NovelToon NovelToon
My Boss, My Mistake

My Boss, My Mistake

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.

Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.

Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.

Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.

Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.

Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.

Selamat membaca❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempat Yang Berbeda

Tak berapa lama kemudian, mobil Evan memasuki area parkir sebuah restoran yang berdiri megah di pusat kota. Shana yang sedari tadi sibuk memandangi jalan langsung menoleh ke arah luar jendela.

Matanya membuat perlahan. Restoran ini terlihat jauh lebih mewah daripada tempat makan yang biasa ia kunjungi.

Bangunannya tampak elegan dengan dominasi kaca tinggi yang memantulkan cahaya siang. Deretan tanaman hias tertata rapi di sepanjang pintu masuk. Dari luar saja, tempat ini sudah terlihat seperti lokasi untuk pertemuan penting para pebisnis atau acara makan malam kalangan atas.

"Pak."

"Hm."

"Ini makan siang atau rapat dengan menteri?"

Evan mematikan mesin mobil.

"Makan siang."

Shana menoleh tak percaya.

"Yakin kita makan siang di sini?"

Evan melepaskan sabuk pengamannya."

"Kenapa?"

"Tempat Ini terlihat mahal."

"Ya, dan saya lapar."

Jawaban itu membuat Shana terdiam.

Evan kemudian membuka pintu mobil dan ke luar terlebih dahulu.

Sementara itu, Shana justru sibuk memikirkan logika aneh bosnya. Kalau lapar, makan di tempat yang mahal? Apa memang begitu cara berpikir orang kaya. Sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya. Tidak. Kesimpulan itu terlalu berbahaya untuk dipercaya.

Segera ia mengambil tasnya lalu bersiap turun. Namun saat tangannya hendak meraih gagang pintu, pintu mobil itu tiba-tiba terbuka dari luar.

Shana membeku. Evan berdiri di sana. Satu tangannya memegang pintu mobil.

"Pak."

"Turun."

Shana berkedip beberapa kali.

"Saya bisa buka sendiri, Pak."

"Saya tahu."

"Lalu, kenapa bapak bukankan pintu untuk saya?"

Evan terdiam. Berpikir...

Karena aku harus bergerak cepat.

Kalimat itu muncul begitu saja di kepalanya. Namun tentu saja Itu bukan jawaban yang bisa ia ucapkan.

"Karena ingin saja."

Jawaban itu membuat Shana semakin bingung. Pria ini benar-benar aneh. Dan yang lebih aneh lagi, Evan terlihat sangat tenang mengatakannya. Seolah apa yang baru saja dilakukannya adalah hal paling normal di dunia.

Padahal jantung Shana sudah berdetak tidak karuan.

"Terima kasih, Pak."

Shana akhirnya turun dari mobil. Mereka kemudian berjalan berdampingan menuju pintu utama restoran. Begitu pintu kaca terbuka, suasana elegan langsung menyambut mereka.

Lampu gantung kristal menggantung indah di langit-langit tinggi. Alunan musik piano yang lembut terdengar mengisi ruangan tanpa mengganggu percakapan para pengunjung.

Interior restoran didominasi warna krem dan coklat yang memberikan kesan hangat sekaligus berkelas. Di beberapa sudut ruangan terdapat tanaman hijau dan lukisan-lukisan modern yang mempercantik suasana.

Seorang pelayanan datang menghampiri mereka, dengan senyum ramah.

"Selamat siang, Pak Evan."

Shana langsung menoleh, pelayan itu bahkan mengenal Evan. Tanpa banyak bicara, pelayan itu kemudian mengantar mereka menuju meja yang telah dipesan Evan sebelumnya.

Meja itu berada di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke pemandangan kota. Dari sana, gedung-gedung tinggi terlihat menjulang di bawah langit siang yang cerah. Pemandangannya begitu indah hingga membuat Shana tanpa sadar berhenti melangkah sejenak.

"Suka?"

Suara Evan membuatnya tersadar.

"Hah?"

"Pemandangannya."

"Oh..." Shana tersenyum kecil. "Bagus sekali."

Untuk sesaat Evan hanya menatapnya. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

"Bagus."

Mereka akhirnya tiba di meja makan. Shana hendak menarik kursinya sendiri. Namun lagi-lagi Evan bergerak lebih cepat. Pria itu menarik kursi tersebut untuknya. Membuat Shana kembali terdiam.

"Pak."

"Hm?"

"Saya bisa sendiri."

"Saya tahu."

"Kalau begitu?"

"Duduk." Titahnya singkat.

Akhirnya ia duduk sambil menahan rasa gugup yang sulit dijelaskan

Pelayan yang melihat interaksi mereka sampai tersenyum kecil. Dan itu membuat wajah Shana langsung memanas. Untungnya Evan tidak menyadarinya. Atau setidaknya begitulah yang ia pikirkan.

Tak lama setelah mereka duduk, pelayan yang sejak tadi memperhatikan mereka, menyerahkan buku menu.

Shana menerima dan langsung membuka halaman pertama. Lalu halaman kedua. Kemudian halaman ketiga. Semakin lama, alisnya semakin bertaut. Evan yang memperhatikannya dari seberang meja akhirnya bertanya.

"Ada masalah?"

Shana langsung menutup buku menu.

"Tidak ada."

"Kamu terlihat seperti sedang mengerjakan soal ujian."

"Saya hanya bingung."

"Bingung memilih?"

Shana mengangguk. "Terlalu banyak pilihannya."

"Biar saya pilihkan."

Evan pun memesankan makanan untuk mereka berdua. Shana diam-diam menatap Evan. Bosnya yang tampan ini, kenapa baik sekali hari ini. Kalau dipikir-pikir Evan selalu baik padanya, bukan hanya hari ini. Walaupun kadang tingkahnya suka membuat Shana bingung untuk mengartikan.

"Sudah puas melihatnya?"

Shana tersadar, lalu membuang tatapannya ke sembarang arah dengan cepat.

"Terima kasih pak sudah bantu dipesankan." Shana tersenyum, namun tak berani menatap Evan saat itu. Dan Evan juga ikut tersenyum menatap Shana yang tampak gugup.

Tak berapa lama kemudian pesanan mereka datang. Dua piring grilled salmon dengan saus lemon butter. Aroma makanan yang hangat langsung memenuhi meja.

Mata Shana langsung berbinar.

"Kelihatannya enak."

"Lapar?"

"Sedikit."

"Sedikit?"

Shana terkekeh.

"Baiklah, sangat lapar."

Sudut bibir Evan terangkat dengan sempurna. Membuat Shana menunduk pura-pura memperhatikan makanannya.

Bahaya. Sangat bahaya. Bosnya itu terlalu tampan saat tersenyum.

Mereka mulai memakan makanannya.Shana berusaha memotong fillet salmonnya. Namun potongan ikan itu justru hancur dan berantakan.

Evan memperhatikannya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengulurkan tangannya.

"Berikan."

"Hah."

Beberapa detik kemudian, piring Shana sudah berpindah ke hadapannya. Dengan gerakkan tenang, Evan merapikan potongan salmon itu menjadi bagian-bagian kecil yang mudah dimakan.

Shana hanya bisa menatapnya, terkagum dan tersenyum.

"Pak..."

"Hm..."

Bapak selalu seperti ini terhadap karyawan bapak?"

Evan berhenti sesaat.

"Tidak."

"Oh."

"Hanya karyawan yang hampir berkelahi dengan makanannya."

Terdengar tawa yang ke luar dari mulut Shana, membuat Evan tersenyum lagi dan lagi. Evan lalu mengembalikan makanan itu ke Shana, dan Shana mulai kembali menikmati makan siangnya.

Namun, beberapa menit kemudian insiden lain terjadi. Saat sedang makan, Shana melihat sesuatu di sudut bibir Evan.

Sedikit saus, awalnya ia berniat diam saja. Namun semakin lama ia melihatnya, semakin sulit untuk mengabaikannya.

"Pak."

"Hm."

"Ada sesuatu."

Evan mengernyit.

"Apa?"

"Di sini." Shana menunjuk sudut bibirnya sendiri.

Evan mencoba mengusapnya, namun meleset.

"Masih ada."

Evan mencoba lagi. Tetap tidak tepat. Shana menggigit bibir bawahnya. Lalu tanpa berpikir panjang, ia mengambil selembar tisu.

"Sebentar."

Shana sedikit mencondongkan tubuhnya. Evan membeku. Shana mengusap sudut bibir Evan dengan perlahan.

"Sudah."

Suasana langsung hening, tidak ada yang bicara, tidak ada yang bergerak. Untuk beberapa detik, mata mereka langsung bertemu. Shana baru menyadari betapa dekat jarak mereka saat ini. Tangannya yang masih memegang tisu perlahan menegang. Kenapa jantungnya berdetak sekencang ini? Padahal ia hanya membantu membersihkan sedikit saus di sudut bibir pria itu.

Hanya itu, tidak lebih. Namun entah kenapa keadaan sederhana itu terasa jauh berbeda. Evan sendiri tidak segera mengalihkan pandangan. Tatapannya tertahan pada wajah Shana.

Pada wanita yang beberapa hari lalu, hanya ia anggap sebagai bawahannya. Kini, tanpa ia sadari, wanita itu telah menempati tempat yang berbeda di hatinya. Tempat yang tidak pernah berhasil dimiliki siapapun sebelumnya.

-My Boss, My Mistake-

1
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
tinggal jwb aja saya juga suka sama km
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah mampir ketempat tinggal Shana, semoga kedepannya bisa cepat go publik 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Akhirnya jadian juga 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Shana : saya juga suka sama kamu boss🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
jawab iya Shana 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Nena ngapain sih datang segala, merusak suasana saja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nah kan ketahuan nenek 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa kalian lucu 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa gak duduk di balkon apa ruang tamu aja malah telfonan 🤣
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah lah Evan, cepat sat set halalin aja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
bener ya nenek cuma bilang apa yang terlihat 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
tidak merepotkan, malah senang ya Evan 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek menceritakan masa kecil Evan
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
Diterima ga ya🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒: terima aja kak 🤭
total 1 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
ngapain sih Nena ada disnaa JD kan ke ganggu
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek benar, Evan gak bisa berpaling darimu Shana 🤭
⃟ ⃟🐬🅿!💤©€$™_- 🐟
ehekkk... hayooo Shanaaa😂🤭
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
terus terang aja kalian tuh PD saling memikirkan
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
kalian sudah cocok kayaknya knp gak jadian aja
Maura Ayna
semangat terussss, halalkan hubungan mereka🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!