Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 14 : Cincin yang Hilang
Pagi itu, langit di atas kediaman Mahendra tampak kelabu, sewarna dengan mendung yang entah mengapa sejak semalam enggan beranjak dari hati Nadira. Sejak insiden di restoran hotel malam itu, atmosfer di dalam kamar utama terasa kian mencekam. Jarak yang sengaja dibangun oleh Nadira kini terasa seperti jurang pemisah yang teramat dalam.
Nadira berdiri di depan wastafel kamar mandi, bersiap untuk membasuh wajahnya sebelum turun ke bawah. Namun, saat kedua telapak tangannya hendak menampung air, ia merasakan ada sesuatu yang janggal pada jemarinya. Sesuatu yang ringan, tetapi memiliki bobot tanggung jawab yang besar di dalam rumah ini.
Mata Nadira seketika membelalak. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
Cincin pernikahan kontraknya tidak ada di jari manisnya.
"Astaga... di mana?" bisik Nadira, suaranya bergetar hebat dibayangi rasa panik yang mendadak menyerang.
Ia segera memeriksa nakas, membalikkan bantal di sofa tempatnya tidur, hingga meraba-raba sela-sela karpet berbulu tebal di sudut kamar. Nihil. Cincin emas putih polos yang menjadi simbol pengikat legalitasnya dengan Arka itu lenyap tanpa jejak. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Bagi seorang wanita biasa yang terjebak dalam pusaran keluarga konglomerat, hilangnya benda sekecil itu bisa menjadi sebuah bencana besar.
Dengan langkah tergesa-gesa dan napas yang memburu, Nadira turun ke lantai bawah. Ia menelusuri setiap sudut yang sempat ia lewati kemarin sore—mulai dari ruang tengah, koridor belakang, hingga area dapur bersih.
"Nyonya Muda, ada apa? Kok tampaknya panik sekali?" tanya Mbok Nah yang sedang menata cangkir teh, menyadari raut wajah Nadira yang pucat pasi.
"Mbok... apa Mbok Nah melihat cincin saya? Cincin yang biasa saya pakai di jari ini," tanya Nadira dengan suara yang mulai serak, menunjukkan jari manisnya yang kosong.
Mbok Nah ikut terkejut, meletakkan cangkirnya dengan tergesa. "Waduh, mboten pirsa, Nyonya. Kemarin malam waktu Nyonya membawa kembali tas bekal, Mbok tidak begitu memperhatikan jari Nyonya. Mari Mbok bantu cari di sekitar sini."
---
Kegaduhan kecil di area dapur itu rupanya tidak berlangsung lama dalam kesunyian. Langkah kaki yang anggun namun sarat akan ketegasan terdengar mendekat. Ibu Sarah, yang pagi itu kebetulan menginap di kediaman utama karena ada urusan yayasan sosial, melangkah masuk ke dapur dengan dagu yang terangkat tinggi. Di belakangnya, Arka berjalan dengan setelan jas kerjanya yang rapi, tampak bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut? Mbok Nah, kenapa pekerjaanmu belum selesai?" tegur Ibu Sarah, suaranya yang dingin seketika membekukan suasana dapur.
Nadira membalikkan badan, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. "Maaf, Nyonya... saya sedang mencari cincin pernikahan saya. Sepertinya terjatuh atau terselip di suatu tempat."
Mendengar kata 'cincin hilang', sepasang mata Ibu Sarah seketika menyipit tajam. Sebuah senyuman sinis yang penuh dengan kepuasan instan terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah tua. Ini adalah momentum yang sudah ia tunggu-tunggu untuk menyingkirkan wanita yang ia anggap sebagai noda di dalam silsilah keluarga Mahendra.
"Cincin pernikahan hilang?" Ibu Sarah tertawa mengejek, suaranya menggema sinis. "Jangan bercanda, Nadira. Cincin itu terbuat dari emas murni dan berlian mikro pilihan keluarga kami. Bagaimana bisa benda berharga seperti itu hilang begitu saja kalau tidak sengaja kamu... *amankan*?"
Nadira tersentak, wajahnya kian memucat. "Maksud Nyonya apa? Saya benar-benar tidak sengaja menghilangkannya. Saya sedang mencarinya sekarang."
"Oh, tolonglah, jangan berlagak polos di depanku," serang Ibu Sarah, melangkah maju dua langkah hingga jarak mereka kian dekat. "Sejak awal, semua orang juga tahu kamu menikah dengan Arka hanya untuk mengincar hartanya. Dan sekarang, setelah berita tentang Arka dan Selena mulai naik lagi di media pagi ini, apa kamu panik? Kamu takut posisimu terancam lalu sengaja menjual cincin itu demi mendapatkan uang simpanan sebelum diceraikan?"
"Sarah! Jaga bicaramu!"
Sebuah suara bariton yang tegas terdengar dari arah pintu masuk dapur. Opa Wijaya muncul dengan kursi rodanya, didampingi oleh Suster Siska. Wajah sepuh sang kakek tampak memerah menahan amarah mendengarkan tuduhan keji menantunya.
"Papa jangan selalu membela perempuan ini!" balas Ibu Sarah, tidak mau kalah. "Cincin itu adalah simbol kehormatan keluarga Mahendra! Kehilangan benda itu sama saja dengan menginjak-injak harga diri Arka! Mana ada seorang istri yang sah bisa menghilangkan cincinnya jika bukan karena sengaja dijual?"
Nadira menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai menggenang di sudut mata. Penghinaan ini terasa berkali-kali lipat lebih menyakitkan karena kejadian semalam masih menyisakan luka yang menganga di hatinya. "Saya bersumpah, Nyonya, saya tidak pernah menjualnya. Saya tidak pernah menginginkan uang dari cincin itu. Saya hanya... saya lupa di mana terakhir kali meletakkannya."
"Bantahanmu tidak ada gunanya, Nadira. Buktinya jarimu kosong!" tuduh Ibu Sarah lagi dengan nada yang kian meninggi.
Di tengah perdebatan yang kian memanas, Nadira secara refleks menoleh ke arah Arka yang sejak tadi berdiri diam di dekat meja makan. Ia menatap suaminya dengan pandangan penuh harap—berharap pria yang malam lalu ia lihat begitu dekat dengan Selena itu setidaknya mau mengeluarkan satu patah kata saja untuk melindunginya, atau setidaknya mempercayai kejujurannya.
Namun, Arka tetap bergeming.
Pria itu berdiri tegak dengan kedua tangan yang disembunyikan di dalam saku celana. Tatapan matanya yang tertuju pada Nadira terasa begitu datar, kosong, dan tidak terbaca. Pikiran Arka sendiri sebenarnya sedang berkecamuk hebat. Di satu sisi, ia baru saja melihat artikel gosip foto dirinya dan Selena yang menyebar di internet pagi ini, dan di sisi lain, ia belum mengetahui fakta sebenarnya mengenai hilangnya cincin tersebut. Sebagai seorang pria yang terbiasa bertindak berdasarkan bukti empiris dan logika, Arka memilih untuk tetap diam sampai ia menemukan kebenarannya sendiri.
Melihat diamnya Arka, hati Nadira rasanya seperti dihantam oleh gada yang sangat besar hingga hancur berkeping-keping. Kekecewaan yang amat dalam menjalar di seluruh dadanya. Diamnya Arka pagi ini terasa seperti sebuah konfirmasi bahwa pria itu sama sekali tidak memercayainya, sama seperti pria itu yang tampaknya lebih memilih menyembunyikan hubungannya dengan Selena di belakangnya.
Nadira menundukkan kepalanya, membiarkan setetes air mata jatuh membasahi lantai marmer dapur yang dingin. Tidak ada gunanya lagi ia membela diri jika sang suami kontraknya sendiri memilih untuk menjadi penonton dalam upacara penghakimannya.
---
Suasana kaku dan penuh tekanan itu terus berlanjut hingga dua jam berikutnya. Arka belum juga berangkat ke kantor, tertahan oleh Opa Wijaya yang memerintahkan seluruh pelayan untuk membalikkan seisi rumah demi mencari cincin tersebut. Nadira sendiri memilih duduk diam di sudut ruang tengah, mendekap kedua tangannya yang terasa dingin tanpa syal hangatnya.
Tiba-tiba, dari arah halaman belakang, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Seorang pelayan kecil bernama Ani, yang bertugas membantu Mbok Nah merawat tanaman hias, berlari masuk dengan wajah yang kemerahan karena kehabisan napas. Di tangannya, ia membawa sepasang sarung tangan kain tebal berwarna hijau yang biasa digunakan untuk berkebun.
"Mbok... Tuan... Nyonya!" panggil Ani dengan suara terengah-engah.
"Ani! Ada apa kamu lari-lari seperti itu? Tidak sopan!" tegur Mbok Nah.
"Ini... ini, Mbok! Saya tadi mau mencuci sarung tangan berkebun yang dipakai oleh Nyonya Muda Nadira kemarin sore waktu merawat bunga mawar bersama Opa. Waktu saya balik bagian dalamnya... ada benda ini tersangkut di kainnya!"
Ani mengulurkan telapak tangannya. Di atas kulitnya yang kecokelatan, sebuah cincin emas putih polos berkilau dengan sangat indah di bawah siraman cahaya lampu ruang tengah.
Suasana seketika menjadi hening seketika.
Ibu Sarah yang sedang meminum tehnya langsung tertegun, cangkirnya berdenting keras di atas tatakan. Wajah wanita paruh baya yang tadinya penuh kemenangan itu kini mendadak kaku dan memerah karena rasa malu yang luar biasa. Semua tuduhan keji yang ia lontarkan dua jam lalu runtuh seketika tanpa sisa.
Nadira mendongak, menatap cincin itu dengan pandangan kosong. Ia baru teringat bahwa kemarin sore, sebelum ia pergi membuatkan sup untuk kakek dan berangkat ke kantor Arka, ia memang sempat membantu Opa Wijaya merapikan pot tanaman di taman belakang menggunakan sarung tangan tebal tersebut. Karena jarinya yang sedikit mengurus belakangan ini akibat tekanan batin, cincin itu rupanya lolos dari jarinya tanpa ia sadari dan tertinggal di dalam kain sarung tangan.
Mbok Nah segera mengambil cincin itu dan menyerahkannya kepada Nadira dengan sapaan lembut. "Ini, Nyonya Muda. Cincinnya sudah ketemu. Alhamdulillah..."
Nadira menerima cincin tersebut, menggenggamnya erat di dalam kepalan tangannya. Tidak ada rasa lega atau kemenangan di wajahnya, yang ada hanyalah sebuah kelelahan emosional yang teramat sangat.
Opa Wijaya memandang ke arah Ibu Sarah dengan tatapan yang sangat tajam. "Sekarang, siapa yang naif, Sarah? Kamu sudah memfitnah menantuku tanpa bukti. Minta maaf padanya sekarang juga!"
Ibu Sarah mendengus kasar, memalingkan wajahnya dengan angkuh. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk meminta maaf, ia menyambar tas bermereknya dan melangkah pergi keluar dari rumah dengan tergesa-gesa, meninggalkan rasa canggung yang mendalam di ruang tengah.
---
Setelah situasi perlahan mulai mereda dan para pelayan kembali ke tugas masing-masing, Arka melangkah mendekati tempat Nadira duduk. Sepasang matanya menatap lurus ke arah jemari Nadira yang kini sedang memasukkan kembali cincin tersebut ke jari manisnya dengan gerakan yang lambat.
Ada rasa tidak nyaman yang luar biasa yang kini mencubit dinding hati Arka. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak ini dimulai, Arka merasakan sebuah gejolak rasa bersalah yang teramat sangat. Diamnya dia tadi pagi, yang semula ia anggap sebagai tindakan netral dan logis, kini ia sadari telah memberikan luka yang dalam bagi wanita di hadapannya. Ia telah membiarkan ibunya menginjak-injak harga diri Nadira tanpa ada pembelaan sedikit pun dari dirinya sebagai seorang suami—bahkan untuk ukuran suami kontrak sekalipun.
Arka berdeham kecil, berusaha mencairkan kekakuan di antara mereka. "Nadira..."
Nadira tidak mendongak, ia tetap mematung menatap jarinya.
"Mengenai yang tadi... saya minta maaf," ucap Arka, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. Kalimat maaf itu singkat, kaku, khas seorang Arka Mahendra yang tidak pernah terbiasa mengakui kesalahan kepada orang lain. "Saya hanya tidak ingin mengambil kesimpulan terlalu cepat sebelum ada bukti yang jelas."
Mendengar kalimat maaf dari pria yang semalam terlihat begitu serasi bersama Selena itu, Nadira perlahan-lahan menegakkan kepalanya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik Arka. Tidak ada kemarahan di dalam mata jernih Nadira, tidak ada pula air mata yang menetes seperti tadi pagi. Yang ada hanyalah sebuah kekosongan yang teramat sunyi.
Nadira menarik sudut bibirnya, menampilkan sebuah senyuman tipis—sebuah senyuman indah yang biasa ia gunakan untuk menenangkan anak-anak di kelasnya, namun kali ini senyuman itu menyimpan sebuah luka mendalam yang tersorot jelas dari balik binar matanya.
"Tidak apa-apa, Pak Arka," jawab Nadira, suaranya terdengar sangat tenang, bahkan terlalu tenang hingga membuat Arka merasa makin tidak nyaman. "Anda tidak perlu meminta maaf. Tindakan Anda sudah sangat benar dan logis. Bagaimanapun juga, di dalam rumah ini... posisi saya memang selalu menjadi pihak yang paling mudah untuk dicurigai. Saya sangat memahaminya."
Nadira menjeda kalimatnya sejenak, berdiri dari kursinya sambil merapikan tas kerjanya yang akan ia bawa ke sekolah. "Saya berangkat mengajar dulu, Pak. Permisi."
Nadira melangkah pergi melewati Arka begitu saja tanpa menoleh lagi, meninggalkan aroma harum tubuhnya yang samar berbaur dengan hawa dingin yang mendadak menyelimuti koridor rumah.
Arka tetap berdiri terpaku di tempatnya, menatap punggung Nadira yang kian menjauh hingga bayangannya hilang di balik pintu depan. Kepalan tangan Arka di dalam saku celananya kian mengeras. Kata-kata Nadira yang bernada pasrah namun sarat akan sindiran halus itu terasa seperti tamparan keras bagi egonya yang tinggi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang Arka Mahendra—pria yang selalu merasa paling benar dengan segala keputusan bisnis dan logika dinginnya—harus menelan rasa bersalah yang teramat pahit karena menyadari bahwa diamnya dia hari ini telah meretakkan sesuatu yang baru saja mulai tumbuh dengan indah di dalam hati sang istri kontrak.