NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Bab 27: Kebenaran yang Terungkap

Suasana di dapur seketika berubah menjadi sunyi.

Bagaimana ini ? Batin Clara panik

Semua orang terdiam dengan pikiran masing-masing.

Hanya terdengar suara napas yang terasa berat, terutama Clara yang kini duduk membeku di lantai.

Wajahnya yang tadi terlihat sedih dan terluka, perlahan berubah menjadi pucat pasi seolah darahnya habis tersedot pergi.

Matanya yang semula berkaca-kaca menatap Diana dengan pandangan memohon, kini beralih menatap kamera di sudut langit-langit dengan rasa takut yang jelas tergambar.

Si*l , benar-benar si*l . Batin Clara terus berteriak panik

"Bagaimana? Kalian ingin melihat ketika dia menyiram dirinya sendiri?" Tanya Diana ketika melihat semua nya terdiam.

Tuan Hartono dan Nyonya Anita masih berdiri dengan wajah marah, siap melancarkan tuduhan lebih lanjut,

Tetapi kata-kata mereka terhenti di tenggorokan begitu mendengar perkataan Diana.

"Kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya Arga dengan nada lembut.

Dia masih memeluk pinggang istrinya erat, matanya menatap tajam ke arah keluarga Hartono, seolah memberi peringatan agar mereka tidak sembarangan menuduh lagi.

“CCTV?” Ulang Nyonya Amara dengan nada tenang.

Ia melangkah maju sedikit, lalu menatap ke arah kamera yang ditunjuk Diana.

“Benar, di seluruh bagian rumah ini terpasang sistem keamanan lengkap, termasuk di dapur. Tidak ada satupun gerakan yang luput dari rekaman itu.”

Mendengar penegasan dari Nyonya Amara, wajah Tuan Hartono berubah sedikit ragu.

Ia menatap putrinya, lalu bertanya dengan nada yang mulai berubah, “Clara, apakah benar apa yang dikatakan Nyonya Diana? Apakah kau menyiram dirimu sendiri?”

Clara menggeleng cepat, tangannya mengepal kuat hingga kukunya memutih.

“Ti… tidak, Ayah! Jangan percaya dia! Dia hanya berusaha menutupi kesalahannya sendiri!” suaranya bergetar, tidak lagi terdengar meyakinkan seperti tadi.

Nyonya Anita masih mempertahankan pendiriannya, meski rasa ragu mulai menyelinap di hatinya.

“Memang benar ada kamera, tapi siapa yang tahu apakah rekamannya masih utuh atau sudah diubah? Sepertinya Istri anda memang iri pada putriku!”

Arga melangkah maju, melepaskan pelukannya namun tetap berdiri di samping Diana.

Matanya menatap tajam ke arah Nyonya Anita, membuat wanita itu secara refleks mundur selangkah.

"Anda meragukan sistem keamanan kami? Nyonya Anita, saya masih menghormati anda karena kita akan menjadi keluarga,.tetapi jika anda tidak bisa menjaga mulut anda, saya tidak segan untuk membawa putri anda ke jalur hukum.”

Tidak ada yang membantah lagi. Nyonya Amara mengangguk setuju, lalu memberi isyarat kepada salah satu pelayan yang berdiri di ambang pintu.

“Panggil Pak Joko, kepala keamanan.”

"Baik, Nyonya!" Pelayan itu segera pergi.

Dalam waktu singkat, seorang pria paruh baya datang membawa laptop.

Ia memberi hormat kepada semua yang ada di sana, lalu menunggu perintah.

“Putar rekaman yang terjadi di dapur sekitar lima menit yang lalu,” perintah Nyonya Amara dengan nada tegas.

"Siap, Nyonya !" Jawab pak Joko

Mereka semua pun berjalan kembali menuju ruang tamu, suasana menjadi hening dan tegang.

Apa yang harus aku katakan nanti..

Clara berjalan paling belakang, langkahnya terasa berat dan kakinya gemetar.

Ia tahu nasibnya akan ditentukan dalam beberapa menit ke depan, tetapi tidak ada jalan keluar lagi.

Sesampainya di ruang tengah,

Pak Joko segera memutar rekaman sesuai waktu yang diminta.

"Silahkan, Nyonya!"

Layar laptop menyala, menampilkan gambar yang jelas dan terang dari sudut pandang kamera di dapur.

Semua orang mendekat, mata mereka tertuju sepenuhnya pada layar itu.

Rekaman dimulai.

"Lihat kan, Nyonya Diana yang mengambil air dingin itu, sudah jelas dia yang dengan sengaja menyiram Clara !" Ujar nyonya Anita cepat

Terlihat Diana masuk ke dapur sendirian, membuka lemari es, mengambil botol air, dan menuangkannya ke dalam gelas. Ia terlihat tenang, tidak melakukan hal yang mencurigakan.

"Kita lihat rekamannya sampai selesai, nyonya Anita" Perintah Nyonya Amara dengan nada dingin

"Jangan membuat keributan lagi" Bisik tuan Hartono pada istrinya

Beberapa detik kemudian, di rekaman itu terlihat Clara masuk mengikuti dari belakang,

lalu bersandar di dinding sambil menatap Diana dengan pandangan menghina.

Bahkan percakapan mereka terdengar jelas.

Terlihat Clara melangkah mendekat, mulutnya mengucapkan kata-kata yang tajam,

sementara Diana hanya berdiri sambil memegang gelas, sesekali mengangguk dan menjawabnya santai, tetapi tidak terlihat marah.

"Beraninya kau menghina istriku!" Arga menggeram tertahan

Arga sudah mengepalkan tangannya, dia menatap Clara dengan tajam, membuat si empunya semakin menciut.

"Sabar, Mas" Diana tersenyum, dia memegang tangan suaminya

Kemudian, momen yang dinantikan pun tiba.

Di layar terlihat jelas, Clara yang tiba-tiba mengangkat tangannya sendiri, meraih tangan Diana yang memegang gelas, lalu mengarahkan gelas itu tepat ke wajahnya sendiri.

Diana hanya terlihat terkejut, mencoba menarik tangannya kembali, namun sudah terlambat.

Setelah itu, Clara menjatuhkan diri duduk di lantai dan mulai berteriak sambil menangis, seolah baru saja mendapatkan perlakuan kasar.

Semua orang yang melihat itu tertegun dan terdiam.

Wajah Nyonya Anita memerah karena malu, sedangkan Tuan Hartono menunduk dalam, rasa malu dan marah bercampur menjadi satu di dadanya.

Bahkan Gilang yang berdiri di sampingnya terbelalak, matanya tidak percaya melihat apa yang baru saja ia saksikan.

Clara yang melihat rekaman itu sendiri langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya terguncang hebat. Ia tidak sanggup lagi melihat kelakuannya sendiri yang terekam dengan sempurna.

“Jadi… semua ini hanya aktingmu, Clara?” tanya Gilang dengan suara dingin dan rendah. Tatapannya pada wanita yang akan dinikahinya itu berubah drastis, penuh kekecewaan dan rasa jijik.

Clara menggeleng keras, air matanya mengalir deras namun kali ini bukan air mata buatan.

“Aku… aku tidak suka padanya! Dia pasti hanya mengincar harta keluargamu…” teriaknya histeris, mengakui semuanya tanpa sadar.

"Apa hak mu mencampuri urusan keluarga ku, istriku lebih berharga daripada dirimu, kau tidak berhak menghinanya" Suara kemarahan Arga menggema di setiap sudut ruangan.

Mendengar pengakuan putrinya, Tuan Hartono memukul pahanya sendiri dengan keras.

“Dasar bodoh! Kau mempermalukan diri sendiri dan nama baik keluarga kita di depan orang lain!” bentaknya dengan nada marah yang meledak-ledak.

Nyonya Amara menatap mereka dengan pandangan dingin dan tenang.

“Kalian datang ke sini dengan niat baik untuk membahas pernikahan, tapi ternyata ingin memeras dengan dalih kekeluargaan, menuntut mahar yang tidak masuk akal, dan bahkan berusaha menjebak tuan rumah. Apakah ini cara keluarga Hartono mendidik putrinya?”

Tuan Hartono tidak bisa menjawab.

Rasa malu menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia tahu posisinya sekarang sangat lemah.

Tadi ia menuntut 20 persen saham perusahaan, tapi sekarang putrinya justru melakukan kesalahan yang sangat besar.

Ia berusaha mencari alasan, namun tidak ada kata-kata yang bisa menutupi kenyataan yang sudah terlihat jelas oleh semua orang.

“Maafkan kami, Nyonya Amara, Tuan Arga… Kami sungguh minta maaf atas kelakuan putri kami yang tidak tahu sopan santun ini,” ujar Tuan Hartono dengan nada rendah, tidak lagi terdengar sombong seperti sebelumnya.

“Kami mengakui kesalahan Clara, dan kami siap meminta maaf secara langsung pada Nyonya Diana.”

Namun, sebelum mereka sempat melangkah mendekat, Diana mengangkat tangannya, memberi isyarat agar tidak perlu mendekat.

Ia tersenyum tipis, namun senyum itu tidak menyentuh matanya.

“Tidak perlu meminta maaf padaku. Aku tidak terluka, dan kejadian ini justru membuatku tahu siapa sebenarnya kalian.”

Arga melanjutkan pembicaraan dengan nada tegas.

“Mengenai permintaan mahar 20 persen saham, saya tidak akan memberikannya. Tapi lebih dari itu, setelah melihat sifat dan kelakuan Clara hari ini, saya mulai meragukan apakah dia benar-benar cocok untuk Gilang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!