Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Ketika Kirana menutup pintu ruangan CEO di belakangnya, senyuman tipis yang sempat terukir di bibirnya langsung lenyap tanpa bekas. Wajahnya kembali bertransformasi menjadi topeng profesionalitas yang dingin dan kaku. Dia melirik jam tangannya. Kurang dari sepuluh menit sebelum kubu oposisi di dalam jajaran direksi mulai mencari celah untuk menjatuhkan mental Radit.
"Tika," panggil Kirana sembari berjalan cepat melewati meja administrasi. "Pastikan semua salinan laporan audit fisik proyek superblok di koridor timur sudah digandakan dan diletakkan di kursi masing-masing komisaris. Ingat, jangan sampai ada salah cetak di halaman lampiran keuangan."
"B-baik, Mbak Kirana. Semuanya sudah siap di dalam ruang rapat utama" jawab Tika sigap, meskipun matanya masih sempat-sempatnya mencuri pandang ke arah pergelangan tangan Kirana yang bergerak lincah.
Kirana mengabaikannya. Fokusnya saat ini adalah ruang rapat di ujung koridor. Di sana, tantangan sesungguhnya dari status 'tunangan resmi' ini dimulai.
Ruang rapat utama Baskara Group didesain dengan dinding kaca tebal kedap suara yang menghadap langsung ke panorama kota Jakarta. Di tengah ruangan, sebuah meja oval panjang dari kayu mahoni kokoh dikelilingi oleh kursi-kursi kulit premium. Saat Kirana melangkah masuk membawa tablet dan beberapa berkas fisik, ruangan itu sudah terisi setengahnya.
Di ujung meja duduk Pak Baskoro, salah satu komisaris senior sekaligus paman jauh Radit yang sejak lama tidak menyukai gaya kepemimpinan Radit yang dianggap terlalu modern dan tidak terduga. Di sampingnya ada beberapa sekutu direksi yang siap mengangguk pada apa pun yang dikatakan pria tua itu.
"Selamat pagi, Pak Baskoro, Bapak-Bapak sekalian" sapa Kirana dengan anggukan kepala yang presisi. Tidak terlalu rendah, tidak terlalu tinggi. Pas.
Baskoro tidak langsung menjawab. Dia menurunkan kacamata bacanya, menatap Kirana dari ujung kepala hingga berhenti tepat di jari manis tangan kiri Kirana. Sebuah senyuman sinis terukir di wajahnya yang berkerut.
"Selamat pagi, Sekretaris Kirana. Atau... haruskah saya mulai memanggilmu 'Calon Nyonya Besar' sekarang?" sindir Baskoro, suaranya yang berat menggema di ruangan yang sunyi. Beberapa direktur di sampingnya langsung berbisik-bisik kecil. "Berita pertunangan mendadak di hotel malam itu benar-benar mengejutkan. Saya tidak menyangka Raditya bisa bergerak secepat itu di belakang meja kerjanya."
Kirana tidak berkedip. Sudut bibirnya tidak goyah sedikit pun. Dia meletakkan berkas di depan kursi Baskoro dengan gerakan yang sangat tenang.
"Di dalam ruangan ini, jabatan saya adalah Sekretaris Utama Baskara Group, Pak Baskoro," jawab Kirana, suaranya jernih, tegas, dan dingin tanpa riak emosi. "Fokus kita pagi ini adalah evaluasi kinerja kuartal kedua dan persetujuan anggaran superblok koridor timur. Mengenai urusan personal Direksi, itu tidak masuk dalam agenda rapat yang telah disetujui."
Skakmat kecil di pagi hari. Baskoro mendengus pelan, merasa sedikit kehilangan muka karena ketegasan sekretaris kaku itu. Di saat yang sama, pintu ruang rapat terbuka lebar.
Radit melangkah masuk. Setelan jas hitamnya kini melekat sempurna, rambutnya tersisir rapi tanpa ada satu helai pun yang mencuat, dan langkah kakinya memancarkan aura otoritas yang kuat. Sifat konyol dan tiarap di lantai beberapa menit lalu seolah lenyap ditelan bumi.
Radit melirik Kirana sekilas, namun tidak ada kedipan mata usil atau senyuman rahasia. Sesuai Aturan Baru Pasal 1, di jam kerja, mereka adalah profesional tulen.
"Selamat pagi semuanya. Mari kita mulai" kata Radit sembari menduduki kursi kebesarannya di ujung meja.
Rapat berjalan dengan tensi yang merayap naik sejak menit ketiga puluh. Seperti yang sudah Kirana prediksi, Baskoro mulai melancarkan serangannya pada proyek superblok koridor timur yang dipimpin langsung oleh Radit.
"Anggaran yang diajukan terlalu berisiko, Raditya," ujar Baskoro sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja. "Inflasi bahan baku dan ketidakpastian pasar properti bisa membuat proyek ini menjadi lubang hitam yang menyedot likuiditas perusahaan. Saya sarankan kita menunda proyek ini hingga tahun depan."
Beberapa direktur mulai mengangguk setuju, menciptakan atmosfer keraguan di dalam ruangan.
Radit menyandarkan punggungnya, wajahnya tetap tenang namun matanya menatap Baskoro dengan tajam. "Jika kita menundanya hingga tahun depan, Pak Baskoro, kompetitor utama kita akan mengambil alih lahan strategis tersebut. Menunda artinya menyerahkan pangsa pasar secara sukarela."
