Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13 Senyum Di Balik Dendam
"Baiklah, jika itu keinginanmu. Namun, Ayla, ada hal penting yang ingin kusampaikan kepadamu," ungkap Reyhan, nada bicaranya mulai terburu karena rasa tak sabar yang mendera.
"Sebaiknya kita akhiri hubungan ini saja. Mulai saat ini, kau bebas memilih siapa pun yang ingin kau dampingi. Aku takkan pernah lagi menghalangi jalanmu. Bukankah semua orang di sini sangat berharap agar kau bersanding dengan Alena?" potong Ayla lebih dulu, menyampaikan kalimat yang sudah pasti akan diucapkan Reyhan.
Kini, bukan Reyhan yang membuang Ayla, melainkan Ayla sendirilah yang lebih dulu memutuskan ikatan kasih mereka. Hal ini sungguh di luar dugaan Reyhan, sebab selama ini ia yakin betul bahwa Ayla sangat mencintainya sepenuh jiwa.
"Jadi... kau sudah mengetahui segala hal tentang rencana ini?" tanya Reyhan, suaranya terdengar bergetar menahan keterkejutan.
"Pergilah. Kita tak punya urusan apa pun lagi mulai detik ini. Kumohon, biarkan aku sendirian," usir Ayla pelan namun tegas, mengisyaratkan agar Reyhan segera pergi dari hadapannya.
"Ayla, maafkanlah aku. Kelak kita akan menjadi bagian dari satu keluarga besar yang sama. Kuharap kau takkan memendam rasa benci kepadaku. Semoga kelak kau mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dariku," ucap Reyhan. Entah mengapa, hatinya terasa perih dan sesak mendengar nada bicara dingin yang terlontar dari mulut kekasihnya dulu.
"Pergilah..." lirih Ayla tanpa berani sedikit pun mendongakkan wajah.
Dengan perasaan yang kacau balau, Reyhan pun beranjak meninggalkan tepian kolam renang. Namun, hatinya tak mampu merasa tenang barang sedikit pun. Ia sempat beberapa kali menoleh ke belakang saat berjalan pergi, namun tak sekalipun ia dapati Ayla ikut menengadah dan menatap kepergiannya.
"Satu keluarga? Hahaha... sungguh lelucon yang paling menggelikan. Perasaanku tak lagi sekadar benci, bagiku kalian semua di sini sudah lama mati bagaikan mayat tak bernyawa," batin Ayla sambil tersenyum miring nan sinis.
Lima belas tahun lamanya. Bila ada yang menyebutkan bahwa Ayla terlalu sabar menanggung semua kepahitan ini sendirian, hal itu adalah kenyataan mutlak. Namun, lima belas tahun itu pula telah cukup lama membuat hatinya yang lembut perlahan membeku dan kehilangan rasa iba terhadap keluarga yang seharusnya menyayanginya.
Perlahan namun pasti, butiran bening pun kembali merembes dan membasahi pipi mulusnya yang kini tampak semakin tirus.
"Cukup... semuanya sudah berakhir. Segala pengorbanan yang kulakukan selama ini akhirnya usai sudah. Keluarga Gunawan takkan pernah lagi kusebut sebagai keluargaku sendiri," batinnya, sementara di sudut palung hatinya, ia mulai menyimpan segumpal besar rasa dendam terhadap orang‑orang yang seharusnya melindunginya.
Sementara pesta berlangsung meriah tanpa cela, Ayla menyaksikan dengan kedua matanya sendiri bagaimana ayah dan ibu angkatnya berdiri gagah di atas panggung, lalu mengumumkan pertunangan resmi antara Alena dan Reyhan. Seluruh hadirin menyambut kabar itu dengan sorak gembira. Namun, tak ada satu orang pun yang sadar betapa mengerikannya lengkungan senyum yang terukir di bibir tipis Ayla saat ia menatap mereka satu per satu.
"Tunggulah saatnya... tunggulah kehancuran yang kelak akan menimpa kalian semua," janji batinnya, lalu ia membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan keramaian pesta itu selamanya.
Sering kali terdengar pepatah: orang yang lemah, baik hati, dan tulus jika terus‑menerus disakiti berulang kali, lama‑kelamaan akan menjelma menjadi sosok iblis yang paling menakutkan. Pernahkah kau mendengarnya? Sebab sesungguhnya, penjahat paling kejam pun pada mulanya adalah orang baik yang hatinya telah hancur berkeping‑keping lantaran luka yang tak pernah sembuh.
Sementara itu, di kediaman megah milik keluarga Aditama...
"Pa, apakah Papa sungguh berniat menjodohkan Kak Valen dengan putri keluarga Gunawan? Apakah keluarga itu bersedia menerima perjodohan ini?" tanya Gavin, adik kandung Valen sekaligus anak bungsu keluarga Aditama.
"Bila mereka berani mengingkari perjanjian yang telah lama terjalin, maka nama baik dan seluruh kekayaan keluarga mereka bisa musnah tak bersisa hanya dalam waktu semalam," jawab Papa Hans dengan sorot mata yang menusuk dingin.
"Tapi... apakah Kak Valen rela menerima perjodohan yang tiba‑tiba ini?" tanya Gavin lagi. Kali ini ia hampir berbisik pelan, khawatir pertanyaannya terdengar hingga ke tel Kak Valen.
Papa Hans terdiam sejenak mendengar pertanyaan putra bungsunya. Kerutan halus mulai terbentuk di dahinya, seolah tengah merenungi sesuatu yang berat. Tak seorang pun tahu apa sesungguhnya yang tengah berputar di dalam benak lelaki perkasa itu saat ini.
“Tidak peduli dia setuju atau tidak, kita harus tetap menjodohkan kakakmu dengan wanita itu. Papa khawatir, jika tidak begini, dia mungkin takkan pernah mendapatkan pendamping seumur hidupnya,” ujar sang Ayah. Segala kekhawatirannya selalu ia curahkan khusus untuk putra sulungnya, yaitu Valen.
Namun, ada satu hal yang tak mereka ketahui: tepat saat pembicaraan itu berlangsung, Valen ternyata mendengar setiap kata yang terucap dari balik sudut ruangan.
“Tuan Muda, kau akan segera dinikahkan dengan putri keluarga Gunawan. Bagaimana tanggapanmu menghadapi hal ini?” bisik Leo, asisten pribadi yang selalu setia berada di sisi dan menjadi tangan kanan Valen.
Namun, lelaki itu tak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya tersenyum miring, lalu mendorong kursi rodanya bergerak masuk ke dalam kamar, meninggalkan sang asisten sendirian.
“Permainan baru saja akan dimulai…” gumam Valen pelan seraya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar yang terpajang di dalam kamar.
Sementara itu, Papa Hans dan Bastian telah mencapai kesepakatan bulat: Ayla harus segera dikirim ke kediaman keluarga Aditama keesokan paginya. Bastian tak ingin menunda lebih lama—ia sangat cemas jangan‑jangan Ayla berubah pikiran lalu melarikan diri dari rumah.
Keesokan harinya
Di kediaman keluarga Gunawan
“Ayla… kau benar‑benar akan pergi?” tanya Alena seraya menahan gagang koper milik Ayla.
Di depan pintu utama, sebuah mobil hitam megah telah bersiap mengantar kepergiannya meninggalkan kediaman itu selamanya.
Ayla tak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya menatap tajam tepat ke manik mata Alena—tatapan yang membuat semua orang yang hadir merasakan perbedaan nyata: sosok yang berdiri di hadapan mereka kini bukan lagi Ayla yang mereka kenal dahulu.
Mama Tina, Papa Bayron, serta kedua kakaknya saling berpandangan, menatap Ayla dengan raut yang sulit dimengerti.
“Ayla, percayalah, kita pasti akan bertemu lagi kelak,” ucap Bastian seraya menggenggam tangan gadis itu.
“Benar… namun bukan lagi sebagai saudara sekeluarga,” bisik Ayla lirih sambil tersenyum miring khasnya.
Bastian seolah tak menggubris ucapan tajam itu. Padahal, tepat setelah pesta usai semalam, Ayla telah menerima selembar dokumen resmi berisi surat pernyataan pemutusan hubungan kekeluargaan antara dirinya dengan keluarga Gunawan. Entah bagaimana Bastian bisa mendapatkan tanda tangan sang Ayah, namun satu hal yang pasti: Ayla sudah tak ingin lagi mencampuri urusan apa pun terkait mereka.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya