Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Pertemuan Dua Rekan Kerja Satu Sekolah
Di tengah keriuhan massal warga kosan yang sudah menyerupai suasana pasar malam tumpah itu, dua orang gadis muda yang baru saja melangkah keluar dari dalam pintu kamar kos yang terletak di ujung lantai dasar tampak terpaku diam di tempat dengan sepasang mata yang melotot sempurna tanpa berkedip sedikit pun.
Mereka berdua tentu saja bukan orang asing atau sosok asing bagi kehidupan seorang Arvand Pratama; mereka adalah rekan kerja satu instansi resmi di SMA Cakrawala Bangsa yang kebetulan juga terpaksa menyewa kamar di Kost Sekali Nunggak Viral ini karena alasan yang sangat klasik: menghemat biaya pengeluaran transportasi bulanan yang mencekik leher.
Yang pertama adalah Ririn, seorang staf bagian Tata Usaha (TU) sekolah yang terkenal memiliki watak sangat galak, judes, dan tanpa kompromi jika sedang mengurus masalah potongan akumulasi absen guru honorer yang terlambat datang. Yang kedua bernama Sarah, seorang guru magang berwajah imut dan bersuara lembut yang baru sekitar seminggu ini ditugaskan khusus oleh pihak yayasan untuk mengajar materi dasar di jenjang kelas 1 SMA.
"P-Pak Arvand?!" pekik Sarah dengan volume suara melengking tinggi yang spontan memecah kebisingan, sambil cepat-cepat menutup mulut mungilnya menggunakan kedua belah telapak tangan. Ia menatap ke arah sosok Arvand yang sedang berdiri santai di dekat anak tangga bawah seolah-olah pemuda honorer itu baru saja bertransformasi fisik menjadi sesosok alien premium yang turun dari pesawat ruang angkasa.
"Itu mobil... mobil sedan hitam yang panjang banget di depan gerbang itu... beneran legal punya Pak Arvand?! Tapi bagaimana bisa terjadi hal ajaib seperti ini?! Tadi pagi waktu di parkiran sekolah kan Pak Arvand masih pasang muka melas minta tebengan boncengan motor sama Pak Arif gara-gara tangki motor bebek Pak Arvand kehabisan bensin di jalan!"
Ririn, sang staf TU yang biasanya memiliki tingkat sinisme tingkat dewa terhadap segala bentuk pengeluaran keuangan dan bon utang sekolah, langsung melangkah maju mendekat dengan sepasang mata yang tampak berbinar-binar penuh dengan kalkulasi nominal angka rupiah yang berputar. Watak galak dan judes yang selama bertahun-tahun ini menjadi ciri khas utamanya mendadak luntur dalam waktu satu detik, digantikan oleh sebuah senyuman manis yang sangat dipaksakan hingga urat-urat kerutan di bagian dahinya terlihat dengan sangat jelas dan kaku.
"Wah, Pak Arvand Pratama, rekan kerja saya yang paling tampan, menawan, dan paling berwibawa sedunia!" sapa Ririn dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis madu hutan oplosan, membuat beberapa orang di sana langsung merasa mual.
"Aduh, Pak Arvand... kalau sejak awal saya tahu kalau Pak Arvand ini ternyata adalah seorang investor tersembunyi kelas kakap yang memiliki aset internasional begini, sisa potongan dana keterlambatan absen mengajar semester lalu dijamin tidak akan pernah saya eksekusi di dalam sistem komputer sekolah, Pak! Bisa diatur di bawah meja itu mah, gampang sekali! Eh, ngomong-ngomong ya Pak... itu mobil BMW-nya jenis seri terbaru yang harganya di atas dua miliar ya, Pak? Kursi bagian belakangnya ada fitur pijat hangat otomatisnya gak sih, Pak? Kebetulan banget nih bagian pinggang saya lagi agak pegal dan kaku setelah seharian penuh mengurus berkas mutasi murid-murid baru di ruang TU..."
Sarah yang mendengar ucapan yang terlampau pragmatis dan tidak tahu malu dari rekan seniornya itu langsung menyenggol kuat lengan Ririn dengan wajah yang memerah menahan rasa malu yang mendalam.
