NovelToon NovelToon
Obsesi CEO Dan Garis Reinkarnasi

Obsesi CEO Dan Garis Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Sharinn

Tidak semua pertemuan adalah kebetulan. Sebagian adalah janji yang menolak dilupakan waktu. Aruna menjalani hidup biasa hingga sebuah kecelakaan membuatnya mulai mengalami mimpi aneh yang terasa terlalu nyata. Dalam mimpinya, ia selalu menjadi perempuan yang berbeda… di kehidupan yang berbeda… tetapi dengan satu kesamaan: selalu ada seorang pria yang mencarinya. Pria itu adalah Adrian Mahesa, CEO muda, dingin, perfeksionis, dan dikenal publik sebagai sosok yang tak punya ruang untuk cinta. Saat Aruna tanpa sengaja bertemu Adrian di dunia nyata, sesuatu yang tak masuk akal terjadi. Tatapan pertama mereka bukan terasa seperti perkenalan… melainkan pertemuan kembali. Sejak hari itu, Adrian mulai muncul di setiap sudut hidup Aruna. Membantunya, mengawasinya, bahkan seolah mengetahui ketakutan dan kebiasaannya sebelum Aruna sendiri menyadarinya. Namun yang paling mengganggu adalah kalimat yang terus diucapkan Adrian “Kali ini aku tidak akan kehilanganmu lagi.” Aruna mengira itu hanya obsesi seorang CEO yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan. Sampai perlahan ia menemukan rahasia yang mengubah segalanya: Dalam setiap kehidupan sebelumnya… mereka selalu saling mencintai. Dan di setiap akhir cerita… Aruna selalu mati. Kini garis reinkarnasi kembali berputar. Pertanyaannya bukan lagi apakah Adrian mencintainya. Tetapi.. apakah cinta yang bertahan melintasi banyak kehidupan akan menjadi penyelamat… atau justru obsesi yang menghancurkan mereka sekali lagi? ✨ Satu cinta. Banyak kehidupan. Dan dia… selalu menjadi obsesiku. Karya: Sarin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sharinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan Yang Membuatku Takut

Aruna tidak langsung meninggalkan ruang kerja Adrian.

Ia masih berdiri di dekat meja.

Tatapannya tertuju pada catatan kecil yang tadi tidak sengaja ia baca.

Lebih cepat 19 hari dari sebelumnya.

Sebelumnya.

Kata itu lagi.

Semua selalu kembali ke sesuatu yang tidak ia ingat.

Aruna menutup halaman itu.

Mengembalikannya persis seperti semula.

Lalu keluar.

Namun sepanjang perjalanan turun—

kepalanya terasa berat.

Bukan sakit.

Lebih seperti…

ada sesuatu yang sedang mencoba muncul.

Hari itu kantor berjalan seperti biasa.

Terlalu biasa.

Dan itu justru membuat Aruna semakin tidak nyaman.

Beberapa kali ia merasa seseorang sedang memperhatikannya.

Saat menoleh—

tidak ada.

Saat bekerja—

aneh.

Ia tahu persis file mana yang harus dibuka.

Tahu urutan laporan.

Tahu jadwal rapat.

Padahal—

ia belum pernah menangani pekerjaan seperti ini.

Jam menunjukkan pukul empat sore.

Aruna sedang mengetik.

Tiba-tiba sekretaris datang.

“Pak Adrian minta dokumen ini dibawa langsung.”

Aruna menerima map.

Lalu naik ke lantai dua puluh.

Begitu masuk—

Adrian sedang berdiri dekat jendela.

Tidak bekerja.

Hanya diam.

Aneh.

Pria itu menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk sepersekian detik—

Aruna melihat sesuatu.

Kelegaan.

Seperti seseorang baru memastikan sesuatu tidak berubah.

Adrian berjalan mendekat.

Mengambil map.

Jari mereka tidak sengaja bersentuhan.

Sangat singkat.

Tapi—

DUNIA BERUBAH.

Gelap.

Hujan.

Aruna berdiri di lorong panjang.

Napasnya cepat.

Tangannya berdarah.

Seseorang memegang pergelangan tangannya.

Kuat.

Suara laki-laki—

marah.

Takut.

Kenapa kau sentuh itu?!

Aruna menoleh.

Adrian.

Tapi wajahnya berbeda.

Lebih muda.

Matanya merah.

Dan dirinya—

menangis.

Aku cuma ingin ingat.

Pria itu menggenggam tangannya lebih erat.

