NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dokter Azra ... tolong!

"Dokter... tolong anak saya, Dokter! Dokter Azra...!" suara ibu paruh baya itu hampir serak karena berteriak memanggil penghuni rumah dinas yang diketuknya berulang-ulang. ​

Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Sang penghuni rumah sedang tertidur telungkup di atas meja kerja. Sayup-sayup dia merasa ada suara yang berteriak memanggil namanya dalam mimpi. ​

"Dokter Azra... Dokter... tolong anak saya..." Kembali suara ibu paruh baya itu memecah keheningan malam diiringi gedoran pintu yang lebih keras. "Dokter... Dokter Azra... Anda di rumah, kan?" ​

Si empunya nama tersentak kaget. "Astaghfirullah... aku tertidur." Ia membuka mata dan berusaha mengumpulkan nyawa.

Kembali terdengar suara wanita memanggil namanya. Dengan sedikit tergopoh, dia bangkit dari kursi dan menyambar jilbab yang tergeletak di meja. ​"Astaghfirullah... maaf, Bu, saya tertidur," ujarnya cepat sambil membuka pintu. ​

"Dokter, anak saya terluka kakinya. Sobek dalam, jatuh dari sepeda sepulang mengaji di rumah Abah Qosim. Saya tidak tahu harus diapakan..." ujar sang ibu di sela isak tangis dan panik yang kentara.

Sang dokter celingukan ke sana sini seperti sedang mencari sesuatu, "Anaknya mana, Bu?"

"Di rumah, Dokter."

​"Ooo, baik. Sebentar, saya ambil peralatan dulu." Bergegas Dokter Azra mengambil tas peralatan medisnya, kemudian mengunci pintu rumah, "Mari, Bu!"

Tidak berapa lama, dua wanita itu telah berada di atas motor dinas milik dokter Puskesmas. Dokter Azra mengendarai motor dengan kencang, hingga jilbab hitamnya berkibar-kibar diembus angin malam yang dingin menggigit tulang. Beruntung, dia tidak lupa membalut tubuh mungilnya dengan jaket rajut warna putih peninggalan almarhum ibunya.

Sedangkan ibu paruh baya itu, memeluk erat kotak peralatan dokter sambil merapatkan tubuh yang renta ke punggung Dokter Azra. Berharap rasa dingin yang menyerang bisa sedikit berkurang. ​

Tiga puluh menit lamanya mereka berkendara dalam gelapnya malam, melewati kebun tebu dan sawah-sawah petani yang diperkirakan panen bulan depan.

Setelah melewati mushola kecil, motor mereka masuk ke halaman yang tidak begitu luas, untuk ukuran warga desa. Pelataran sempit, namun bersih terawat. ​Cahaya lampu dari rumah itu pun seadanya, tidak terlalu terang.

Setelah memarkirkan motor, Dokter Azra bergegas mengikuti ibu tadi masuk ke dalam rumah. ​Nampak bocah laki-laki tengah mengerang kesakitan di atas dipan tua. Ditemani seorang nenek yang berusaha menutup luka di kakinya dengan kain yang sudah bersimbah darah. ​

Tanpa banyak kata, Dokter Azra segera mensterilkan tangannya dengan cairan antiseptik, mengenakan masker, dan memakai sarung tangan.

"Tahan sebentar ya. Siapa namamu cah bagus?"

"Banu."

Dengan cekatan, dia membersihkan area luka dari kotoran, menghentikan perdarahan, dan melakukan tindakan penutupan dengan menjahit luka pada kaki Banu. Sementara itu, ibu dan nenek Banu berusaha memegang Banu supaya tidak meronta saat ditangani dokter. ​Sepuluh menit kemudian...

"Alhamdulillaah... Sudah selesai. Banu hebat, tidak banyak mengeluh. Setelah ini, makan dulu, baru minum obat ya..." Dokter Azra menyerahkan obat kepada ibu Banu. Wanita paruh baya itu mengerjakan apa yang dianjurkan oleh dokter dengan cepat.

Malam semakin larut, rumah berdinding gedek itu mulai sunyi. Sesekali terdengar erangan dari mulut Banu, mengisyaratkan rasa sakit di kakinya. ​

Dokter Azra berusaha memejamkan mata di atas dipan bambu yang sudah reot. Suara jangkrik dan tokek bersahutan memenuhi ruangan. Ya, Dokter Azra tidak pulang ke rumah dinas puskesmas.

Selama hampir satu tahun ini, dia terbiasa tidur di rumah warga yang membutuhkan pertolongannya di malam hari. Tidak mengharap imbalan, tidak mengharap penghargaan, hanya berharap apa yang dia lakukan bisa membantu kondisi orang yang butuh diselamatkan. ​

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!