Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Fadil yang mengetahui jika ibu dan adik Aminah gagal untuk memberi pelajaran pada mantan kekasihnya itu mengepalkan tangannya, dia masih tidak terima diputuskan dan dihina seperti itu.
Dia memang memanfatkan Aminah selama ini untuk tetap memenuhi kebutuhannya karena baginya perempuan itu hanya mahluk bodoh yang bisa dimanfaatkan
"Dasar orang-orang tidak berguna, lihat saja aku pasti membalas mu Aminah, aku tidak akan pernah tinggal diam setelah ini.
Dia merencanakan sesuatu yang nekat untuk bisa membalas rasa sakit hatinya bagaimanapun caranya.
Dia masuk ketempat kerja Aminah untuk berbelanja, matanya menyorot awas, dia yakin jika teman-teman Aminah mulai mengenalnya, dia harus melaksanakan aksinya dengan membuat usaha bos mantan kekasihnya ini bangkrut.
Bos Aminah yang telah datang dan mengontrol CCTV menyipitkan matanya melihat tingkah laku lelaki yang begitu mencurigakan baginya
Dia berjalan keluar mendapati lelaki itu memegang sesuatu seperti seekor hewan, dia segera mendatanginya dengan cepat. Saat akan melepaskannya tangannya langsung di cengkram keras oleh wanita setengah baya itu
"Bawah keluar hewan kecilmu itu anak muda, jangan sampai saya membawa ini kejalur hukum dan memastikan kamu tidak bisa keluar dari sana dalam waktu yang cukup lama". Ucapnya dengan dingin.
Fadil yang tertangkap basah kini menelan ludahnya sukar, matanya membelalak sempurna melihat wanita yang merupakan bos Aminah berada di hadapannya itu, dia tidak menyangka jika akan ketahuan seperti ini padahal dia sudah pelan-pelan agar tidak ketahuan.
"Adam, Bima, kesini kalian". Teriaknya dengan penuh emosi.
Suaranya menggelegar hingga semua orang menoleh kepadanya, tidak hanya anak buahnya tapi juga pengunjung yang mendengar teriakan itu langsung penasaran apa yang terjadi
Terdengar langkah yang lari tergesa-gesa menghampirinya sehingga dia mendongkak pelan melihat dua karyawan laki-laki yang dia panggil namanya tadi kini berhadapan dengan mereka
"Bawah lelaki muda ini dan hajar dia sampai kapok karena telah berusaha merusak toko kita dengan memasukkan hewan kecil menjijikkan itu". Tunjuknya kepada Fadil.
Keduanya yang telah mendengar itu menatap tajam Fadil dan siap memakannya hidup-hidup. Mereka berdua menyeret paksa Fadil keluar dari toko dan menghajarnya tanpa ampun, Fadil hanya bisa mengerang kesakitan dan meminta ampun atas pukulan demi pukulan yang dia terima.
"Kurang ajar, kamu sudah membuat keributan dengan melukai Aminah sekarang kamu membuat toko kami dalam masalah, lelaki pecundang seperti mu memang pantas dihajar".
Semua pengunjung merekam aksi itu tetapi bos mereka menatap para pengunjung itu dengan tegas agar tidak ada kesalapahaman nanti karena pemukulan ini adalah langkah kriminal yang bisa menjadi masalah kedepannya jika dia tidak langsung mengklarifikasi.
"Lelaki ini berusaha membuat toko kami dalam masalah, dia membawa tikus kedalam toko dan ingin menyebarkannya, kalian semua pasti tahu apa dampaknya jika tikus-tikus itu berkeliaran didalam toko dan sebelumnya lelaki ini berbuat kasar pada karyawan saya itu sebabnya kami melakukan hal ini padanya jadi tolong jangan mengambil gambar sembarangan ". Ucapnya dengan tegas.
Mereka mengangguk tapi salah satu pengunjung akhirnya membuka suara akrena geram atas tingkah pemuda yang tidak sebagus tampangnya yang ganteng itu.
"Biarkan kami merekam jelas wajah anak muda ini nyonya, supaya toko lain bisa menjadikan orang ini bahan pencegahan agar tidak merusak toko orang lain, jangan sampai dia juga melakukannya ditempat lain".
