Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*13
Irza terdiam dengan mata yang menatap lekat ke arah Asha yang sedang tertunduk. Gadis itu sepertinya sedang berusaha untuk menguasai perasaannya yang sedang kacau. Rambut panjangnya yang lurus jatuh. Ingin sekali rasanya Irza menyentuh helaian rambut tersebut dengan lembut.
"Sha .... " Irza memanggil dengan nada sangat lembut penuh akan kehati-hatian. "Lalu sekarang, kita harus apa? Katakan saja padaku apa yang kamu inginkan. Selagi aku bisa, aku pasti akan lakukan."
Asha langsung mengangkat wajahnya. Menatap Irza yang ada di depannya dengan tatapan campur aduk. "Aku ... juga tidak tahu sebenarnya. Tapi jika kamu tanya aku, aku ingin bikin orang tuaku bahagia. Hanya itu saja," ucap Asha dengan nada pelan.
"Lalu, bagaimana dengan kebahagiaan kamu, Sha?"
"Mungkin aku akan bahagia saat orang tua ku bahagia, Za. Tapi, ketika orang tuaku sedih dan kecewa, hati ini langsung terasa ikut terluka. Aku tidak akan bahagia walau mendapatkan apa yang sangat aku inginkan. Sebaliknya, hati ini akan dipenuhi dengan rasa bersalah yang sangat besar."
"Kalau begitu, apa kamu ingin tetap melanjutkan perjodohan ini, Sha?"
Diam beberapa saat lamanya dengan mata yang saling tatap. Akhirnya, Asha mengangguk pelan tapi yakin. "Iya."
"Kamu tidak menyesal?"
"Kamu tahu jawabannya."
Kali ini, Irza pula yang memberi jeda. Tidak langsung menjawab apa yang Asha katakan. Namun, jedanya tidak terlalu lama. Karena detik berikutnya, Irza sudah berucap dengan nada pelan khas miliknya.
"Baiklah. Kalau kamu yakin untuk tetap melanjutkan perjodohan ini, maka pertemuan dua keluarga akan tetap berlangsung sesuai tanggal yang telah ditentukan."
"Hm."
Ruangan itu kembali sunyi sekarang. Sungguh, ketika hati tidak saling menyapa, hasilnya akan sangat jauh berbeda. Seperti dua magnet dengan kutub yang berlawanan. Bukannya saling tertarik, tapi malah saling menolak. Karena yang satu ingin menarik, sementara yang satunya lagi malah mendorong. Hasilnya bukan malah mendekat, tapi malah semakin menjauh.
"Sha ... sepertinya, malam ini sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Sebaiknya, aku pulang sekarang," ucap Irza dengan sangat hati-hati seperti biasanya.
Sejujurnya, ucapan itu tidak sepenuhnya benar. Karena di dalam hati Irza, masih ada banyak hal yang ingin ia sampaikan pada Asha. Masih ada kata yang ingin ia ucap. Tapi sayangnya, waktu dan tempat tidak mengizinkan hal itu ia lakukan.
Sha mengalihkan pandangannya ke arah cangkir teh yang ada di depan Irza. Teh itu sama sekali tidak tersentuh sedikitpun.
"Minumlah dulu jika kamu tidak keberatan. Jangan takut aku meletakkan pencahar atau racun di dalamnya. Tenang saja, aku gak sejahat dan sekejam itu kok, Za."
Sontak, perhatian Irza langsung tertuju pada cangkir teh yang ada di depannya. "Ya ampun, bukan itu. Maaf, aku lupa."
"Lupa atau takut?" Asha malah menggoda Irza tanpa sadar. Entah kenapa, bibirnya malah terlalu ingin banyak bicara malam ini. Tepatnya, setelah pembahasan tentang perjodohan mereka selesai dibicarakan.
Irza langsung menggeleng cepat. "Nggak. Sumpah aku gak takut. Beneran, aku lupa, Sha. Lagian, ini teh bikinan Asha, sudah pasti aku ingin mencicipi rasanya."
"Nggak. Kamu salah. Bukan aku yang bikinin teh itu. Aku hanya mencampur teh dengan air, terus menaruh gula. Tidak membuatnya." Lagi, Sha kembali mengajak Irza bercanda.
