Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saintess yang Terlalu Manis
Saintess Seraphina tersenyum seperti bunga yang disiram embun pagi.
Sayangnya, aku sedang berada di penjara, belum mandi dengan benar, rambutku kusut seperti baru berkelahi dengan badai, dan tiga hari lagi kepalaku dijadwalkan berpisah dari tubuh. Jadi, sejujurnya, senyum seindah apa pun tidak akan membuatku merasa damai.
Apalagi senyum Seraphina.
Dalam novel, senyum itu digambarkan sebagai senyum yang mampu menenangkan hati semua orang. Bagi Putra Mahkota, itu senyum penyelamat. Bagi rakyat, itu senyum malaikat. Bagi bangsawan, itu senyum calon ratu yang sempurna.
Bagi aku sekarang, itu senyum orang yang terlalu percaya diri karena semua orang sudah memihaknya.
"Lady Evangeline," ucap Seraphina lembut. "Aku tahu kau pasti sangat takut. Karena itu aku datang untuk mengatakan bahwa aku memaafkanmu."
Aku menatapnya tanpa berkedip.
Mira yang berdiri di sampingku langsung berbisik, "Nona, itu momen indah. Biasanya orang yang dimaafkan akan menangis."
"Aku belum sempat bersalah," bisikku balik.
"Tapi kalau Nona menangis sedikit, mungkin suasananya lebih dramatis."
"Mira."
"Baik, hamba diam."
Seraphina masih tersenyum. Di belakangnya, dua pelayan perempuan menatapku dengan pandangan seolah aku adalah noda saus di gaun putih mereka. Salah satu membawa sekeranjang bunga lili. Satunya lagi membawa saputangan putih, mungkin untuk berjaga-jaga kalau Saintess ingin menangis dengan cantik.
Aku melirik Cassian. Duke Utara itu berdiri santai di dekat dinding sambil memegang cangkir teh. Bahkan di penjara, dia tampak seperti sedang menghadiri jamuan sore. Kalau besok terjadi gempa, aku yakin dia akan tetap sempat menanyakan jenis tehnya sebelum menyelamatkan diri.
"Memaafkan?" tanyaku akhirnya.
Seraphina mengangguk perlahan. "Ya. Aku tidak ingin kebencian membebani hatiku."
"Luar biasa." Aku tersenyum. "Tapi saya penasaran. Jika Anda yakin saya meracuni Anda, mengapa Anda mau datang ke sini tanpa takut saya menyerang lagi?"
Senyum Seraphina sedikit kaku. Sangat sedikit. Kalau aku masih jadi pembaca biasa, mungkin aku melewatkannya. Tapi sekarang hidupku bergantung pada membaca ekspresi orang, jadi aku memperhatikan semuanya, termasuk kedutan kecil di ujung bibirnya.
"Kau sedang dikurung," jawabnya. "Aku tidak punya alasan untuk takut."
"Benar. Tapi kalau saya sekejam yang orang katakan, bukankah saya bisa menyerang dengan kata-kata?"
Mira mengangkat tangan pelan. "Nona memang punya bakat itu."
Aku menoleh. Mira langsung menutup mulut.
Seraphina menunduk anggun. "Aku tidak datang untuk berdebat. Aku hanya ingin melihat keadaanmu."
"Keadaan saya?" Aku menunjuk sel. "Basah, lapar, belum mandi, dan memiliki jadwal eksekusi. Saya memberi nilai dua dari sepuluh untuk pengalaman menginap di sini."
Cassian terbatuk kecil. Entah batuk sungguhan atau menahan tawa. Aku harap yang kedua.
Pelayan Seraphina tampak tersinggung. "Lady Evangeline, Saintess sudah berbaik hati datang menjenguk Anda. Seharusnya Anda bersyukur."
"Saya bersyukur," jawabku. "Tapi saya juga bingung. Biasanya korban racun butuh istirahat, bukan tur keliling penjara."
Seraphina meletakkan tangan di dada. "Aku sudah jauh lebih baik. Berkat perlindungan Dewi, racun itu tidak mengambil nyawaku."
