Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab¹³
Kepalan tangan Erwin menghantam meja kerjanya begitu keras hingga cangkir kopi di atasnya bergetar.
"Apa maksudnya Naura membawa pergi kedua anakku tanpa izinku?!" Suara bentakannya menggema memenuhi ruang kerja utama Gentala Group.
Seorang pria berjas yang berdiri di hadapannya menundukkan kepala. "Itu... terjadi kemarin sore, Pak."
"Kenapa baru sekarang aku diberi tahu?"
"Karena Nona Laura dan Tuan Lionel dijemput langsung oleh Bu Naura dari sekolah. Guru mengizinkan karena Bu Naura tetap tercatat sebagai ibu kandung mereka."
Erwin mengepalkan rahangnya. Sejak pulang dari luar kota, pekerjaannya menumpuk hingga ia belum sempat menemui kedua anaknya. Ia mengira Laura dan Lionel masih berada di mansion. Ternyata, Naura sudah lebih dulu membawa mereka pergi.
Davina tampak gelisah. "Mas, aku sudah bilang dari awal kalau perempuan itu pasti punya niat buruk. Dia sengaja menculik anak-anak."
"Diam! Jangan asal bicara." Tatapan Erwin langsung beralih kepada wanita simpanannya.
"Tapi memang begitu, kan?"
"Mereka bukan diculik, anak-anakku dibawa ibu kandungnya.“ Erwin mengembuskan napas panjang.
Davina pun terdiam.
Meski tidak mengatakannya secara langsung, Erwin tahu tindakan Naura tidak bisa disebut penculikan. Secara hukum, sebelum pengadilan memutuskan hak asuh, Naura tetap memiliki kedudukan yang sama sebagai orang tua. Namun tetap saja, Ia tidak terima.
"Suruh orang mencari alamat Naura!"
"Baik, Pak."
Satu jam kemudian, kepala tim keamanan kembali memasuki ruang kerja dengan wajah kebingungan.
"Pak..."
"Sudah ketemu?"
Pria itu menggeleng pelan.
"Belum."
"Apa maksudmu?!" Erwin mengernyit, wajahnya tampak dingin.
"Kami sudah mendatangi rumah tempat Bu Naura dulu tinggal sebelum menikah, kost lamanya juga sudah kami datangi. Tempat kerja lamanya juga, tapi semuanya mengatakan Bu Naura sudah lama pindah."
"Cari lagi!" Erwin mulai kehilangan kesabaran.
"Sudah kami lakukan, Pak. Kami juga mencoba melacak melalui data administrasi kependudukan."
"Hasilnya?"
"Tidak ada alamat terbaru yang bisa diakses."
"Kok bisa?" Davina ikut membelalak.
Pria itu tampak ragu sebelum menjawab. "Seolah-olah... identitas Bu Naura hilang begitu saja."
Erwin memijat pelipisnya, mustahil. Naura bukan orang yang memiliki banyak relasi. Saat menikah dengannya delapan tahun lalu, wanita itu hanyalah seorang karyawan kantor biasa. Wanita itu sendirian, tanpa keluarga. Bahkan pernikahan mereka berlangsung sederhana karena Naura mengatakan sudah tidak memiliki siapa pun yang bisa diundang.
Selama ini Erwin selalu percaya pada cerita Naura, karena itulah ia tak pernah sekalipun mencari tahu masa lalu istrinya.
"Lanjutkan pencarian! Gunakan koneksi dengan siapapun! Aku ingin tahu dia tinggal di mana."
"Baik, Pak."
Namun... dua hari berlalu, dan tak satu pun hasil didapat. Bahkan detektif swasta yang disewa perusahaan hanya mampu menemukan data lama milik Naura. Seolah-olah setelah keluar dari rumah, wanita itu lenyap dari permukaan bumi.
Malam harinya.
Erwin berdiri di balkon kamar sambil memandang halaman mansion yang lengang. Rumah itu kembali sunyi, tidak ada suara Laura bernyanyi atau Lionel berlari-lari mengejar bola. Bahkan ruang makan terasa kosong. Baru beberapa hari kedua anaknya pergi, rumah sebesar ini sudah kehilangan kehangatannya.