Manik mata Irza langsung berubah lebih terang. Entahlah. Rasanya, Asha agak sedikit hangat sekarang. Irza merasa kehangatan itu sampai ke hatinya. Padahal, masalah besar baru saja selesai mereka bahas dalam hitungan menit. Tapi sekarang, berawal dari teh yang lupa ia minum karena terlalu gugup, Asha bisa terlihat sedikit hangat padanya. Itu sungguh luar biasa bagi Irza.
Senyum manis Irza langsung terkembang.
"Kamu bisa aja. Itu sama halnya dengan membuatkan teh ini, bukan?"
Senyum itu, senyum yang sebelumnya tidak pernah Asha lihat selama dia tahu pria itu ada. Iya, senyum itu sangat manis. Sangat-sangat manis sampai membuat Sha terpaku. Jujur sana, pesona Irza memang sangat kuat. Walau gemulai, dia tetap pria tampan yang sangat memukau. Lalu senyumnya, iya, biasanya, Irza hanya memperlihatkan wajah serius tanpa senyum sedikitpun. Tidak pernah terlihat sekalipun.
"Kamu ... bisa tersenyum juga?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Asha. Sebenarnya, pertanyaan itu tidak ingin ia ucapkan, tapi bibirnya malah terlalu nakal.
Sontak, satu pertanyaan yang langsung membuat Irza mengalihkan pandangan dari teh ke Asha. "Apa maksudnya?"
Sadar akan apa yang baru saja ia ucap, Asha langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Gak. Gak papa. Ayo! Di minum tehnya."
Irza mengangguk satu kali.
"Iya. Aku coba."
"Hm."
Sementara Irza mencicipi teh yang Asha buat, Asha malah meraih bolu yang ada di depannya. Namun, saat itu, Irza belum fokus pada Asha. Karena fokusnya sedang teralihkan pada teh yang baru saja melintasi tenggorokannya.
"Manisnya pas, semanis orang yang membuatnya," gumam Irza sangat pelan.
Tapi, karena hanya ada mereka berdua saja di sana. Ditambah dengan keheningan malam yang semakin berat. Omongan sekecil apapun bisa terdengar dengan sangat jelas di telinga Asha. Dia yang sedang menikmati cemilan bolu kue kesukaannya itu langsung mengangkat wajah, mengalihkan pandangan, juga memperlambat gerakan mengunyah yang awalnya sedikit terburu-buru.
"Kamu ngomong apa barusan?" Tanya Sha dengan nada penasaran.
Padahal, ia sudah mendengar apa yang Irza katakan dengan sangat jelas. Eh ... masih saja bertanya. Entah apa untungnya, dia sendiri tidak tahu. Bibirnya memang suka reflek berucap tanpa hatinya setujui lebih dulu malam ini.
"It-- itu ... tehnya manis. Rasanya pas."
"Benarkah?"
"Iya, benar. Kamu pintar bikinnya. Rasanya sesuai selera aku."
"Kamu yakin?"
"Iya, yakin," ucap Irza dengan cepat. Jantungnya malah berdetak dua kali lebih cepat. Perasaan gugup langsung menyerang.
"He ... perasaan yang tadi aku dengar tidak seperti itu. Tapi, iya, lupakanlah."
Irza sontak melepas napas lega secara perlahan. Kemudian, saat Sha meraih kue bolu untuk yang kedua kalinya, bibir Irza tidak bisa menahan kata untuk keluar.
"Sha, sepertinya, kamu sangat suka makan kue bolu ya."
"Ha? Ya ... gitu deh."
Irza tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya mengangguk pelan. Kemudian, susana di ruangan tersebut kembali hening. Keduanya sibuk dengan aktifitas, juga pikiran mereka masing-masing. Irza menikmati teh pertama buatan calon istrinya. Sedangkan Asha, sibuk menikmati kue kesukaannya.
Beberapa saat berlalu, saat Irza sadar kalau sebentar lagi, dia harus meninggalkan tempat tersebut. Karena minuman yang tuan rumah sediakan, sudah hampir habis.
"Ee ... Sha. Bolehkah kita berteman?"
Pandangan Asha langsung tertuju pada Irza. Pria itu membalas tatapan tersebut tanpa ragu dengan manik mata yang penuh dengan harapan.
"Berteman?"
"Iya. Berteman. Bolehkah?"
"Aku ... tentu saja boleh jika kamu mau."
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi