Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEANA OR HYEANA?
Ketika Seana sudah tiba di dalam toilet. Seana terduduk di lantai toilet yang kering, punggungnya menempel pintu bilik. Nafasnya belum stabil, tapi yang paling aneh bukan itu....suasana yang sunyi, benar-benar sunyi. Tidak ada suara Ara dari luar, tidak ada ketukan. Seolah dunia di luar benar-benar “diputus”.
“Ara?” ucap Seana sambil berdiri pelan.
“HEI! ADA ORANG?!” teriaknya lagi
Masih tidak ada jawaban, Seana menatap pintu dengan panik kecil.
“ini bercanda ya…”
Lalu.....
klak.
Lampu di atasnya redup sesaat dan saat Seana menoleh ke cermin, pantulan itu tidak langsung meniru gerakannya, sedikit terlambat, dan otomatis Seana membeku.
“nggak.”
Pantulan itu akhirnya bergerak, tapi bukan mengikuti Seana, pantulan itu… tersenyum duluan.
“akhirnya…”
Suara itu keluar dari cermin, Seana reflek mundur.
“siapa kamu?!”
Permukaan kaca mulai beriak seperti air. Dan dari dalamnya....seorang sosok perempuan muncul perlahan. rambut panjang gelap, mata kosong tapi tajam, auranya berat seperti udara menekan tenggorokan. Seana langsung menutup mulutnya.
“aku nggak kenal kamu…”
Sosok itu melangkah keluar dari cermin.
“kamu…Ileana.” ucap sosok itu
Seana terdiam sebentar.
“Ileana?” gumam Seana.
Sosok itu menatapnya lebih dalam, lalu mengernyit.
“bukan.” jawab Seana
Hening sepersekian detik, Wajah sosok itu berubah sedikit marah.
“Untuk apa kau menyamar?”
Seana langsung panik.
“HEH?! ENGGA! AKU SEANA!!”
Tapi sosok itu sudah tidak mendengar, tangannya terangkat, udara di toilet seketika berubah menjadi dingin.
“kalau kau bukan dia…...”
“kau tetap saja penghalang.”
Seana mundur cepat.
“STOP! AKU NGGAK NGERTI APA-APA!!”
Sosok itu bergerak cepat, seperti bayangan yang jatuh. Seana refleks menutup mata.
BRAK!
Dinding di sampingnya retak kecil, Seana jatuh ke lantai.
“sial…” gumam Seana
Sosok itu mendekat lagi.
“di mana Ileana?” tanya sosok itu lagi
Seana menggeleng cepat.
“AKU NGGAK TAU SIAPA ITU!!”
Udara di sekitar Seana mulai tertekan dan saat tangan sosok itu hampir menyentuhnya...
DUARR!
Pintu toilet dijebol dari luar.
“HEI!!” Suara Haras.
Sosok itu langsung menoleh, Haras berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit berat, matanya langsung tajam.
“lo ngapain di sini?” ucap Haras ketus.
Seana langsung tersentak.
“HARAS!!” ucap Seana.
Sosok itu mengerutkan wajah.
“manusia.”
Haras melangkah masuk tanpa ragu.
“keluar.”
Sosok itu tidak bergerak.
“kau melindunginya?”
Haras melirik Seana sekilas.
“gue nggak tau siapa lo.”
“tapi lo mau nyerang orang di sini. jadi gue ngerasa ke ganggu.”
Sosok itu tersenyum tipis.
“baik.”
Dan dalam satu detik, ruangan langsung berubah. Udara jadi berat, Lampu mati separuh, Sosok itu menyerang. Haras langsung menarik Seana ke samping.
BANG!
Dinding toilet retak besar, Seana gemetar.
“ini apa… ini apa?!”
Haras menahan serangan berikutnya dengan lengannya sendiri, terdorong sedikit ke belakang.
“nggak penting!”
“lari kalau bisa!”
Seana terdiam.
“hah?!”
“LARI!!”
Seana akhirnya bangkit dan mundur cepat keluar bilik tapi sosok itu langsung berbalik.
“tidak.”
Dia mengangkat tangan lagi dan kali ini targetnya berubah,bukan Seana tapi Haras.
WHOOSH—
Haras terpental ke dinding.
“UGH!”
Seana langsung panik.
“Haras!!”
Dan di saat di luar toilet, Hyeana berhenti berjalan tiba-tiba.
“panas.” Tangan kanannya langsung memegang pergelangan tangan kirinya.
Tanda di kulitnya, menyala panas dan bukan sakit biasa, lebih seperti “dipanggil paksa”, Olla langsung menoleh.
“kenapa?”
Hyeana menatap pintu toilet.
“ada sesuatu di dalam.”
Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi, angin di sekitar mereka berhenti, langkah kaki di koridor menghilang, dan bayangan tipis muncul di belakang Hyeana, tanpa suara, tanpa bentuk jelas, tapi cukup untuk membuat udara berubah.Olla langsung siaga.
“sepertinya....kita kedatangan tamu.”
Dan....dari bayangan itu....Harvey muncul, tatapannya dingin, langsung mengarah ke Hyeana.
“kamu kemari.” ucap Olla
Hyeana menoleh pelan.
“itu....Harvey?”
Harvey tidak menjawab pertanyaan itu, tangannya langsung bergerak menarik Hyeana setengah langkah ke belakang.
“sembunyi.”
Hyeana kaget.
“kenapa?”
“karena dia sudah mulai melihatmu.”
Di dalam toilet, suara benturan masih terdengar, Seana masih berusaha membantu Haras bangkit. Aileen berdiri di tengah ruangan, marah, tidak stabil.
“dia tidak di sini.”
bisiknya.
“aku salah orang.”
Dan saat itu, Aileen menoleh tajam ke arah luar.
seolah merasakan sesuatu yang jauh lebih besar.
“Ileana”
mata Harvey sedikit menyipit.
“terlambat.”
Dan udara di sekitar mereka mulai menutup seperti lapisan lain sedang terbuka. Lampu koridor berkedip pelan, Sekali....Dua kali.....Lalu—
BRAK.
Semua pintu kelas di lorong itu menutup bersamaan, Olla langsung menarik Hyeana mundur satu langkah.
“ini bukan roh biasa...” bisiknya pelan.
Harvey tidak menjawab. Tatapan merahnya hanya tertuju ke arah toilet perempuan di ujung koridor. Tatapan itu dingin… terlalu dingin sampai membuat udara sekitar ikut menegang. Di dalam toilet, Haras batuk pelan sambil menahan tubuhnya tetap berdiri. Punggungnya masih sakit akibat benturan tadi.
“gila…” gumamnya.
Seana langsung menopang lengannya.
“lo gapapa?!”
“nggak.”
“jujur amat?!”
Aileen berdiri diam beberapa meter di depan mereka. Rambut hitam panjangnya bergerak pelan meski tidak ada angin. Tapi sekarang ekspresinya berubah, tidak lagi marah melainkan….menjadi gelisah.
“Aku bisa merasakannya…” bisiknya.
Mata kosongnya perlahan melebar.
“dia di sini.”
Deg.
Seana merasakan hawa dingin menjalar sampai ujung jarinya. Haras langsung menyadari perubahan itu.
“hah?”
Dan saat itulah....
KREEEK.
Seluruh dinding toilet retak perlahan, bukan karena pukulan, tapi seperti ruangannya sendiri sedang dipaksa terbuka. Air dari wastafel mulai mengalir sendiri, lampu berkedip makin liar, bayangan hitam tipis muncul di lantai. Seana mundur panik.
“APA LAGI SEKARANG?!”
Aileen menatap sesuatu di balik pintu toilet itu dan untuk pertama kalinya sejak muncul, wajahnya terlihat takut.
“Raja....”
Suasana menjadi hening. Haras mengernyit.
“raja apaan?”
Tidak ada jawaban. Karena detik berikutnya....
DUAAARRR!!
Seluruh pintu toilet perempuan hancur dari luar, Angin hitam langsung masuk seperti ledakan badai. Seana refleks menutup wajahnya. Haras menahan tubuh di depan Seana dan di tengah serpihan pintu yang beterbangan…Harvey berdiri di sana.
Jubah hitamnya bergerak pelan.Mata merahnya menyala dalam gelap redup toilet. Suasana berubah sunyi, benar-benar sunyi, bahkan suara air yang tadi mengalir mendadak berhenti. Aileen membeku, tubuhnya gemetar kecil.
“mustahil…” lirihnya.
Harvey melangkah masuk perlahan, Satu langkah.....Dua langkah.....dan setiap langkahnya membuat retakan hitam muncul di lantai keramik. Tatapannya langsung tertuju ke Aileen. Tatapan itu cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa sesak.
“kau.” suara Harvey rendah.
Aileen reflek mundur satu langkah, Haras mengangkat alis pelan.
“dia kembali lagi?”
Seana langsung menarik baju Haras pelan.
“jangan ngomong sembarangan sekarang…”
Namun Harvey tidak mempedulikan mereka, tatapannya masih pada Aileen.
“siapa yang memberimu izin menyentuh wilayahku?”
Deg.
Kalimat itu membuat udara di ruangan langsung berat, Aileen menggigit bibirnya sendiri.
“Aku hanya mencari Ileana.”
Nama itu membuat mata Harvey sedikit berubah, Tipis sekali tapi cukup terlihat.
“Aku bisa merasakannya.” lanjut Aileen.
“Dia sudah bangun.”
Harvey tersenyum tipis tapi senyum itu tidak hangat sama sekali.
“dan?”
Dalam satu detik....
CRAAKKK!!
Aura hitam meledak dari tubuh Harvey, Seluruh cermin toilet pecah bersamaan, Seana langsung menjerit kecil. Haras bahkan sampai terdorong setengah langkah ke belakang. Udara terasa seperti ditekan dari segala arah. Aileen membeku total.
“kalau kau sudah menemukannya…..” suara Harvey pelan.
“kenapa kau masih hidup?”
Deg.
Aileen langsung sadar, Instingnya berteriak untuk lari, dan tanpa peringatan....
WHOOSH!
Tubuhnya berubah menjadi bayangan hitam dan melesat menuju jendela toilet tapi....
bruk.
Bayangan itu berhenti mendadak di udara, Mata Aileen membesar, Tangan Harvey terangkat sedikit. Dan ruang di depan jendela…tertutup. Seperti dinding tak terlihat.
“aku belum selesai.” ucap Harvey dingin.
Seana menelan ludah keras. Untuk pertama kalinya…dia melihat seseorang yang benar-benar membuat monster tadi ketakutan. Haras menyipitkan mata pelan ke arah Harvey. Harvey akhirnya melirik Haras, Tatapan merah itu membuat bulu kuduk Haras langsung berdiri. Namun anehnya.....Harvey tidak menyerangnya.
“kau bisa melihat kami.” ucap Harvey.
Bukan pertanyaan, tapi ini pernyataan. Haras terdiam sebentar.
“harusnya gue nggak bisa?” tanya haras
Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba....Hyeana yang berada di luar lorong mendadak memegang dadanya.
Deg.
Jantungnya berdetak terlalu cepat, tanda hitam di pergelangan tangannya menyala makin terang dan suara asing mulai berbisik di kepalanya.
Ileana.
Sekali lagi.
Ileana.
Tubuh Hyeana langsung goyah.
“Hyeana!” Olla menahannya cepat.
Namun mata Hyeana justru menatap lurus ke arah toilet. Seolah sesuatu di sana…memanggilnya pulang.
“Ileana.”
Bisikan itu kembali terdengar.
Lebih dekat, Lebih jelas, dan tepat di detik itu....
ngiiiing—
Kepala Hyeana terasa seperti ditusuk sesuatu dari dalam.
“Hkhhhh....arrghh....”
Tubuhnya langsung oleng, Olla reflek menahannya cepat.
“Hyeana?!”
Tangan Hyeana gemetar memegang kepalanya sendiri. Nafasnya memburu, pandangannya mulai kabur. Lorong sekolah di depannya perlahan berubah gelap di pinggir penglihatannya. Suara itu terus memanggil.
Ileana.
Ileana.
Ileana.
“berhenti…” bisik Hyeana lemah.
