"Tante mau jadi istri, Papa aku?"
Permintaan dari seorang anak kecil berusia 5 tahun, datang tiba - tiba menghampiri Bella yang sedang duduk nongkrong sama teman - teman yang ada di Mall terbesar di kota medan
Bella tidak mengenal siapa anak kecil berkelamin perempuan terus berceloteh meminta dirinya menjadi istri untuk Papanya.
Bagaimana nasib Bella kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lsaywong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Bella menidurkan Kirana tidur habis menyuapi dirinya makan. Bella keluar dari kamar Kirana, ia akhirnya bisa kembali pulang. Apalagi ia begitu bersalah banget pada Boby.
Bagaimana jika saudara Boby memberikan nilai buruk pada dirinya. Pasti mamanya marah banget. Fendy mengaitkan sweater di tubuh Bella.
"Terima kasih." gumam Bella.
"Maaf, ya. Kalau membuatmu jadi kebingungan karena Kirana." Fendy jadi serba salah.
"Tidak apa-apa. Sewajarnya anak-anak begitu. Tidak perlu minta maaf," kata Bella mereka duduk di salah satu taman
Fendy memperhatikan tubuh Bella dari atas hingga bawah.
"Kamu beda hari ini lebih dewasa," puji Fendy menatap Bella.
"Benarkah, padahal aku paling benci dengan pakaian ribet ini. Jalan saja sudah kayak robot. Ini pilihan dari mamaku, tahulah seorang wanita terhadap putrinya."
"Mungkin mama kamu ingin menunjukkan bahwa kamu memang wanita sempurna."
"Mungkin,"
Fendy merasa salah mengucapkan sesuatu kepadanya. Dari larut wajah menyamping Bella seperti tidak menyukai bahasan tentang privasi. Fendy hanya ingin tahu sifat dirinya seperti apa.
"Sudah malam, aku harus pulang."
Bella mulai bangkit dari duduknya tapi gaun yang ia pakai terinjak olehnya sendiri. Membuat ia tidak seimbang. Fendy menangkap tubuhnya, tangan mereka bersentuhan.
Bella mulai kesal dengan gaunnya, pengen ia robek. Sayangnya bakalan di omelin sama mamanya. Bella melepaskan tangan dari genggaman Fendy. Dia merasa sentuhannya sangat ia rindukan. Rasanya sangat berbeda daripada bersentuhan dengan Heni.
"Biar aku antar kamu. Maaf ya, merepotkanmu." ucap Fendy sekali lagi.
"Iya tidak apa-apa." Bella mulai mengangkat gaun miliknya. berjalan tertatih-tatih.
****
Di dalam mobil mereka diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tak lama kemudian sampai juga di rumah Bella.
"Tidak mau masuk?" tawar Bella saat akan turun dari mobil.
"Tidak, lain kali saja. Sudah malam." tolak Fendy.
"Oh iya benar juga."
"Aku boleh meminta sesuatu kali ke kamu."
"Apa itu?"
Sebelum turun Bella menunggu permintaan apa dari Fendy.
"Mau tidak kamu sementara waktu jadi mama Kirana?"
Bella terdiam, jadi mama Kirana.
"Tapi, ada Heni. Kenapa tidak dia saja. Maaf bukan maksud tidak ingin. Kamu tahu Heni itu sahabatku. Walaupun aku baru tahu dia dekat denganmu. Kalau menjadi mama Kirana itu sulit. Heni lebih cocok jadi mama Kirana." tolak Bella merasa makin bersalah, kan.
Sisi lain ia harus memikirkan posisi Heni juga. Kemudian Boby, terus mamanya. Segalanya ia harus memikirkan itu. Memang Kirana sangat dekat banget sama Bella. Tapi, Bella juga bingung antara ingin atau tidak.
Kenal Fendy baru juga beberapa hari tidak mungkin, kan. Langsung Terima tawaran jadi mama sementara. Apa kata orang di luar.
"Kalau begitu, Terima kasih sekali lagi, Ah ya! Ini sweaternya."
"Tapi kita bisa ketemu lagi, kan. Walau teman ngobrol?"
"Iya, bisa. Tapi, jangan lupakan Heni."
Bella keluar dari mobilnya, lalu ia masuk tanpa menunggu Fendy pergi lebih dulu. Karena apa? Bella semakin bersalah pada Papanya Kirana. Bagaimana bisa ia lakukan itu.
Di dalam rumah, Jenni menunggu putrinya untuk menjelaskan maksud masalah di pesta.
"Kamu kemana saja? Dengan siapa pulang?" pertanyaan mulai kembali lagi untuk Bella.
"Ma, nanti saja di bahas. Bella capek." Ia tidak ingin berdebat dulu.
"Mama cuma tanya kamu pulang dengan siapa? Mama kenal banget mobil yang di pakai Boby!"
"Sekarang Bella tanya ke mama. Mama maunya apa? Bella hanya minta sama mama kali ini. Jangan bahas itu dulu. Bella capek, mama mengertikan kata CAPEK!" Bella sudah habis kesabaran, ia tidak mau melawan orang tua hanya sepele ini.
"Iya mama tahu kamu capek. Tapi bisa kasih tau ke mama, kamu pulang dengan siapa?"
"Fendy, Bella pulang dengan Fendy-duda anak satu, Puas! Sekarang mama puas!"
"Jadi bagaimana dengan Boby? Kamu tinggali dia hanya demi lelaki berduda anak satu itu?"
"Kenapa tidak mama saja menikah dengan Boby. Setiap hari, waktu, detik, tidak pagi, siang, sore, malam. Terus saja Boby! Bella sudah sekian kali, sekian waktu hingga bertahun-tahun bilang ke mama. Kalau Bella belum siap untuk menikah!"
Bella langsung masuk ke dalam kamarnya. Tidak peduli membanting pintu tersebut. Tiap malam selalu ribut soal masalah ini. Bella benar lelah, ia butuh refreshing untuk menenangkan diri. Masalah selalu saja datang tidak pernah berikan sedikit untuknya kedamaian.
'Jadi mama Kirana.'
'Mama Kirana, Bella bingung harus bagaimana. Heni, bagaimana dengan dia. Menikung dia kah dari asmaranya.'
Di hempaskan tubuhnya di atas kasur, ia menutup kedua punggung lengannya di pundak kepala. Butiran air mata keluar dari sudut matanya. Kembalilah ia menangis meluapkan semua rasa kesal. terhadap mamanya.
bestttt