Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelidiki Bella
Selepas Isya, Gilang baru sampai di basement tempat parkir mobilnya di apartemen. Lama tak berjumpa Lucky, relasi bisnis yang kebetulan teman satu kampus dulu, membuatnya melanjutkan mengobrol di luar kantor hingga malam.
Ketika keluar dari lift, bukan apartemennya yang ia tuju. Kakinya menggerakkan ia melangkah ke apartemen tempat tinggal Bella di lorong sebelah.
Gilang memang khawatir pada Bella, ketika mengobrol bersama Lucky, beberapa kali ingatannya tertuju pada Bella, ingin tahu bagaimana kondisi Bella saat ini, karena Bella tinggal sendirian di apartemen, tak ada keluarga yang menemani.
Ketika langkahnya berhenti di depan pintu apartemen Bella, Gilang menekan bel, menunggu Bella membukakan pintu untuknya. Tak lama menunggu, pintu apartemen pun terbuka, wanita yang ia khawatirkan kini muncul di hadapannya. Dia menarik nafas lega mendapati wajah Bella tak terlalu pucat seperti siang tadi.
"Pak Gilang?" Kehadirannya ternyata membuat Bella kaget.
"Siapa yang datang, Sayang?"
Kali ini Gilang lah yang tampak terkejut ketika mendengar suara dari dalam apartemen Bella, apalagi ketika ia melihat kemunculan Pak Satria di belakang Bella.
"Lho, Nak Gilang?" Pak Satria tak kalah terkejut dengan Gilang, tidak menyangka jika Gilang yang datang mengunjungi putrinya.
"Pak Satria?" Secara bersamaan, Gilang refleks menyebut nama Pak Satria. "Hmmm, kebetulan apartemen saya di lorong sebelah, Pak. Tadi siang Bella sakit dan saya sarankan untuk pulang beristirahat. Saya hanya ingin tahu kondisinya saat ini, Pak." Gilang menatap Bella dalam-dalam. Walau berbicara sangat santun, namun Gilang tak bisa bersikap santai, hingga tangannya mengepal, mencengkram telapak tangannya sendiri.
Rasanya ingin dia bertanya, kenapa Pak Satria ada di apartemen Bella, tapi ia khawatir akan menyinggung calon mertuanya itu dan ia pun tak berani melakukannya. Di hadapan Pak Satria, dia memang selalu tunduk, tak bisa berkutik.
"Oh, begitu?" Pak Satria sendiri tampak canggung, karena kehadirannya di apartemen anaknya pasti akan mengundang tanda tanya di hati Gilang. "Saya juga tadi sempat diberitahu papanya Bella kalau Bella sakit, karena itu saya menjenguk kemari untuk memastikan kondisi Bella baik-baik saja." Kadung ketahuan, Pak Satria mulai mengarang cerita, mengapa ja bisa ada di apartemen Bella, entah Gilang akan percaya atau tidak pada alasannya itu.
"Baiklah, Pak. Karena saya lihat kondisi Bella sudah membaik, saya permisi dulu, selamat malam, Pak." Gilang memilih berpamitan. Melihat kebersamaan Bella dengan Pak Satria membuat hatinya mendidih, apalagi pendengarannya sempat menangkap Pak Satria memanggil Bella dengan sebutan 'Sayang'.
Lagipula Pak Satria adalah calon mertuanya, dia juta tidak ingin membuat Pak Satria berpikir ia menyimpan perasaan pada Bella.
"Kok, buru-buru, Nak Gilang? Tidak masuk dulu?" tanya Pak Satria karena Gilang langsung berpamitan.
"Saya tidak ingin mengganggu istirahat Bella. Saya permisi dulu, Pak, Bella." Dengan digelayuti rasa kecewa, Gilang akhirnya meninggalkan apartemen Bella.
"Gilang pasti salah paham lagi, lihat Papih ada di sini." Sebenarnya Pak Satria merasa kasihan melihat Gilang, seperti dipermainkan oleh Bella.
"Pastilah, Pih. Papih nggak lihat wajahnya langsung bete gitu?" Bella menanggapi dengan santai, seolah tak merasa bersalah akan ulahnya.
"Papi berharap, saat Gilang sudah tahu kamu anak Papih, Gilang nggak berpikiran kamu mempermainkan dia, Bella." Pak Satria merasa khawatir akan reaksi Gilang jika penyamaran Bella terbongkar. Sebenarnya ia ingin putrinya segera memberitahu jika Bella adalah putrinya.
"Kalau dia salah paham dan merasa tersinggung, ya sudah, Pih. Nggak usah dilanjut rencana perjodohan ini." Bella berjalan kembali ke arah sofa lalu mendudukinya. Dia seperti tak ambil pusing pada reaksi Gilang.
"Tapi, Gilang itu pria yang baik dan Papih rasa dia cocok sama kamu, Bella." Anggapan Pak Satria, akan jadi kerugian bagi putrinya jika melepas sosok pria seperti Gilang.
