NovelToon NovelToon
I Will Go To Your Destiny

I Will Go To Your Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: M.Khaidar Ali Fathan

Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bangsawan Gyle, dan Keinginan Devan

Pagi hari yang cerah menyambut Kerajaan Central dengan kehangatan sinarnya. Di dalam kamar tidur yang mewah, Alexa dan Kirana mulai menggeliat, terbangun dari tidur nyenyak mereka setelah petualangan malam sebelumnya.

​"Hoaammm... Aku benar-benar tidur pulas semalam," ujar Kirana sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.

​Alexa ikut terduduk di atas ranjang, memasang wajah penuh rasa syukur yang tampak begitu tulus. "Sama, Kirana. Aku juga tidur pulas dan senyaman ini sepanjang hidupku. Terima kasih banyak ya sudah mengajakku tidur di kasurmu. Kasurmu benar-benar sangat nyaman."

​"Tenang saja, kalau nanti-nanti kau ingin menginap di sini lagi, tinggal bilang saja," sahut Kirana ramah. "Eh, iya, kemarin kan aku janji mau mengajakmu keliling taman kerajaan. Ayo kita mandi dan sarapan dulu, Alexa!"

​"Ayo, Kirana!"

​Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, keduanya melangkah menuju ruang makan kerajaan. Begitu pintu terbuka, Alexa langsung terpaku. Ruangan itu sangat luas dengan meja kayu panjang yang membentang di tengahnya. Di atas meja tersebut, telah tersaji beraneka ragam hidangan mewah yang mengeluarkan aroma menggugah selera mulai dari roti panggang premium, sup hangat, daging asap, hingga buah-buahan segar yang ditata rapih oleh chef terbaik kerajaan.

​"Woowww... Banyak sekali makanannya?!" Alexa menutup mulutnya, berpura-pura syok berat. "Pasti habis beratus-ratus Ensert ini? Ini kau serius, makanan sebanyak ini dihidangkan hanya untuk sarapan kita berdua?"

​Kirana menghela napas pelan sambil mengambil piring. "Sebenarnya aku juga sering merasa sayang terhadap makanan yang dihidangkan sebanyak ini, apalagi kalau tidak termakan semua. Makanya, terkadang aku mengajak bibi pelayan atau prajurit yang berjaga untuk makan bersama. Kalau sekiranya setelah kita makan masakan ini masih sisa banyak, Ayah biasanya memerintahkan untuk membagikan makanan ini kepada seluruh pelayan dan prajurit."

​"Hebat ya... Kalau aku sih, sarapan biasanya hanya roti selai dan susu," tutur Alexa. "Kalau misal Ayah lagi panen banyak dan dapat bonus, biasanya kami baru bisa beli daging sapi. Itu pun jarang sekali terjadi."

​Kirana menatap temannya dengan rasa simpati. "Oh ya, omong-omong Ayahmu bekerja di mana, Alexa?"

​"Ayahku bekerja di salah satu perkebunan milik Bangsawan Gyle, milik Tuan Govaro Gyle. Yah, lumayanlah hasilnya buat mencukupi kehidupan sehari-hari kami," jawab Alexa, menyebutkan nama salah satu informasi yang diketahuinya.

​Mendengar nama itu, raut wajah Kirana langsung berubah ketus. "Keluarga Gyle? Salah satu bangsawan yang paling tidak kusukai! Waktu perjamuan agung para bangsawan di istana dulu, Govaro Gyle pernah mencaci maki pelayan kami dengan sangat kasar hanya karena pelayan itu tidak sengaja menumpahkan sedikit anggur ke sepatunya. Yang membuatku kesal, bangsawan-bangsawan lain yang melihat kejadian itu malah ikut-ikutan menatap sinis ke pelayan kami, seolah-olah pelayan itu adalah kotoran. Untungnya Ayahku yang melihat hal itu langsung memisahkan pelayan kami dari hinaan nya."

