Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Di setujui
Kirana masih menatap layar ponselnya beberapa saat setelah panggilan dengan Dita berakhir. Kabar yang baru diterimanya terasa seperti masalah baru yang datang sebelum masalah lama selesai. Selama beberapa hari terakhir, ia berusaha menata kembali pikirannya dan menjaga jarak dari Rendra. Namun keputusan mutasi itu membuat semua rencananya berantakan karena cepat atau lambat mereka akan berada dalam lingkungan kerja yang sama.
"Mutasi itu disetujui?" Gavin menghentikan langkahnya.
"Iya." Kirana mengangguk pelan.
"Secepat itu?" Gavin mengerutkan kening.
"Dita bilang suratnya sudah keluar pagi ini." Kirana mematikan layar ponselnya.
Rendra yang berdiri tidak jauh dari sana langsung kehilangan fokus. Ia memang mengajukan mutasi dengan harapan bisa memperbaiki hubungannya dengan Kirana, tetapi ia tidak menyangka prosesnya berjalan secepat itu. Di sisi lain, ekspresi Kirana tidak menunjukkan sedikit pun rasa senang atas kabar tersebut.
"Aku bisa menjelaskan." Rendra mendekat.
"Saya rasa tidak ada yang perlu dijelaskan." Kirana memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Kirana." Rendra menghela napas.
"Saya sedang tidak ingin membahasnya." Kirana mengalihkan pandangan.
Suasana koridor rumah sakit mendadak terasa canggung, beberapa orang yang lalu-lalang di sekitar mereka tidak menyadari ketegangan yang muncul tetapi Aiden dan Gavin bisa melihatnya dengan jelas. Bukan kemarahan yang terlihat di wajah Kirana, melainkan kelelahan yang semakin sulit disembunyikan.
"Aku tahu kamu marah." Rendra menatapnya.
"Saya tidak marah." Kirana merapikan tali tasnya.
"Itu lebih buruk." Rendra menundukkan kepala sejenak.
Kirana tidak membantah, ia memang sudah melewati fase marah beberapa hari lalu yang tersisa sekarang hanyalah rasa lelah karena terus memikirkan hal yang sama berulang kali. Setiap kali mencoba melupakan semuanya, selalu ada kejadian baru yang menyeretnya kembali ke masalah yang sama.
"Aku hanya ingin memperbaiki keadaan." Rendra menggenggam kedua tangannya.
"Kamu terlambat." Kirana menatapnya datar.
"Kirana." Rendra kembali memanggil.
"Saya ingin masuk menemui Ayah." Kirana melangkah melewatinya.
Rendra tidak berusaha menahan langkah wanita itu. Ia hanya berdiri diam sambil memperhatikan punggung Kirana yang semakin menjauh. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar merasa kehilangan kendali atas sesuatu yang selama ini dianggap akan selalu ada.
"Bos." Gavin melirik Aiden.
"Hm?" Aiden mengalihkan pandangan dari pintu kamar perawatan.
"Saya mulai kasihan." Gavin mengusap tengkuknya.
"Kepada siapa?" Aiden bertanya singkat.
"Kepada semua orang." Gavin menghela napas. "Yang satu menyesal, yang satu lelah, yang satu lagi pusing."
"Yang pusing siapa?" Aiden mengangkat alis.
"Saya." Gavin menunjuk dirinya sendiri.
Aiden menggeleng pelan, kadang-kadang ia heran bagaimana Gavin bisa tetap bercanda dalam situasi apa pun namun di saat yang sama tingkah sahabatnya itu sering kali menjadi alasan suasana tidak berubah terlalu suram.
Di dalam kamar perawatan, ayah Kirana sedang berbincang dengan Rani ketika putrinya kembali masuk, wajah pria tua itu langsung berubah begitu melihat ekspresi Kirana yang terlihat lebih muram dibanding beberapa menit sebelumnya.
"Ada masalah?" tanya ayahnya.
"Tidak." Kirana duduk di kursi dekat ranjang.
"Kamu mewarisi kebiasaan ibumu." Ayahnya tersenyum tipis.
"Maksud Ayah?" Kirana mengernyit.
"Kalau bilang tidak ada masalah, biasanya justru sedang ada masalah." Ayahnya menghela napas.
Rani yang berdiri di dekat jendela langsung mengangguk setuju, selama bertahun-tahun Kirana memang selalu seperti itu. Ia lebih suka menyimpan semuanya sendiri daripada membebani orang lain.
"Aku baik-baik saja." Kirana menunduk.
"Ayah tidak bertanya apakah kamu baik-baik saja." Ayahnya menatap putrinya lembut.
Kirana terdiam, kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa lebih sesak. Ia tidak tahu harus menjelaskan dari mana karena masalah yang sedang dihadapinya terlalu rumit untuk diceritakan dalam beberapa kalimat.
