NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13• Pembatas Nyata

Suara getaran ponsel memecah sunyi dari dalam kamar Naya.

Nada dering ponselnya berbunyi, dilayar ponselnya tertera nama Arkan.

Naya yang baru saja mengusap air mata langsung panik. Ia buru-buru ngambil HP di atas kasur, menarik napas panjang, lalu menggeser tombol hijau.

“Halo?” Suaranya dipaksa datar.

Suara Arkan terdengar santai dari seberang. Ia bertanya sudah sarapan belum, bilang meetingnya baru selesai, bilang kangen. Nada bicaranya ringan, seperti tidak ada apa-apa di Surabaya.

Jari Naya mencengkeram HP sampai buku jarinya putih.

Dari ruang tengah, Bara bisa dengar samar suara dering telepon itu, dan ia tau pasti dari Arkan.

Panggilan itu tak lama. Begitu Naya matikan, ia meletakkan HP pelan di meja. Terlalu pelan.

Sunyi balik lagi. Tapi kali ini lebih berat. Lebih nyiksa.

Sejak pagi, Naya menghindari Bara.

Mereka serumah, tapi tidak saling bersuara. Naya di dapur dan kamar, Bara di ruang tengah ataupun dikamarnya. Diam mereka lebih bising dari pertengkaran.

Sampai sore, beban di kepala Naya terlalu berat. Ia menyerah.

Ia memutuskan untuk mencari Bara.

Dan menemukannya di taman belakang. Lelaki itu duduk di bangku kayu panjang dengan kaki menyilang, punggung bidang menghadap ke arah matahari yang mulai turun.

Cahaya jingga memantul di bahunya, tapi tidak mengganggunya sama sekali. Di pangkuannya ada buku terbuka. Tenang. Terlalu tenang. Ketenangan itu membuat dada Naya terasa aneh, seperti ditusuk jarum kecil.

Naya berjalan mendekat. Berhenti selangkah di belakang Bara.

“Bar…” panggilnya pelan.

Bara menoleh. Tidak ada senyum. Wajahnya datar. Tapi sebelum menatap Naya, matanya terlebih dulu melirik ke arah pintu belakang, memeriksa apakah ada orang yang melihat mereka. Lagi-lagi rasa takut ketahuan itu lebih dulu muncul daripada dirinya sendiri.

Naya paham.

“Aman,” katanya cepat. “Tadi aku liat Ibu pergi dijemput taksi.”

Baru setelah itu, sudut bibir Bara terangkat sedikit. Ia menepuk bangku sebelahnya.

“Duduk.”

Naya duduk di sebelahnya. Pandangannya turun sebentar ke wajah Naya.

Kantung mata hitam itu terlalu jelas. Wajah lelah yang tidak bisa ditutupin lagi. Jelas semalaman Naya tidak tidur.

Naya duduk. Tapi terlalu berjarak. Ada ruang kosong cukup untuk satu orang lagi di antara mereka. Bara melihat itu. Ia tertawa pelan, suaranya hampir tenggelam oleh angin sore.

“Boleh aku tanya satu hal?”

Naya memulai. Matanya menatap lurus ke depan. Entah kenapa ia enggan menoleh ke samping.

Bara berbeda. Ia terus menatap wajah Naya. Punggungnya masih menyandar di bangku kayu itu.

“Soal Dewi?” tebak Bara. Seolah ia bisa membaca pikiran Naya yang sedari tadi terusik oleh nama itu.

Naya mengangguk pelan. Tangannya saling meremas di pangkuan.

Bara mengalihkan pandangannya ke arah rumput.

“Mereka pacaran lima tahun lalu. Aku kira Mas Arkan gak akan punya pacar lagi setelah putus dari Dewi. Dia sudah terlalu banyak berkorban buat wanita itu.”

Naya langsung menoleh cepat ke arah Bara.

“Maksud kamu?”

Bara tertawa hambar.

“Itu sebabnya aku kaget pas tau Mas Arkan pacaran sama kamu.”

Naya menelan ludah. Tenggorokannya kering seketika. Baru sekarang ia sadar, hubungan Arkan dan Dewi bukan hubungan biasa. Mereka mantan kekasih.

“Jadi apa aku masih ada di hatinya Mas Arkan?”

Pertanyaannya menggantung di udara. Tidak ada yang bisa menjawab selain Arkan sendiri.

Bara bergeser sedikit mendekat. Ia menatap wajah Naya yang sudah berubah.

“Kejadian itu sudah lima tahun lalu, Nay. Sebelum kamu pacaran sama Mas Arkan.”

Suara Bara mengecil.

“Aku bukan bermaksud cuek atau pura-pura gak kenal sama kamu. Aku takut. Takut Mas Arkan dan Mama tau kalau aku kenal sama kamu.”

Naya menoleh balik. Mata mereka bertemu.

“Memang kenapa kalau mereka tau kita kenal? Kita cuma pernah satu kelas, satu bangku. Bahkan kamu gak pernah ngobrol sama aku.”

Bara menghela napas kasar.

“Aku takut mereka tau kalau aku suka sama kamu, Nay.”

Naya dengar dengan jelas pernyataan dari Bara, tapi dia langsung berdiri seolah memberi jarak, menjauh satu langkah. Dadanya sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia namai.

“Aku masuk ke dalam dulu. Ibu mungkin sudah datang.”

Ia pergi. Meninggalkan Bara yang masih duduk di bangku itu, menatap punggungnya sampai hilang di balik pintu.

Didalam, Naya terkejut dengan kehadiran Ibu Desy yang sedang menatap kaca keluar, jelas Ibu Desy melihat mereka, melihat Naya dan Bara diluar. Tatapannya tak beralih sampai Naya berhenti melangkah.

"Sedang apa kalian?" tanya Desy dengan pandangan masih menuju keluar, ketempat Bara duduk di bangku panjang itu. Tangannya menyilang, seperti sedang menimbang-nimbang perbuatan apa yang sedang dilakukan Naya dan Bara saat itu.

"Eum.. Tadi Bara..."

Belum sempat menjelaskan, Desy sudah berbalik menatap Naya dengan tajam, sorot matanya terlihat jelas kalau ia tak menyukai Naya, tangan kanannya mendorong Naya pelan, tapi dorongan itu mampu Naya artikan sebagai ketidaksukaan Ibu Desy kepadanya.

"Gadis bodoh!, kamu itu istri Arkan, kenapa masih menggoda adiknya, Bara itu-"

"Ma..." teriak Bara, saat melihat ibunya mengomeli Naya.

"Tadi aku yang minta bantuan Mbak Naya buat isi survei kerjaan aku, jangan salah paham ma" Ujar Bara sambil berjalan mendekati mereka.

Desy langsung mengalihkan pandangan, wajah juteknya terlihat jelas, dan Desy tak mengatakan apapun, lalu pergi meninggalkan keduanya disana.

Bara mengusap kasar wajahnya, jantungnya berdetak tak karuan, hampir saja mereka ketahuan. "Masuklah ke kamar" ujar Bara, lalu pergi meninggalkan Naya.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!