Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian I)
...Tempat Kata-Kata Tidak Pernah Mati...
..."Jika batu menyimpan jejak langkah dan air menyimpan kenangan, maka angin menyimpan kata-kata yang pernah lahir dari hati."...
^^^—Hikmat Raja Angin^^^
Pagi itu Banua Ginjang terasa lebih riuh daripada biasanya. Namun bukan karena keramaian. Melainkan karena kehidupan sedang sibuk menjalankan tugasnya.
Di pucuk Hariara Bolon, ribuan Sijongjong Daun berlarian dari satu ranting ke ranting lain. Tubuh mereka tidak lebih besar daripada ibu jari manusia. Kulitnya hijau bening seperti daun muda.
Mereka membawa butiran embun menggunakan cangkir-cangkir mungil yang dibuat dari kelopak bunga. Satu demi satu embun itu dituangkan ke tunas-tunas baru.
Setiap tetes yang jatuh, membuat daun muda pada tunas baru pohon Hariara Bolon membuka perlahan sambil memancarkan cahaya zamrud.
Tidak jauh dari sana, sepasang Parhudon, rusa putih bertanduk kristal, berjalan anggun di padang lumut. Dari ujung tanduk mereka bergantung bulir-bulir embun sebesar mutiara.
Embun itu kemudian dijilat oleh kawanan Simangaronsang, ikan-ikan bercahaya yang berenang bukan di sungai... melainkan di udara. Mereka berenang mengikuti arus angin, berkelok-kelok di antara cabang Hariara seperti kawanan bintang yang hidup.
Deak Parujar duduk di salah satu akar pohon agung itu. Ia tersenyum memperhatikan semuanya.
"Banua Ginjang tidak pernah benar-benar diam ya, Jonggi." komentar Deak pada burung kecil yang setia mendampinginya dengan kicau-kicau pelannya. Seolah berkata, "Karena kehidupan tidak pernah libur."
...****************...
Tiba-tiba, hembusan angin hangat menyentuh pipi Deak. Namun angin itu tidak segera berlalu. Ia berputar mengelilinginya. Membentuk pusaran kecil yang dipenuhi dedaunan emas.
Dari dalam pusaran itu muncul sosok yang telah dikenal Deak, yaitu sang Raja Angin.
Hari ini beliau tampak mengenakan jubah yang terus berubah warna seperti langit menjelang senja. Rambutnya sebentar terlihat memanjang lalu memendek mengikuti arah embusan. Bahkan matanya seolah menyimpan langit yang bergerak.
"Selamat pagi, Putri." sapa sang Raja Angin.
Deak membungkuk hormat, "Selamat pagi, Guru."
Raja Angin tertawa kecil dan berujar: "Bagus. Engkau mulai mengerti, bahwa belajar adalah cara terbaik untuk menghormati kehidupan."
"Hari ini..." kata beliau lebih lanjut, "...aku akan mengajakmu ke tempat yang tidak memiliki dinding. Tidak juga memiliki pintu. Tidak pula memiliki rak."
Deak mengernyit dan berkomentar: "Sepertinya itu bukan bangunan perpustakaan ya Guru."
Raja Angin tersenyum dan menjawab: "Itulah sebabnya manusia nanti akan sulit menemukannya."
Lalu beliau meniupkan napas pelan. Seketika... angin di sekitar mereka mulai berputar. Daun-daun Hariara terangkat ke udara.
Namun anehnya burung-burung tidak terkejut. Mereka justru ikut terbang mengelilingi pusaran itu.
Hanya Jonggi yang tetap diam dan justru hinggap di bahu Deak dengan tenang.
"Pegang erat ulosmu." bisik Raja Angin.
Deak menurut.
Dalam sekejap, kaki mereka tidak lagi menyentuh tanah. Mereka terbang. Namun bukan seperti burung, tetapi lebih seperti sehelai daun yang terangkat karena percaya sepenuhnya kepada angin.
Di bawah mereka, Banua Ginjang tampak begitu luas. Deak sempat melihat lembah para penenun. Sungai cahaya dan Nai Aek. Padang batu Ompu Batu.
Ia juga melihat Pardalan Bintang, makhluk-makhluk bersayap panjang yang sedang membersihkan bintang-bintang dengan kain dari sinar bulan.
Di kejauhan, terlihat para Siboru Lintong menenun kabut tipis untuk diselimuti ke lembah-lembah menjelang malam.
Sementara kawanan Parsinuan mengepakkan sayap kaca mereka, menaburkan serbuk mimpi ke bunga-bunga langit yang baru mekar.
Semakin ke atas, semakin banyak yang dapat disaksikan Deak. Ia melihat beberapa Naposo Awan (anak-anak Awan) yang mirip mungilnya dengan Partondion (anak-anak Cahaya) sedang bercengkrama dan bermain, sepertinya menunggu waktu mereka untuk bertugas, yaitu untuk membentuk hujan cahaya.
Deak menatap semuanya dengan mata berbinar.
"Selama ini... aku tidak menyadari betapa Banua Ginjang ternyata sebesar ini."
Raja Angin menjawab lembut, "Karena setiap hari engkau hanya melihat dari tempat engkau berdiri. Dan semesta ini selalu lebih luas daripada yang mampu dilihat mata Putriku."
...****************...
Perjalanan mereka berakhir di sebuah tebing yang menggantung di antara awan. Terlihat aneh karena di sana tidak ada bangunan apa pun. Hanya jutaan helaian angin yang terus berputar membentuk lengkungan-lengkungan transparan.
Tidak ada satu pun buku. Tidak ada meja ataupun rak-rak yang berjejer rapi. Tidak ada tulisan.
"Di mana perpustakaannya?" tanya Deak polos.
Raja Angin mengangkat telapak tangannya dan berkata lirih, "Diamlah nak."
Deak memejamkan mata.
Pada awalnya, ia tidak mendengar apa-apa. Namun perlahan, mulailah terdengar suara. Sangat banyak. Begitu banyak hingga nyaris tak terhitung.
Suara bayi yang tertawa kegelian. Suara ibu yang bernyanyi merdu mendayu. Suara lantunan doa penuh pengharapan. Suara penyesalan dan kesedihan. Suara permohonan maaf yang mendayu. Suara ucapan syukur penuh pujian pada Sang Pencipta. Suara janji.
Semuanya melayang bersama angin. Berbarengan namun tidak saling bercampur. Bertindihan tapi tidak saling menghilangkan. Seolah setiap kata memiliki tempatnya sendiri.
Deak membuka mata dengan takjub, "Ini..."
Raja Angin mengangguk dan mengiyakan: "Inilah Perpustakaan Angin. Semua kata yang pernah diucapkan dengan tulus... akan tinggal di sini. Selamanya."
...****************...
Tiba-tiba, beberapa makhluk mungil keluar dari pusaran angin. Mereka bertubuh bening seperti kaca. Sayapnya seperti terbuat dari helaian angin. Mata mereka berwarna biru pucat nyaris transparan.
Jumlahnya puluhan. Mungkin bahkan ratusan.
Mereka melayang mengelilingi Deak sambil membawa gulungan-gulungan kecil yang sebenarnya bukan kertas, melainkan pusaran udara yang dipadatkan.
"Siapa mereka?" Deak bertanya dalam bisik.
Raja Angin tersenyum, "Mereka adalah Panurirang. Sang Penjaga Kata. Mereka mengumpulkan setiap doa yang lahir dari hati yang jujur. Tidak satu pun akan hilang. Tidak satu pun akan dilupakan."
Salah satu Panurirang hinggap di telapak tangan Deak. Makhluk kecil itu membuka gulungan anginnya. Seketika terdengar suara seorang anak kecil yang berkata, "Semoga semua makhluk memiliki rumah."
Deak tersenyum dan bertanya: "Doa siapa itu?"
Raja Angin memandangnya lama. Lalu menjawab pelan, "Itu doamu. Yang kau ucapkan semalam... di bawah Hariara Bolon."
Deak membelalak takjub dan tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya: "Angin menyimpannya?"
"Bukan hanya menyimpannya. Angin membawanya... ke seluruh semesta." jawab sang Guru bijak.
...****************...
Jauh di balik awan, Burung Erung kembali terbang melintasi langit. Untuk pertama kalinya, ia tidak menuju Hariara Bolon. Melainkan menuju Perpustakaan Angin.
Di paruhnya tergenggam sehelai bulu hitam. Bulu itu bukan miliknya. Melainkan berasal dari dunia yang tidak pernah disentuh oleh cahaya Banua Ginjang.
Dari Banua Toru. Dan bahkan Raja Angin belum mengetahui, bahwa perpustakaan yang menjaga seluruh kata itu, sebentar lagi akan menerima sebuah bisikan yang tidak pernah diucapkan oleh makhluk mana pun sejak awal penciptaan.
Bisikan... dari kesunyian.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 7 – Bagian II: Bisikan yang Tidak Memiliki Suara.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/