​"Kenapa Ayahmu tidak langsung mengusir Govaro Gyle saja dari Central?" tanya Alexa.

​"Karena faktor ekonomi," jawab Kirana. "Bangsawan Govaro memiliki banyak aset, tanah, dan bisnis yang tersebar di seluruh dunia. Dengan dia membuka banyak pintu pekerjaan, maka roda perekonomian kerajaan akan terus berputar dengan stabil. Begitu juga dengan bangsawan-bangsawan angkuh lainnya. Itu alasan kenapa Ayahku tidak bisa sembarangan mengusir mereka. Ditambah lagi, Kerajaan Central ini adalah pusat dunia. Tingkat keangkuhan para bangsawan itu sangat tinggi, mereka suka pamer status di depan manusia lain."

​Alexa mengangguk-angguk, wajahnya berakting cemas. "Apa benar begitu, Kirana? Aduh, semoga saja Ayahku tidak dihina atau diperlakukan kasar di tempat kerjanya sekarang."

​Kirana langsung memegang tangan Alexa dengan hangat. "Kalau sampai Ayahmu dihina atau diusir dari sana, langsung bilang saja kepadaku! Biar nanti aku bilang kepada Ayah agar Ayahmu bisa bekerja di dalam istana saja. Atau mungkin setelah kamu pulang dari sini nanti, langsung saja bicarakan hal ini dengan dia."

​"Baiklah, nanti akan kubicarakan dengan Ayah," jawab Alexa dengan senyum manis, meski di dalam hatinya ia tertawa geli melihat kepolosan sang putri.

​"Ayo, habiskan makanannya, Alexa! Aku sudah tidak sabar ingin mengajakmu ke taman kerajaan!" seru Kirana bersemangat.

​"Oke, Kirana."

​Sementara itu, di wilayah pegunungan barat, matahari pagi juga mulai menerangi jalur pendakian Gunung Eclipse. Rombongan kecil yang terdiri dari Devan, Kinanti, Bi Eni, dan dua prajurit pengawal tengah bersiap-siap untuk turun dan pulang menuju ibukota kerajaan.

​"Apakah pergelangan kaki Tuan Putri sudah benar-benar baik-baik saja?" tanya Bi Eni dengan raut wajah cemas, memperhatikan Kinanti.

​Kinanti tersenyum lebar. "Tenang saja, Bibi! Kakiku sudah pulih total kok, lihat nih!" Kinanti bahkan mencoba melompat-lompat kecil di atas rumput untuk meyakinkan pelayan setianya itu.

​"Serius, Tuan Putri? Jangan dipaksakan. Kalau misal nanti di tengah jalan Tuan Putri merasa kesakitan lagi, lebih baik Tuan Putri digendong oleh prajurit saja, ya?" tawar Bi Eni lagi.

​"Aman, Bibi. Tenang saja," tolak Kinanti halus.

​Devan yang berdiri di samping mereka memperhatikan kaki Kinanti dengan saksama. Berkat kompres darurat dan istirahat semalam, bengkak di pergelangan kaki gadis itu memang sudah jauh mereda.

Mereka pun mulai melangkah menuruni jalur berbatu Gunung Eclipse dengan santai.

​Beberapa jam melakukan perjalanan, rombongan mereka akhirnya tiba di tepi danau yang luar biasa indah, Swan Romantic Lake. Mengingat posisinya yang sudah dekat dengan pemukiman, Devan memanfaatkan momen berjalan beriringan ini untuk bertanya mengenai impiannya yang tertunda.

​"Hmmph... Maaf, Kinanti. Kira-kira masih lama tidak ya pembukaan pendaftaran untuk menjadi prajurit baru kerajaan?" tanya Devan sedikit ragu. "Aku ingin bersiap-siap dari sekarang, setidaknya aku bisa berlatih fisik dan teknik dahulu sebelum tesnya dimulai."

