Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Merusuhi Adinata
Pintu ruangan Adinata diketuk dari luar. Tanpa menoleh Adinata mempersilahkan untuk masuk.
“Tuan,” panggil Gerry.
“Katakan, Ger.” Adinata tidak menatap Gerry, ia tetap menatap ke deretan angka yang sedang ia periksa ulang.
“Di ruang tunggu ada Pak Sapta dan meminta untuk bertemu dengan Anda.”
Adinata menatap Gerry. “Datang sendirian?”
“Awalnya datang berdua bersama dengan anak sulungnya, Tuan. Tapi tak berapa lama, anaknya pergi meninggalkan beliau sendiri.”
Adinata menganggukkan kepalanya. “Saya sedang tidak ingin bertemu dengannya. Jelaskan alasan apapun ke dia.”
Gerry menganggukkan kepalanya.
“Kalau tetap tidak bisa, kamu hubungi saya.”
“Baik, Tuan. Saya permisi.”
“Silahkan.”
Adinata menyandarkan bahunya ke sandaran kursi dan menutup matanya. Ia duduk tegak kembali sambil mengeluarkan dengusan kasar dari bibirnya.
Ponsel Adinata menampilkan notifikasi dari Gerry.
Maaf, Tuan. Pak Sapta tetap maksa untuk bertemu dengan Anda.
Adinata membalas pesan Gerry dengan ‘bawa ke ruanganku, Ger’.
“Apalagi yang akan dia bicarakan denganku.” Adinata menatap foto Nadine yang masih tersimpan rapi di galeri ponsel miliknya. “Aku tidak yakin kalau dia benar-benar papamu, Nad.”
Orang tua mana yang tega membedakan kedua anaknya. Orang tua mana juga yang dengan jelas memperlakukan anak perempuan seperti anak lelaki dan anak lelaki seperti anak perempuan.
Terdengar ketukan pintu dari luar.
“Masuk.”
Gerry melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Adinata dan Pak Sapta mengikutinya.
“Silahkan duduk, Pa.” Adinata mempersilahkan sang papa mertua untuk duduk di kursi di depannya. Walaupun ia tidak menyukai kedatangan sang papa mertua, Adinata akan tetap menjunjung sopan santunnya.
“Saya permisi, Tuan.”
Adinata menganggukkan kepalanya. “Terima kasih dan silahkan kembali ke pekerjaanmu, Ger.”
Gerry menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Adinata bersama dengan sang papa mertua.
“Ada yang bisa saya bantu, Pa?”
Pak Sapta tertawa kikuk. “Kamu apa kabar, Ad? Nadine juga, bagaimana kabarnya? Sudah lama papa tidak mendengar abar kalian.”
“Kami baik-baik saja.” Adinata tersenyum tipis, tapi tatapan matanya tetap memandang dengan tajam.
“Syukurlah, papa lega mendengarnya.” Pak Sapta memainkan jari-jarinya dengan gugup. “Boleh papa meminta bantuan kamu, Ad?”
“Bantuan apa?” tanya Adinata. Adinata menutup dokumen keuangan yang sebelumnya ia baca.
“Sebenarnya papa akan bergabung ke investasi lahan sawit yang diadakan oleh teman papa. Teman-teman papa yang lainnya pun ikut bergabung. Tapi Ad, papa membutuhkan dana untuk mengikutinya.”
Adinata mendengar ketukan pintu lagi. “Masuk.”
Seorang OB masuk ke dalam ruangan Adinata membawa 2 cangkir kopi dan meletakkannya di depan Adinata dan sang papa mertua. Setelah mendengar ‘terima kasih ‘ dari Adinata, sang OB berpamitan dengan sopan.
“Terdengar tidak menyambung dengan perusahaan papa.” Adinata menyeruput kopi hitam yang baru saja diantarkan.
Perusahaan sang papa mertua merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan. Usahanya bernama ‘SHG Market’ yang sudah tersebar di beberapa kota di Indonesia.
Adinata pun mengetahui jika usaha sang papa mertua terdapat banyak sekali uang keluar tanpa tujuan yang jelas. Informasi tersebut terdengar jelas untuk Adinata, tapi Adinata tetap diam dan tidak membiarkan istrinya ikut mengetahui.
Pak Sapta menganggukkan kepalanya. “Papa sedang mencoba keluar dari zona nyaman dalam berbisnis, Ad. Dan papa yakin sekali kalau investasi papa kali ini akan menguntungkan.”
Adinata mengeluarkan tawa kecil. Ia mengingat kejadian-kejadian sebelumnya, dimana kalimat yang dikeluarkan oleh sang papa mertua sama persis. Hanya apa yang menjadi objek investasinya yang membedakan.
Menguntungkan? Tidak ada. Adinata tahu jika semua investasi yang dilakukan oleh sang papa mertua adalah kebohongan belaka. Itu hanyalah persekongkolan keluarga Nadine. Uang yang diberikan Adinata semua raib karena dipakai untuk bersenang-senang tanpa tujuan.
Pak Sapta ikut tertawa, tapi tawa canggung. Jadi ia mengambil cangkir kopi tersebut dan menyeruput kopi hitam yang disediakan untuknya.
“Kalau teman sendiri, ya tidak menjadi masalah, Pa.” Adinata memberi anggukan tipis di depan sang papa mertua. “Sudah lama mengenalnya, Pa?”
“Sudah, Ad. Papa berteman dengannya dari saat Nadine masih kecil. Dia juga mengenal Nadine karena sering main ke rumah.”
Adinata tersenyum tipis. Selalu nama istrinya yang sang papa mertua bawa ketika berbicara dengan dirinya. Tidak ada nama mama mertuanya atau abang iparnya. Juga hanya Nadine yang tidak mendapatkan uang tersebut. Keluarga serakah.
“Papa sebenarnya juga tidak enak hati kalau meminta bantuanmu, Ad. Tapi kamu ‘kan mengetahuinya sendiri. Tidak ada yang bisa menolong papa. Saudara papa ‘kan tidak berhubungan baik dengan papa dan mama, Ad.” Nada suaranya terdengar dramatis. Mimik wajahnya pun seolah tengah bersedih.
Adinata menganggukkan kepalanya. “Saya akan berdiskusi dengan Nadine dulu, ya, Pa.”
Pak Sapta menggelengkan kepalanya dengan panik. “Jangan.”
“Ada apa, Pa?” Adinata berpura-pura. Wajahnya menatap sang papa mertua dengan kekhawatiran palsu.
“Maksud papa itu seperti ini, Ad. Ini ‘kan urusan laki-laki, ya. Jadi papa merasa, Nadine tidak perlu terlalu ikut campur. Toh, keuntungan investasi ini ‘kan, Nadine juga akan mendapatkannya dari papa,” ucap Pak Sapta diakhiri dengan tawa yang terdengar canggung.
“Saya paham maksud papa. Saya menghargai Anda, tapi maaf, Pa, Adinata juga sangat menghargai keputusan Nadine.” Adinata menatap sang papa dengan anggukan kepala. “Adinata akan beri kabar ke papa lagi kalau Nadine menyetujuinya, ya, Pa.”
Pak Sapta tidak bisa berbuat lebih selain hanya menganggukkan kepalanya.