"Tapi risikonya terlalu besar! Siapa yang bisa menjamin perhitungan efisiensi biayamu ini akurat?" tuntut Baskoro dengan suara meninggi.
Di samping Radit, Kirana segera menggeser jemarinya di atas layar tablet. Tanpa perlu perintah dari Radit, sebuah grafik analisis risiko baru langsung terproyeksi di layar monitor besar di ujung ruangan.
"Jika saya boleh menambahkan, Pak Baskoro," sela Kirana dengan suara yang memotong ketegangan dengan halus. "Analisis mitigasi risiko pada halaman empat belas menunjukkan bahwa Baskara Group telah mengunci kontrak harga bahan baku dengan tiga vendor utama sejak enam bulan lalu. Artinya, fluktuasi inflasi luar tidak akan memengaruhi proyeksi biaya kita hingga delapan puluh persen dari masa konstruksi awal." Kirana menatap seluruh anggota dewan komisaris.
"Perhitungan ini telah diaudit secara independen oleh firma hukum eksternal, dan hasilnya menunjukkan tingkat margin keamanan kita berada di angka dua belas persen di atas rata-rata industri. Tidak ada alasan finansial yang valid untuk menunda."
Penjelasan Kirana yang begitu taktis, cepat, dan berbasis data membuat Baskoro terdiam seketika. Pria tua itu membuka halaman empat bia belas dengan kasar, mencoba mencari celah kesalahan, namun data yang disajikan Kirana terlalu sempurna untuk didebat.
Radit menatap grafik di layar, lalu beralih menatap Kirana. Ada kilat kekaguman yang begitu besar di mata Radit atas kejeniusan dan kesigapan sekretarisnya itu. Namun, mengingat aturan main mereka, Radit buru-buru meralat ekspresinya menjadi anggukan profesional.
"Terima kasih atas datanya, Sekretaris Kirana," kata Radit formal. Dia kemudian kembali menatap dewan direksi. "Jadi, apakah ada alasan lain untuk tidak menandatangani persetujuan anggaran ini sekarang?"
Tidak ada yang bersuara. Bahkan Baskoro hanya bisa bersungut-sungut pelan sembari menandatangani berkas persetujuan. Rapat pun ditutup dengan kemenangan mutlak di kubu Radit.
Satu per satu anggota rapat meninggalkan ruangan hingga menyisakan Radit dan Kirana yang sedang merapikan berkas-berkas fisik di atas meja mahoni. Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat dan memastikan tidak ada orang lain di koridor, Radit langsung mengembuskan napas panjang, melonggarkan ikatan dasinya dengan satu tangan.
"Gila... kamu hebat banget tadi, Kirana," ujar Radit, suaranya kembali ke nada santai aslinya. Dia berjalan mendekati Kirana yang sedang menyusun dokumen ke dalam map. "Cara kamu membungkam Pak Baskoro tadi... jujur, aku hampir mau berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah di tengah rapat."
Kirana tidak mendongak, tangannya tetap sibuk.
"Saya hanya melakukan tugas saya secara profesional, Pak Radit. Memberikan data pendukung yang akurat saat Direktur Utama sedang dipojokkan adalah bagian dari deskripsi pekerjaan saya."
Radit terkekeh, lalu bersandar di tepi meja dekat Kirana, melipat tangannya di dada.
"Iya, aku tahu itu tugasmu. Tapi tetap saja, melihatmu sekeren itu membuatku sadar... pilihan Ibuku memang tidak pernah salah."
Kirana menghentikan gerakannya sejenak. Kalimat Radit membuat dadanya kembali berdegup aneh. Dia mendongak, menatap Radit melalui kacamatanya.
"Pak Radit, saya ingatkan, sekarang masih jam sebelas siang. Aturan Baru Pasal 1 masih berlaku. Mohon jaga jarak Anda."
Radit melirik jam dinding, lalu menghela napas pasrah dengan wajah yang sengaja dibuat memelas.
"Masih enam jam lagi menuju jam lima sore ya? Lama sekali. Rasanya aku mau mengubah jam kerja kantor ini menjadi jam delapan pagi sampai jam dua siang saja."
Kirana tidak bisa menahan senyum tipisnya mendengar keluhan konyol pria itu.
"Jika Anda melakukan itu, dewan komisaris akan benar-benar mendepak Anda dari kursi ini besok pagi."
Kirana mengambil mapnya, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum melangkah keluar, dia sempat menoleh ke arah Radit yang masih berdiri di tepi meja sambil menatapnya dengan binar hangat.
"Siapkan diri Anda untuk pertemuan jam satu nanti, Pak. Saya permisi dulu," kata Kirana, lalu melangkah keluar dengan ritme kaki yang teratur.
Konflik pertama dengan Dewan Komisaris berhasil dilewati dengan mulus berkat kekompakan mereka. Namun, saat Kirana berjalan menyusuri koridor menuju kubikelnya, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pribadinya. Nomornya tidak dikenal, namun isinya langsung membuat senyum tipis Kirana kembali membeku.
"Jangan senang dulu, Sekretaris Kirana. Pertunangan palsumu dengan Raditya tidak akan bertahan lama setelah media tahu siapa sebenarnya ayah kandungmu"
Kirana menghentikan langkahnya di tengah koridor, wajahnya mendadak pucat pasi menatap layar ponselnya. Rahasia masa lalu yang selama ini dia kubur rapat-rapat, kini mendadak mengintai dari balik bayang-bayang Baskara Group.