​Kinanti menoleh, wajahnya tampak merasa bersalah. "Maaf, Devan... Aku sendiri tidak bisa menentukan kapan pendaftaran itu akan dibuka kembali. Semua keputusan itu tergantung penuh pada kebijakan Ayahku sebagai Raja. Ditambah lagi, negeri kita saat ini sedang berada di era yang sangat damai. Permintaan untuk menambah jumlah prajurit baru tidak begitu banyak. Prajurit yang ada sekarang pun tugasnya lebih sering dialihkan untuk menjadi pelayan masyarakat, seperti mengurus kasus pembunuhan biasa, mencari orang hilang, atau menangkap kelompok bandit kecil di perbatasan. Terakhir kali pendaftaran dibuka saja kalau tidak salah sekitar dua tahun yang lalu. Tapi tenang saja, nanti aku akan segera memberitahumu jika pendaftarannya memang akan dibuka."

​Devan terdiam sejenak, lalu mendekatkan wajahnya untuk berbisik pelan agar tidak terdengar oleh Bi Eni dan pengawal. "Oke... Hmmph, kalau begitu, tolong jangan sampaikan kabarku ini kepada keluargaku yang ada di Desa Bumi, ya? Biarkan aku menjadi prajurit resmi terlebih dahulu agar bisa memberikan kejutan besar untuk mereka nanti. Sama... maaf, hehe, nanti semua biaya hidup dan fasilitas yang kugunakan selama di sini tolong dijadikan hutangku dulu ya? Setelah aku resmi jadi prajurit dan dapat gaji, aku berjanji akan membayar semuanya sampai lunas."

​Kinanti ikut memiringkan kepalanya, membalas berbisik dengan senyuman jahil di sudut bibirnya. "Masalah keluarga, tenang saja, aku tidak akan membocorkan keberadaanmu kepada mereka. Nanti sesampainya di istana, aku juga akan langsung bicara kepada Ayah tentang keinginanmu untuk menjadi prajurit. Beliau pasti akan mengizinkannya dengan mudah kok. Jadi tenang saja, Devan. Kalau misal kau butuh apa pun selama di sini, tinggal bilang saja kepadaku atau ke Bibi. Dan soal urusan hutang..." Kinanti menjeda kalimatnya, matanya menatap lekat ke manik mata Devan. "...kau cukup berjanji satu hal saja: selalu jaga dan lindungi aku di mana pun kita berada, hehe."

​Devan tertegun, wajahnya mendadak merona tipis mendengar jawaban tak terduga itu.

​Di belakang mereka, Bi Eni yang memperhatikan interaksi berbisik-bisik kedua remaja itu hanya bisa tersenyum penuh arti di dalam hatinya. (Mereka berdua benar-benar terlihat seperti pasangan yang sangat cocok. Aku bisa melihat bahwa Nak Devan memiliki aura dan sorot mata seorang prajurit sejati yang jujur dan baik. Semoga saja... dengan kehadiran Devan di sisi Tuan Putri Kinanti, beliau bisa mulai melupakan kesedihan dan permasalahan dingin dengan kakaknya, Tuan Putri Kirana.)

​Kembali ke lingkungan istana Kerajaan Central, Alexa dan Kirana kini telah berada di area luar. Mereka berjalan santai mengitari hamparan rumput hijau yang luas, menuju ke taman utama.

​"Lihat ini, Alexa! Ini adalah Taman Bunga Kerajaan," tunjuk Kirana dengan bangga ke arah hamparan kelopak bunga berwarna-warni yang mekar dengan sangat subur. "Taman bunga ini selalu kami jaga dengan ketat dari para hewan parasit seperti ulat atau kumbang perusak agar bunga-bunga indah ini tidak mati. Lihat, indah sekali, kan?"