Tanpa sadar, Erwin membuka galeri ponselnya. Di sana masih tersimpan foto lama. Naura sedang duduk di taman sambil memangku Lionel yang masih bayi, sementara Laura kecil tertawa ketika disuapi bubur oleh ibunya.
Erwin menatap foto itu, dulu Ia tidak pernah benar-benar memperhatikan momen-momen sederhana seperti itu. Kini, foto itu justru membuat rumahnya terasa semakin sepi. Pria itu menghela napas panjang, lalu menutup layar ponselnya.
"Aku pasti akan menemukanmu, Naura."
Namun Erwin sama sekali tidak menyadari, wanita yang sedang ia cari mati-matian itu kini tinggal di salah satu mansion paling megah di kota, berada di bawah perlindungan keluarga Ardynata, keluarga konglomerat yang bahkan memiliki kekayaan berkali-kali lipat dibanding Gentala Group.
...*****...
Satu bulan berlalu sejak Naura meninggalkan mansion keluarga Gentala.
Tiga puluh hari mungkin terasa singkat bagi sebagian orang, tetapi bagi Naura setiap harinya adalah perjuangan untuk membangun kembali hidup yang pernah hancur dalam sekejap.
Hari-harinya kini dimulai bahkan sebelum matahari terbit. Pukul lima pagi, alarm di kamar selalu berbunyi. Tak peduli hujan ataupun udara yang masih dingin, Alaska sudah menunggu di halaman mansion keluarga Ardynata dengan pakaian olahraga dan wajah datarnya yang seolah tak pernah mengenal kata belas kasihan.
"Masih lima menit lagi," gerutu Naura suatu pagi sambil menarik selimut hingga menutupi kepala.
Ketukan terdengar dari balik pintu.
"Naura, aku hitung sampai tiga."
Naura mendengus dari balik selimut.
"Kalau tidak keluar, aku masuk."
"Kau berani?"
"Aku dokter, ini adalah peringatan."
Naura langsung bangkit sambil mendengus kesal, dan di balik pintu kamar Alaska hanya tersenyum tipis.
Latihan pagi itu berlangsung di taman kota. Naura baru menyelesaikan putaran ketiganya ketika ia berhenti sambil memegang lutut.
"Aku menyerah."
"Tidak."
"Aku mau pingsan."
"Belum."
"Aku melihat cahaya ilahi..."keluh Naura sambil menyipitkan mata ke arah langit timur. "Apa waktuku sudah tiba?"
Alaska ikut menoleh ke arah yang sama. Matahari pagi baru saja muncul dari balik pepohonan, memancarkan sinar keemasan yang menyilaukan.
Alaska tersenyum geli. “Itu cuma matahari yang baru terbit, Naura. Kalau kau sudah sempat mengagumi cahaya ilahi, berarti tenagamu masih cukup buat lanjut satu putaran lagi.“ Alaska menunjuk lintasan di depan mereka. "Ayo, lanjut! Go... go... go!"
Naura mendongak dengan wajah kesal. "Kau tidak punya rasa iba? Kau memang sengaja bikin umur pasienmu pendek, kan?!"
"Bukannya sekarang, aku membiarkanmu istirahat tiga puluh detik."
Naura menatapnya tidak percaya. "Itu yang kau sebut iba?"
"Untuk ukuranmu, itu sudah sangat banyak."
"Kau menyeramkan." Naura memijat pelipisnya.
"Aku orang yang konsisten."
Naura akhirnya tertawa pelan, pertengkaran kecil seperti ini justru menjadi bagian yang paling ia tunggu setiap pagi.
Kini, perubahan mulai terlihat sedikit demi sedikit. Pipi Naura yang dulu membulat kini mulai tampak lebih tirus, dan lingkar pinggangnya berkurang. Tubuhnya memang belum kembali seperti sebelum melahirkan Laura dan Lionel, tetapi kini gerakannya jauh lebih ringan. Tangga yang dulu membuatnya terengah-engah kini bisa ia naiki tanpa berhenti.
Saat berdiri di depan cermin, Naura memperhatikan bayangannya cukup lama. Ia mengenakan setelan kerja berwarna putih gading dengan blazer abu muda yang pas di tubuhnya. Tubuhnya belum langsing, tapi juga dia bukan lagi wanita gendut yang dulu dihina Erwin.
"Aku mulai kembali." Senyumnya perlahan mengembang.
"Kamu bukan kembali, kamu sedang menjadi versi yang lebih baik." Suara Alaska tiba-tiba terdengar dari belakang.
Naura menggeleng sambil tersenyum geli. "Dokter galak sepertimu, ternyata bisa merangkai kata juga."
Alaska mengangkat bahunya santai.
Beberapa menit kemudian, Naura turun ke ruang makan bersama Laura dan Lionel. Kedua anak itu masih mengenakan seragam sekolah di tempat baru, sementara rambut mereka sudah ditata rapi oleh Naura sejak tadi.
"Mama, hari ini Laura mau bekal roti gulung," ucap Laura sambil menarik ujung lengan ibunya.
Naura mengusap lembut kepala putrinya. "Sudah Mama siapkan. Ada roti gulung, buah potong, sama susu kesukaan Laura."
Lionel langsung mengangkat tangan. "Kalau Lionel?"
Naura tersenyum geli. "Mana mungkin Mama lupa sama jagoan Mama? Bekal Lionel juga sudah ada."
Bocah kecil itu langsung memeluk pinggang Naura. "Mama memang paling hebat!"
"Rayuanmu tidak akan menambah isi kotak bekalmu."
Lionel terkekeh sambil menjulurkan lidah.
Begitu duduk di meja makan, Laura langsung mengambil sebutir telur rebus dari piring Naura. "Mama harus makan semuanya."
"Lho, sekarang Mama yang disuruh?" Naura mengangkat sebelah alis.
"Iya." Laura mengangguk mantap. "Kata Om Alaska, Mama tidak boleh pilih-pilih makanan lagi."
Naura langsung menoleh ke arah Alaska yang sedang menyeruput kopi dengan tenang. "Kamu menghasut anak-anakku?"
"Aku hanya mengajarkan mereka membantu pasien yang keras kepala." Alaska meletakkan cangkirnya pelan.
"Iya!" Laura dan Lionel langsung mengangguk kompak.
Naura menatap kedua anaknya bergantian sebelum akhirnya menghela napas pasrah. "Jadi... sekarang Mama dikeroyok tiga orang?"
"Kami sedang menyelamatkan Mama," jawab Lionel polos.
Ucapan itu membuat Kakek Guntur tertawa lepas, disusul Miranda yang ikut tersenyum hangat. Bahkan Sakti yang baru memasuki ruang makan tak bisa menahan tawanya melihat Naura hanya mampu menggeleng pasrah.
"Baiklah..." gumam Naura sambil mengambil telur rebus itu. "Kalau begini, Mama menyerah."
"Yeay!" seru Laura dan Lionel bersamaan.
Melihat kedua anaknya kembali tertawa lepas di sisinya, hati Naura terasa jauh lebih tenang. Sebulan yang lalu ia masih menangis karena dipisahkan dari mereka. Kini, setiap pagi bisa sarapan bersama kedua buah hatinya menjadi kebahagiaan sederhana yang tak ingin ia lepaskan lagi.
Dan meski hubungannya dengan kedua orang tuanya belum sepenuhnya pulih, setidaknya kini ia mulai mampu menanggapi mereka tanpa rasa dingin seperti sebelumnya.
Sementara Tania diam-diam memperhatikan dari ujung meja, sendok di tangannya berhenti bergerak.
Kenapa... Naura semakin cantik? Bukankah seharusnya wanita itu hancur setelah bercerai? Kenapa justru terlihat semakin bersinar?
Tatapan Tania perlahan berubah gelap, Ia tidak menyukai perubahan Naura.
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