Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai mengenal
Terminal Menkus, kota Kudus. 2120
Suasana ramai memadati lokasi terminal. Berbagai kendaraan ke luar masuk di sana. Angkutan kota yang telah menyelesaikan hari akan kembali di sini, tempat yang di sediakan pemerintah. Bis-bis besar banyak terpakir, rapi dan menjadi pemandangan mengesankan dengan light Led strobo warna-warni di malam hari. Orang-orang berlalu Lalang sibuk di mana saja. Tak ke tinggalan toko oleh-oleh di dalam terminal tersebut. Sebut saja satu bangunan penuh jajanan dari berbagai toko yang berderet rapi di sana.
Aku tepat tengah berjalan di depan bangunan yang memanjang tersebut. Jajanan manis seperti jenang, kue ke ring, jajanan tradisional bahkan benda keren seperti patung pahatan dari kayu tersedia di sana. Di belakangku juga ada Ila. Dia yang mengajakku untuk mencari jenang saat di bis sebelumnya. Anak itu sekarang antusias melihat-melihat sekitar. Matanya hampir tidak berkedip.
“Kau sering jalan-jalan seperti ini?” Aku iseng bertanya. Tapi memang ke nyataannya aku penasaran.
“Ya” balas Ila singkat. Matanya masih melihat-lihat sekitar
Kami terus berjalan. Ila kubiarkan menikmati suasana. Bangunan pusat oleh-oleh ini memanjang sekitar seratus meter. Kami hampir separuhnya. Cahaya light Strobo bis berpendar indah. Terpakir di samping bangunan. Banyak orang silih bergantian ke luar atau masuk ke dalamnya. Terminal sangat ramai apabilamendekati bulan ramadhan. Apalagi tepat pada hari-hari awal liburan santri, terminal semakin di padati dengan orang-orang berpeci dan sarungan. Aku telah Banyak melihatnya di sini. Berjalan memunggung tas besar dan menenteng sebuah kubus berikat tali. Beberapa dari mereka turut melirik balik ke arahku. Pandangannya seakan tertahan apabilamelihat orang yang serupa santrinya, namun sekejap juga matanya berpindah ke belakang ku. Ila yang mereka lihat. Entah apa yang ada di benak mereka saat melihatku berjalan bersama gadis yang sepantaran di sini.
ILA masih menyenangkan melihat-lihat. Dia seperti anak desa yang diajak pergi ke maal. Terkadang berhenti sejenak, melihat benda menarik. Lalu jalan lagi.
“Kau jadi cari apa?” Aku menyeletuk. Ila lagi-lagi berhenti di depan suatu toko
“Bentar, bang” Ila kali ini melangkah memasuki toko tersebut.
Dahiku hampir terlipat. Di depanku ini adalah toko penjual barang-barang kuno. Ila bukannya sedang mencari jajan manis? Kenapa dia malah memasuki ruko ini?
Aku, Ila telah tepat berdiri di depan etalase dalam toko. Penjaganya belum ke luar. Namun mata kami segera tersibukkan melihat benda-benda yang ada di dalam sana. Aku tahu beberapa benda saja. Keris dan golok. Di sini golok tersebut terlihat kusam dengan besi gelap dan kayu ukiran ke pala seekor hewan pada pegangannya. Selain dua benda itu aku tidak tahu.
“Selamat datang” Pintu dalam toko terbuka. Ke luar seorang pria paruh baya darisana. Pakaiannya gelap dengan imamah hitam –jika memang namanya imamah, di ke pala.
“Mau cari apa nona” penjaga toko menyambut ramah. Nadanya tenang.
“Saya mencari si Patung” Ila membalas.
Alisku menaik. Ila mencari seseorang?
Demikian gestur Wajah si penjual juga berubah. “siapa kau? Darimana mengetahui istilah itu?” Penjaga toko mendelik.
ILA membuka maskernya. Seluruh wajahnya tampak jelas sekarang. Entah apa yang terjadi. Dia membuat pria penjaga toko seperti terkejut.
“kau tidak asing..” Si penjaga toko menyelidik. Matanya menyipit.
ILA tersenyum.