"Kalau tidak mau bercerita, Ayah tidak akan memaksa." Ayahnya menggeser tubuh sedikit agar lebih nyaman. "Tapi jangan memikul semuanya sendirian."
"Aku tahu." Kirana mengangguk pelan.
"Kamu selalu mengatakan itu." Ayahnya tersenyum.
Kirana menatap pria tua yang terbaring di hadapannya, dalam sekejap ia kembali merasa seperti anak kecil yang sedang dinasihati setelah membuat masalah. Bedanya, kali ini masalah itu bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan meminta maaf atau belajar lebih rajin.
Sementara itu, di luar kamar Rendra masih berdiri di koridor sambil memandangi lantai. Ia tidak masuk karena tahu kehadirannya hanya akan membuat keadaan semakin canggung namun pergi juga terasa salah karena ia masih ingin memastikan kondisi ayah Kirana baik-baik saja.
"Kalau terus berdiri di situ, lantainya bisa malu." Gavin menghampirinya.
Rendra mengangkat kepala.
"Apa?" Rendra mengernyit.
"Kamu melihat lantai dari tadi." Gavin memasukkan kedua tangan ke saku.
"Saya sedang berpikir." Rendra menghela napas.
"Itu juga yang membuat semua masalah ini terjadi." Gavin mengangguk serius.
Rendra menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa pahit, meskipun terdengar menyebalkan ada sedikit kebenaran dalam ucapan tersebut.
"Saya tidak datang untuk bertengkar." Gavin bersandar ke dinding.
"Lalu untuk apa?" Rendra bertanya pelan.
"Saya hanya penasaran." Gavin menoleh ke arahnya.
"Penasaran apa?" Rendra mengangkat alis.
"Kenapa orang yang punya istri seperti Kirana bisa berbuat bodoh." Gavin menggeleng pelan.
Rendra tidak langsung menjawab, pertanyaan itu terlalu sulit karena jawabannya tidak akan membuat siapa pun merasa lebih baik bahkan dirinya sendiri sudah berkali-kali menanyakan hal yang sama dalam beberapa hari terakhir.
"Saya juga tidak tahu." Rendra tersenyum hambar.
"Itu jawaban paling jujur yang saya dengar hari ini." Gavin mengangguk.
.
Malam mulai turun ketika dokter akhirnya memperbolehkan keluarga Kirana pulang bergantian untuk beristirahat, Rani memutuskan tetap menjaga ayah mereka malam itu sementara Kirana diminta pulang agar bisa bekerja keesokan harinya.
"Aku bisa tetap di sini." Kirana berdiri di dekat ranjang.
"Tidak bisa." Rani langsung menggeleng.
"Aku tidak lelah." Kirana mencoba membantah.
"Itu bohong." Rani menatapnya.
"Kamu juga belum istirahat." Kirana menunjuk kakaknya.
"Aku lebih keras kepala." Rani tersenyum.
Ayah mereka hanya menggeleng melihat perdebatan tersebut, kedua putrinya memang selalu seperti itu sejak kecil, saling mengkhawatirkan tetapi tidak pernah mau mengakuinya secara langsung.
"Aku akan datang pagi-pagi." Kirana akhirnya menyerah.
"Itu baru anak Ayah." Pria tua itu tersenyum puas.
"Kalau bukan anak Ayah, anak siapa?" Kirana mengangkat alis.
"Jangan mulai." Rani tertawa kecil.
Suasana di dalam kamar terasa jauh lebih hangat dibanding beberapa jam sebelumnya, setidaknya untuk sesaat Kirana bisa melupakan kekacauan yang menunggunya di luar rumah sakit.
.
"Aku antar kamu pulang." Aiden menghentikan langkah Kirana begitu mereka keluar dari kamar.
"Tidak perlu." Kirana menggeleng.
"Sudah malam." Aiden melirik jam tangannya.
"Saya bisa naik taksi." Kirana mencoba tersenyum tipis.
"Aku tidak bertanya." Aiden berjalan lebih dulu.
Kirana langsung memejamkan mata beberapa detik, kalimat itu mulai terdengar terlalu sering keluar dari mulut pria tersebut. Anehnya, untuk pertama kalinya ia tidak punya tenaga untuk berdebat.
"Bos terlihat senang." Gavin berjalan di belakang mereka.
"Saya tidak senang." Aiden membuka pintu lift.
"Itu wajah orang senang." Gavin mengangguk yakin.
"Kamu mau pulang sendiri?" Aiden meliriknya.
"Saya diam." Gavin langsung mengangkat kedua tangan.
Lift akhirnya tertutup dan membawa mereka turun menuju area parkir, tidak ada yang berbicara selama beberapa saat namun ketenangan itu berakhir ketika ponsel Kirana kembali bergetar.
Nama pengirim yang muncul membuat langkahnya terhenti dan isi pesan yang masuk membuat wajahnya perlahan kehilangan warna.
Rendra tidak memberi tahu semua hal. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui tentang alasan dia pindah ke Pradana Group.