Tapi suara itu justru makin banyak, Puluhan....Ratusan.....Seperti banyak roh sedang berbisik bersamaan di dalam kepalanya. Harvey langsung menyadari sesuatu berubah, matanya menoleh cepat ke arah luar toilet.
Deg.
Tanda hitam di tangan Hyeana menyala terang, terlalu terang. Ekspresi Harvey langsung berubah.
“Hyeana.”
Untuk pertama kalinya....suara Harvey terdengar tidak stabil. Hyeana mencoba berdiri tegak.
“Har…vey…”
Namun sebelum selesai bicara.....
bruk.
Tubuhnya jatuh lemas.
“HYEANA!!” teriak Olla.
Dan seluruh koridor…mendadak sunyi, mata merah Harvey membesar sedikit. Sepersekian detik saja cukup untuk membuat hawa di sekitarnya berubah total.
“siapa.” Suaranya rendah.
Terlalu rendah sampai terasa seperti gema dari tempat lain. Aileen yang masih tertahan langsung menegang, Instingnya langsung menjerit bahaya. Harvey berjalan keluar toilet pelan-pelan namun setiap langkahnya membuat lantai koridor retak hitam.
CRACK.
CRACK.
Lampu sekolah mulai pecah satu per satu.
DUK.
DUK.
DUK.
Seana membeku.
“dia marah.” bisiknya pelan.
Haras menatap Harvey tanpa berkedip dan bahkan dia yang tadi masih berani melawan Aileen…sekarang tidak bergerak sama sekali. Karena aura Harvey sekarang berbeda, bukan sekadar roh dan bukan manusia, melainkan sesuatu yang jauh lebih dari itu… dan lebih mengerikan. Olla masih menopang tubuh Hyeana di lantai.
“Hyeana! bangun! hei!”
Tidak ada respon, nafas Hyeana melemah, tanda hitam di tangannya terus menyala seperti terbakar.
Harvey berhenti tepat di depan mereka, tatapannya turun ke arah Hyeana. Suasana menjadi sunyi karena tidak ada yang berani bicara. Lalu.....Harvey berlutut pelan, tangannya menyentuh pipi Hyeana. Dan di detik itu....
BOOOOM!!
Aura hitam langsung meledak dari tubuh Harvey. Seluruh jendela koridor pecah bersamaan, Angin gelap berputar liar memenuhi lorong sekolah. Seana sampai jatuh terduduk.
“APA LAGI ITU?!”
Bayangan hitam mulai muncul dari lantai, puluhan tangan hitam merayap di dinding, udara terasa sesak seperti seluruh sekolah sedang ditelan sesuatu. Aileen langsung pucat.
“mustahil.…” gumamnya gemetar.
“dia kehilangan kendali…..”
Haras menyipitkan mata.
“hah?”
Aileen mundur perlahan, tatapannya ke Harvey sekarang penuh ketakutan.
“kalau Raja Kematian membuka wilayahnya di dunia manusia…”
“…tempat ini akan hancur.”
Deg.
Dan tepat setelah kalimat itu.....mata Harvey perlahan berubah lebih gelap, merahnya masih ada tapi sekarang seperti bercampur hitam pekat.
Tatapannya terangkat pelan ke arah Aileen, Tidak ada emosi dan itu jauh lebih menakutkan.
“Kau.”
Suara Harvey menggema berat.
“Apa yang kau lakukan padanya?”
Aileen reflek mundur.
“A-aku tidak—”
CRAAASH!!
Dinding koridor di belakang Aileen langsung hancur tanpa disentuh apa pun.Aileen membeku total.
Keringat dingin mulai turun di wajahnya. Harvey berdiri perlahan. Aura hitam terus keluar dari tubuhnya seperti kabut hidup.
“kau memanggil namanya.”
Satu langkah Harvey maju.
Lantai retak lebih besar.
“kau membuatnya mendengar.”
Satu langkah lagi.
Udara makin berat.
“dan sekarang…”
Tatapan merah gelap Harvey menyala dalam lorong yang hampir gelap total.
“kau membuatnya jatuh.”
Deg.
Aileen langsung sadar, Kalau satu detik lagi dia tetap di sana, dia akan mati. Untuk pertama kalinya sejak muncul…Aileen benar-benar takut pada Harvey.