NovelToon NovelToon
Younger, Yet More Mature

Younger, Yet More Mature

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinar

dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.

Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.

Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.

Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.

Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.

Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Kamu Juga Berhak Bahagia

Hari Sabtu datang begitu cepat dan sejak pagi Nayla sudah merasakan kegelisahan, berdiri didepan lemari hampir tiga puluh menit memilah dan memilih baju yang merasa tidak ada yang cocok sampai helaan nafas itu terdengar entah sudah berapa kali.

" Waahh... Waahh... Anak Ayah gugup ya.." sang Ayah ternyata sudah berdiri didepan pintu kamar dengan tertawa kecil.

" Ayaaaahhhh... Aku cuma belum terbiasa" Nayla langsung menoleh dengan rengekan.

" Tidak apa-apa Nak, pergi saja. Kalau laki-laki itu serius sama kamu tidak ada salahnya loh memberi kesempatan" sang Ayah tersenyum kecil dengan tatapan lembut.

Mendengar ucapan sang Ayah jantung Nayla terasa hangat, dan akhirnya cukup membuat dirinya percaya lalu mengangguk kecil.

Setelah kesibukan berkahir kini Nayara sudah mulai memasuki rumah keluarga Mahardika, terlihat bangunan itu jauh lebih besar dari apa yang telah ia bayangkan. Perasaan Nayla semakin gugup dengan segala keberisikan di kepalanya yang semakin riuh.

" Ar, aku boleh pulang lagi gak?" Nayara terlihat sekali gugup.

" Ehhh... kok pulang, enggak boleh" Arsen segera menolak.

" Ar tapi..."

" Udah santai aja percaya sama aku, enggak akan ada yang bisa nyakitin kamu selama masih ada aku disamping kamu" Arsen menatap wajah Nayla memberikan kekuatan.

Belum selesai dengan ucapannya kini pintu rumah sudah terbuka lebih dulu, dan seorang perempuan paruh baya dengan wajah yang masih segar langsung menyambut kehadiran Nayla san juga Arsen dengan senyuman hangat.

" YA AMPUUUNNN AKHIRNYA DATANG JUGA... Kamu dokter Nayla, ya?" ucap sang perempuan paruh baya dengan semangat yang tinggi.

Nayla membeku dalam keadaan berdiri, melihat tatapan perempuan itu yang terlalu hangat dan tulus, tidak ada tatapan menghakimi sama sekali seperti yang sudah ia bayangkan.

" Mama..." gumam Arsen pelan.

Seolah tidak menghiraukan ucapan sang anak, perempuan paruh baya itu malah langsung mendekat dan memeluk tubuh Nayla lembut.

" Cantik banget ya, pantesan Arsen sampe seberusaha itu" ucapannya diiringi tawa ringan.

Nayla dibimbing sang Ibu dari Arsen untuk masuk kedalam rumah, tapi saat langkah itu berlangsung tiba-tiba saja langkahnya mulai melambat. Jantung Nayla langsung terasa aneh, sudah sangat lama tidak ada seseorang yang menyambut dirinya sehangat ini.

Saat langkah itu menuju ruangan selanjutnya, terlihat diruang makan Ayah Arsen sedang membantu menata makanan dengan Arsen bahkan keduanya terlihat bercanda kecil, tertawa ringan sampai suasana rumah itu kini terasa hangat.

Tidak ada suara tinggi, tidak ada luka dan entah kenapa untuk beberapa detik mata Nayla terasa sedikit panas. Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang dulu sempat hilang, kini sebuah rumah sudah tidak lagi terasa menakutkan.

Malam hari setelah acara makan bersama dirumah keluarga Mahardika, Nayla duduk diam dikursi mobil sepanjang perjalanan pulang. Lampu-lampu jalan berkelebat di balik jendela, namun pikirannya masih tertinggal dirumah Arsen.

Di meja makan yang hangat ada tawa sederhana yang terdengar tulus, dari cara Ayah Arsen yang mengambilkan minum untuk sang istri. Cara mamanya Arsen berkali-kali menambahkan lauk ke piring semua orang, hal-hal kecil yang sederhana namun terasa asing karena selama bertahun-tahun Nayla tidak pernah lagi melihat keluarga seperti itu.

" Capek, hmm?" suara Arsen memecah keheningan dengan tangan yang kini terulur mengusap puncak kepalanya.

" Hmmm..." Nayla tersadar dari lamunannya.

" Ada apa? Kok kelihatan banyak pikiran banget" tanya Arsen.

" Iya mungkin..." Nayla tersenyum kecil.

Arsen tidak bertanya lebih jauh seperti biasa, ia selalu tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.

" Terimakasih ya, Nay" ketika mobil berhenti didepan rumah Nayla, Arsen menoleh pelan.

" Kok makasih, untuk apa?" Nayla mengernyitkan keningnya.

" Untuk hari ini, kamu sudah sangat hebat aku bangga" senyum kecil muncul diwajah laki-laki itu.

" Sama-sama" jantung Nayla kembali berdebar, entah mengapa laki-laki ini selalu berhasil membuatnya gugup.

" Selamat Malam, Nayla" ucap Arsen lagi.

" Selamat malam juga, Ar. Hati-hati dijalan ya" Nayla membalas tatapan itu beberapa detik.

Rumah terasa sepi ketika Nayla masuk, lampu ruang tamu masih menyala dan seperti biasa sang Ayah sedang duduk membaca buku. Namun malam ini entah kenapa Nayla tidak langsung masuk kamar, ia justru duduk di sofa seberang terdiam.

" Bagaimana?" Ayahnya menutup buku perlahan menatap sang putri.

" Mereka baik, Yah. Sangat baik malahan" Nayla tersenyum kecil.

