Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Emily dan Caroline menoleh ke arah suara. Leon sudah berdiri di belakang Caroline dengan wajah dingin.
Caroline lantas membalikkan badannya dan mundur selangkah, ia tampak ketakutan melihat ekspresi Leon. Apalagi pria itu dikenal sangat kejam dan tanpa ampun.
"Mau apa kau ke sini? Apa kau juga ingin menemani suami dan anakmu?" tanya Leon dengan tatapan tajam.
"Belinda sudah menemui Tuan Leon. Kenapa dia juga ditahan?" Caroline balik bertanya.
"Apa kalian sudah mengembalikan uangku?" Leon kembali tanya.
Caroline meneguk salivanya.
"Jika kalian belum sanggup maka biarkan suami dan putrimu menjalani hukumannya. Setelah waktu yang ditentukan, maka aku akan membebaskan mereka!" janji Leon.
"Kapan kira-kira mereka bebas? tanya Caroline.
"Mungkin lima atau sepuluh tahun lagi," jawab Leon dengan entengnya.
"Hah! Apa? Selama itu?" Caroline begitu syok mendengarnya.
"Ya. Sesuai uang yang suamimu pinjam," kata Leon tersenyum seringai.
"Kami sudah menyerahkan Emily. Kenapa tidak ada keringanan sama sekali?" protes Caroline.
"Hmm... Baiklah kalau begitu, aku hapus bunganya!" kata Leon.
"Itu masih banyak!" Caroline kembali protes.
"Kalau begitu, kau juga boleh masuk menemani mereka!" kata Leon menarik ujung bibirnya.
Caroline menarik napasnya.
"Bagaimana?" tanya Leon melipat kedua tangannya di bawah dada.
"Aku akan kembali membayar utang suamiku, tapi kau juga harus melepaskan Emily!" jawab Caroline.
"Hmm.. baiklah!" Leon pun setuju.
Caroline kemudian berlalu.
Leon mendekati Emily dan mengelus pipi kirinya, "Apa sakit?" tanyanya dengan lembut.
Emily mengangguk pelan.
"Apa mereka dulu sering melakukan ini kepadamu?" tanya Leon lagi.
"Iya, jika aku melakukan kesalahan," jawab Emily dengan mata berkaca-kaca.
Seketika Leon mengeraskan rahangnya mendengar pengakuan istrinya.
"Jangan sakiti papa dan Kak Belinda!" mohon Emily.
Leon hanya tersenyum.
"Apa kau ingin membebaskan aku jika mereka mampu melunasinya?" tanya Emily pelan.
"Mereka tidak akan sanggup mencari uang sebanyak itu," jawab Leon.
"Bagaimana jika Mama Caroline mendapatkannya?" tanya Emily lagi.
"Jika kau menginginkannya, maka aku melepaskanmu," jawab Leon membuat Emily berhenti bertanya.
-
Dua jam kemudian....
Tiga orang wanita mendatangi kediaman Antonio. Mereka menggedor pintu secara kuat dan berulang. Caroline keluar menghampiri tamunya.
Seorang wanita menggunakan kemeja dan celana panjang hitam serta menggunakan masker, mencekik leher Caroline dan mendorongnya beberapa langkah ke belakang hingga 10 detik. Caroline yang mendapatkan serangan mendadak tampak kesulitan bernapas.
Wanita itu melepaskan cengkeramannya lalu menampar keras pipi Caroline sehingga tersungkur ke lantai. Tanpa kata-kata, ketiga wanita misterius itu kemudian berlalu.
Caroline memegang pipinya menahan rasa sakitnya, ia memandangi dari kejauhan mobil hitam yang digunakan tamu tak diundangnya. "Siapa mereka?" gumamnya.
Sementara itu dikediaman Leon, Charles berdiri di sebuah ruangan tahanan tempat Antonio dan Belinda ditawan.
"Pasti kau di sini untuk melepaskan kami!" tebak Belinda dengan raut wajah senang.
Charles tersenyum seringai.
"Lalu kenapa kau ada di sini?" tanya Belinda lagi karena Charles jarang sekali muncul menemui mereka.
"Aku ke sini untuk memberikan kalian tambahan hukuman!" jawab Charles dengan wajah datar dan dingin.
Belinda yang memegang jeruji besi, sontak memundurkan kakinya. Keringatnya bercucuran dari keningnya. Antonio yang duduk juga berdiri.
"Tuan Leon tak suka istrinya disakiti, maka kalian yang harus menerima hukumannya!" kata Charles lagi.
"Kenapa kami yang harus menebusnya? Memangnya siapa dia?" tanya Belinda dengan nada terbata-bata.
"Ibumu. Dia berani menampar istri kesayangannya Tuan Leon," jawab Charles.
Sontak, Belinda dan ayahnya saling pandang.
"Ikat mereka dan cambuk mereka sebanyak sepuluh kali!" perintah Charles kepada 4 orang anak buahnya.
"Tidak. Tolong, jangan tambah kami hukuman lagi!" mohon Belinda dengan menangis.
Keempat pria itu masuk ke ruangan dan menyeret keduanya. Mereka tak peduli teriakan dan tangisan Belinda yang meminta belas kasihan.
Charles lalu meninggalkan tempat, ia membiarkan keempat anak buahnya melakukan tugasnya.
-
Setelah kedatangan Caroline yang tiba-tiba, Leon menemani Emily latihan menembak. Ia yang akan langsung mengajarkan istrinya menembak. Ada sekitar 1 jam mereka berada di lapangan tembak.
Selepas itu mereka lanjut menikmati makan malam di sebuah restoran. Ini pertama kalinya sejak menikah Leon mengajaknya keluar rumah.
"Leon, kenapa hanya ada kita saja?" tanya Emily yang heran karena restoran itu tamunya cuma mereka.
"Aku sengaja menyewa tempat ini satu jam saja. Aku juga tidak mau mereka mendengar obrolan kita!" jawab Leon.
Emily manggut-manggut paham.
"Emily, kau mau tau alasan aku menyuruhmu melakukan latihan dan belajar," kata Leon.
"Kau ingin aku bisa melindungi diriku sendiri," ucap Emily.
"Itu salah satunya!" kata Leon lagi.
Emily mengernyitkan keningnya.
"Seharusnya kau tidak masuk ke dalam permainanku!" kata Leon.
Emily masih diam dan mencerna kata-kata suaminya.
"Aku mempunyai banyak musuh. Makanya, aku sangat jarang sekali mengunjungi kedua orang tuaku agar mereka tak tersentuh oleh musuhku. Aku tak dapat menjagamu setiap waktu maka dari itu kau harus mampu melindungi dirimu!" ungkap Leon.
"Aku sudah tebak kalau kau memang sengaja memaksaku melakukan latihan menembak, berkuda dan lainnya."
"Aku juga ingin kau menggantikan aku jika aku tiada!" kata Leon.
Seketika Emily terhenyak.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Emily.
"Aku tidak memiliki saudara kandung. Kedua orang tuaku sudah tua dan aku hanya punya kau," jawab Leon menatap istrinya yang duduk dihadapannya.
Emily meraih tangan Leon dan menggenggamnya. "Aku tidak mau kau tinggalkan sendiri. Aku juga tak mungkin sanggup menggantikanmu."
Leon menghela.
"Aku tak tau bisnis yang sedang kau jalani. Aku hanya tau kalau kau seorang pengusaha kejam," kata Emily.
"Aku memang seperti itu Emily. Bisnis yang aku jalani terlarang!" Leon mengakuinya.
"Berhentilah. Mulailah hidup seperti orang-orang lainnya!" kata Emily membujuk.
Leon menarik tangannya dan berucap, "Aku tidak bisa. Jika aku berhenti, maka aku juga mati!"
Deg...
"Emily, aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku hanya ingin melindungimu!" kata Leon.
"Kau tidak melindungi aku. Kau menjadikan aku umpan!" tuding Emily.
Leon terdiam.
Emily tak melanjutkan kata-katanya, dia cuma diam dan menikmati makanan yang tersedia meskipun dirinya tak berselera lagi.
Selesai menikmati makan malam, Emily bergegas lebih dulu meninggalkan tempat. Ia melangkah cepat menuju mobil dengan raut wajah datar menahan kekecewaan.
Door...
Seketika tubuh Emily terpaku.
"Emily, cepat masuk!" Leon berlari menghampirinya dan merangkul pinggang Emily membawanya memasuk mobilnya.
Di dalam mobil yang berjalan, Emily begitu syok. Kejadiannya begitu cepat. Ia tak tahu yang sedang terjadi.
Leon memegang kedua pipi istrinya, "Emily, kau baik-baik saja sekarang!"
Emily pun sadar dan bertanya, "Bukankah itu suara tembakan?"
"Ya. Mereka ingin menyerangku," jawab Leon.
Emily menatap suaminya dan mendorong Leon. "Kau sengaja agar aku juga ikut tertembak!"
"Tidak, Emily. Aku tak tau kalau mereka mengikutiku!" ujar Leon.
"Jauhi diriku!" desis Emily.