Demi melihat dia tersenyum, penjaga toko menepuk etalase sambil tertawa. “Oh iya.. Hahahah untung masih ingat aku. Keponakanku, kau sudah besar sekarang”
“Eh, eheheheh… iya” Ila menyeringai tersipu
Aku terdiam menyimak. Ini sangat luar dugaan ku jika Ila akan bertemu dengan pamannya. Jangankan itu, bertemu dengan Gadis ini saja tidak pernah terpikirkan. Ini sebuah awal yang mengejutkan.
Keduanya memang seperti kerabat yang telah lama tidak bertemu. Apalagi melihat ekspresi seru dari pamannya, Ila Seperti anak primadona yang telah lama hilang.
“lama sekali kau di Lasem. Berapa tahun ya.. Ah saya lupa kapan terakhir kali kau bertemu dengan kakek tua ini” Ujar si penjual, alias pamannya Ila. Orang itu menarik kursi di sampingnya.
“Tapi paman bukanlah kakek saya” Ila menyeletuk asal.
Sipenjual tertawa. Pecah suasana sekejap, hingga terhenti ketika pria itu melirik ke arahku yang berdiri satu langkah di belakang Ila.
Aku sedikit salah tingkah.
“Itu kenalan saya, paman. Namanya Aro. Kebetulan. kami satu bangku di bis” Ila yang menanggapi.
Si penjaga toko di sebrang etalase mengangguk-ngangguk melihatku.
Aku balas menganggut kaku. Ini jadi canggung. Apa yang di pikirkan pria itu saat melihat diriku.
“ouh, kalian sedang dalam perjalanan, ya” ujar penjaga toko “pantas bawa tas besar segala”
ILA mengangguk
“Kukira kau hendak bertamu” Penjaga toko menilik Ila sekarang
“maaf paman. Kebetulan bisnya transit di sini. Saya juga masih ingat toko paman. Jadi, Tara... Satu ke jutan buat paman” Ila berakting. Dua Tangannya terangkat.
Si penjaga tersenyum “kau memang tidak berubah ya. Hanya bertambah cantik seperti remaja semestinya. Kau sudah 17 tahun kan?”
ILA menggeleng “Belum”
“Tapi itu tidak akan lama lagi” Ucap si penjaga lagi.
Ila mengangguk.
Pria penjaga toko terbahak. “Baiklah kalau begitu. Tapi ada sesuatu yang akan paman berikan ke pada kamu, Ila” Penjaga toko berdiri dari kursi duduknya. Lalu pergi masuk ke dalam pintu –tempat ke luar orang itu sebelumnya.
Aku menatap Ila. Menunggu dia berkata sesuatu.
Orang yang di tatap ikut menoleh “Apa?” Tanyanya.
“Tak apa..”
Beberapa detik senggang. Terdengar Suara pintu terbuka. Si penjaga toko kembali dengan membawa sebuah kotak kecil.
“dari dulu, benda ini niatnya akan kuberikan padamu” pria penjaga toko meletakkan kotak tersebut di atas etalase kaca.
“untuk ku?” Ila justru ke bingungan.
“Iya. Bukalah” Penjaga toko kembali duduk. Tersenyum.
Aku ikut mendekat. Ila menatap kotak tersebut lamat-lamat. Warnanya hitam, dengan permukaan berukir dari kulit sintetis. Sungguh menarik, seperti kotak yang di gunakan wadah cincin. Bedanya kali ini berwarna hitam.
ILA membukanya. Mataku segera menangkap sesuatu yang lebih menakjubkan. Di dalam kotak itu berisi sebuah liontin batu berwarna biru menyala. Bukan karena warnanya yang cerah dan tembus ke dalam. Batu ini benar-benar mengeluarkan sedikit cahaya. Bagian dalam kotak terlihat berpendar biru.
ILA tak kalah antusias melihat batu dalam kotak tersebut. Dia seperti melihat batu sihir.
“Sughoi…” gadis itu bergumam bahasa Jepang.
Aku juga baru pertama kalinya melihat batu seperti ini. Ayahku adalah kolektor batu akik. Aku sering mengamati batu-batu yang ayah simpan di rumah.
