Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan melewati batas
...#••...
Begitu keluar dari mobil, Bari tidak langsung masuk ke rumah. Ia justru duduk di bangku depan teras, membiarkan pintu rumah tetap tertutup di belakangnya.
Sejujurnya, percakapannya dengan perempuannya di restoran tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya. Entah bagaimana, ia tiba-tiba teringat percakapan dengan putranya 2 tahun lalu.
Saat itu, putranya pernah mengatakan bahwa orang yang dicintainya adalah seorang…
Bari menghembuskan napas pelan.
Yang membuatnya terusik bukan sekadar ceritanya, melainkan kemiripan di antara keduanya. Seolah-olah ia baru saja mendengar kembali sebuah cerita yang pernah diceritakan putranya, hanya dengan orang dan keadaan yang berbeda.
Padahal, keduanya bahkan tidak saling mengenal.
Apa mungkin 2 orang yang tidak saling mengenal bisa mengalami hal yang sama?
...•••...
“Sadar tidak apa yang tadi kau lakukan?” tanya Bari dengan nada tegas pada putranya yang duduk di hadapannya.
Sungguh. Ia malu luar biasa.
Di hari pernikahannya, di hari bahagianya bersama perempuan yang dicintainya, berubah menjadi bahan gunjingan orang-orang di belakangnya.
Banyak rekan kerja Bari yang hadir di sana. Sebagai salah satu petinggi perusahaan, ia tahu betul bagaimana cepatnya sebuah kejadian kecil berubah menjadi bahan gunjingan.
Putranya tadi bahkan memeluk istrinya begitu erat sambil menangis meraung-raung hingga beberapa orang harus berusaha melepaskannya.
“SADAR TIDAK?!”
Dada Bari naik turun menahan amarah yang sudah meluap. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya mulai menonjol.
Ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri putranya yang masih menunduk, termenung tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Jayden!”
Kini Bari sudah berada tepat di hadapan putranya. “Lihat aku. Jelaskan semua yang terjadi.”
Perlahan Jay mendongak, menatap ayahnya masih dengan sisa-sisa wajahnya yang memerah karena tangisannya tadi.
“Maaf, Pa,” ujarnya dengan suara serak.
“Aku tidak butuh maafmu! Jelaskan tindakan yang kau lakukan!”
Jay kembali menunduk. Ia mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya berkata, “dia… teman aku di masa lalu.”
Ia kembali menatap ayahnya.
“Aku cuma…” Jay terdiam sejenak. “Aku cuma rindu. Kami sempat lost contact dan… ya, aku benar-benar kaget waktu tahu dia… nikah sama Papa.”
“Teman?” Bari mengernyit. “Dengan orang yang usianya jauh darimu?”
“Kenapa sekarang Papa mempermasalahkannya?” Jay balik bertanya. “Bukankah kita bisa berteman dengan siapa saja tanpa memandang umur?”
Selama beberapa saat, Bari hanya menatap putranya sebelum akhirnya berbalik menuju tempat duduknya semula.
“Hanya teman,” dengus Bari. “Tapi pelukan dan tangisanmu begitu meluap-luap.” Kedua sikunya kini bertumpu di atas lutut, tatapannya masih lekat pada putranya.
“Jayden. Apa pun yang sudah terjadi di masa lalu antara kau dan dia, biarlah itu tetap menjadi masa lalu kalian.” Bari berhenti sejenak. “Sekarang, dia adalah istriku. Istri dari ayahmu sendiri. Hormati dia sebagaimana kau menghormati ibumu. Apa aku mengerti?”
Jay hanya mengangguk.
“Jangan melewati batas. Jangan membuat dia tidak nyaman berada di rumah ini.”
“Iya, Pa.” Jawab Jay akhirnya.
“Kau boleh keluar. Renungkan kesalahan yang kau perbuat.” Bari menatapnya tajam. “Dan mulai sekarang, cara pandangmu terhadapnya bukan lagi seorang teman. Dia adalah istriku.”
Lagi-lagi Jay kembali mengangguk sebelum berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu ruang kerja ayahnya.
Begitu putranya pergi, Bari mengembuskan napas panjang. Ia memang harus memberi penegasan kepada Jayden.
Bagaimanapun juga, ia perlu mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dalam rumah tangga barunya.
Putranya bukan lagi anak kecil. Jayden sudah beranjak dewasa. Bisa saja kedekatan mereka di masa lalu pernah menumbuhkan benih-benih perasaan di hati putranya.
Bari tidak merasa dirinya sedang berpikir terlalu jauh. Ia hanya sedang realistis terhadap kemungkinan yang baru saja ia sadari.
Sebagai seorang pria dewasa, ia tahu bagaimana perasaan dan kedekatan antara laki-laki dan perempuan bisa berkembang tanpa disadari. Maka menurutnya, menetapkan batas sejak awal adalah keputusan yang paling bijak.
Bari kembali menghembuskan napas panjang.
Sepertinya rumah tangganya kali ini lagi-lagi tidak berjalan sesuai ekspektasi.
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG