Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Balai Takdir
Pintu batu raksasa itu terbuka sepenuhnya dengan suara gemuruh yang dahsyat memenuhi seluruh Kota Kuno Takdir.
Cahaya keemasan keluar dari dalamnya, menerangi jalanan yang selama puluhan ribu tahun diselimuti kegelapan pekat.
Lin Yuan berdiri terpaku memandang pintu itu, jantungnya berpacu semakin cepat.
Seolah ada sesuatu yang sangat agung di balik bangunan tersebut yang sedang memanggil jiwanya.
Penjaga Makam melangkah lebih dahulu ke arah cahaya. "Ayo, perjalananmu yang sesungguhnya baru akan dimulai sekarang."
Lin Yuan mengangguk pelan, lalu tanpa ragu dia mengikuti langkah lelaki tua itu.
Begitu melewati ambang pintu, udara di sekelilingnya langsung berubah drastis menjadi sangat segar dan penuh energi.
Energi Takdir di tempat ini terasa jauh lebih pekat daripada wilayah mana pun yang pernah dikunjungi Lin Yuan.
Setiap tarikan napas terasa seperti menyerap aliran energi murni yang langsung memperkuat seluruh meridian di dalam tubuhnya.
Bahkan Gerbang Pemakan Takdir di dalam lautan kesadarannya ikut bergetar pelan menyambut suasana agung di dalam Balai Takdir.
KLANG...
Cahaya hitam redup memancar dari celah gerbang kuno itu, seolah menyambut kepulangan tuannya yang telah lama pergi.
Lorong panjang dengan lebar puluhan meter terbentang di depan mereka, dihiasi pilar-pilar batu hitam yang menjulang sangat tinggi.
Setiap pilar dipenuhi ukiran rumit yang menggambarkan naga menelan bintang hingga sosok manusia yang menantang langit.
Namun, sebagian besar ukiran indah tersebut tampak telah rusak parah seakan sengaja dihancurkan oleh seseorang di masa lalu.
Lin Yuan memperlambat langkahnya, tangannya menyentuh salah satu pilar batu yang dingin dan kasar.
Saat jarinya menyentuh ukiran itu, kilasan cahaya tiba-tiba memenuhi pikirannya dengan pemandangan seorang pendekar agung di lautan awan.
Pendekar itu mengayunkan pedangnya hingga langit terbelah dua, namun bayangan itu lenyap secepat kemunculannya.
Lin Yuan segera menarik tangannya kembali dengan wajah pucat. "Apa yang baru saja aku lihat?" tanyanya.
Penjaga Makam tidak menoleh. "Itu adalah jejak kehendak para ahli yang pernah menginjakkan kaki di sini."
"Meskipun pemiliknya telah lama tiada, kehendak mereka tetap abadi dan tersimpan di dalam pilar batu kuno ini."
Lin Yuan kembali memandang pilar itu dengan rasa hormat, membayangkan kehebatan para pendekar yang berdiri di puncak dunia.
Mereka terus berjalan menembus keheningan lorong yang semakin terasa megah tanpa suara angin ataupun langkah kaki.
Tak lama kemudian, lorong panjang itu berakhir dan menyingkapkan sebuah aula raksasa yang sangat luas hingga ujungnya tidak terlihat.
Mata Lin Yuan membelalak lebar melihat puluhan singgasana batu yang berjajar rapi di sisi kanan dan kiri aula.
Setiap singgasana memiliki bentuk unik, mulai dari ukiran naga, pedang batu tajam, hingga hiasan bunga teratai hitam yang indah.
Namun, hampir semua singgasana tersebut telah hancur berkeping-keping, menyisakan puing-puing yang menunjukkan kehancuran besar di masa lalu.
Hanya ada satu singgasana yang masih berdiri utuh di ujung aula, berwarna hitam pekat dengan lambang gerbang sembilan bintang.
Lambang itu persis seperti Gerbang Pemakan Takdir milik Lin Yuan, membuat jiwanya bergetar hebat saat melihat singgasana agung tersebut.
Penjaga Makam menghentikan langkahnya dengan tatapan penuh kenangan pahit.
"Dahulu, setiap singgasana ini pernah memiliki pemilik yang agung."
Lin Yuan menatap puing-puing singgasana yang hancur itu. "Apakah mereka semua adalah pewaris gerbang seperti diriku?"
Penjaga Makam mengangguk perlahan. "Mereka adalah para calon pewaris, namun sebagian besar gugur sebelum mencapai akhir perjalanan panjang mereka."
"Sebagian memilih untuk menyerah, dan sebagian lagi..." Nada suaranya berubah menjadi sangat berat.
"...justru memilih untuk mengkhianati Gerbang Takdir."
Ucapan itu membuat Lin Yuan terdiam. Tatapannya kembali tertuju pada satu-satunya singgasana yang masih berdiri utuh.
Siapakah pemilik terakhir dari singgasana tersebut? Mengapa hanya singgasana itu yang mampu bertahan dari kehancuran?
Belum sempat bertanya, Gerbang Pemakan Takdir di dalam jiwanya tiba-tiba bergetar hebat dengan suara dentingan rantai yang nyaring.
KLANG! KLANG!
Suara itu bergema tanpa henti, bersamaan dengan singgasana hitam di ujung aula yang mulai memancarkan cahaya keemasan.
Sebuah suara tua yang penuh wibawa agung tiba-tiba bergema dari seluruh penjuru Balai Takdir, mengguncang kesadaran Lin Yuan.
"Selamat datang kembali... Pewaris Generasi Kesembilan."
Suara itu sangat berat seolah berasal dari dasar zaman yang purba.
Seluruh aula mendadak bergetar hebat, puluhan singgasana yang telah hancur ikut memancarkan cahaya redup seolah memberi penghormatan terakhir.
Lin Yuan menoleh ke segala arah dengan penuh waspada. "Siapa itu? Siapa yang berbicara kepadaku sekarang?" teriaknya.
Tidak ada jawaban langsung, hanya gema suara tua tersebut yang perlahan menghilang ditelan keheningan aula yang luas.
Penjaga Makam justru tampak jauh lebih terkejut daripada Lin Yuan, tatapannya terpaku lurus pada singgasana hitam di ujung aula.
"Ini tidak mungkin terjadi..." bisiknya pelan. Lin Yuan menoleh cepat. "Apakah kau mengenali pemilik suara itu?"
Lelaki tua itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku tidak mengenali identitas aslinya secara pasti. Tapi aku sangat mengenali kekuatan yang terkandung di dalam suaranya, kekuatan itu berasal dari kehendak murni Balai Takdir ini."
"Suara itu adalah aturan agung yang telah ada sejak tempat ini pertama kali diciptakan oleh sang pencipta misterius."
Begitu kalimat itu selesai, singgasana hitam kembali memancarkan cahaya terang, dan di udara muncul sembilan lingkaran cahaya yang misterius.
Delapan lingkaran tampak sangat redup, hanya lingkaran pertama saja yang menyala samar memberikan resonansi kuat terhadap Gerbang Pemakan Takdir.
Suara sistem terdengar memberikan laporan.
[Resonansi terdeteksi! Sinkronisasi Gerbang Pemakan Takdir meningkat dari 27% menjadi 30% akibat pengaruh energi murni dari Balai Takdir!]
Tubuh Lin Yuan langsung terasa jauh lebih ringan, sementara aliran Energi Takdir di dalam meridiannya menjadi semakin stabil dan kuat.
Namun, sebelum dia sempat menikmati perubahan itu, seluruh aula kembali bergetar dan sembilan sosok bayangan muncul di depan singgasana.
Mereka berdiri membentuk satu barisan rapi, delapan sosok tampak buram diselimuti kabut, namun sosok terdepan terlihat jauh lebih jelas.
Sosok itu mengenakan jubah hitam panjang dengan sebilah pedang di pinggangnya, memancarkan wibawa luar biasa yang sangat menekan perasaan.
Lin Yuan merasakan sesuatu yang aneh saat melihat postur tubuh sosok tersebut, postur itu terasa sangat familiar bagi dirinya.
Seolah dia sedang melihat bayangan dirinya sendiri di masa depan.
Sosok berjubah hitam itu perlahan mengangkat tangannya ke depan. Dia menunjuk langsung ke arah Lin Yuan dengan tatapan tajam.
"Buktikan bahwa kau memang layak untuk melangkah lebih jauh lagi."
Suara beratnya bergema di seluruh aula, kemudian delapan sosok buram lainnya langsung menghilang ditelan oleh kegelapan yang pekat.
Hanya sosok berjubah hitam yang masih berdiri tegak, dia perlahan mencabut pedangnya namun tidak mengarahkannya langsung kepada Lin Yuan.
Pedang itu justru ditancapkan ke lantai batu aula dengan suara dentuman keras.
DUG!
Seluruh Balai Takdir langsung dipenuhi cahaya keemasan.
Tak terhitung banyaknya simbol kuno yang bermunculan dari segala arah, sementara suara sistem kembali memberikan peringatan mengenai dimulainya ujian.
[Ujian Balai Takdir dimulai! Lawan yang dihadapi adalah proyeksi kehendak dari Pewaris Generasi Pertama yang sangat kuat di masa lalu!]
Mata Lin Yuan membelalak karena terkejut. "Pewaris Generasi Pertama?" tanyanya dengan tidak percaya.
Penjaga Makam mengepalkan tangannya dengan kuat. "Ini bukan sekadar ujian biasa, Balai Takdir sedang mencoba mengakuimu sekarang."
"Tetapi jika kau gagal dalam ujian ini, maka seluruh hakmu sebagai pewaris sah akan dicabut untuk selamanya dari jiwamu."
Lin Yuan menarik napas dalam-dalam, tatapannya kembali tertuju lurus kepada sosok berjubah hitam yang berdiri tegak di hadapannya.
Rasa gugup memang masih ada, namun tidak ada sedikit pun niat untuk mundur dari tantangan yang sangat besar ini.
Dia perlahan mengangkat pedang besinya tinggi-tinggi, lalu mengambil satu langkah maju ke depan dengan penuh percaya diri.
"Aku akan membuktikan bahwa orang yang dipilih oleh Gerbang Takdir tidak akan pernah menyerah pada tantangan apa pun!" serunya.
Sudut bibir sosok berjubah hitam itu perlahan terangkat membentuk seulas senyum tipis yang sangat misterius di balik bayangan wajahnya.
Lalu, dalam satu langkah sederhana yang sangat cepat, tubuhnya lenyap seketika dari tempat semula tanpa meninggalkan jejak energi sedikit pun.
Pupil mata Lin Yuan mengecil karena terkejut, bahkan Mata Takdir miliknya kali ini gagal menangkap pergerakan musuh yang sangat cepat.
........
Bersambung...