Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Cuci Uang
"U-Uda ... Sejak kapan dana sebesar ini ada di perusahaan kita?" Jemari Anto bergerak cepat, matanya mengawang mencoba menghitung dana terakhir kali ia cek.
"Uda, masa dalam dua hari telah terkumpul .... LIMA RATUS MILIAR RUPIAH?!" pekik Anto dengan suara yang melengking tinggi, nyaris membuat speaker ponselnya pecah.
Mila yang mendengar angka itu langsung menjatuhkan kalkulator ilmiahnya ke lantai, sementara Imar yang tadinya santai langsung menegakkan duduknya dengan mata melotot laksana melihat hantu siang bolong.
Di tengah kehebohan gudang yang mendadak gaduh oleh jeritan histeris Anto, Budiman hanya tersenyum misterius. Otak pedagangnya sudah menyusun rencana baru yang jauh lebih gila untuk babak selanjutnya.
"Baik lah, kalian semua sudah mendengarnya bukan?"
Semua anggota mengangguk mantap.
"Lalu, dengan dana itu, apa yang hendak Uda rencanakan?"
"Demi keberkahan hasil usaha kita ini, lebih baik kita cuci dulu uang-uang itu," ucap Budiman dengan senyum penuh perhitungan.
Anto, Imar, dan Mila membelalakkan mata. "Cuci uang?" ucapnya dengan sentakan keras secara bersamaan.
"Jangan, Da. Nanti Uda bisa ditangkap polisi. Nanti siapa lagi yang mimpin 23 Budiman Mart kalau Uda dipenjara. Kami belum sanggup memanajemen semuanya kalau Uda tak ada," ucap Anto gigit jari.
"Sontoloyo!" decak Budiman yang mengerti arah ucapan Anto.
"Maksud Uda, kita sedekahkan dana yang telah kita dapat ini!"
Mendengarkan ucapan Budiman, seketika hati ketiga makhluk berbeda karakter itu tersentuh. Tiba-tiba, hati mereka terasa hangat dengan mata berbinar.
"Uda ... Uda benar-benar pahlawan. Tak heran saat kemarin Mila audit bersama teman-teman, subsidi silang yang Uda berikan sungguh sangat bermanfaat bagi masyarakat kita," ucap Mila dengan mata berbinar-binar.
"Uda ... Uda memang pantas menjadi junjungan Awak," sela Anto. "Jadi, berapa rencana dana yang hendak kita kucurkan?" tambahnya.
"Delapan puluh persen dari dana yang kita punya," ucap Budiman ringan.
Semua mata kembali terbelalak. Kali ini seakan ingin keluar dari tempatnya.
"Uda, yang benar aja? Masa 80 persen dari dana yang kita punya?" tolak Imar, selaku adik ikut berbicara.
"Tidak apa. Ini kita membersihkan penghasilan yang bukan hak kita. Ingat! Setiap pendapatan yang kita miliki, ada hak orang lain," ucap Budiman sok ikhlas.
Tanpa mereka sadari, di balik pintu gudang itu, Vilmey turut serta mendengar musyawarah yang tak mengajak dirinya. Vilmey turut terenyuh. Teringat akan kebaikannya yang begitu saja mengucurkan dana 200 juta untuk kompleks pemakaman tionghoa. Dengan ringan melempar tiga miliarnya membuat NagariShop yang ia pimpin kini, juga menjadi e-commerse raksasa di negara ini.
Sementara itu, Budiman asik dengan pikirannya sendiri. ‘Kalau awak harus kaya, setidaknya awak harus menjadi kaya yang berguna. Dan yang paling penting ... awak harus membersihkan rekening ini agar Sistem tidak punya alasan memaksa awak memilih gadis-gadis itu!’ batin Budiman, sebuah ide brilian mendadak muncul di kepalanya.
Budiman dengan sengaja memutuskan untuk menurunkan hartanya secara massal kepada pihak yang benar-benar membutuhkan di seluruh dunia.
"Nah, malam ini juga, kita akan menurunkan dana itu ke seluruh penjuru dunia yang membutuhkan."
Tanpa ragu, jemarinya mengetik nominal fantastis. 80% dari total kekayaannya, alias Rp400 Miliar, langsung dia sebar detik itu juga. Dana ratusan miliar itu mengalir deras ke berbagai belahan dunia; mulai dari bantuan kelaparan di Afrika, bantuan untuk masyarakat di Gaza, pembangunan sekolah di pedalaman Papua, hingga renovasi panti asuhan di berbagai negara.
Empat orang yang menyaksikan berlinangan air mata. Betapa bersihnya hati pria dengan rambut acak-acakan yang setia memakai baju kaos putih longgar lusuh itu
Setelah mentransfer sebagian besar uangnya, Budiman mengembuskan napas lega. Rekeningnya kini menyusut drastis menyisakan Rp100 Miliar saja. Uang segitu bagi Budiman sudah sangat "sedikit" dibanding sebelumnya.
Dengan begini, dia bisa keluar dari toko dengan kepala tegak, menghadapi Vilmey dan emak-emak Tarusan lalu berkata: "Maaf semuanya, Ambo sudah miskin lagi, uang Ambo sudah habis disumbangkan atas nama pribadi. Perjodohan ini kita batalkan saja."
Namun, sebelum rencananya itu terjadi, du saat Budiman hendak memutar grendel pintu gudang, udara di sekitarnya mendadak membeku. Cahaya hologram dari Sistem mencuat keluar, berkedip-kedip dengan warna merah menyala disertai bunyi alarm yang memekakkan telinga.
[ DING! ]
[ Deteksi Pelanggaran Finansial Berat Tingkat Korporasi! ]
[ Detail Pelanggaran: Anda terdeteksi memindahkan dan mengeluarkan dana terikat sebesar Rp400.000.000.000,00 atas nama pribadi, BUKAN untuk kepentingan ekspansi bisnis atau operasional resmi Budiman Mart! Tindakan ini dikategorikan sebagai penggelapan modal demi pencitraan sosial individu! ]
Budiman melotot. "Hah?! Penggelapan modal?! Uang itu kan milik awak, Sistem gilo! Awak cuma mau beramal!" protes Budiman setengah berteriak pada kekosongan.
Sistem sama sekali tidak peduli pada pembelaan moral manusia. Teks merah itu berganti dengan cepat dengan plintiran yang jauh lebih mengerikan.
[ Sanksi Tahap Pertama: Mengaktifkan Klausul Ganti Rugi Reputasi Korporat! Dana Rp400 Miliar yang Anda keluarkan dinilai sebagai 'Investasi Citra Merek Global'. Sistem otomatis melakukan klaim balik dan MENGALIKAN 100X LIPAT dana tersebut sebagai keuntungan eksternal! ]
[ Jumlah Transfer Masuk: Rp40.000.000.000.000,00 (Empat Puluh Triliun Rupiah) telah dikreditkan ke rekening utama Anda! ]
Gubrak!
Budiman langsung terduduk lemas di lantai gudang. Empat puluh triliun rupiah baru saja mendarat di ponselnya seperti meteor jatuh.
[ Karena pelanggaran berat ini terjadi tepat di akhir batas waktu Misi 24 Jam, maka status Misi Perjodohan Anda resmi ditangguhkan dan diganti dengan ... MISI HUKUMAN SKALA NASIONAL! ]
[ Hukuman Sistem: Sebagai hukuman karena telah mengeluarkan dana terikat secara ilegal, Anda DIWAJIBKAN untuk segera membuka 1000 Cabang Budiman Mart baru yang menyebar di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke dalam waktu singkat! ]
[ Konsekuensi Gagal: Jika dalam batas waktu yang ditentukan target 1000 cabang tidak tercapai, sisa modal aktif di rekening Anda otomatis akan DIKALI LIPATKAN 1000 OLEH SISTEM! ]
Budiman memegangi dadanya, napasnya kembali memburu. Bukannya berhasil lolos dari misi perjodohan dan membersihkan rekening, dia malah dibombardir uang puluhan triliun dan dijatuhi hukuman kerja paksa membuka seribu cabang di seluruh penjuru Nusantara!
Anto yang masih memperhatikan laporan keuangan, tiba-tiba membelalakan mata.
"Uda! Uda Diman! Barusan ada notifikasi gila dari server pusat! Ada dana masuk sebesar 400 Triliun. Sistem internal kita mendeteksi ada perintah ekspansi paksa massal skala nasional! Kita disuruh buka seribu cabang baru sekarang juga di seluruh wilayah Indonesia!"
Mila terbelalak dan Vilmey ikut melangkah masuk ke dalam gudang dengan ekspresi wajah yang campur aduk menatap Budiman yang terduduk pasrah di lantai.
[ bersambung ]