"Ih, Mbak Ririn ini kok memalukan banget sih! Kok malah bahas fitur pijat hangat di dalam mobil orang lain! Pak Arvand, tolong jelaskan secara ilmiah dan sosiologis kepada saya sekarang juga... jenis kripik apa yang bisa menghasilkan keuntungan finansial instan sedahsyat itu sampai bisa membeli sebuah sedan mewah sepanjang itu dalam hitungan jam saja? Apakah itu jenis kripik berbahan dasar umbi talas premium atau jenis singkong organik khusus yang diekspor langsung ke benua Eropa?!"
Arvand yang melihat dua rekan kerjanya di sekolah mulai ikut mengalami gejala malfungsi logika stadium lanjut akibat salah menerima interpretasi mentah mengenai istilah "kripik kripto" dari mulut Mbok Sum hanya bisa menepuk dahinya berkali-kali dengan perasaan pasrah yang mendalam. Skenario kesalahpahaman massal ini tampaknya sudah meluas secara eksponensial dari lingkungan domestik sekolah hingga merambah ke lingkungan hunian kos-kosannya sendiri tanpa bisa dibendung lagi jalurnya.
Sebelum Arvand sempat menarik napas untuk memberikan sebuah jawaban rasional yang logis demi meredakan gelombang kepanikan sosiologis warga di hadapannya, dari arah pintu gerbang depan kosan mendadak muncul seorang pemuda bertubuh kurus tinggi bernama Aziz.
Aziz adalah salah satu penghuni kos kategori senior yang sehari-hari bekerja keras sebagai seorang kurir ekspedisi antar barang logistik, dan ia memiliki sebuah karakteristik biologis yang sangat unik sekaligus merepotkan: yaitu cara berbicara yang akan berubah menjadi gagap tingkat tinggi jika dirinya sedang berada dalam kondisi panik, terkejut, atau ketakutan luar biasa.
Aziz berjalan masuk ke dalam halaman tengah dengan kondisi seluruh tubuh yang tampak gemetar hebat mirip orang kedinginan, sementara jari telunjuk kanan dan kirinya tampak menunjuk-nunjuk ke arah luar gerbang besi dengan sepasang mata yang hampir saja keluar dari rongganya karena syok.
"M- M- Mas... Mas A- A -Ar... Ar... pa - nd !" seru Aziz dengan perjuangan keras dan susah payah, hingga rona kulit wajahnya berubah menjadi merah padam menahan laju keluarnya kata-kata yang tersangkut di tenggorokannya.
"Tenang dulu, Ziz... tarik napas dalam-dalam lewat hidung, lalu buang pelan-pelan lewat telinga kalau bisa," kata Arvand mencoba menenangkan pemuda kurus itu agar tidak pingsan di tempat akibat kekurangan oksigen.
"I-I-Itu... d-di d- de... de- pan... a- a -ada... M- M- Mo... Mo..." Aziz terus saja menunjuk-nunjuk ke arah jalan raya utama di luar gang, membuat seluruh kerumunan penghuni kos di tempat itu ikut menahan napas berjamaah dengan tegang menantikan kelanjutan suku kata berikutnya yang dirasa sangat krusial itu.
"Ada mobil mewah baru lagi datang, Ziz? Iya, kita semua yang ada di sini udah tahu kok dari tadi kalau itu mobil barunya si Arvand yang dibeli dari hasil jualan kripik gaib di internet!" potong Mbok Sum dengan nada tidak sabaran sambil mengayun-ayunkan ulekan batu besarnya di udara dengan gemas.
"B-B-Bu... Bu-kan... M- Mbok!" bantah Aziz dengan gerakan gelengan kepala yang sangat cepat dan bertenaga mirip sebuah pajangan boneka anjing di atas dasbor mobil. "D-Di d- de... de- pan... a- ada... M- M- Mo... Mo... Mo- ny - et?!"
"Hah?! Monyet liar?!" koor seluruh penghuni kos secara serempak dengan nada suara bingung tingkat dewa yang bergaung di udara bebas.
"B-B-Bu-kan! M- M- Mo... Mo... Mo - tor... P-P-Pa... Pa-gari... e-eh... P-P-Pa... Pa-pa-jak- jak!" teriak Aziz yang akhirnya berhasil menyelesaikan kalimat utuhnya setelah melalui sebuah perjuangan spiritual dan vokal yang luar biasa berat dan melelahkan. "A- Ada o-o-orang p-pa... pa- kai b-b-ba... ba- ju ra - pih... n -nye -ret M- M- Mo... Mo... Mo -bil- nya M- Mas Ar -pa- nd p-pa-kai m -m- mo... mo-mo- bil d- d- de... de- rek!"
