lagu selamat ulang tahun hanya dinyanyikan untuk Ester. Setelah pesta yang berantakan itu, aku tidak pernah lagi merayakan ulang tahun. Setiap kali Paman membahasnya, aku selalu mencari alasan.

Kilas balik selesai

"Aduh, Say, jangan konyol. Itu kejadian bertahun-tahun lalu. Dulu kamu masih anak-anak, sekarang kamu sudah dewasa."

"Aku tahu, tapi aku lebih suka tidak merayakannya."

"Aku tidak terima jawaban tidak. Kita pergi, titik."

Aku memutar bola mata dan menghela napas.

"Percuma memutar bola mata. Aku tidak memihakmu, tapi aku kenal kamu luar biasa baik. Wkwk."

"Wkwk, memang kamu kenal. Terus, mau merayakannya di mana?"

"Di klub yang baru dibuka tepat di hari ulang tahunmu."

"Aku pikir-pikir dulu."

"Pikirkan baik-baik ya." Dia mengucapkannya dengan nada mengejek. "Dah, sampai besok."

"Dah."

Aku menutup telepon dan pergi mandi. Pikiranku terus tertuju pada kebetulan itu: sebuah klub dibuka tepat di hari ulang tahunku.

Selesai mandi, aku memakai gaun tidur satin putih lalu ke dapur membuat camilan. Aku sedang membelakangi meja dapur ketika merasakan sesuatu yang keras menekan bokongku.

"Hmm, Sepupu Kecil lapar? Aku juga kelaparan, dan yang kuinginkan itu kamu."

Bau wiski dan cerutu dari napasnya membuat perutku mual. Aku mencoba pergi, tapi tidak bisa. Dia membalikkan tubuhku dengan kasar sampai kami berhadapan, dan saat dia mencoba menciumku, aku menjauh dan mencoba kabur. Tapi dia jauh lebih kuat dariku.

"Dari dulu aku tergila-gila padamu, Sepupu."

"Lepaskan aku, Richard! Kamu menyakitiku!"

"Jangan sok jual mahal. Aku tahu kamu juga mau."

"Kamu gila! Lepaskan, kumohon!"

"Ada apa ini?" Suara Pilar terdengar.

Bibi muncul, dan aku bersyukur pada Tuhan.

"Richard, Nak, bagaimana kamu bisa mengotori diri dengan anak yatim ini?"

"Dia yang menggodaku, Ma. Aku laki-laki, Mama mengharapkan apa?"

"Kamu gila, pembohong! Kamu yang menyerangku, dasar mesum!"

Saat itu Bibi mendekat dan menamparku.

"Jangan pernah lagi berani bicara begitu tentang anakku."

Aku menatap mereka berdua dengan mata berkaca-kaca, tapi aku tidak akan memberi mereka kepuasan melihatku menangis. Aku naik ke kamar, menjatuhkan diri ke kasur, dan baru di sana tangisku pecah.

"Mereka melakukan ini padaku karena aku sendirian. Tidak ada yang melindungiku."

Aku menangis sampai tertidur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!