Sang bos mengangguk senang, mereka langsung berbondong-bondong merekam wajah Fadil yang berusaha dia tutupi tapi tak berhasil. Dia berusaha memberontak karena tidak mau diviralkan seperti ini tapi dia sudah kalah dan tidak bisa berbuat apapun.
Para teman Aminah sudah berhenti memukulnya membiarkan semua orang mengambil gambar nya, sedangkan Aminah yang baru datang ketempat kerjanya hanya bisa mengkerutkan keningnya melihat banyaknya kerumunan orang didepannya.
"Ada apa ini?". Tanyanya dengan penasaran.
Matanya membulat sempurna begitu melihat wajah Fadil yang babak belur seperti dihakimi massa, entah apa yang terjadi.
"Kenapa dia Bima kok wajahnya babak belur seperti itu?". Tanyanya pelan sambil menunjuk Fadil dengan dagunya.
Bima menghela nafas kesal, nafasnya masih memburu karena habis memukul Fadil dengan sekuat tenaganya.
"Aku dan Adam memukuli dia karena berusaha membawa tikus kedalam toko, kamu tahu sendiri dampaknya jika hewan itu masuk dan tinggal dalam toko kan?".
Mata Aminah melotot sempurna, dia menatap tajam Fadil dengan kesal, orang ini sejak kemaren selalu mencari masalah dengannya bahkan berusaha menghancurkan tempatnya bekerja
"Panggilkan polisi saja Bos, dia tidak akan punya efek jerah kalau hanya dipukul seperti itu, dia akan kembali Mengulanginya nanti".
Kini Fadil yang mendelik penuh emosi kearahnya karena tidak terima, keduanya saling memandang tajam.
"Jangan kurang ajar Aminah, jika bukan karena kamu memutuskan ku seperti ini aku tidak akan memakai cara kotor membalasmu, aku tidak terima diputuskan oleh perempuan miskin seperti mu". Kesalnya.
Aminah tertawa pelan, tawa hambar yang begitu terdengar seperti rasa sakit.
" Benar aku adalah perempuan miskin, tapi perempuan miskin ini selalu membayar semua tagihan saat kita sedang berkencan, perempuan miskin ini juga yang sering kamu manfaatkan gajinya untuk gengsimu, tidak apa miskin asal tidak Mokondo sepertimu". Hinanya sambil tertawa mengejek.
Fadil mengepalkan tangannya, hinaan itu kembali kepadanya, sedangkan semua orang menonton dan merekamnya, dia yakin setelah ini berita ini akan sampai dikantornya, dia pasti dalam masalah besar.
"Pergilah anak muda, jika sekali lagi kamu membuat keributan disini, maka polisi sendiri yang akan menyeretmu dalam sel".
Fadil hanya bisa menghela nafasnya, walau emosinya belum mereda tapi dia Tidka punya pilihan lain, akan jadi masalah besar jika dia ditangkap polisi karena hal ini.
"Tunggu saja Aminah, aku tidak akan membiarkan ini semua berakhir seperti ini". Ancamnya pergi dari sana.
Dia jelas mendengar teriakan dan sorakan para pengunjung yang mulai menghinanya, dan juga menertawakan dirinya
Sedangkan Kedua orang yang berlari ketakutan itu kini menghela nafas lega, wajah mereka dipenuhi oleh keringat dingin saat sampai dirumah mereka.
"Sialan kak Aminah dia betul-betul memanggil polisi dan mau menjebloskan kita, benar-benar tidak tahu diuntung". Umpat Lisa dengan sangat kesal.
"Benar, ibu tidak menyangka jika Aminah bisa melakukan itu pada kita, dia betul-betul sudah berubah ". Sungut Halimah Dnegan nafas terengah-engah
Dia sungguh ketakutan setengah mati melihat lelaki yang berpakaian polisi mendekati mereka, dia tidak mau masuk penjara karena disana pasti akan sangat menyeramkan
"Lihat saja Aminah, ibu tidak akan menyerah sampai kamu tunduk pada ibu lagi, kamu tidak akan bisa lepas dari ibu karena ibu ini adalah orangtua mu yang wajib kamu hidupin". Geramnya.