"APA?! MOBIL SAYA MAU DIDEREK SECARA PAKSA?!" teriak Arvand yang mendadak saja ikut kehilangan kendali ketenangannya dan langsung panik, melupakan sejenak status wibawa seorang guru sosiologi yang melekat pada dirinya.
Dalam sekejap mata, seluruh massa penghuni kosan tanpa terkecuali—mulai dari sosok Bambang yang kondisi tubuhnya masih beranduk setengah di pinggang dan kepalanya berbusa sampo tebal, Pak Joko dengan posisi wig terbaliknya yang menutupi muka, Tina si selebgram yang masih setia menyalakan siaran Live TikTok, hingga Ririn dan Sarah si guru magang—langsung berhamburan lari keluar melewati pintu gerbang kosan seperti kawanan tawon liar yang sarangnya baru saja disodok menggunakan sebatang bambu panjang. Mereka semua ingin melihat secara langsung apakah status kesultanan dadakan seorang Arvand Pratama akan berakhir secara tragis di tangan petugas dinas perhubungan kota akibat kecerobohan salah memarkirkan kendaraan di jalan gang pemukiman yang sempit.
Begitu langkah kaki kerumunan massa yang berantakan itu sampai di luar area gerbang besi, pemandangan nyata yang tersaji di depan mata mereka justru kembali mengocok perut hingga rasanya ingin mengompol di tempat. Ternyata sama sekali bukan petugas resmi dari dinas perhubungan kota maupun agen intelijen pajak yang datang untuk melakukan penyitaan aset gaib, melainkan sesosok sopir pengantar resmi dari pihak diler mobil mewah resmi yang memiliki postur tubuh sangat tambun.
**Sopir diler tersebut kebetulan memang sedang mengalami kesulitan luar biasa untuk memundurkan truk diler besar mereka karena akses jalanan gang pemukiman yang tertutup rapat oleh tumpukan tempat sampah plastik milik warga sekitar.
Petugas diler mobil tersebut kemudian turun dari pintu kemudi truk sambil membawa sebuah papan jalan digital yang menyala terang, menatap dengan pandangan bingung sekaligus takjub ke arah kerumunan warga kosan yang penampilannya sangat abstrak, acak-acakan, dan tidak selaras satu sama lain tersebut.
"Permisi... selamat sore, apakah benar di lingkungan alamat ini ada yang bernama Bapak Arvand Pratama? Saya di sini ingin menyerahkan seluruh dokumen fisik pelat nomor kendaraan sementara beserta buku garansi resmi pabrikan untuk unit kendaraan BMW 7 Series ini. Mohon maaf yang sebesar-sebesarnya atas keterlambatan ini, karena tadi kurir pengantar kami sempat salah paham dalam membaca titik koordinat pengiriman aplikasi peta," kata petugas diler bertubuh tambun tersebut dengan nada suara yang sangat sopan, formal, dan penuh rasa hormat yang mendalam.
Mendengar sebuah konfirmasi verbal yang sangat resmi dari pihak perwakilan diler bahwa unit mobil mewah berwarna hitam tersebut adalah seratus persen legal secara hukum negara, lunas tanpa cicilan, dan sah menjadi milik seorang Arvand Pratama, seluruh warga kosan langsung menghela napas panjang-panjang secara serempak dengan gaya komedi yang kompak.
"O-O-al-ah... j- ja- di b-b-be... be - ner -an p-pu... pu -nya M- Mas Ar- pa - nd, t-to?" gumam Aziz si kurir ekspedisi sambil sibuk menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali dengan ekspresi wajah polos tanpa dosa, sementara para cewek muda di posisi belakangnya langsung berteriak histeris kegirangan di depan layar kaca Live TikTok mereka masing-masing, sudah bersiap penuh untuk menjadikan momen langka ini sebagai bahan konten viral nomor satu di wilayah kota mereka minggu ini.
Arvand hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah melihat tingkat kekacauan komedi massal yang dipicu oleh berkah magis dari Sistem Mengajar Mutlak di sore hari yang melelahkan namun sangat menguntungkan posisinya ini. Ia pun memilih untuk kembali melangkah masuk ke dalam area bangunan kosan untuk segera menyelesaikan proses berkemas barang-barang pribadinya bersama sang adik tercinta, Ani, meninggalkan para tetangga gang yang hingga saat ini masih saja sibuk berdebat kusir mengenai misteri formula resep rahasia "kripik kripto" sang penemu kekayaan instan.
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