Ayahnya mengangguk pelan seolah sudah bisa menduga jawaban dari sang anak, beberapa menit berlalu tidak ada yang bicara namun sang Ayah mengenal putrinya lebih dari siapapun. Ia juga tahu jika saat ini ada sesuatu yang sedang berputar-putar di kepala Nayla, sesuatu yang lebih besar dari pada sekedar makan bersama keluarga.

" Kamu takut ya?" kalimat itu terdengar sederhana, namun membuat Nayla terdiam.

" Aku... Aku bingung, Yah. Aku enggak tahu harus gimana" Matanya langsung turun, karena untuk pertama kalinya seseorang mengucapkan apa yang sebenernya ia rasakan.

" Semuanya terasa terlalu baik, aku takut percaya... Kalau nanti semuanya berubah? Bagaimana kalau nanti aku ditinggalkan?" dada Nayla terasa sesak saat ini, tangannya saling menggenggam satu sama lain seolah sedang berusaha menahan sesuatu.

" A... Ak... Aku... Aku capek kalau harus kehilangan lagi" suara Nayla mulai bergetar.

Untuk beberapa detik Ayahnya tidak langsung menjawab, ia hanya memandang putrinya dengan tatapan yang sangat lembut. Tatapan seorang ayah yang selama bertahun-tahun menyaksikan anaknya memikul luka terlalu besar.

" Nayla... Kamu tahu enggak?" suara yang ayah terdengar rendah.

Nayla yang saat ini tengah menundukkan kepalanya, perlahan mengangkat wajahnya.

" Kamu terlalu lama menghukum dirimu sendiri, Ayah enggak pernah marah karena kamu merasa takut" Ayahnya kini tersenyum kecil.

" Tapi Ayah sedih, karena sejak ibumu pergi... Kamu berhenti memberikan kesempatan pada dirimu sendiri untuk bahagia" suara lelaki itu terdengar berat, sedangkan Nayla matanya mulai memanas.

Kalimat itu menghantam tepat dihati Nayla, dan untuk pertama kalinya pertahanan itu mulai retak.

" Kamu selalu berpikir semua orang akan pergi, kamu selalu berpikir semua hubungan akan berkahir sama ... Tapi Nak, tidak semua orang adalah orang yang akan menyakiti kamu..." Ayahnya tersenyum tipis.

Air mata Nayla pertama akhirnya jatuh, satu tetes kemudian satu lagi dan Nayla langsung menunduk. Karena ia hampir lupa bagaimana rasanya menangis, sudah terlalu lama sejak malam ketika keluarganya runtuh.

Terlalu lama sejak ibunya pergi, sejak dirinya memutuskan untuk menjadi kuat bahkan sampai lupa bahwa dirinya juga manusia.

" Tidak apa-apa lepas saja rasa sedih dan sakit itu, Nak. Ayah disini..." suara Ayahnya terdengar pelan.

Dan kalimat sederhana itu menghancurkan seluruh bendungan yang selama ini ia bangun, Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan. Nayla menangis untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, menangisi masa kecil yang hilang, menangisi rasa kecewa dan semua rasa ketakutan yang selama ini ia simpan sendiri.

Malam itu Ayahnya hanya duduk disana, menemani tanpa menghakimi, tanpa menyuruh berhenti karena kadang-kadang yang dibutuhkan seseorang hanyalah tempat aman untuk runtuh.

1
partini
Thor kehidupan Nayla mirip Vania novel berjudul jodoh pilihan mama ibu nya kaya iblis tapi di sayang bngttttttttttttttttt sama mertuanya
Almeera: Oh ya kak? nanti aku coba mampir yaa 😍😍


Hihihi tapi Nayla ini murni karangan aku aja kak 🙏🙏🥲
total 1 replies
SANG
Lanjut dek💪👍
SANG
Semangat ya dek💪👍
partini
suami nya kelihatan kecintaan Banggt kayanya ga mungkin deh slingkuh terus ningalin
partini: iya itu,,karma ga berlaku buat dia
total 2 replies
partini
udah hempas ke laut masa lalu yg menyakitkan,move on be happy kalian berdua seorang anak perempuan butuh ayah nya untuk jadi wali nikah kan
Almeera: Setujuu kak, hidup harus terus berjalan... kalau dia aja bisa santai kita bisa lebih cerah 😍😍
total 1 replies
partini
pastinya apa karam selalu ada berbuat baik di balas baik berbuat jahat di balas jahat juga,,kau memilih yg katanya hak is ok nikmati saja sekarang,kau meninggalkan suami dan anakmu nanti nya kamu dan anakmu di tinggal suami mu selingkuh
Almeera: Kakakkk setuju setiap perbuatan akan ada balasan dari semesta 🙏🙏

Terimakasih banyak sudah mampir dan meninggalkan jejak afirmasi positifnya dikarya sederhana ini 😍😍🙏
total 1 replies
SANG
Mantap banget dek💪👍
SANG: Masama dek
total 2 replies
SANG
Keren habis deh💪👍
SANG: Iya dek Kembali kasih
total 2 replies
SANG
Sembilan belas bunga untukmu dek/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG: Oke dek. 👍💪
total 2 replies
SANG
Aku fokus ya dek😄
SANG
Like iklan plus komen💪👍
SANG
Semangat ya dek💪👍
SANG
Iya, seperti itu lah
SANG
Iya ada apa
SANG
Akhirnya
SANG
Nah bingung kan
partini
ibunya kaya ga bersalah,,dasar ibu lacknat semoga kena penyakit
Almeera: Hehehe 😁😁
total 1 replies
SANG
Baya bunga se kebon untuk adek/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Almeera: thankyou kak🙏
total 1 replies
SANG
Kok bingung dek
SANG
Hadir dek👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!