​"Wah... Indah sekali, Kirana!" puji Alexa, matanya berbinar menatap hamparan flora tersebut. "Kau beruntung banget bisa terus melihat keindahan bunga-bunga ini setiap hari. Kalau aku, kalau ingin melihat bunga sesubur ini, aku harus pergi ke taman sekolah. Kalau tidak, aku harus berjalan jauh ke bukit di sebelah Barat Central bersama Ayahku hanya untuk melihat bunga-bunga liar."

​Kirana terkekeh senang. "Hehe, kalau begitu biar makin spesial... coba pakai bunga ini!" Dengan cekatan, Kirana memetik sebuah bunga Anggrek Putih yang sangat indah dari tangkainya, lalu menyelipkannya dengan lembut di atas daun telinga Alexa.

​Kirana mundur selangkah, memandangi temannya dengan takjub. "Wah! Cantik banget kamu kalau memakai bunga ini, Alexa! Coba lihat sendiri, ini!" Kirana mengambil sebuah cermin rias kecil yang dibawanya dan mengarahkannya ke wajah Alexa.

​"Wah, terima kasih banyak, Kirana," ucap Alexa, menatap pantulan wajahnya di cermin tersebut sembari tersenyum manis.

​Namun, di balik senyuman manis gadis desa itu, kesadaran asli Alexa berbisik di dalam benaknya dengan nada yang penuh kelicikan dan kemenangan. (Haha... Sayang sekali, wanita secantik dan secerdas ini terpaksa kujadikan wadah tak bernyawa untuk penyamaranku di planet primitif ini. Mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi nasib tragis bagi pemilik asli tubuh ini demi kejayaan Yang Mulia.)

​"Ayo kita ke arah sungai Taman Kerajaan, Alexa! Di sana kita bisa melihat aliran air yang sangat jernih. Kalau kita sedang beruntung, kita bahkan bisa melihat ikan-ikan hias yang berenang di dasarnya," ajak Kirana menarik tangan Alexa.

​"Ayo!"

​Mereka berdua akhirnya berjalan menjauh dari area kelopak bunga, menuju ke arah aliran sungai jernih yang membelah area taman sungai yang sama dengan aliran air yang mengalir ke wilayah kuil kuno di utara.

​"Lihat! Ini dia sungainya. Jernih sekali, kan, Alexa? Tuh, lihat! Benar-benar ada ikannya yang sedang berenang!" seru Kirana gembira sambil menunjuk ke dalam air yang bening bagai kaca.

​Alexa melangkah mendekat ke tepian sungai, matanya menyapu pandangan ke sekeliling aliran air. Namun, saat pandangannya beralih ke area semak-semak lebat yang berada di sisi sungai yang berseberangan, pupil matanya mendadak mengecil. Sesuatu yang ganjil dan mencolok tertangkap oleh matanya.

​"Wah, jernihnya... Tunggu, Kirana... Apa itu yang ada di seberang sana?" tanya Alexa, jarinya menunjuk lurus ke arah tumpukan semak di sisi sungai yang lain.

​"Apa itu? Coba ayo kita lihat, Alexa!" sahut Kirana penasaran.

​Karena penasaran, kedua gadis itu berjalan memutar melewati jembatan batu kecil untuk mencapai sisi sungai tersebut. Mereka perlahan menyibak dedaunan semak yang rimbun. Namun, begitu semak-semak itu terbuka sepenuhnya, Kirana dan Alexa seketika membeku. Rasa syok yang luar biasa.

​Di hadapan mereka, tergeletak sesuatu atau lebih tepatnya, seseorang dalam kondisi yang mengerikan dan tidak wajar berada di dalam lingkungan istana kerajaan.

​"Tidak mungkin... ini... bagaimana bisa?!" gumam Kirana dengan bibir yang gemetar hebat, wajahnya seketika memucat.

​Alexa ikut membelalakkan matanya, berpura-pura panik luar biasa

"Apa... apa itu sebenarnya, Kirana?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!