Aku sudah bilang jangan paksa.

Aruna melihat tangan mereka.

Ada darah.

Banyak.

Lalu—

pria itu menyentuh pipinya.

Dan berkata—

dengan suara yang hampir pecah—

Kalau kau ingat semuanya…

aku akan kehilanganmu lagi.

DUNIA KEMBALI.

Aruna langsung menarik tangannya.

Mundur cepat.

Napas kacau.

Adrian membeku.

Tatapannya berubah.

“Aruna?”

Aruna memegang kepala.

Sakit.

Terlalu nyata.

Adrian langsung bergerak.

Refleks.

Mengangkat tangan—

mau menyentuh bahunya.

Dan tepat saat itu—

Aruna mundur lagi.

“Jangan sentuh saya.”

Sunyi.

Tangan Adrian berhenti di udara.

Ruangan langsung diam.

Aruna menatapnya.

Dadanya naik turun.

Lalu berkata pelan—

“…kenapa setiap Anda sentuh saya…”

ia berhenti.

“…rasanya seperti saya kehilangan sesuatu?”

Adrian diam.

Tidak menjawab.

Tapi tangannya turun perlahan.

Ia mundur satu langkah.

Memberi jarak.

Dan itu—

entah kenapa—

lebih menyakitkan.

Pria itu menunduk sebentar.

Lalu berkata—

“Aku lupa.”

Aruna mengernyit.

Adrian mengangkat mata.

Suaranya tenang.

Tapi sangat pelan.

“Kalau sentuhan mulai memicu ingatan.”

Sunyi.

Aruna diam.

Adrian melanjutkan—

“Harusnya aku lebih hati-hati.”

Jantung Aruna berdetak.

Bukan karena kata-katanya.

Tapi karena—

dia tidak terlihat senang.

Dia terlihat takut.

Takut Aruna mengingat.

Kenapa?

Sore.

Hujan turun.

Aruna memutuskan pulang lebih cepat.

Namun saat keluar gedung—

ponselnya berbunyi.

Nomor tidak dikenal.

Jangan pulang dulu.

Aruna langsung kesal.

Ia membalas.

Berhenti kirim pesan.

Balasan masuk.

Dia menyentuhmu?

Aruna membeku.

Pesan kedua.

Mulai sekarang hati-hati.

Pesan ketiga.

Ingatan pertama selalu datang dari sentuhan.

Tangan Aruna dingin.

Ia mengetik cepat.

Kamu siapa?

Balasan datang.

Orang yang pernah melakukan kesalahan yang sama.

Aruna langsung menelpon.

Nomor tidak aktif.

Tidak bisa dihubungi.

Hujan makin deras.

Aruna berdiri di bawah atap.

Lalu seseorang berdiri di sampingnya.

Adrian.

Diam.

Tidak terlalu dekat.

Ia menyerahkan payung.

Aruna menatap.

“Kenapa ke sini?”

Adrian menjawab singkat.

“Kau belum pulang.”

Sunyi.

Aruna menatap payung.

Lalu bertanya—

“Sentuhan itu apa?”

Adrian diam.

Beberapa detik.

Lalu berkata—

“Kadang tubuh mengingat lebih cepat daripada pikiran.”

Aruna menatapnya.

Pria itu melanjutkan—

“Karena ada hal yang terlalu dalam untuk dilupakan.”

Jeda.

Lalu ia menambahkan pelan—

“Dan ada hal yang terlalu menyakitkan untuk diingat.”

Hujan terdengar lebih keras.

Aruna memandangnya.

Lalu bertanya—

“…apa saya pernah takut sama Anda?”

Adrian diam.

Sangat lama.

Lalu menjawab—

“Pernah.”

Aruna membeku.

Pria itu menatap hujan.

Dan berkata—

“Bukan karena aku menyakitimu.”

Jeda.

“…tapi karena kau takut tidak bisa berhenti memilihku.”

Sunyi.

Aruna tidak bisa menjawab.

Karena entah kenapa—

kalimat itu terasa terlalu sedih untuk jadi kebohongan.

Dan malam itu—

untuk pertama kalinya—

Aruna mulai takut.

Bukan pada Adrian.

Tapi pada kemungkinan—

kalau sebagian dari semua ini…

benar.

Bersambung...

1
Allfa Rizky
apakah ada tragedi yang terus berulang ?
Sarin: Sesuai judul kak reinkarnasi tetapi ttep aku modif biar ga bosen bacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!