"Racun apa?"
Hening.
Pertanyaanku menggantung di udara seperti pisau kecil.
Seraphina berkedip. "Apa?"
"Saya bertanya racun apa yang digunakan." Aku memiringkan kepala. "Sebagai orang yang akan dihukum mati karena racun itu, saya rasa saya berhak tahu nama benda yang merusak masa depan saya."
Mira mengangguk serius. "Benar. Minimal Nona tahu musuhnya."
Pelayan Seraphina tampak hendak marah, tetapi Seraphina mengangkat tangan kecilnya. "Aku tidak terlalu mengerti. Tabib kerajaan hanya mengatakan racunnya berbahaya."
Cassian akhirnya bersuara. "Tabib kerajaan tidak pernah memberi nama racun?"
Nada bicaranya tenang, tetapi efeknya seperti membuka jendela di ruangan penuh asap.
Seraphina menatap Cassian. "Duke North, saya tidak menyangka Anda berada di sini."
"Saya juga tidak menyangka Saintess cukup sehat untuk mengunjungi tahanan yang diduga mencoba membunuhnya. Dunia penuh kejutan."
Aku hampir bertepuk tangan. Tidak jadi, karena tanganku masih bergetar akibat lapar.
Seraphina tersenyum lagi, kali ini lebih hati-hati. "Saya hanya ingin membawa kedamaian."
"Dengan bunga lili?" tanyaku.
Dia menoleh ke keranjang bunganya. "Ya. Bunga ini melambangkan kemurnian."
Aroma lili memenuhi sel. Tiba-tiba dadaku terasa sedikit sesak. Bukan sesak dramatis, tapi sesak aneh, seperti tubuh Evangeline mengenali bau itu.
Sebuah kilatan ingatan muncul di kepalaku.
Ruang pesta. Gelas kristal. Tangan ber sarung putih. Aroma lili. Tawa lembut seorang perempuan.
Lalu rasa sakit di dada.
Aku tersentak dan memegang jeruji.
"Nona?" Mira panik.
Seraphina melangkah maju. "Lady Evangeline? Kau tidak apa-apa?"
Aku menatap bunga lili di keranjangnya.
"Bawa bunga itu menjauh," kataku pelan.
"Apa?"
"Saya bilang, bawa bunga itu menjauh."
Mira langsung merebut keranjang itu dari pelayan Seraphina dengan gerakan yang mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri. "Maaf! Perintah Nona! Bunga cantik tapi mencurigakan dilarang mendekat!"
Pelayan Seraphina memekik. "Berani sekali kau!"
"Saya takut, tapi tangan saya sudah bergerak duluan!" Mira berteriak sambil memeluk keranjang bunga seperti memeluk bom.
Aku menarik napas perlahan. Begitu bunga itu menjauh, sesak di dadaku berkurang.
Cassian memperhatikan wajahku dengan sangat serius.
"Lady Evangeline," katanya. "Anda alergi lili?"
"Aku... tidak tahu." Jawabanku jujur. "Tapi tubuhku jelas tidak menyukainya."
Seraphina menunduk, wajahnya penuh penyesalan yang sempurna. "Maafkan aku. Aku tidak tahu."
Terlalu sempurna. Bahkan penyesalannya punya kualitas lukisan.
Aku tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Saintess. Banyak hal yang tidak kita tahu. Misalnya nama racun yang katanya hampir membunuh Anda."
Wajahnya tetap lembut, tetapi matanya berubah. Hanya sebentar. Satu detik. Cukup untuk membuatku yakin dia bukan gadis suci polos yang digambarkan novel.
"Aku harap kau menemukan kedamaian sebelum sidang," ucapnya.
"Saya lebih berharap menemukan bukti," jawabku.
Seraphina tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lagi, lalu berbalik pergi. Para pelayannya mengikuti, setelah menatapku seolah aku baru menendang anak kucing.
Saat langkah mereka menjauh, Mira langsung ambruk ke lantai sambil memeluk keranjang bunga.
"Nona, hamba baru saja merebut bunga dari Saintess. Apakah hamba akan dikutuk?"
"Kalau dikutuk, kita kutuk balik."
"Nona semakin menakutkan setelah kehilangan ingatan. Hamba bangga."
Cassian mendekat ke jeruji. "Anda melihat sesuatu saat mencium bunga itu."
Aku diam.
"Lady Evangeline."
Aku menatapnya. "Ingatan. Tidak jelas. Ada gelas, sarung tangan putih, dan aroma lili."
Mira mengangkat kepala. "Sarung tangan putih? Saat pesta, semua pelayan Saintess memakai sarung tangan putih."
"Semua?" tanyaku.
"Ya. Katanya agar terlihat suci dan bersih."
Aku mendengus. "Tentu saja. Bahkan pembunuhnya punya konsep busana."
Cassian tersenyum sangat tipis. "Kita perlu daftar pelayan Saintess."
"Dan daftar bunga," kataku. "Karena kalau bunga lili ada hubungannya dengan ingatan Evangeline, maka kunjungan tadi bukan kunjungan damai."
"Melainkan tes."
Aku mengangguk. "Dia ingin melihat apakah aku mengingat sesuatu."
Mira menutup mulut. "Jadi Saintess tidak datang untuk memaafkan?"
Aku menepuk bahunya pelan. "Mira, kalau seseorang datang memaafkan sebelum kita minta maaf, biasanya dia sedang memastikan kita tetap terlihat bersalah."
Mira tampak tercerahkan. "Wah. Hidup bangsawan rumit sekali. Di desa hamba, kalau orang marah, mereka langsung lempar sandal. Lebih jujur."
Aku hampir tertawa.
Tapi tawa itu berhenti saat seorang pengawal datang membawa pesan dari Putra Mahkota. Ia menyerahkan amplop bersegel kerajaan kepada Cassian, bukan kepadaku. Menyebalkan, tapi masuk akal. Reputasiku saat ini berada di bawah reputasi roti penjara.
Cassian membaca isi surat itu.
"Kabar baik," katanya.
"Aku tidak percaya kabar baik dari pria yang membuat kontrak bercahaya."
"Putra Mahkota memberi izin terbatas untuk memeriksa bukti."
Aku menegakkan tubuh. "Benarkah?"
"Besok pagi. Ruang penyimpanan istana. Dengan pengawasan."
Mira langsung bersorak kecil. "Nona! Kita punya kesempatan!"
Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak bangun sebagai villainess, aku merasa bukan sekadar menunggu mati.
Lalu Cassian melanjutkan, "Kabar buruknya, Saintess Seraphina juga akan hadir sebagai saksi korban."
Senyumku hilang.
Mira menoleh kepadaku. "Nona, apakah kita masih punya rencana?"
Aku menatap keranjang bunga lili di lantai.
Ada sesuatu di balik senyum Seraphina. Sesuatu yang lebih berbahaya dari racun.
"Punya," jawabku pelan. "Besok, kita tidak hanya memeriksa bukti. Kita akan memeriksa siapa yang paling takut bukti itu ditemukan."
Cassian mengangkat cangkir tehnya sedikit, seolah memberi salam.
"Akhirnya," katanya. "Anda mulai terdengar seperti seseorang yang pantas selamat."
Aku menatapnya datar. "Duke North, itu pujian?"
"Hampir."
"Saya terharu setengah mati."
Mira menjerit. "Nona, jangan pakai kata mati! Itu terlalu dekat dengan jadwal!"
Aku mendesah.
Tiga hari sebelum eksekusi, dan aku sudah punya tiga kepastian.
Pertama, Seraphina tidak sesuci kelihatannya.
Kedua, aroma lili menyimpan potongan ingatan Evangeline.
Ketiga, kalau aku berhasil selamat, aku akan melarang semua orang membawa bunga ke penjara.
Karena ternyata, di dunia ini, bahkan bunga bisa jadi ancaman pembunuhan yang sangat wangi.