"Papih tenang aja, deh! Serahkan semua sama Bella." Terbiasa mandiri dan bisa menyelesaikan setiap permasalahan, Bella mencoba meyakinkan papanya untuk tetap tenang dan tidak terlalu memusingkan apa yang dipikirkan oleh Gilang.
Pak Satria mendengus melihat putrinya yang sangat keras kepala dan teguh pada pendiriannya.
"Ya sudah, ini sudah hampir jam delapan." Pak Satria melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Papih pulang dulu, jaga kesehatan kamu! Besok pagi mamih akan ke sini menemani kamu. Sebaiknya kamu istirahat saja dulu jangan bekerja!" Pak Satria pun berniat meninggalkan apartemen Bella, karena dia ingin membiarkan Bella beristirahat untuk memulihkan kesehatannya.
***
Gilang menyandarkan tubuhnya di teralis besi pagar balkon kamarnya. Pandangannya menembus hitamnya langit Jakarta malam ini, seperti hatinya yang sedang diselimuti kabut amarah.
Dia datang ke apartemen dengan rasa khawatir pada kondisi bebas. Namun, justru pulang dengan rasa kecewa. Setiap kali melihat Bella bersama pria lain terutama Pak Satria, membuat hatinya tidak baik-baik saja.
"Sebenarnya apa hubungan antara Bella dengan Pak Satria? Apa benar orang tua Bella meminta Pak Satria datang untuk menjenguk Bella? Rasanya ini berlebihan." Di tengah rasa cemburu yang membelenggunya, Gilang masih mencoba mencari jawaban, atas pertanyaan yang mengganggunya.
"Mereka sangat dekat, tapi itu tidak lazim, meskipun Bella adalah anak dari teman Pak Satria." Otak Gilang terus berpikir, mencari tahu hal yang membuatnya penasaran.
Interaksi antara Bella dan Pak Satria, menurutnya tidak wajar untuk orang di luar keluarga sendiri. Seorang wanita bermanja-manja pada pria yang lebih dewasa, jika bukan pada suami dan kekasih, itu adalah interaksi akrab antara orang tua dengan anaknya. Selebihnya Itu hanya akan dilakukan oleh wanita materialistis yang hanya memanfaatkan pria untuk mendapatkan keuntungan materi. Sementara Bella sendiri menolak dan menegaskan jika dia tidak mempunyai hubungan terlarang dengan Pak Satria.
Tiba-tiba netra Gilang melebar saat ia mengingat akan sesuatu.
"Tunggu, tunggu ... kalau nggak salah, istri Pak Satria memanggil suaminya dengan panggilan 'Papih', bukankah Bella juga memanggil Pak Satria seperti itu?" Gilang teringat sebutan yang sama yang diucapkan Bella dan Ibu Hani. Ketika pertama kali memergoki Bella dan Pak Satria bersama, Bella juga memanggil Pak Satria dengan panggilan 'Papih', sedangkan saat bersamanya Bella akan memanggil 'Bapak' pada Pak Satria, orang yang sama dengan panggilan berbeda.
"Apa jangan-jangan Bella itu ..." Gilang memijat pelipisnya, membayangkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Bagaikan menyusun puzzle, Gilang mulai mengingat satu persatu momen sejak kehadiran Bella.
Bella datang ke kantor Mahesa Persada atas permintaan Pak Satria, dari posisi yang diinginkan sebagai sekretaris, sikap Bella yang berani menggodanya, juga keakraban Bella dengan istri Pak Satria.
Gilang melihat tak ada kecemburuan dalam sikap Ibu Hani ketika bertemu dengan Bella, hal yang janggal menurutnya. Wanita atau seorang istri biasanya akan waspada ketika ada wanita lain yang dekat dengan suaminya, apalagi wanita itu secantik Bella.
Sikap Bu Hani dan Pak Satria yang melunak ketika ia mencari Bella saat diundang berkunjung ke kantor Star Gemilang, bukankah itu juga hal yang aneh? Seharusnya calon mertua akan geram dan tersinggung, saat calon menantunya justru sibuk mengurusi sektretaris. Namun, alih-alih mencurigainya, mereka justru menyambut hangat Bella.
Sejak Pak Satria menyampaikan niat menjodohkan dirinya dengan anak Pak Satria, hanya foto saja yang ditunjukkan padanya. Tak ada nomer telepon yang bisa ia pakai untuk bisa berkomunikasi dengan putri Pak Satria agar mereka bisa saling mengenal satu sama lain.
"Astaga, kenapa aku nggak kepikiran ke sana?" Gilang mengusap kasar wajahnya. "Tapi, jika memang benar, untuk apa dia melakukan itu?" Gilang bertanya-tanya.
Gilang berjalan mondar-mandir di balkon seperti orang yang kebingungan, hingga beberapa saat kemudian, ia bergegas masuk ke dalam kamar, mengambil jaket, ponsel dan kunci mobilnya. Dia ingin mencari sesuatu di ruang HRD kantornya untuk mendapat jawaban dari kecurigaannya pada Bella.
❤❤❤
Bersambung...
lanjuut😄
maju terus Gilang😁