“Kau akan membawa ini. Ngomong-ngomong, kau akan pergi ke mana?” Pak penjaga toko bertanya memecah lengang.
ILA menaikkan wajahnya “Jakarta. Aku ingin mencari pengetahuan di sana”
Pak penjaga toko mengangguk tersenyum. “Kau dari dulu memang ingin tau banyak hal”
Ila menyeringai.
“yasudah.. Segera kembali ke-bis, kalian bisa saja terlambat”
Ouh Iyah. Bisnya. Aku segera mengangkat ponsel. Astaga. Daritadi berbincang aku tidak sadar jika notif berkali-kali mendenting di ponsel. Notif terakhir adalah jadwal ke berangkatan bis. Sisa waktunya lima menit. Kami harus segera berangkat.
“Kenapa Aro?” Ila menilik ponselku. “apa! Tinggal empat menit lagi?” Dia yang menjawabnya sendiri. Terkejut.
“Ayo pergi sekarang” aku menyergah.
“Iyah” Ila mengangguk. Kemudian berpaling ke arah pamannya. “maaf paman saya tidak bisa berlama-lama di sini. Tapi saya berjanji akan kembali ke sini”
“Itu harus. Kau tidak boleh memutus tali silahturahmi” penjaga toko.—eh, pamannya Ila deng, tersenyum.
“Iyah paman. Saya tau”
ILA segera meraih tangan kanan pamannya. Lantas mengecup punggung tangan pria paruh baya itu.
“eh apa lagi ini” Ila terkesima. Tangannya menggenggam sebuah amplop.
“Buat jajan sana” Balas paman Ila. Senyumannya masih merekah.
“ah paman.. Jangan repot-repot. Paman sudah memberiku batu yang keren, masa mau ngasih uang lagi” Ila ke beratan.
Paman Ila menggeleng “Ambil saja. Mumpung ada rizqi”
ILA terdiam. Sekarang aku yang ikut salam. Maju dan mulai mencium punggung tangannya. Astaga!
“A..aku tidak usah. Lagian baru ke temu kok. Aku bukan siapa-siapanya Ila” aku jelas lebih ke beratan. Masa aku juga di kasih amplop.
“ey.. Kata siapa ini cuma-cuma. Kau santri, doakan semoga laris lelangan barang-barang di tokoku ini” Paman Ila terbahak.
Aku tertahan. Sebenarnya bapak ini bergurau. Tapi sungkanku lebih dominan. Aku hanya menyeringai.
Kami segera ke luar toko.
ILA berbalik sejenak “Baiklah kami berangkat paman. Assalamualaikum”
“Iyah waalaikum salam. Hati-hati” Ila melambaikan tangan.
Aku dan Ila segera memacu langkah. Tinggal tiga menit lagi, bis akan berangkat. Crew di sana pasti sudah tau jika ada penumpang yang belum naik. Mereka akan menunggu, walau nantinya telat. Konsekuensinya mungkin kami akan di peringati –tepatnya di omelin.
Aku mempercepat jalanku diatas lantai pelataran.
“Ayo Ila. Bawaanmu hanya sebesar tas biasa. Gitu aja ke susahan” aku menyergah, mendahului Ila di tengah puluhan orang yang memadati Pelataran pusat oleh-oleh.
ILA tertatih membenarkan tas di punggung. Berseru mengeluh. Aku tidak menghiraukannya. Aku tetap menyelip ke ramaian.
“Hey, tunggu!” Ila Berteriak.
Aku menoleh. Sedikit sebal, tapi segera hilang karena Ila jatuh beberapa meter di belakang. Tas kecilnya jatuh dan berserakan. Ila mulai turun memungut.
Aku mendekat. Hanya melihat –begitu aku datang dia mengambil barang terakhir. Ila berdiri. Wajahnya bersemu menatapku.
“kenapa?” Tanyaku polos.
“dibilang tunggu. Barangku jatuh” ujarnya sebal.
Ouh.. Hehe maaf. Aku membatin.
“Yaudah. Ayo.. Pelan pelan aja jalannya” balasku.